Kumaha lamun ngaran na diganti jadi 'BlayPoy', gambar "kelenci" na
diganti ku "ucing" make bendo? ;))

"Playboy" Dilarang
Media Berbau Porno Beredar Luas

Bandung, Kompas - Kencangnya rencana peredaran majalah Playboy versi
Indonesia bulan Maret nanti mendulang berbagai kontroversi dan
tentangan, khususnya dari Majelis Ulama Indonesia dan pendidik. Sebab
majalah yang identik dengan unsur vulgar itu dianggap memicu turunnya
moral generasi muda.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat KHA Hafizh Utsman
bersikukuh menolak terbit dan beredarnya majalah dengan logo kepala
kelinci berdasi kupu-kupu itu. "Kami menolak majalah Playboy beredar
di Indonesia, bahkan di Jawa Barat," ujar Hafizh, Kamis (19/1).

Dikatakan Hafizh, MUI Jabar telah meminta MUI Pusat untuk mengambil
tindakan proaktif menolak diterbitkannya majalah yang identik dengan
pornografi tersebut. Majalah yang berlisensi dari Amerika Serikat itu
menampilkan gambar-gambar dengan memperlihatkan bagian tubuh perempuan
yang seharusnya ditabukan.

Hartono, guru di Sekolah Menengah Atas 16 Bandung mengatakan, judul
Playboy sendiri sudah mengundang ketertarikan dan penasaran laki-laki.

Dijual bebas

Keterbukaan informasi dan percepatan teknologi, kata Hartono,
mempermudah akses anak- anak dan remaja mendapatkan majalah Playboy
ataupun majalah-majalah lainnya yang mengumbar pornografi.

Menurut Willy (23), Mahasiswa Teknik Fisika Institut Teknologi
Bandung, pembatasan pembeli untuk majalah Playboy dan sejenisnya tidak
bisa dilakukan. Sebab kemampuan kontrol sosial masyarakat Indonesia
masih sangat rendah.

Selama ini, media cetak berbau pornografi itu banyak dicetak oleh
penerbit-penerbit lokal dan dijual secara bebas di kios-kios majalah
pinggir jalan.

Menurut Hartono, masyarakat Indonesia belum siap dengan unsur vulgar
yang ditayangkan di media cetak. Pasalnya, budaya Indonesia masih
bersifat tertutup dan berbeda jauh dengan budaya barat yang lebih
terbuka dan bebas.

"Keberadaan Playboy sebenarnya dilematis, karena masyarakat kita masih
mengenal nilai tabu. Meskipun batasannya sulit ditentukan," kata Willy.

Mulai dari keluarga

Saringan terbaik untuk menyaring pornografi dan porno-aksi pada
anak-anak harus dimulai dari orangtua di keluarganya, serta para
pendidik di sekolahnya. Sejak dini, kata Hartono, anak- anak usia
sekolah harus diberi pengertian dan informasi yang mendidik dan benar
berkaitan dengan pornografi.

Orangtua pun diminta lebih arif dan selektif untuk memilih bacaan yang
dikonsumsi. Dan yang terpenting adalah mereka harus lebih berhati-hati
mendidik anak-anaknya untuk memperkenalkan bacaan yang baik. (d09)






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke