Dihandap ieu aya artikel, pangirim dulur di millis sabeulah. Cenah meunang 
Tom Pires, petualang Protugis nu kungsi datang ka Sunda Kalapa di abad ka 
16. Tulisan Tom Pires ieu, nunjukkeun yen Karajaan Sunda teh kaaasup 
karajaan cukup maju di jamanna mah. Ngan sigana kudu aya nu dikritisi, teu 
bisa kitu wae diteleg meleg-meleg. Salah sahijina soal budak belian. Ceuk 
Tom Pires KARAJAAN SUNDA TEH TUKANG JUAL BEULI BUDAK BELIAN, malah budak 
belian teh salah sahiji komoditi karajaan Sunda!.

Lamun enya budaya "budak belian" teh dipikawanoh ku masyarakat Sunda, 
tangtuna oge aya kecap dina Basa Sunda  keur "budak belian". Tapi sakanyaho 
kuring, teu aya kecap dina Basa Sunda keur padanan "budak belian". Aneh, 
hiji komoditi penting dina perokonomian, teu aya aranna/ kecapna. Boa-boa 
Tom Pires teh pahili kitu? ningali lalaki dibaluligir digarawe kasar di 
palabuhan, disangka 'budak belian", disaruakeun jeung kaayaan di 
Eropa/TimTeng di jaman Harita?

Cik tah kumaha baraya?

Baktos,
WALUYA

CUTATAN ARTIKELNA:

Uraian tertua tentang Kerajaan Sunda oleh seorang saksi mata, yakni Tomé 
Pires, dalam bukunya Summa Oriental yang ditulis dalam tahun 1513 - 1515.

Di negara Sunda terdapat sekitar empat ribu kuda, yang didatangkan dari 
Priaman dan pulau-pulau lain untuk diperjualbelikan. Terdapat juga sekitar 
empat puluh gajah; semuanya untuk pasukan tempur raja. Kerajaan sunda 
diperintah secara adil. Mereka pria sejati. Orang-orang yang hidup di 
kawasan pantai bergaul baik dengan para pedagang di pedalaman. Mereka biasa 
berdagang. Orang Sunda sering datang ke Malaka untuk berniaga. Mereka 
menggunakan lanchara, yakni kapal-kapal yang berdaya muat seratus lima puluh 
ton. Sunda memiliki sekitar enam jung  dan banyak lanchara model Sunda 
dengan tiang-tiang serupa derek, yang dihubungkan dengan tangga, sehingga 
mudah dikemudikan.

Dibawah raja Sunda, yang disebut Sang-Hyang, dan raja muda, yang disebut 
cocunam (raja anom?) serta bendaharanya, yang disebut mangkubumi, dalam 
negeri ini terdapat jajaran penguasa kota , daerah dan pelabuhan. Kalau di 
Jawa, tuan-tuan ini disebut adipati maka dalam bahasa Sunda mereka disebut 
prabu; misalnya prabu anu dari tempat ini atau tempat itu. Sebab, bahasa 
Sunda memang berbeda dengan bahasa Jawa, dan bahasa Jawa bukan bahasa Sunda 
walaupun bersama-sama di satu pulau yang dipisahkan hanya oleh sungai 
Cimanuk.

Kota yang didiami raja sebagian besar dalam satu tahun adalah kota besar 
Dayeuh. Di kota itu terdapat rumah-rumah bagus dari kayu dan atap rumbia. 
Katanya kediaman raja mempunyai tiga ratus tiga puluh tiang kayu setebal 
tong anggur, setinggi lima depa. Balok-balok kayu dengan ukiran baik pada 
puncak tiang-tiang. Rumah raja yang sangat baik bangunannya. Kota ini dapat 
dicapai selama dua hari perjalanan dari pelabuhan utamanya, yang disebut 
Kalapa.

Raja seorang yang sangat perkasa dan seorang pemburu. Di negerinya terdapat 
rusa, celeng dan banteng tak terhitung banyaknya. Sebagian besar waktu 
digunakan mereka untuk berburu. Raja memiliki dua permaisuri dari 
kerajaannya sendiri dan sekitar seribu selir. Katanya orang Sunda 
jujur-jujur.

Negeri ini memiliki lada yang lebih baik daripada lada dari Cochin - sampai 
seribu bahar tiap tahunnya; memiliki pula lombok; memiliki asam yang cukup 
untuk memenuhi seribu kapal. Sunda terutama berdagang budak belian laki-laki 
maupun perempuan, yang merupakan penduduk asli negeri itu dan juga 
budak-budak lain yang mereka bawa dari kepulauan Maladewa, karena dari Sunda 
mereka dapat mencapai kepulauan Maladewadalam enam atau tujuh hari. Barang 
dagangan utama adalah beras. Sunda juga memiliki emas murni delapan mate, 
membuat sangat banyak kain kasar buatan mereka sendiri, yang juga sampai ke 
Malaka.

Sunda memiliki beras untuk dijual sampai sepuluh jung setiap tahun, sayuran 
yang tak berhingga macamnya, daging tak terhitung: celeng, kambing, domba, 
sapi dalam jumlah besar; memiliki anggur (arak) serta buah-buahan. Sunda 
sama kayanya dengan Jawa. Orang Sunda sering pergi ke Jawa untuk menjual 
beras dan bahan-bahan makanan. Dan setiap satu, dua atau tiga jung datang 
dari Malaka ke Sunda untuk mengangkut budak belian, beras dan lada. Setiap 
tahun banyak pangajava (kapal perang) dari Sunda ke Malaka dengan membawa 
barang-barang dagangan tersebut, dan dari Malaka mengangkut barang-barang 
berikutnya ke Sunda.

Untuk uang kecil berlaku keping dari Tiongkok. Bagian tengah uang itu 
dilubangi seperti ceitil (mata uang Portugis yang paling kecil), sehingga 
dapat direntengi dalam jumlah ratusan. Seribu sama nilainya dengan lima 
calai dari Malaka. Untuk uang besar, berlaku uang emas murni delapan mate, 
yang bernilai tiga ratus calai.

Kerajaan Sunda memiliki pelabuhan sendiri-sendiri. Yang pertama adalah 
Bantam (Banten). Pelabuhan ini berdagang dengan kepulauan Maladewa dan 
dengan pulau Sumatera di sebelah Baros.

Pelabuhan kedua adalah Pontang.

Pelabuhan ketiga adalah Cigede.

Keempat adalah Tangerang.

Pelabuhan Kalapa bagus sekali. Inilah pelabuhan terpenting dan terbaik dari 
kesemuanya. Disinilah berlangsung perdagangan paling ramai dan kesana lah 
mereka semua berlayar dari Sumatera, Palembang, Laue, Tanjungpura, Malaka, 
Makassar, Jawa dan Madura serta banyak tempat lain. Pelabuhan ini jaraknya 
dua hari perjalanan dari kota Dayeuh, tempat kediaman raja yang lazim.

Keenam adalah pelabuhan Cimanuk. Banyak orang Islam tinggal disini. Disini 
lah ujung kerajaan. Orang Jawa berhubungan dagang dengan orang sunda disini. 
Penguasa pelabuhan merupakan orang yang sangat penting, ditakuti dan 
dihormati. Mereka bersaing denganorang Jawa, begitu juga sebaliknya. Orang 
Sunda dan Jawa tidak bersahabat, tidak pula bermusuhan. Mereka saling 
menjaga diri dan berdagang satu sama lain. 

Kirim email ke