beberapa waktu lalu gw juga lihat di news tv (lupa kapa dan tv mana) disitu dijelaskan bahwa di jogja juga tengah dikembangkan produk BBM berbahan baku air (kurang tahu apa ini kelanjutan dari lounching produk pacitan yang disaksikan SBY). dan menurut R&D dari UMY jogja, logikanya adalah : air terdiri dari unsur hidrogen (H) jangankan cuman dinyalakan, lha wong diledakkan aja bisa....(dengan logat jawa tengahnya) dan hasil penelitian tersebut sangat fantastis, air setelah melalui 4 proses (gw lupa apa aja), air tersebut telah menjadi BBM dan ditayangkan pula diujicobakan ke sepeda motor supra dengan posisi berboncengan ternyata ecess aja..... digeber tanpa terjadi batuk-batuk.... terlihat pula diujicobakan pada mesin traktor. dapat berfungsi tanpa kendala sama sekali...
sungguh sangat bangga menjadi bangsa indonesia (jawa hihihi), ternyata bangsa kita adalah bangsa yang cerdas, kreatif, inovatif dan cemerlang disaat terdesak... dari dalam hati saya ucapkan salut pada karya-karya bangsa yang luar biasa tersebut.... semoga menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang terdepan nantinya.... amin selamat tinggal kemiskinan.... (mimpi dulu boleh... toh bentar lagi jadi kenyataan) On 2/16/08, Blie Putu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Info Teknik Dalam Negeri > Bahan Bakar Nusantara (BBN) > Dari Biota Laut Setara Pertamax > > [KLIK - Detail] Krisis energi mendorong banyak orang berkreasi dan > melakukan penelitian. Termasuk penelitian tentang Bahan Bakar Minyak > (BBM) yang semakin langka dan makin mahal harganya. Inilah yang > mendorong BSW Adjikoesoemo dari komunitas Indonesia Bangkit melakukan > riset biota laut yang dapat menghasilkan minyak. > > "Saya riset bertahun-tahun. Saya sadar bahwa negeri ini 50% > dikelilingi laut yang sangat kaya biota laut atau semacam plangton, bisa > diolah menjadi minyak mentah. Dan hasilnya berupa BBM setara Pertamax. > Karena kadar oktannya sudah mendekati 94. Dan harga jualnya cukup > menggiurkan karena hanya Rp 1.500 per liter," buka BSW > Adjikoesoemoe. > > Akhirnya, "Temuan ini diberi nama Bahan Bakar Nusantara (BBN)," > jelas BSW Adjikoesoemoe saat dijumpai di Perum Griya Mahkota, Blok J, > No. 16, Yogyakarta. Menurutnya, untuk memproduksi BBN ini, tidak > diperlukan biaya mahal. Karena biaya produksi per liter hanya perlu > biaya antara Rp 340-500. [KLIK - Detail] > > "Jadi, memang sangat murah sekali. Dan dipastikan rakyat Indonesia > tidak mengeluh boros mengeluarkan uang untuk membeli BBM yang saat ini > teramat mahal," kata pria biasa disapa Bung AK ini. > > Biota laut masih dalam bentuk aslinya diproses atau diolah dan > menghasilkan beberapa bagian. Di antaranya 60% air, 10% residu atau > ampas dan 30% minyak mentah. Dari hasil yang 30% minyak mentah diproses > lagi dengan cara penyulingan dan menghasilkan bensin, solar dan minyak > tanah. Ampas juga bisa untuk pakan ternak, pupuk dan apabila dicampur > tanah akan jadi seperti aspal. > > Dan untuk perkembangbiakan biota laut, bisa dilakukan di darat dengan > kelembapan tertentu. Pemanenan biota laut, bisa dilakukan setiap 10 hari > sekali. Setiap satu hektar lahan dapat menghasilkan 140 ribu liter. > > "Nantinya temuan ini akan saya serahkan ke pemerintah, biar mereka > yang mengelola. Disamping itu, agar rakyat di negeri ini menjadi > makmur," tutup Adjikoesoemo yang masih kerabat Sri Sultan ini. > AKADEMISI BERKOMENTAR [KLIK - Detail] Dr. Supranto yang > Ketua Pasca Sarjana Teknik Kimia Universitas Gagah Mada (UGM) Yogyakarta > membenarkan adanya temuan biota laut yang dapat diolah jadi minyak. > Biota laut yang dikembangkan berupa tumbuhan atau sejenis rumput laut. > Atau tanaman rendah yang bayak mengandung asiri dan hidro karbon. > > "Biota laut jenis ini tidak terlihat mana batang, daun ataupun > bunga, karena bentuknya sama semua. Dan jenis ini memang bisa > dikembangkan di darat dengan kadar kelembapan udara tertentu," jelas > bapak murah senyum ini. > > Dikatakan lebih lanjut, untuk pengolahan bisa ditempuh dengan dua cara. > Yaitu, dengan ekstilasi, dimana biota laut diolah dengan cara dilarutkan > dalam solven atau pelarut. Pelarut bisa berupa etanol, alkohol atau > benzena. > > Cara kedua lewat langkah destilasi. "Atau orang biasa menyebutnya > cara penyulingan. Relatif lebih murah dari langkah yang pertama. Karena > dengan sistem pemanasan, akan dipisahkan menjadi bahan bakar padat, cair > dan gas," terangnya lagi. > > Bahan bakar gas yang dimaksut LPG biasa dipakai untuk keperluan masak. > Sedang yang cair bisa berupa minyak tanah, solar dan bensin. Dan dari > hasil penyulingan itu, akan dihasilkan pirolosis atau termal craking. > Itupun masih harus dipisahkan lagi antara bensin, solar, dan minyak > tanah. Dan bensin yang dihasilkan mengandung oktan antara 86-94 atau > hampir setara Pertamax. > > Juga akan terasa agak wangi karena kandungan alkoholnya tinggi. "Dan > tidak menutup kemungkinan bahwa temuan Adji ini merupakan loncatan yang > luar biasa dan harus digandeng oleh pemerintah selaku pihak yang sangat > berkompeten," tutupnya penuh harap. > HASIL UJI COBA EM-PLUS > 1. Warna bensin kuning seperti Premium pada umumnya > 2. Saat dicium, bau bensin memang rada lebih wangi. Kata Dr. Supranto > karena masih mengandung alkohol. > 3. Diuji di Yamaha Mio, bahan bakar yang sebelumnya ada di tangki dan > karburator tentu dikuras. > 4. Kemudian dituangkan bensin dari biota laut ini sebanyak > setengah liter untuk dicoba. > 5. Motor distandar tengah, mesin dinyalakan beberapa saat. > Memainkan putaran mesin dan digas sampai mentok. > 6. Motor dijalankan mulai dari Jl. Kaliurang, Km 6,5 menuju Kaliurang > yang kontur jalannya semakin naik. Mulai dari jalan pelan dan stabil > antara 30-40 km/jam. > 7. Dicoba kecepatan tinggi setelah memasuki wilayah Pakem Km 15, jalan > mulai naik dan turun. Pada kecepatan tinggi mesin juga tidak menimbulkan > gejala mbrebet. Dan begitu sampai Kaliurang, bensin habis dan > tidak mengalami hambatan. > > Sumber: > http://www.motorplus-online.com/articles.asp?id=12003 > > > > > -- hendro 0812 841 8958 http://ryolix.multiply.com/ [EMAIL PROTECTED]
