Dear all,

Saya punya kawan, seorang wartawan..
Terakhir, dia tercatat sebagai wartawan majalah playboy..
Sekali waktu, dia ditugaskan interview dengan salah seorang penyanyi
dangdut...
Simak deh...

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*

Saya hampir menolaknya, karena saya awam dangdut.

Tapi, sang kawan menyuruh saya membuka Youtube dan Facebook. Ternyata, dia
ada di sana. Mieke Asmara namanya. Kelahiran Sukabumi, 24 April 1977. Video
klipnya "Merem Melek" ternyata bisa dilihat di Youtube. Mungkin supaya lebih
mempopulerkan namanya. Mieke tipikal penyanyi dangdut. Make up menor.
Sedikit menggoda. Yah, kamu bisa lihat sendiri lah di foto ini.

Mieke adalah kisah klise para pencari popularitas. Seperti lagu Tince
Sukarti Binti Mahmud, yang ditulis Iwan Fals. Konon, Mieke adalah seorang
mantan penyanyi dangdut tingkat kelurahan di Sukabumi. Konon lagi, ia hijrah
ke Jakarta dengan impian untuk menjadi seorang bintang besar. Namun
impiannya hancur ketika mengikuti sebuah audisi reality show dangdut di
salah satu televisi swasta. Oleh dewan juri ia disebut tak bebakat dan lebih
baik memikirkan karir alternatif. Sekali lagi konon, Mieke akhirnya
menemukan karir alternatif tersebut: gonta-ganti menjadi pacar gelap para
lelaki berduit Jakarta.

Oktober 2008 nanti, Mieke Asmara akan tampil dalam *Gara-Gara Bola!, *film
komedi yang diproduseri oleh Nia DiNata (Janji Joni, Quickie Express). Ini
adalah debut aktingnya yang pertama. Sebelum melihat aktingnya di film itu,
baca dulu wawancaranya.
**

Ada hubungan apa dengan Mira Asmara yang penyanyi dangdut?
*

Tidak ada. Mieke Asmara itu nama panggung. Nama asli saya Muhairoh
Tresnasih.
*

Ini pertama kalinya saya wawancara dengan penyanyi dangdut. Rasanya
deg-degan karena penyanyi dangdut biasanya selalu menggoda. Kalau Anda,
bagaimana rasanya diwawancara saya?
*

Biasa saja. Apalagi muka Anda mirip teman dekat saya. Namanya Kang Jufri.
Siang dia jualan bunga di Barito, malamnya dia suka nonton saya manggung di
Pasar Rumput. Orangnya baik sekali, suka membelikan VCD dangdut, suka
mengirimkan saya bunga. Yah, biar bunganya bekas karangan bunga duka cita,
yang penting kan niatnya baik. Potongannya ya seperti Kang… Aduh, siapa nama
Anda?
*

Soleh.
*

Iya, seperti Kang Soleh ini. Hitam, dekil, jaket kulit, pakai kacamata. Jadi
saya seperti bicara dengan kawan lama saja. (Mieke terdiam agak lama.
Mendadak matanya berkaca-kaca) Sayang Kang Jufri sudah tidak ada. Tahun
lalu, bajaj yang dia tumpangi tercebur ke Kali Ciliwung karena adu balap
dengan Metro Mini. Kejadian itu makin memecut semangat saya untuk rekaman.
Makanya di album saya ada lagu yang saya dedikasikan untuk Kang Jufri.
*

Judulnya?
*

"Cintaku di Dasar Ciliwung".
*

Tak banyak penyanyi dangdut yang punya account Facebook. Kenapa Anda punya?
*

Sebetulnya saya ini orangnya gaptek. Tapi beruntung, suami adik saya yang
tinggal di Sukabumi punya usaha warnet. Jadilah dia membuatkan saya account
di Facebook, sekaligus menambahkan isinya kalau ada berita baru. Duh, adik
ipar saya ini memang suportif sekali terhadap karir saya. Saking
suportifnya, dia suka mengirimi saya SMS-SMS penambah semangat. Seperti ini
nih. (Mieke lalu menunjukkan sebuah SMS yang berbunyi: MIEKE SAYANG, KPN KT
BS KTEMUAN? AK KANGEN. LELI LG GAK DI RUMAH LHO. KABARIN YA.) Manis ya?
*

Siapa yang memasukkan video klip "Merem Melek" ke Youtube?
*

Kalau itu kerjaan Bang Feri, produser saya.
*

Kalau Multiply? Punya account Multiply nggak? Ini kan wawancara buat
Multiply.
*

Kebetulan belum. Padahal saya suka menulis buku harian lho. Tadinya saya mau
minta tolong ke suami adik saya untuk membuatkan, tapi entah kenapa, sejak
mengirim SMS terakhir tadi, dia jadi susah dihubungi. Pas saya hubungi adik
saya, tanggapannya judes. Jadi bingung.
*

Kenapa Anda meng-claim musik Anda sebagai dangdut hiphop pertama di
Indonesia?
*

Ya karena memang yang pertama kan? Dulu saya sempat dengar Bang Oma hendak
duet dengan Iwa K, atau Martabak Manis, atau siapa gitu bintang hiphop
lokal, tapi entah kenapa tak terdengar lagi perkembangannya. Syukur juga,
karena dengan begitu saya bisa mengklaim sebagai penyanyi dut-hop pertama.
*

Ide siapa untuk menggabungkan dangdut dan hiphop?
*

Itu ide saya dan Bang Feri. Yah, namanya juga persaingan industri, harus
punya ciri khas kalau mau laku. Dangdut koplo, dangdut rock, dangdut house,
dangdut keroncong, semua sudah ada. Pilihannya tinggal dangdut seriosa atau
dangdut hip-hop. Akhirnya kami memilih dangdut hip-hop. Lebih gampang
nge-rap daripada nyanyi seriosa, sumpah.
*

Momen apa yang membuat Anda memutuskan untuk jadi penyanyi dangdut?
*

Menonton Aneka Ria Safari, suatu malam di tahun 1989. Di luar hujan
rintik-rintik, di layar tampil Itje Trisnawati membawakan "Duh Engkang".
Saat itu juga, saya tahu kalau sudah besar mau jadi apa.
*

Bagaimana Anda memandang industri dangdut di Indonesia?
*

Semuanya serba ketat. Ya persaingannya, ya kostum panggungnya. Untung postur
tubuh saya oke, jadi memakai kostum ketat pun tidak masalah.
*

Anda gagal di reality show dangdut. Bagaimana rasanya?
*

Seperti dicambuk, lalu lukanya dikecruti jeruk nipis pakai madu. Sakit
karena ditolak, tapi manis karena bisa bertemu idola saya, seorang diva
dangdut yang saat itu menjadi juri.
*

Kenapa Anda ingin sekali jadi superstar?
*

Kalau hanya jadi bintang, di langit juga banyak, Kang.
*

Anda punya goyangan khusus?
*

Ada dong. Namanya goyang dongkrak. Jadi suatu hari ban mobil saya kempes,
terpaksa deh saya mengganti ban sendiri. Saat mendongkrak itulah saya dapat
ide untuk membuat sebuah goyangan baru. Seperti ini nih… (Mieke pun
memperagakan sebuah gerakan yang super sensual, mirip orang mendongkrak,
tapi dengan pantat ketimbang tangan.) Anehnya Kang, sewaktu mogok itu ada
banyak lelaki yang mengerubungi, tapi tak satu pun yang mau menolong.
*

Rasanya semua jenis goyangan sudah diambil penyanyi dangdut. Bagaimana Anda
melihat fenomena ini?
*

Buat saya, ini bagian dari tuntutan zaman. Dulu, menyanyi saja sudah cukup.
Sekarang perlu ditambah goyangan. Siapa tahu, beberapa tahun lagi, penyanyi
dangdut sukses adalah mereka yang bisa nyanyi, goyang dan main sulap
sekaligus. Dan beberapa tahun kemudian, nyanyi, goyang, main sulap dan
pidato. Makanya saya sedang berpikir untuk mendaftar di sekolah sulapnya
Kang Dedy Corbuzier, atau sekolah… Errr… Apa namanya? Robert Baden Powell?
*

John Robert Powers.
*

Iya. Itu.
*

Kenapa sih banyak penyanyi dangdut kalau bernyanyi selalu mendesah?
*

Yah, lebih baik mendesah daripada mengigau, Mas.
*

Katanya Anda gila seks. Benarkah itu? Segila apa sih?
*

(Tersenyum nakal) Benar nih Mas Soleh mau tahu?
*

(tertawa gugup). Kalau begitu, saya percaya saja deh. Bagaimana rasanya
punya album rekaman?
*

Yang pasti, jauh lebih menyenangkan daripada punya album foto.
*

Apa yang menyenangkan dari bernyanyi di kafe Pasar Rumput?
*

Yah, selain bisa dapat uang, saya senang di sana bisa ketemu berbagai macam
orang. Seperti investor yang membiayai album saya, itu ketemunya di Pasar
Rumput. Dia bos karaoke dan panti pijat di Blok M, tapi suka dangdut. Orang
yang menawarkan kerja sebagai manajer Bakmi Yona juga ketemunya di Pasar
Rumput. Pokoknya bagus banget buat netwokring.
*

Apa?
*

Netwokring. Itu loh, yang kenal banyak orang buat bisnis.
*

Oooo… Networking!
*

Iya, netwroking.
*

Bagaimana suasana kafe di Pasar Rumput?
*

Wah, meriah, Kang. Apalagi saat tanggal muda. Acara di Dragonfly jadi
seperti pesta ulang tahun anak SD.
*

Penyanyi dangdut di kafe, biasanya identik dengan perempuan nakal. Bagaimana
dengan Anda?
*

Saya lebih suka menyebut diri saya 'berjiwa petualang'. Ke mana jalan
mengalir, ke situlah saya akan berhembus. Dan masalah nakal atau tidak kan
sebetulnya juga kembali ke individualnya masing-masing pribadi. Dan
tergantung kacamata yang digunakan. Kalau kacamatanya belum dilap, mungkin
kelihatannya begini. Kalo kacamatanya bersih, ya kelihatannya begitu. Jangan
mentang-mentang musiknya kafe dan mainnya di dangdut, lalu dicap nakal.
Walaupun… Saya akui, oknum itu pasti ada. Di semua profesi juga begitu,
bukan?
*

Digodek-godek itu sebenarnya sedang diapain?
*

Ini kembali tergantung pada kacamata yang kita gunakan. Dari kacamata dugem,
orang godek-godek jelas orang yang menikmati dugemnya. Dari kacamata polisi,
orang godek-godek berarti orang yang menolak tuduhan kalau dia maling. Dari
kacamata pejalan kaki, orang godek-godek berarti orang yang mau menyeberang.
Dari kacamata Mieke… (tertawa nakal) Pastinya menggodek karena kenikmatan.
*

Apa nikmatnya digodek-godek sehingga Anda sampai harus merem melek begitu?
*

Beda orang tentu beda ekspresi kenikmatan. Ada yang ngiler. Ada yang
memelet. Ada yang mematuk. Nah, kalau saya merem melek.
*

Apakah kita harus selalu sedia lap setiap saat ingin menggodek Anda?
*

Tergantung. Kalau godekan Anda kurang mantap, lap itu mungkin tidak
diperlukan, karena saya tak mungkin becek.
*

Kalau kita digodek Anda, apakah akan sampai becek juga?
*

Mungkin saja. Tapi beceknya setelah digodek, bukan saat digodek. Kalau saat
digodek sudah becek, wah, stamina Anda perlu dipertanyakan.
*

Kalau "Gelinjang Cinta," itu bercerita tentang apa?
*

Gelinjang Cinta kisah tentang seorang gadis yang dari awal terus menuruti
apa perkataan sang kekasih. Sang kekasih mau ke kiri, ia ikut ke kiri. Sang
kekasih mau ke kanan, ia ikut ke kanan. Seperti tidak punya pendirian dan
identitas. Akhirnya si gadis tak tahan dan memutuskan cintanya tatkala sang
kekasih hendak menduakannya.
*

Dengan gadis lain?
*

Bukan, dengan lelaki lain.
*

Dari mana Anda mendapatkan kostum?
*

Yang mendesain asisten dan make-up artist saya. Namanya Memed. Dia memang
punya usaha sendiri, namanya MmmmMemed Modiste & Vermak Levis. Lumayan, jadi
lebih hemat.
*

Anda merasa seksi jika memakai pakaian apa?
*

Selama pakaiannya ada corak berwarna hijau spotlight atau shocking pink,
selama berpayet, selama berumbai dan selama ketat menempel, saya pasti
selalu merasa seksi saat mengenakannya.
*

Siapa idola Anda untuk urusan fashion?
*

Gabungan antara Marilyn Monroe, Itje Trisnawati dan Rama Aiphama. Ketiga
sosok itu yang selalu saya jadikan panutan.
*

Bagaimana ceritanya Anda bisa bermain film?
*

Kebetulan casting director film itu, namanya Dimas, pacaran sama Iyut, adik
Bang Feri, produser saya. Tahu-tahu Iyut hamil. Bang Feri murka, soalnya
Iyut itu adik kesayangannya. Dia langsung mendatangi Dimas, lalu Dimas
digebukin. Mungkin supaya Bang Feri menghentikan gebukannya, Dimas
menjanjikan peran ini. Akhirnya Dimas tak jadi dibuat bonyok oleh Bang Feri.
Saya lalu ikutan casting, dan ternyata perannya pas: seorang penyanyi
dangdut ibukota. Sutradara suka, produser suka, jadilah saya ikutan.
*

Sepertinya semua terjadi begitu cepat. Punya album langsung main film.
Bagaimana Anda memandang fenomena ini?
*

Seperti yang saya bilang tadi… Ke mana jalan mengalir, ke situlah saya akan
berhembus. Dijalani saja, Kang. Yang penting kita total.


-- 
La victoria siempre...

Kirim email ke