tujuan dan maksudnya apa ya?

On 8/1/08, ary kurniawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>    Dear all,
>
> Saya punya kawan, seorang wartawan..
> Terakhir, dia tercatat sebagai wartawan majalah playboy..
> Sekali waktu, dia ditugaskan interview dengan salah seorang penyanyi
> dangdut...
> Simak deh...
>
>
> ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
> *
>
> Saya hampir menolaknya, karena saya awam dangdut.
>
> Tapi, sang kawan menyuruh saya membuka Youtube dan Facebook. Ternyata, dia
> ada di sana. Mieke Asmara namanya. Kelahiran Sukabumi, 24 April 1977. Video
> klipnya "Merem Melek" ternyata bisa dilihat di Youtube. Mungkin supaya lebih
> mempopulerkan namanya. Mieke tipikal penyanyi dangdut. Make up menor.
> Sedikit menggoda. Yah, kamu bisa lihat sendiri lah di foto ini.
>
> Mieke adalah kisah klise para pencari popularitas. Seperti lagu Tince
> Sukarti Binti Mahmud, yang ditulis Iwan Fals. Konon, Mieke adalah seorang
> mantan penyanyi dangdut tingkat kelurahan di Sukabumi. Konon lagi, ia hijrah
> ke Jakarta dengan impian untuk menjadi seorang bintang besar. Namun
> impiannya hancur ketika mengikuti sebuah audisi reality show dangdut di
> salah satu televisi swasta. Oleh dewan juri ia disebut tak bebakat dan lebih
> baik memikirkan karir alternatif. Sekali lagi konon, Mieke akhirnya
> menemukan karir alternatif tersebut: gonta-ganti menjadi pacar gelap para
> lelaki berduit Jakarta.
>
> Oktober 2008 nanti, Mieke Asmara akan tampil dalam
> *Gara-Gara Bola!, *film komedi yang diproduseri oleh Nia DiNata (Janji
> Joni, Quickie Express). Ini adalah debut aktingnya yang pertama. Sebelum
> melihat aktingnya di film itu, baca dulu wawancaranya.**
>
> Ada hubungan apa dengan Mira Asmara yang penyanyi dangdut?
> *
>
> Tidak ada. Mieke Asmara itu nama panggung. Nama asli saya Muhairoh
> Tresnasih.
> *
>
> Ini pertama kalinya saya wawancara dengan penyanyi dangdut. Rasanya
> deg-degan karena penyanyi dangdut biasanya selalu menggoda. Kalau Anda,
> bagaimana rasanya diwawancara saya?
> *
>
> Biasa saja. Apalagi muka Anda mirip teman dekat saya. Namanya Kang Jufri.
> Siang dia jualan bunga di Barito, malamnya dia suka nonton saya manggung di
> Pasar Rumput. Orangnya baik sekali, suka membelikan VCD dangdut, suka
> mengirimkan saya bunga. Yah, biar bunganya bekas karangan bunga duka cita,
> yang penting kan niatnya baik. Potongannya ya seperti Kang… Aduh, siapa nama
> Anda?
> *
>
> Soleh.
> *
>
> Iya, seperti Kang Soleh ini. Hitam, dekil, jaket kulit, pakai kacamata.
> Jadi saya seperti bicara dengan kawan lama saja. (Mieke terdiam agak lama.
> Mendadak matanya berkaca-kaca) Sayang Kang Jufri sudah tidak ada. Tahun
> lalu, bajaj yang dia tumpangi tercebur ke Kali Ciliwung karena adu balap
> dengan Metro Mini. Kejadian itu makin memecut semangat saya untuk rekaman.
> Makanya di album saya ada lagu yang saya dedikasikan untuk Kang Jufri.
> *
>
> Judulnya?
> *
>
> "Cintaku di Dasar Ciliwung".
> *
>
> Tak banyak penyanyi dangdut yang punya account Facebook. Kenapa Anda punya?
> *
>
> Sebetulnya saya ini orangnya gaptek. Tapi beruntung, suami adik saya yang
> tinggal di Sukabumi punya usaha warnet. Jadilah dia membuatkan saya account
> di Facebook, sekaligus menambahkan isinya kalau ada berita baru. Duh, adik
> ipar saya ini memang suportif sekali terhadap karir saya. Saking
> suportifnya, dia suka mengirimi saya SMS-SMS penambah semangat. Seperti ini
> nih. (Mieke lalu menunjukkan sebuah SMS yang berbunyi: MIEKE SAYANG, KPN KT
> BS KTEMUAN? AK KANGEN. LELI LG GAK DI RUMAH LHO. KABARIN YA.) Manis ya?
> *
>
> Siapa yang memasukkan video klip "Merem Melek" ke Youtube?
> *
>
> Kalau itu kerjaan Bang Feri, produser saya.
> *
>
> Kalau Multiply? Punya account Multiply nggak? Ini kan wawancara buat
> Multiply.
> *
>
> Kebetulan belum. Padahal saya suka menulis buku harian lho. Tadinya saya
> mau minta tolong ke suami adik saya untuk membuatkan, tapi entah kenapa,
> sejak mengirim SMS terakhir tadi, dia jadi susah dihubungi. Pas saya hubungi
> adik saya, tanggapannya judes. Jadi bingung.
> *
>
> Kenapa Anda meng-claim musik Anda sebagai dangdut hiphop pertama di
> Indonesia?
> *
>
> Ya karena memang yang pertama kan? Dulu saya sempat dengar Bang Oma hendak
> duet dengan Iwa K, atau Martabak Manis, atau siapa gitu bintang hiphop
> lokal, tapi entah kenapa tak terdengar lagi perkembangannya. Syukur juga,
> karena dengan begitu saya bisa mengklaim sebagai penyanyi dut-hop pertama.
> *
>
> Ide siapa untuk menggabungkan dangdut dan hiphop?
> *
>
> Itu ide saya dan Bang Feri. Yah, namanya juga persaingan industri, harus
> punya ciri khas kalau mau laku. Dangdut koplo, dangdut rock, dangdut house,
> dangdut keroncong, semua sudah ada. Pilihannya tinggal dangdut seriosa atau
> dangdut hip-hop. Akhirnya kami memilih dangdut hip-hop. Lebih gampang
> nge-rap daripada nyanyi seriosa, sumpah.
> *
>
> Momen apa yang membuat Anda memutuskan untuk jadi penyanyi dangdut?
> *
>
> Menonton Aneka Ria Safari, suatu malam di tahun 1989. Di luar hujan
> rintik-rintik, di layar tampil Itje Trisnawati membawakan "Duh Engkang".
> Saat itu juga, saya tahu kalau sudah besar mau jadi apa.
> *
>
> Bagaimana Anda memandang industri dangdut di Indonesia?
> *
>
> Semuanya serba ketat. Ya persaingannya, ya kostum panggungnya. Untung
> postur tubuh saya oke, jadi memakai kostum ketat pun tidak masalah.
> *
>
> Anda gagal di reality show dangdut. Bagaimana rasanya?
> *
>
> Seperti dicambuk, lalu lukanya dikecruti jeruk nipis pakai madu. Sakit
> karena ditolak, tapi manis karena bisa bertemu idola saya, seorang diva
> dangdut yang saat itu menjadi juri.
> *
>
> Kenapa Anda ingin sekali jadi superstar?
> *
>
> Kalau hanya jadi bintang, di langit juga banyak, Kang.
> *
>
> Anda punya goyangan khusus?
> *
>
> Ada dong. Namanya goyang dongkrak. Jadi suatu hari ban mobil saya kempes,
> terpaksa deh saya mengganti ban sendiri. Saat mendongkrak itulah saya dapat
> ide untuk membuat sebuah goyangan baru. Seperti ini nih… (Mieke pun
> memperagakan sebuah gerakan yang super sensual, mirip orang mendongkrak,
> tapi dengan pantat ketimbang tangan.) Anehnya Kang, sewaktu mogok itu ada
> banyak lelaki yang mengerubungi, tapi tak satu pun yang mau menolong.
> *
>
> Rasanya semua jenis goyangan sudah diambil penyanyi dangdut. Bagaimana Anda
> melihat fenomena ini?
> *
>
> Buat saya, ini bagian dari tuntutan zaman. Dulu, menyanyi saja sudah cukup.
> Sekarang perlu ditambah goyangan. Siapa tahu, beberapa tahun lagi, penyanyi
> dangdut sukses adalah mereka yang bisa nyanyi, goyang dan main sulap
> sekaligus. Dan beberapa tahun kemudian, nyanyi, goyang, main sulap dan
> pidato. Makanya saya sedang berpikir untuk mendaftar di sekolah sulapnya
> Kang Dedy Corbuzier, atau sekolah… Errr… Apa namanya? Robert Baden Powell?
> *
>
> John Robert Powers.
> *
>
> Iya. Itu.
> *
>
> Kenapa sih banyak penyanyi dangdut kalau bernyanyi selalu mendesah?
> *
>
> Yah, lebih baik mendesah daripada mengigau, Mas.
> *
>
> Katanya Anda gila seks. Benarkah itu? Segila apa sih?
> *
>
> (Tersenyum nakal) Benar nih Mas Soleh mau tahu?
> *
>
> (tertawa gugup). Kalau begitu, saya percaya saja deh. Bagaimana rasanya
> punya album rekaman?
> *
>
> Yang pasti, jauh lebih menyenangkan daripada punya album foto.
> *
>
> Apa yang menyenangkan dari bernyanyi di kafe Pasar Rumput?
> *
>
> Yah, selain bisa dapat uang, saya senang di sana bisa ketemu berbagai macam
> orang. Seperti investor yang membiayai album saya, itu ketemunya di Pasar
> Rumput. Dia bos karaoke dan panti pijat di Blok M, tapi suka dangdut. Orang
> yang menawarkan kerja sebagai manajer Bakmi Yona juga ketemunya di Pasar
> Rumput. Pokoknya bagus banget buat netwokring.
> *
>
> Apa?
> *
>
> Netwokring. Itu loh, yang kenal banyak orang buat bisnis.
> *
>
> Oooo… Networking!
> *
>
> Iya, netwroking.
> *
>
> Bagaimana suasana kafe di Pasar Rumput?
> *
>
> Wah, meriah, Kang. Apalagi saat tanggal muda. Acara di Dragonfly jadi
> seperti pesta ulang tahun anak SD.
> *
>
> Penyanyi dangdut di kafe, biasanya identik dengan perempuan nakal.
> Bagaimana dengan Anda?
> *
>
> Saya lebih suka menyebut diri saya 'berjiwa petualang'. Ke mana jalan
> mengalir, ke situlah saya akan berhembus. Dan masalah nakal atau tidak kan
> sebetulnya juga kembali ke individualnya masing-masing pribadi. Dan
> tergantung kacamata yang digunakan. Kalau kacamatanya belum dilap, mungkin
> kelihatannya begini. Kalo kacamatanya bersih, ya kelihatannya begitu. Jangan
> mentang-mentang musiknya kafe dan mainnya di dangdut, lalu dicap nakal.
> Walaupun… Saya akui, oknum itu pasti ada. Di semua profesi juga begitu,
> bukan?
> *
>
> Digodek-godek itu sebenarnya sedang diapain?
> *
>
> Ini kembali tergantung pada kacamata yang kita gunakan. Dari kacamata
> dugem, orang godek-godek jelas orang yang menikmati dugemnya. Dari kacamata
> polisi, orang godek-godek berarti orang yang menolak tuduhan kalau dia
> maling. Dari kacamata pejalan kaki, orang godek-godek berarti orang yang mau
> menyeberang. Dari kacamata Mieke… (tertawa nakal) Pastinya menggodek karena
> kenikmatan.
> *
>
> Apa nikmatnya digodek-godek sehingga Anda sampai harus merem melek begitu?
> *
>
> Beda orang tentu beda ekspresi kenikmatan. Ada yang ngiler. Ada yang
> memelet. Ada yang mematuk. Nah, kalau saya merem melek.
> *
>
> Apakah kita harus selalu sedia lap setiap saat ingin menggodek Anda?
> *
>
> Tergantung. Kalau godekan Anda kurang mantap, lap itu mungkin tidak
> diperlukan, karena saya tak mungkin becek.
> *
>
> Kalau kita digodek Anda, apakah akan sampai becek juga?
> *
>
> Mungkin saja. Tapi beceknya setelah digodek, bukan saat digodek. Kalau saat
> digodek sudah becek, wah, stamina Anda perlu dipertanyakan.
> *
>
> Kalau "Gelinjang Cinta," itu bercerita tentang apa?
> *
>
> Gelinjang Cinta kisah tentang seorang gadis yang dari awal terus menuruti
> apa perkataan sang kekasih. Sang kekasih mau ke kiri, ia ikut ke kiri. Sang
> kekasih mau ke kanan, ia ikut ke kanan. Seperti tidak punya pendirian dan
> identitas. Akhirnya si gadis tak tahan dan memutuskan cintanya tatkala sang
> kekasih hendak menduakannya.
> *
>
> Dengan gadis lain?
> *
>
> Bukan, dengan lelaki lain.
> *
>
> Dari mana Anda mendapatkan kostum?
> *
>
> Yang mendesain asisten dan make-up artist saya. Namanya Memed. Dia memang
> punya usaha sendiri, namanya MmmmMemed Modiste & Vermak Levis. Lumayan, jadi
> lebih hemat.
> *
>
> Anda merasa seksi jika memakai pakaian apa?
> *
>
> Selama pakaiannya ada corak berwarna hijau spotlight atau shocking pink,
> selama berpayet, selama berumbai dan selama ketat menempel, saya pasti
> selalu merasa seksi saat mengenakannya.
> *
>
> Siapa idola Anda untuk urusan fashion?
> *
>
> Gabungan antara Marilyn Monroe, Itje Trisnawati dan Rama Aiphama. Ketiga
> sosok itu yang selalu saya jadikan panutan.
> *
>
> Bagaimana ceritanya Anda bisa bermain film?
> *
>
> Kebetulan casting director film itu, namanya Dimas, pacaran sama Iyut, adik
> Bang Feri, produser saya. Tahu-tahu Iyut hamil. Bang Feri murka, soalnya
> Iyut itu adik kesayangannya. Dia langsung mendatangi Dimas, lalu Dimas
> digebukin. Mungkin supaya Bang Feri menghentikan gebukannya, Dimas
> menjanjikan peran ini. Akhirnya Dimas tak jadi dibuat bonyok oleh Bang Feri.
> Saya lalu ikutan casting, dan ternyata perannya pas: seorang penyanyi
> dangdut ibukota. Sutradara suka, produser suka, jadilah saya ikutan.
> *
>
> Sepertinya semua terjadi begitu cepat. Punya album langsung main film.
> Bagaimana Anda memandang fenomena ini?
> *
>
> Seperti yang saya bilang tadi… Ke mana jalan mengalir, ke situlah saya akan
> berhembus. Dijalani saja, Kang. Yang penting kita total.
>
>
> --
> La victoria siempre...
>
> 
>



-- 
hendro
0812 841 8958
I'M breAkinG thE RuLes GonNa Act liKe a fool

Kirim email ke