--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia
Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Rabu 29 Desember 2004 15:20 UTC ** JUMLAH KORBAN GEMPA DAN TSUNAMI DIATAS 70.000 ORANG ** HUKUMAN PENJARA SEUMUR HIDUP UNTUK HAMBALI ** INDIA TOLAK BANTUAN NEGARA ASING ** GEMA WARTA TOPIK ULASAN PERS: SITUASI DI ACEH MENGENASKAN DAN MITOS MENENTUKAN PERTOLONGAN SETELAH BENCANA ** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: MELAKSANAKAN BANTUAN YANG EFEKTIF ** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: MASYARAKAT PANTAI BARAT ACEH TERANCAM MATI APABILA TIDAK SEGERA DIBANTU ** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: KEKHAWATIRAN WABAH PENYAKIT, ACEH BUTUH ULURAN BANTUAN ** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: BANTUAN YANG LAMBAN TINGKATKAN RESIKO KESEHATAN PENGUNGSI * JUMLAH KORBAN GEMPA DAN TSUNAMI DIATAS 70.000 ORANG Tiga hari setelah bencana alam yang menghancurkan di Asia Selatan, regu-regu penyelamat terutama memusatkan diri pada penimbunan dan penguburan jenazah para korban. Ancaman wabah penyakit sangat besar. Menurut UNICEF, organisasi PBB untuk kanak-kana, jutaan orang terancam berbagai penyakit apabila mereka tidak mendapat bantuan air minum bersih dalam waktu dekat. Direktur Unicef Carol Bellamy menekankan ancaman wabah penyakit, seperti kholera dan diarhea, apabila penduduk minum air laut yang tercemar. Jumlah korban yang tewas akibat bencana gempa bumi dan tsunami di Asia mendekati 70 ribu orang. Masih puluhan ribu lainnya hilang. Menurut Unicef, satu dari tiga korban tewas adalah anak-anak. Terutama di Indonesia jumlah korban tewas jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya. Pemerintah Jakarta memperkirakan 40 ribu orang tewas, terutama di Propinsi Aceh. Di ibukota propinsi Banda Aceh sekitar 15 ribu orang tewas. Di Sri Langka jumlah korban meningkat hingga hampir 22 ribu orang. Di India, termasuk di Pulau Andaman dan Nicobar, lebih dari 12 ribu orang tewas. Karena wilayah-wilayah pantai yang tertimpa bencana masih belum terjamah bantuan, dicemaskan jumlah korban bisa berlipat ganda. Sementara itu nasib ratusan warga asing juga belum jelas. Banyak turis asing yang tewas di Thailand dan juga Sri Langka. Angka resmi terakhir di Thailand memberitakan 99 warga asing tewas dan belum bisa ditentukan jumlah mereka yang hilang. Sejumlah sumber bahkan menyatakan 3000 orang. * HUKUMAN PENJARA SEUMUR HIDUP UNTUK HAMBALI Sebuah pengadilan Kamboja menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup untuk pemimpin teroris asal Indonesia Hambali, dalam sidang in-absentia. Hambali didakwa berencana meledakkan kedutaan besar Inggris di ibukota Phnom Penh, beberapa tahun lalu. Sejak penahanannya tahun 2003 pemimpin teroris tersebut ditahan di sebuah tempat tak dikenal oleh Amerika Serikat. Hambali dituduh menjadi otak bom bali, Oktober 2002. Sidang pengadilan Phnom Penh juga menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup untuk lima aktivis muslim lainnya dari berbagai negara. Satu orang terdakwa, seorang warga Mesir, dibebaskan. * INDIA TOLAK BANTUAN NEGARA ASING India menolak bantuan darurat yang ditawarkan negara-negara asing. Pemerintah New Delhi sangat berterima kasih atas tawaran tersebut, tetapi menekankan bahwa negaranya punya sarana yang cukup untuk mengatur pemberian bantuan sendiri. India bahkan mengirim kapal-kapal terbang, helikopter dan kapal-kapal angkatan laut ke Sri Langka dan Kepulauan Maladewa untuk memberikan bantuan. Untuk bantuan pertama, pemerintah New Delhi menyediakan dana sebesar 80 juta euro. Jumlah korban tewas di negara itu mencapai lebih dari 12 ribu orang, sementara ribuan lainnya masih belum ditemukan. Mereka terutama penduduk yang tinggal di pulau-pulau terpencil dan tidak punya sarana komunikasi. Tetapi bencana alam ini lebih kecil dibandingkan gempa bumi di negara bagian Gujarat hampir lima tahun lalu. Ketika itu 20 ribu orang tewas menjadi korban. * LEDAKAN DI BAGDAD TEWASKAN 28 ORANG Di ibukota Irak Bagdad sedikitnya 28 orang tewas akibat ledakan bom berat di sebuah rumah tinggal. Diantara para korban termasuk enam polisi. Ledakan itu terjadi di perkampungan miskin Ghazaliya, ketika polisi baru saja memulai aksi penggerebekan. Penduduk setempat sebelumnya melaporkan kepada pemerintah bahwa rumah tersebut dihuni sejumlah ekstremis asing. Ketika polisi tiba di tempat, salah seorang penghuni seorang warga Sudan, berdiri atas atap rumah dan mengancam akan meledakkan rumah apabila polisi masuk ke dalam. Sejumlah rumah penduduk lainnya yang terletak bersebelahan juga diberitakan rusak. * DANA BANTUAN UNTUK NEGARA MISKIN DI TAHUN 2003 Bantuan pembangunan untuk negara-negara termiskin di dunia meningkat hampir sepertiganya di tahun 2003 dibandingkan tahun 2002. Negara-negara ini mendapat bantuan lebih dari 23 juta dolar di tahun 2003, demikian PBB. Ini adalah kenaikan terbesar dalam satu tahun. Tiga tahun lalu dalam sebuah konperensi PBB di Brussel disepakati bahwa negara-negara kaya harus berusaha menyisihkan 0,2% dari Pendapatan Bruto Nasional, GNP, kepada negara-negara miskin. Belanda termasuk salah satu negara tersebut, dan merupakan satu-satunya negara yang memenuhi persetujuan tersebut. * PENULIS SUSAN SONTAG TUTUP USIA Penulis Amerika Susan Sontag meninggal dunia setelah menderita penyakit leukemia. Sontag adalah salah satu penulis intelektual kiri terpenting di Amerika Serikat. Ia menulis 17 buku, baik fiksi maupun non-fiksi. Karyanya yang terkenal antara lain roman berjudul in America dan Notes on Camp, yang menceritakan pengalaman seni kaum homoseksual dan terbit tahun 1964. Bukunya juga ditebitkan di seluruh dunia dan mendapat berbagai penghargaan internasional. Selain itu Susan sontag juga dikenal sebahai aktivis hak asasi manusia. Ia meninggal dunia di rumah sakit di New York dalam usia 71 tahun. * BERITA BURSA Bursa efek di Amsterdam dibuka tanpa perubahan berarti. Indeks AEX dibuka pada 348, sementara nilai tukar euro terhadap dolar Amerika tercatat $1, 3633. Indeks pasar bursa Jepang, Nikkei ditutup pada 11.381,56 atau turun 0,4%. * ULASAN PERS: SITUASI DI ACEH MENGENASKAN DAN MITOS MENENTUKAN PERTOLONGAN SETELAH BENCANA Halaman depan harian sore NRC Handelsblad dibuka dengan "situasi di Aceh tanpa harapan". Dampak gempa bumi di Aceh jauh lebih besar dari diberitakan sebelumnya. Ratusan mayat masih bergelimpangan di jalan-jalan Banda Aceh, dan kota itu diselubungi bau menyengat. Mereka yang selamat membutuhkan bantuan air minum bersih, makanan, obat-obatan dan bahan bakar. Hubungan telepon selular di Banda Aceh mulai pulih, walaupun sinyalnya masih lemah. Menurut departemen pertambangan dan energi masih ada cadangan bahan bakar untuk tujuh hari, tetapi distribusi sangat sulit karena sebagian besar jalan darat rusak. Sementara kota-kota dan desa-desa di sepanjang pantai Barat Aceh masih belum dijangkau regu penyelamat ataupun wartawan. Seorang penduduk Meulaboh melaporkan kota itu 80% hancur, dan hanya bisa dicapai lewat jalan gunung. Gempa dan tsunami menutup wilayah pantai dari dunia luar. Presiden SBY memerintahkan perbaikan sarana komunikasi dan transportasi serta evakuasi penduduk yang cedera. Pengusaha Surya Paloh, yang juga orang Aceh telah mengumpulkan dana juta euro untuk Aceh. Hanya organisasi pemberi bantuan asing yang masih menunggu ijin untuk terbang ke Aceh. Demikian NRC Handelsblad. Harian Trouw memberitakan warga Aceh di Belanda mencemaskan nasib keluarga mereka di Aceh. Misalnya Erwanto yang datang ke Belanda mencari suaka. Keluarganya tinggal di Banda Aceh dan hingga sekarang belum ada berita. Selain itu ia membantu dua lsm gereja Belanda untuk memberikan bantuan di Aceh. ICCO dan KerkinActie, akan mendirikan pos-pos darurat di Lhokseumawe dan Nias serta mengirim air minum bersih ke Aceh. LSM Belanda lainnya, Novib mengirim truk-truk mengangkut makanan, pakaian dan obat-obatan ke Banda Aceh. Novib juga mencoba masuk ke Meulaboh, yang diberitakan hancur total dan terisolasi dari dunia luar. Berita pertama yang datang dari Meulaboh sangat menyedihkan, dan kemungkinan hampir semua penduduk kota itu tewas. Trouw melanjutkan, para relawan membantu pasukan TNI mengubur mayat para korban. Gerakan Atjeh Merdeka menyatakan gencatan senjata sepihak, selain itu dicemaskan beberapa batalyon TNI tewas atau terseret tsunami. International Herald Tribune memberitakan penduduk Aceh yang selamat menggunakan tangan mereka untuk menggali makam, sementara mereka yang kelaparan berebut bantuan makanan. Regu-regu penyelamat memperkirakan 10 ribu penduduk Meulaboh tewas. Sepanjang wilayah pantai Barat Aceh penduduk terlempar ke atas atap-atap rumah, dan masih belum dapat diselamatkan oleh satuan tentara. Para pengungsi berjalan berhari-hari melewati hutan hanya berbekal buah kelapa sebelum masuk ke Banda Aceh. Laut masih penuh dengan jenazah, demikian seorang warga yang selamat ketika tiba di Banda Aceh. Karena bantuan datang sangat lambat, penduduk Meulaboh dan kota-kota lainnya mulai menjarah. Konsulat Amerika di Medan melaporkan air yang tercemar dari Banda Aceh terus mengalir ke pedalaman. Selanjutnya si bandara Medan warga Aceh berebut tiket pesawat untuk mencari sanak keluarga. Garuda Indonesia menggunakan pesawat yang lebih besar agar dapat mengangkut penumpang lebih banyak. Herald Tribune melanjutkan kota Lhokseumawe dijaga ketat oleh pasukan TNI yang berpatroli sepanjang jalan. Terutama jalan yang menghubungkan kota itu dengan Banda Aceh dan Meulaboh dijaga dengan tank. Gencatan senjata dengan GAM memungkinkan truk-truk TNI digunakan mengangkut tumpukan jenazah korban, sementara pasukan TNI ditugaskan membersihkan puing dan mencari korban lainnya. Para petugas sosial cemas gelombang tsunami kedua mengancam para penduduk di sepanjang pantai, yang berlindung di tempat darurat dengan persedian bahan bakar yang semakin menipis. Situasi semakin bertambah kritis karena sistim distribusi makanan dan obat-obatan hancur total. Sementara koran pagi Belanda de Volkskrant menulis, mitos menentukan bantuan setelah bencana. Walaupun banyak negara langsung menyumbang dana jutaan dolar, serta mengirim pesawat terbang sarat makanan dan obat-obatan, sangatlah sulit bagi PBB mengkoordinasi bantuan bagi korban bencana alam terbesar dalam sejarah, yang meliputi 12 negara dari Indonesia hingga Tanzania ini. Tidak ada pihak yang tahu persis bantuan apa saja yang dibutuhkan. Bank Dunia melaporkan karena kurangnya analisa menyeluruh bagi pembangunan kembali wilayah bencana, organisasi pemberi bantuan serta politikus berulang kali melakukan kesalahan yang sama. Inilah yang dinamakan mitos para pemberi bantuan. Misalnya banyak negara langsung mengirim rumah sakit darurat ke wilayah bencana, padahal dalam waktu 36 jam semua korban yang cedera sudah ditolong atau dirawat. Setelah gempa bumi di Bam Iran, Barat memberikan bantuan darurat 10 juta dolar, tetapi bantuan 10 juta dolar untuk membangun kembali kota itu, tidak ada. Setelah beberapa minggu pertama, perhatian dunia mulai hilang dan aliran dana terhenti. Wilayah bencana tidak lagi menarik lagi untuk politikus dan organisasi pemberi bantuan. Demikian de Volkskrant. Koran ini melanjutkan, menurut seorang pakar PBB adalah dongeng saja bahwa gunungan mayat harus segera dikubur. Menurutnya kuman tidak bisa bertahan lama di badan orang yang sudah mati, karena itu ada waktu untuk mengidentifikasi korban. Korban yang selamat tetapi terinfeksi penyakit malah disamakan dengan bom waktu. Selain itu identifikasi membantu sanak keluarga untuk mengatasi trauma, dan akte kematian dibutuhkan untuk mendapat kompensasi pemerintah. Demikian de Volkskrant dan sekian ulasan pers. * MELAKSANAKAN BANTUAN YANG EFEKTIF Para petugas bantuan bergegas menuju ke daerah bencana di Asia Tenggara menyusul gempa bumi dan gelombang dahsyat Minggu lalu. Mereka ingin secepat mungkin menanggapi apa yang mereka lihat sebagai bencana alam terbesar dalam sejarah. Organisasi-organisasi bantuan internasional lintang pukang menyatakan bahwa mereka akan mengirim air, makanan, dan tenda ke daerah bencana. Semua setuju bahwa para korban harus dibantu sebaik mungkin. Tapi bagaimana itu bisa dicapai, banyak perbedaan pendapat. Lebih jauh laporan Pieternel Gruppen. Organisasi bantuan cenderung bereaksi cepat terhadap bencana. Kepentingan sendiri, memainkan peran di situ. Mereka ingin menunjukkan bisa dipercaya dalam menjalankan tugas. Tapi oleh karena itu pula, menurut pakar pembangunan Paul Hoebink dari Universitas Nijmegen, bantuan yang ditawarkan sebenarnya tidaklah diperlukan. Paul Hoebink: Contoh mencolok adalah pemerintah Ceko yang mengirim pesawat penuh dengan air minum ke Sri Lanka. Ini bisa dikatakan gila karena di Sri Lanka ada air tapi yang tidak dimiliki adalah obat-obat penjernih air. Jadi pesawat yang penuh dengan botol-botol air adalah hal yang tak masuk akal'. Organsiasi bantuan justru bisa menyebabkan kerugian apabila terlalu cepat mengambil kesimpulan. Sesaat sesudah gempa laut itu, Organisasi kesehatan Sedunia WHO memperingatkan pecahnya wabah penyakit. Jumlah korban bisa lebih banyak dari korban akibat tsunami itu sendiri. Menurut Hoebink, bahaya wabah penyakit sendiri tidaklah begitu besar. Tetapi dengan menyatakan bahaya besar penyakit menular maka organisasi kemanusiaan bisa salah sangka. Dikirim obat-obatan dalam jumlah besar padahal itu tidak dibutuhkan. Paul Hoebink: Saya teringat gempa bumi besar di Kolombia 20 tahun lalu. Sebagian besar obat-obatan yang dikirim harus dibuang setengah tahun sesudah bencana karena ternyata tidak diperlukan, sedangkan masa kadaluwarsanya telah habis bahkan ketika obat-obat itu dikirimkan. Dalam menghadapi bencana alam seperti ini, koordinasi bantuan seringkali sangatlah buruk. Ini terkadang sulit dihindari karena komunikasi di sejumlah wilayah tidak memungkinkan. Tetapi menurut Simon Pluess dari Program pangan Sedunia PBB, berbagai organisasi PBB berupaya untuk membagi tugas. Simon Pluess: Dalam sistim PBB, kami berbagi tugas. Ada yang khusus menangani masalah air seperti UNICEF. Kami juga memiliki badan koordinasi yang mengkkordinasikan semua aksi. Itulah yang terjadi sejak hari pertama bencana dan kita bertemu setiap hari di Jenewa, New York, dan di lapangan untuk mengkkordinasikan kegiatan serta menentukan siapa melakukan apa. Namun pemerintah setempatlah yang harus sepenuhnya pegang kendali dalam menyalurkan bantuan sesudah bencana. Merekalah yang mampu memperkirakan bantuan yang dibutuhkan. Pemerintah negara-negara yang terkena bencana pada umumnya terorganisaikan dengan baik. Mereka bisa menentukan apa yang bisa mereka lakukan sendiri dan bantuan tambahan dari luar negri apa yang diperlukan. Meskipun para petugas bantuan sudah tidak sabar untuk segera turun ke lapangan tapi sebaiknya mereka tenang dulu saja. Tidak disangkal, ini adalah bencana yang sangat luar biasa, tapi para petugas hendaknya berkepala dingin. Mereka harus mencermati situasi dengan tenang dan baru mengambil tindakan. * MASYARAKAT PANTAI BARAT ACEH TERANCAM MATI APABILA TIDAK SEGERA DIBANTU Penduduk yang masih tersisa di Kota Meulaboh dan kota kecamatan Calang, sangat membutuhkan bantuan segera. Kedua kota itu terputus dari dunia luar sesudah gelombang dahsyat Minggu lalu. Sepanjang pesisir pantai Barat Aceh, mulai dari kota Meulaboh ke arah Banda Aceh, semuanya tersapu air bah. Bahkan di Calang, tidak ada lagi bangunan rumah yang tegak. Di Calang sendiri yang berpenduduk antara lima sampai tujuh ribu orang, sekarang paling banter hanya terisa sekitar seratusan orang. Demikian dijelaskan Bapak Mijar dari Yayasan Leuser Internasional di Medan, yang melakukan pemantauan lewat udara. Mijar: Kita kemarin terbang pukul tiga, berangkat dari Medan. Kemudian kita masuk ke pantai barat melalui Singkil. Kota Singkil sendiri tidak ada masalah. Sepanjang pantai Singkil itu cukup bagus sampai dengan pantai Tapaktuan. Kota Tapaktuan juga tidak ada masalah. Kemudian kita telusuri terus sampai ke Blangpidie. Blangpidie juga tidak ada masalah. Kemudian, gelombang tsunami mulai menghantan pantai barat Aceh itu mulai dari sebelah bawahnya kota Meulaboh. Jadi kota Meulaboh sendiri kita lihat dari udara, sekitar 80 persen dari bangunan yang ada di kota Meulaboh itu hancur total, yang berdekatan langsung dengan bibir pantai. Kemudian kita menuju ke arah Banda Aceh mengikuti pantai, itu sepanjang jalan dari Meulaboh sampai ke kecamatan Krueng Sabee, itu tepatnya di ibukota kecamatan Calang, itu semua desa yang ada di sekitar itu sepanjang hampir lebih seratus kilometer, itu semuanya habis. Tidak ada tinggal satu rumahpun sepanjang pantai barat Meulaboh sampai ke ibukota kecamatan Krueng Sabee, Calang. Itu habis. Jadi perhitungan kita memang kerusakan paling berat akibat gempa dan tsunami, bukan berada di Banda Aceh dan Lhokseumawe. Tapi perhitungan kita adalah berada di pantai barat yang sampai saat ini, mungkin sampai kemarin, belum ada bantuan. Belum ada evakuasi sama sekali baik dari masyarakat maupun dari pusat atau daerah lain. Karena memang jalan yang menghubungkan dari Medan ke Tapaktuan yang melintasi pantai barat, itu terputus total. Di Bakongan itu, jembatan terputus. Apalagi kalau kita masuk dari Banda Aceh. Dari Banda Aceh, semuanya terputus. Baik jalan ataupun jembatan itu semuanya terkelupas. Sepertinya kulit bumi pantai barat itu dikupas habis oleh gelombang tsunami. Menurut perhitungan kami, masyarakat yang ada di sekitar pantai barat, itu habis tersapu gelombang tsunami. Kalau saya tidak salah, mungkin perlu koreksi, perhitungan saya sendiri itu mungkin sekitar 50.000 jiwa di sini melayang. Kalau menurut perhitungan kami, ya, kalkulasi dari angka-angka penduduk yang kami hitung, mungkin sekitar 50.000 jiwa sudah melayang terseret arus ke laut semuanya. Sepanjang pantai barat itu habis ya. Habis. Tidak ada tersisa satupun. Dari garis pantai sampai ke daratan itu, antara 1,5 sampai 2 kilometer itu terseret habis semua ke laut. Jadi tidak kita temui lagi bangunan di sana. Begitu juga dengan bandara di Meulaboh. Bandara di Meulaboh juga tidak bisa dipergunakan sama sekali karena memang runawaynya itu terbongkar oleh gelombang. Bala bantuan bisa dipasok, satu-satunya jalan melalui udara. Itupun hanya melalui helikopter. Kemudian kalau melalui laut, paling dekat dari pelabuhan Sibolga. Yang paling utama adalah bantuan makanan dan bahan obat-obatan bagi masyarakat yang masih tersisa di sana, karena perhitungan kami, dalam dua atau tiga hari ke depan, tidak ada bala bantuan yang diberikan ke masyarakat Meulaboh dan sekitarnya sampai Calang, maka masyarakat yang ada akan meninggal. Karena tidak ada bahan makanan sama sekali. Mereka betul-betul terisolasi. Radio Nederland: Sewaktu melakukan pemantauan lewat udara itu, apakah Pak Mijar melihat masih adanya tanda-tanda kehidupan di sana? Mijar: Kalau di kota Meulaboh sendiri itu masih ada aktivitas manusia. Tapi kalau ke arah banda Aceh, sepanjang pantai barat, itu hanya kita jumpa masih ada manusia di ibukota kecamatan Krueng Sabee yang namanya Calang, itu masih ada sekitar seratus manusia. Tidak lebih dari sereatus manusia yang tersisa di situ, dari kira-kira mungkin lima sampai tujuh ribu manusia di sana. Lima sampai tujuh ribu manusia, mungkin yang tersisa hanya seratus orang saja yang kita lihat. Mereka sangat mengharapkan bantuan tapi kita tidak bisa mendarat sama sekali ya. Kita sendiri menyaksikan, bagaimana kita juga sangat nggak bisa bercerita banyak. Bala bantuan ke pantai barat, secepatnyalah diberikan pertolongan supaya manusia yang tersisa di sana masih bisa terselamatkan. Jangan hanya terfokus bantuan itu ke Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Banda Aceh. Mari kita pikirkan pantai barat karena kerusakan terparah itu adalah di pantai barat. Nah, manusia yang masih tersisa di pantai barat ini, mari kita selamatkan. Saya mengimbau dengan hati nurani, baik pemerintah maupun luar negri bisa memberikan bala bantuan secepatnya. Demikian Mijar dari Yayasan Leuser Internasional di Medan. * KEKAHWATIRAN WABAH PENYAKIT, ACEH BUTUH ULURAN BANTUAN Tiga hari setelah bencana besar di Aceh, mulai dikhawatirkan pecahnya wabah penyakit. Air bersih sulit didapat, demikian pula makanan dan jenazah yang membusuk dan tak kunjung dimakamkan meerupakan ancaman kesehatan serius. Berikut Ida Safitri, dokter penyakit sub tropis pada RS DR Sardjito di Yogyakarta tentang kekhawatiran wabah menular di Aceh. Ida Safitri [IS]: Kekhawatiran tentang timbulnya penyakit menular pasca bencana Tsunami memang saya rasa sangat patut untuk diperhatikan, menjadi perhatian kita. Karena apa? Ketersediaan fasilitas air yang tidak memadai, kemudian kondisi pengungi, dalam beberapa hari ini kan tidak dapat akses yang memadai dalam keadaan makanan yang benar, kemudian juga tidak terlepas dari adanya beberapa jenazah yang sudah membusuk di situ. Saya rasa memang mulai diwaspadai kemungkinan terjadinya penyakit-penyakit menular. Mungkin yang pertama adalah diare ya, karena akses terhadap pasokan air bersih yang sangat tidak memadai itu. Diare mungkin akan mulai ada itu. Kemudian yang kedua mungkin juga infeksi saluran pernapasan akut ya. Oleh karena cuaca yang sangat tidak bersahabat. Kita tahu juga dalam dua hari terakhir ini hujan turun terus menerus, di beberapa wilayah Indonesia, termasuk di Aceh juga. Nah itu juga mempengaruhi. Dalam hal ini nanti memudahkan transmisi penyakit-penyakit yang ditularkan melalui kontak udara, jadi seperti ispa (infeksi saluran pernapasan, Red.) itu memang juga harus kita perhatikan. Di luar itu, belum lagi nanti penyakit-penyakit yang mungkin sudah endemik di daerah tersebut. Nah itu yang kita juga masih harus melacak lagi ya. Saya nggak tahu apakah seperti Meulaboh atau Bireun itu juga merupakan daerah-daerah endemis malaria dan sebagainya. Radio Nederland [RN]: Kalau begitu menurut Ibu Ida, sebaiknya langkah-langkah awal apa yang patut diambil supaya penyakit ini tidak menular? IS: Ya koordinasi harus dilakukan sebaik mungkin, artinya memang kita mengetahui juga bahwa akses ke lokasi kan tidak mudah ya. Saya pribadi menganggap bahwa penduduk yang masih selamat segera ditempatkan di pos-pos pengungsian tertentu, dan mereka kemudian mendapat perhatian sepenuhnya untuk bisa mendapatkan makanan yang cukup. Saya dengar juga dari rapat di tingkat Depkes bahwa juga banyak anak-anak atau orang tua yang mulai sakit demam dan sebagainya, karena kedinginan di tenda-tenda, karena cuacanya sangat tidak bersahabat. Itu bagaimana supaya mereka-mereka yang sudah tertampung di tenda-tenda darurat di posko-posko penampungan itu segera mendapatkan akses makanan, mungkin obat-obatan, dan juga selimut dan sebagainya. Sementara di satu sisi yang lain mungkin tim evakuasi itu betul-betul harus mulai menguburkan jenazah, kemudian air dan penerangan dan sebagainya itu mungkin harus juga ditangani. RN: Tampaknya Ibu Ida juga termasuk dalam tim yang bermaksud mengulurkan bantuan ke Aceh ya, bisa diceritakan itu? IS: Ya, insya alah begitu. Jadi kebetulan tadi pagi saya juga dipanggil oleh komite medis, dengan teman-teman yang lain. Saya kan kebetulan dari bagian anak, tapi dari bagian bedah kemudian farmasi, penyakit dalam, tim medis rumah sakit Sardjito memang menyiapkan tim yang akan diberangkatkan ke Banda Aceh. Dan tim ini bekerjasama juga dengan Pemda DIY yang juga sudah memang mengkoordinasikan untuk memberangkatkan. Tapi besok itu tim medis dari Sardjito pasti akan berangkat. Pagi hari dari Yogyakarta menuju ke Calang, kira-kira sebelah utaranya Meulaboh, itu sebanyak 25 orang. Demikian Ida Safitri, dokter penyakit sub tropis pada RS DR Sardjito di Yogyakarta. * BANTUAN YANG LAMBAN TINGKATKAN RESIKO KESEHATAN PENGUNGSI Intro: Jumlah korban tewas di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam akibat gempa bumi dan gelombang air pasang Minggu lalu, diperkirakan telah mencapai 40 ribu jiwa. Dari Meulaboh yang 80 persen kotanya hancur, diberitakan bahwa tentara menemukan 3400 mayat. Baru hari ini, kota tersebut dapat dicapai. Sementara di Banda Aceh sendiri, mayat-mayat masih banyak tergeletak di jalanan, sedangkan bantuan makanan kepada penduduk berjalan lamban. Demikian dikatakan Fadhil dari Banda Aceh. Fadhil: Saat ini saya ada di belakang asrama haji. Di Lang Pineung. Radio Nederland [RN]: Keluarga anda semuanya selamat dan baik-baik saja? Fadhil: Alhamdulillah selamat, cuma ada dua abang sepupu dan keluarga sampai sekarang belum ada kabarnya. Mungkin yang sangat mendesak ini faktor makanan dan evakuasi. Di Banda Aceh saat ini masih banyak jenazah yang belum terangkat. RN: Kabarnya sudah dikerahkan lagi tentara dari Jawa untuk membantu mengevakuasi jenazah? Fadhil: Ada kemungkinan. Tapi sampai saat ini barusan kami lewat di jembatan Surabaya dan di depan kantor gubernur, juga di depan asrama haji, masih sangat-sangat banyak jenazah yang sampai sekarang diletakkan di pinggir jalan. Juga makanan. Mungkin sampai sekarang mungkin droppingnya sudah banyak dari pusat, tapi tadi pagi kami coba komunikasi dengan posko di Blang Bintang. Katanya posko untuk bantuan makanan cuma ada di pendopo, sedangkan makanannya di Blang Bintang. Nah masyarakat saat ini sangat-sangat membuthkan. Di pasar sudah habis semuanya. Juga BBM-nya sudah habis. RN: Tetapi kalau kami lihat di televisi nampaknya mereka membagi-bagikan makanan dan super mie kepada penduduk? Fadhil: Bisa jadi ia, karena persoalannya terlalu banyak penduduk yang mengungsi. Juga tidak semua titik pengungsian itu terdaftar. Karena banyak pula yang mengungsi ke tempat keluarganya. Tapi ya di tempat kami, di desa kami itu ada sekitar 600-an pengungsi yang kebanyakan dari konfirmasi dalam hubungan keluarga, berada di Banda Aceh dan juga di desa-desa di sebelah kami. Jadi banyak titik yang mungkin tidak terdata. Jadi kami tadi pagi sudah mencoba berkomunikasi dengan posko kesehatan. Kata mereka masih dalam batas koordinasi, belum bisa untuk didropping. Anda maksud bisa jadi yang seperti titik pengungsiannya agak besar seperti di Blang Bintang atau di seputaran bandara. Sementara yang mengungsi ke tempat keluarga sampai sekarang itu belum tertangani. RN: Anad melihat tidak bantuan-bantuan asing di sana? Fadhil: Ya itu bantuan di Blang Bintang sudah sangat-sangat banyak. Cuman proses distribusinya yang mungkin jadi suatu kendala juga. Karena itu sampai sekarang, tadi cuma saya lihat pada saat saya kemari dari rumah, di Lambaro sudah mulai ada di depan kantor PKS. Di itu sudah dropping-dropping mungkin dari relawan mereka, kita juga tidak tahu. Karena baru hari ini saya bisa berkomunikasi dengan orang lain. Dengan fasilitas HP. RN: Bagaimana saat ini situasi di Banda Aceh sendiri. Anda bisa menggambarkan? Fadhil: Kalau kotanya yang jelas kota Banda Aceh sudah hancur. Gedung porak-poranda, juga dengan bangunannya. Sampah masih bergeletakkan. Tapi masyarakat masih banyak yang mencoba menyelamatkan barang-barang mereka. Seperti mobil. Ada juga yang mencoba menyelamatkan barang yang lain. Dan sebagian besar sudah mengungsi ke tempat keluarga, anda yang ke Indrapuri, bahkan ke Sigli. RN: Kalau situasi psikologis mereka yang anda lihat bagaimana? Fadhil: Sampai saat ini semua trauma. Trauma itu mungkin ya proses yang sangat lama. Ada juga korban yang selamat, seperti orang yang schok. Tidak bisa cerita apa-apa lagi. Juga masyarakat yang juga mengalami tapi tidak menjadi korban. Artinya yang dia cuma ekses dari gempa seperti di daerah kami semua orang pada trauma. RN: Waktu hari minggu itu anda di mana waktu kejadian? Fadhil: Kebetulan di Pasar Lambaro. sekitar delapan kilometer dari Banda Aceh. Dan di sana airnya itu tidak ada. Di daerah kami tidak ada air banjirnya. Air bah cuma mencapai daerah pesisir di Banda Aceh. Kemarin kita sudah mencari keluarga juga ke daerah Pelanggahan, Kampung Jawa, Kedah itu sudah rata semua. Juga ada di Lamdingin, kita cari keluarga sudah rata. Umumnya daerah pinggiran yang kena. Demikian Fadhil. --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.ranesi.nl/ http://www.rnw.nl/ Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [EMAIL PROTECTED] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. ---------------------------------------------------------------------
