--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia
Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Rabu 05 Januari 2005 19:40 UTC ** MENLU AMERIKA TERKEJUT ATAS KERUSAKAN DI ACEH ** GEMPA SUSULAN DI ACEH ** GAM BANTAH SERANG KONVOI BANTUAN KEMANUSIAAN ** TOPIK PERS: BANTUAN AMERIKA DAN BANDA ACEH MULAI HIDUP KEMBALI ** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: KANWIL DEPSOS MEDAN SIAP TAMPUNG ANAK-ANAK ACEH ** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: PENGHAPUSAN HUTANG NEGARA KORBAN BENCANA ** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: ADOPSI ANAK-ANAK ACEH DIKHAWATIRKAN MEMANCING DI AIR KERUH ** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: ANGKATAN UDARA MALAYSIA JUGA TURUN DI ACEH ** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: KTT TSUNAMI DI JAKARTA BERLANGSUNG TANPA KALANGAN LSM * MENLU AMERIKA TERKEJUT ATAS KERUSAKAN DI ACEH Menteri Luar Negri Amerika Serikat Colin Powell melakukan pemantauan dari udara di atas Aceh. Powell mengatakan bahwa selama karirnya yang panjang, ia belum pernah menyaksikan kehancuran seperti yang baru saja dilihatnya. Menteri Powell didampingi oleh adik Presiden George Bush yaitu Gubernur Florida, Jeb Bush. Di Banda Aceh, Powell mendapatkan informasi tentang operasi bantuan raksasa yang sedang berlangsung. Jumlah korban tewas di Indonesia mendekati seratus ribu, yaitu dua pertiga dari seluruh korban di Asia. Powell akan kembali ke Jakarta untuk menghadiri konperensi donor Kamis besok. Para pemimpin dunia akan membicarakan tentang jumlah bantuan. Salah satu topik pembicaraan adalah pengurangan utang negara-negara yang dilanda bencana. Negara kreditor penting seperti Jerman dan Prancis telah menyatakan akan menghapuskan atau mengurangi sebagian utang negara-negara tersebut. Jepang secara sepihak membekukan pembayaran utang negara-negara korban tsunami. Sementara, Australia bersikap berhati-hati. Perdana Menteri John Howard mengimbau bantuan kemanusian dan pemulihan kembali yang terarah. Menteri Kerjasama Pembangunan Belanda Agnes van Ardenne juga menyatakan bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah bantuan kemanusiaan, dan masalah peringanan hutang tidaklah pada waktunya dibicarakan. * GEMPA SUSULAN DI ACEH Gempa susulan kembali terjadi di Aceh Rabu ini tapi tidak menyebabkan kerusakan besar. Gempa tersebut berkekuatan 5,1 pada skala Richter. Pusat gempa terletak 33 kilometer di bawah Samudra Hindia, dan sekitar 66 kilometer di sebelah barat daya Banda Aceh. * GAM BANTAH SERANG KONVOI BANTUAN KEMANUSIAAN Gerakan Aceh Merdeka GAM membantah pernyataan tentara bahwa mereka telah menyerang iring-iringan pembawa bantuan kemanusiaan. GAM menuduh pemerintah sedang melancarkan serangan ke mereka. Demikian dikatakan Teungku Darwis Jeunib. Lebih lanjut Jeunib mengatakan bahwa anak buahnya di lapangan mematuhi perintah pemimpin mereka di Swedia untuk melakukan gencatan senjata sepihak guna memberi kesempatan kepada para petugas bantuan kemanusiaan untuk menjalankan tugasnya. Setiap bentrok senjata antara GAM dengan pasukan keamanan adalah akibat serangan militer Indonesia terlebih dulu. Demikian dikatakan Jeunib. * SERANGAN BUNUH DIRI DI SEKOLAH POLISI Dalam serangan bunuh diri di sekolah polisi di kota Hilla, Irak, sebanyak 14 orang tewas termasuk pelakunya. Sedangkan 25 lainnya cedera. Pelaku dengan mengendarai mobil memasuki halaman sekolah tersebut. Mobil itu dihujani tembakan dan kemudian meledak. Hilla terletak di sebelah selatan Bagdad. Sementara di Bagdad barat, dua warga Irak tewas beberapa jam sebelumnya akibat serangan bunuh diri terhadap konvoi Amerika. Menjelang pemilihan umum 30 Januari mendatang, hampir setiap hari berlangsung serangan di Irak. Serangan-serangan itu terutama ditujukan terhadap angkatan polisi Irak. * PENYIKSAAN TAHANAN IRAK Penyiksaan para tahanan Irak oleh militer Amerika di penjara Abu Ghraib berlangsung sampai Juli 2004, tiga bulan sesudah skandal itu terungkap. Demikian lapor majalah Amerika Vanity Fair, berdasarkan wawancara lebih dari 60 jam dengan para bekas tahanan. Penyiksaan mencakup penyalahgunaaan seksual, pencambukan, penggunaan arus listrik, serta dimasukkan dalam kandang atau peti. Seorang juru bicara tentara Amerika membantah tuduhan itu. Tuduhan lainnya terhadap tentara Amerika datang dari seorang sopir Suriah yang mengangkut dua wartawan Prancis yang diculik Agustus lalu di Irak. Sesudah beberapa bulan dibebaskan oleh para penculiknya, pria tersebut ditangkap oleh militer Amerika di Falluja. Selama sembilan hari lamanya, ia konon disiksa oleh para penanyanya. Sopir yang sekarang berdiam di Prancis itu telah mengajukan gugatan kepada jendral Amerika yang bertanggung jawab di pengadilan Paris. * KETAKUTAN NAIKNYA SUKU BUNGA HANTUI BURSA EROPA Bursa-bursa Eropa dibuka lebih rendah Rabu ini karena ketakutan akan dinaikkannya suku bunga di Amerika. Di Amsterdam, Indeks AEX dibuka setengah persen lebih tinggi. Di London dan Paris, kerugian sedikit lebih besar. Sementara di Jepang, Indeks Nikkei ditutup tiga perempat persen lebih rendah pada 11.438. Ini juga disebabkan oleh pengaruh bursa di New York. Kemarin, Indeks Dow Jones ditutup dengan setengah persen kerugian pada 10.631. Sedangkan Indeks teknologi Nasdaq rugi dua persen pada 2108. Nilai tukar Euro tercatat $ 1, 3269. * BANTUAN AMERIKA DAN BANDA ACEH MULAI HIDUP KEMBALI Menteri Luar Negri Amerika Serikat Colin Powell yang berada di Indonesia dengan terbuka menyatakan berharap bantuan yang diulurkan militer Amerika di Aceh akan bisa mengubah citra Amerika di mata muslim. Demikian surat kabar International Herald Tribune membuka laporannya tentang bantuan Amerika terhadap para korban tsunami di Aceh. Bantuan ini diulurkan ketika citra Amerika di negara-negara Muslim begitu rendahnya. Sejak serangan 11 September 2001, Kementerian Luar Negeri Amerika melancarkan ofensi diplomasi untuk memperbaiki citranya dengan menekankan bahwa Amerika tidak memusuhi Islam. Sementara koran Algemeen Dabglad masih menyoroti para korban selamat yang mencari sanak keluarganya. Daftar nama mereka yang hilang, terkadang disertai foto, bergantungan memenuhi tali jemuran di depan sebuah posko kemanusiaan. Mak Isnu misalnya mencari empat anaknya yang hilang, hanyut oleh gelombang laut. Ibu tersebut telah berhari-hari lamanya berjalan di antara puing-puing sekitar rumahnya, sia-sia. Sekarang ia ke tempat-tempat pengungsian untuk mengecek daftar orang yang tewas. Mak Isnu sadar mungkin semua anaknya sudah mati, tapi ia masih tetap berharap. Mak Isnu hanyalah satu dari ratusan orang yang datang setiap hari ke posko-posko seperti itu, mencari anggota keluarganya yang hilang. Posko-posko itu mencatat baik para pengungsi maupun orang yang hilang. Dan daftar tersebut semakin bertambah panjang saja, begitu juga dengan tali-tali jemuran. Ketidakpastianlah yang menyebabkan mereka ke sana. "Siapa tahu, ada yang melihat anak saya di rumah sakit atau di kamp pengungsi atau mungkin jenazahnya," demikian kata seorang ayah dengan suara lirih, hampir tidak terdengar. Sementara itu pada saat yang sama, tertempel pengumuman tentang kematian: di pasar Aceh 1200 jenazah dikebumikan Senin'. Demikian kisah yang diangkat Algemeen Dagblaad. Harian pagi de Volkskrant menyoroti kembali terlihatnya tanda-tanda kehidupan di Banda Aceh. Pasar mulai buka, walaupun tidak banyak barang yang dijual, dengan harga-harga telah melonjak. Mohamad Nur yang hendak membeli kelapa mengurungkan niatnya begitu tahu harganya Rp. 3.000. Padahal, sebelum ini harganya hanya 500 rupiah. Bagaimana orang bisa bayar? Seekor ikan mencapai Rp. 4000, dan sebutir telur Rp. 800. Kehidupan, secara lamban mulai menggeliat lagi di Banda Aceh, tapi kematian masih terasa di mana-mana. Di belakang mesjid, yaitu di kampung Lam Basehan dan Merduati, di sana-sini masih tergeletak jenazah yang belum dievakuasi. Sementara itu sekelompok warga berupaya melakukan pekerjaan yang luar biasa besarnya, yaitu membersihkan puing-puing. "Katakan pada mereka yang ingin mengirim bantuan, kirim saja orang untuk membersihkan ini. Itulah yang mereka butuhkan, bukan truk-truk berisi pakaian. Pakaian-pakaian itu telah mereka buang." Demikian ketua relawan PBB seperti dikutip oleh de Volskrant. * KANWIL DEPSOS MEDAN SIAP TAMPUNG ANAK-ANAK ACEH Masalah adopsi anak dan isu-isu mengenai penyalahgunaan anak-anak juga beredar di Medan. Apa saja yang sudah dilakukan pihak pemerintah untuk menangani masalah tersebut. Lebih jauh penjelasan Rosmawaty dari Kanwil Departemen Sosial di Medan. Rosmawaty: Yang dilaksanakan pemerintah melalui Departemen Sosial, untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan isu-isu yang beredar. Banyak isu yang beredar, anak-anak disalahgunakan, diperjualbelikan dengan dalih diasuh atau diadopsi. Pemerintah melalui Departemen Sosial mengambil inisiatif untuk menghindari hal-hal yang seperti isu tersebut, mendirikan rumah perlindungan sosial anak yang berada di Jalan Pancing nomor 377 yang sebelumnya adalah PSPP Insaf, yaitu Panti Sosial Pamardi Putra Insaf yang menangani eks narkoba. Jadi untuk menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan, kami siap dan bersedia menampung anak-anak yang berusia 0 tahun sampai 18 tahun yang tidak mempunyai sanak keluarga, yang terpisah dari orang tuanya. Kita siap melayani, kita siap memelihara, merawat di sini. Hanya itu yang kita bisa bantu untuk saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Aceh. Mungkin kami akan berusaha semaksimal mungkin, menganggap anak-anak tersebut seperti anak kandung kami sendiri. Hanya itu yang bisa kami bantu. Radio Nederland [RN]: Bu, sudah ada nggak data-data mengenai anak-anak yang disalahgunakan itu? Rosmawaty: Data-data anak-anak yang disalahgunakan, kami tidak mempunyai. Hanya isu-isu saja, yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Yang kami kerjakan saat ini adalah melayani warga atau masyarakat Indonesia yang datang ke RPSA (rumah perlindungan sosial anak) untuk mencari sanak keluarganya. Kami telah mengadakan pendataan menampung semua keluhan-keluhan masyarakat, mendata keluarga yang dicari. Karena seandainya anak sampai di RPSA, kami sudah punya data dari keluarga yang bersentuhan. Dan menjaga hal-hal ada seseorang yang mengaku-aku bahwa itu adalah keponakan atau segala macamnya. RN: Saat ini sudah ada anak-anak itu yang datang? Rosmawaty: Untuk saat ini belum ada anak-anak yang kami terima di RPSA. Tetapi kami siap, dan tempat segala sesuatunya sudah kami persiapkan dengan baik. Kami sudah standby mulai tanggal 3 Januari sampai hari ini. RN: Terimakasih Bu, mungkin ada yang lain lagi yang justru tidak saya tanyakan tapi Ibu ingin mensosialisasikan, ingin menginformasikan? Rosmawaty: Kami minta kepada seluruh masyarakat Indonesia yang mengetahui di mana anak yang diadopsi atau diaku keluarga, diambil dari rumah sakit, tidak resmi, kita mohon diantarkan, dikasih informasi ke RPSA dengan nomor telpon 0616613305 yang berlokasi di Jalan Pancing nomor 377 Medan. Demikian Ibu Rosmawaty kepada Radio Nederland. * PENGHAPUSAN HUTANG NEGARA KORBAN BENCANA Negara-negara kaya harus menghapus sebagian utang negara-negara Asia yang tertimpa bencana tsunami. Suara seperti ini makin nyaring terdengar di dunia barat, dan antara lain disuarakan oleh Bert Koenders, anggota parlemen Belanda dari partai buruh PvdA yang beroposisi. Bahkan menurut Koenders, Negeri Belanda harus mengambil inisiatif langkah penghapusan utang. Britania Raya juga berencana memanfaatkan jabatan ketua kelompok negara-negara kaya G8 yang kini dipangkunya untuk meringankan beban utang negara-negara korban bencana. Laporan redaktur kerjasama internasional Pieternel Gruppen. Kalau terjadi bencana, penghapusan utang tampaknya menjadi kata magis. Ini ternyata juga menyusul bencana tsunami di Asia. Anggota parlemen dari partai buruh Belanda PvdA, Bert Koenders, mengimbau pemerintah Belanda agar mengajak negara-negara Eropa lain untuk melakukan peringanan hutang. Bert Koenders: Yang penting adalah bahwa peringanan hutang ini bisa membuat negara-negara itu mampu berinvestasi untuk bisa membangun jembatan sendiri, memulihkan pelbagai rumah sakit yang rusak, termasuk memulihkan desa dan kota. Negara mana saja yang sangat membutuhkan peringan utang? Tentu saja Indonesia yang sampai sekarang masih punya hutang besar. Selain itu peringanan juga dibutuhkan oleh Srilangka, Somalia dan sebagian utang India juga harus dihapuskan. Terutama Indonesia banyak hutangnya. Setelah krisis ekonomi di Asia pada 1998 Indonesia menjadi sangat miskin. Negeri ini hampir tidak mempunyai cadangan untuk mengatasi bencana sebesar ini. Menurut mantan menteri perencanaan pembangunan ketua Bappenas Kwik Kian Gie jumlah total utang Indonesia 80 miliar dolar. Sudah 20 tahun Kwik mengimbau agar utang Indonesia diperingan. Setelah bencana ini hal tersebut menjadi urgen. Kwik Kian Gie: Beban utang itu tidak tertahankan. Bebannya bukannya berkurang, melainkan juga meningkat tiap tahunnya. Tanpa bencana saja beban utang sudah tidak tertahankan, dengan bencana ini maka akan lebih gawat lagi. Tetapi gagasan untuk menghapus utang sampai sekarang hanya muncul dari negara-negara saja. Organisasi-organisasi seperti IMF (Dana Moneter Internasional), Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia ADB diam saja. Padahal negara-negara yang ditimpa bencana itu berutang banyak pada lembaga-lambaga tersebut. Selain itu peringanan hutang biasanya tidak langsung menghasilkan uang tunai, karena beberapa negara masih belum melunasi utangnya. Geske Dijkstra dari Universitas Erasmus di Rotterdam menilai, imbauan penghapusan utang itu sekarang ini tidak bermanfaat. Geske Dijkstra: Peringanan hutang bisa dilakukan karena kita berpendapat bahwa sebuah negara harus diringankan hutangnya supaya bisa memulai pekerjaannya dengan baik, dan bukannya menyediakan uang untuk pembangunan kembali. Karena itu bantuan langsung merupakan jalan yang lebih baik. Lagi pula peringanan atau penghapusan utang itu harus dibayar oleh negara yang justru meminjamkan uang. Pada prakteknya ternyata menteri kerjasama pembangunanlah yang hampir selalu menanggung beban. Makin banyak peringanan utang, makin berkurang dana bantuan. Menurut Dijkstra, negara-negara kaya sebaiknya memanfaatkan dana pembangunannya untuk bantuan langsung karena ini lebih gampang diawasi. Dalam penghapusan utang, belum tentu dana itu sampai ke kawasan yang dilanda musibah. Mantan ketua Bappenas Kwik Kian Gie juga meragukan hal itu. Dia bertanya-tanya apakah uang hasil penghapusan utang itu bakal sampai ke Aceh. Kwik Kian Gie: Korupsi di Indonesia itu luar biasa, apalagi kalau dilihat susunan kabinet sekarang. Keprihatinan luar negeri apakah dana bantuan itu bisa sampai di tempat tujuan jelas bisa dipahami dan juga sangat masuk akal. Bulan ini klub Paris, sebuah organisasi yang memutuskan soal utang-piutang, akan mengadakan pertemuan. Masalah penghapusan utang negara-negara Asia mungkin akan dimasukkan dalam agenda. * ADOPSI ANAK-ANAK ACEH DIKHAWATIRKAN MEMANCING DI AIR KERUH Intro: Masalah adopsi anak dari wilayah bencana mengkhawatirkan banyak kalangan. Apalagi karena situasi Aceh saat ini masih kacau balau. Adopsi itu dicurigai hanya sebagai penyalahgunaan anak belaka. Rekan Murbandono yang berada di Medan mengutip pemberitaan media setempat. Melihat niat masyarakat untuk mengadopsi anak pengungsi Aceh memang patut dipuji. Keinginan baik tersebut memang niat yang tulus, tanpa maksud mengambil kesempatan di dalam kesedihan. Langkah yang diambil pemerintah, tidak memberi ijin masyarakat mengadopsi anak, nampaknya dapat dipahami. Karena banyak masyarakat memanfaatkan kejadian gempa bumi dan tsunami di Aceh ini untuk memperkaya diri sendiri. Isu ada juga yang menjual anak-anak pengungsi, karena saat ini penjualan anak sudah tersebar di mana-mana. Kalau tidak, kembalikan saja kepada pemerintah sesuai undang undang dasar. Fakir, miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Sekaranglah saatnya pemerintah membuktikan demi pasal tersebut. Selama beberapa hari di lokasi bencana, relawan dari BKPRMI menemukan adanya berbagai praktek adopsi ilegal yang dilakukan kelompok misi kemanusiaan yang kemudian membawa anak-anak, umumnya balita keluar daerah bencana. Kita menemukan ada 74 balita yang dibawa ke salah satu kota di Jawa Tengah. Ada juga anak-anak yang dibawa salah satu yayasan nan Muslim beralamat di kawasan Mandala Medan. Ujar Idris. Dia menambahkan anak-anak itu dibawa dengan pesawat-pesawat charteran yang khusus untuk itu. Komandan Brigade BKPRMI Sumut ini juga menambahkan bahwa beredar rumor di tengah-tengah relawan Muslim di Banda Aceh, sudah ribuan anak-anak Aceh yang dibawa keluar dari lokasi bencana ke tempat tujuan yang tidak jelas. Seorang korban bencana yang saat ini berada di kota Tebing Tinggi, Intan Muwaini, 49, seperti yang dituturkan adiknya H. Rahmad Suprapto SH menceritakan pengalamannya, meninggalkan daerah bencana melalui pesawat udara. Kata dia, pada hari Sabtu sore sekitar pukul 17 ia menaiki sebuah pesawat udara yang tidak ada nama maskapai perusahaan itu, walau dari tanda di dalam pesawat, merek perusahaan yang tertinggal masih ada di bandara Sultan Iskandar Muda. Semula dia harus mengeluarkan kocek 180 ribu tiap orang. Namun sesampainya di ruang tunggu, beberapa petugas pesawat itu menyampaikan, pesawat ini khusus untuk misi kemanusiaan dan tidak dikutip bayaran. Dengan terpaksa dirinya harus mengaku tidak bayar agar dia bisa berangkat. Dia berangkat bersama puluhan pengungsi yang rata-rata mengalami kondisi parah, seperti trauma berat, luka berat dan banyak anak-anak. Kemudian di atas pesawat para penumpang pun ditawarkan untuk berobat ke mana saja. Bisa berobat ke Penang, Jakarta, Medan atau di kota mana pun dengan biaya yang ditanggung misi kemanusiaan tersebut. Penawaran yang langsung kepada penumpang ini disampaikan jaminan bahwa misi kemanusiaan mereka memiliki fasilitas kesehatan yang lengkap seperti dokter, rumah sakit dan dana. Dari penawaran ini, kata dia, banyak yang kemudian tertarik dan ikut, tapi ada juga yang menolak. Lalu ketika mendarat di bandara Polonia, Medan malam hari, mereka yang menerima penawaran tersebut sudah ada yang menyambut dan berangkat bersama misi kemanusiaan tersebut ke tempat yang tidak jelas. * ANGKATAN UDARA MALAYSIA JUGA TURUN DI ACEH Operasi bantuan bagi para korban gempa laut masih terus berjalan di Aceh. Bantuan datang dari mana-mana. Juga Malaysia mengirim bantuan. Hafiz adalah seorang pilot dari Tentara Udara Diraja Malaysia. Ia antara lain ditugaskan untuk mengantar makanan, obat-obatan ke kawasan bencana. Hafiz: Pada dua hari pertama kami mengalami sedikit kesulitan untuk memastikan pesawat kami diterima di Medan. Karena banyak negara-negara turut mengantar pesawat. Kami menghadapi masalah untuk memarkir pesawat kami. Setelah diluluskan oleh bagian konsulat yang bekerja sama rapat dengan kerajaan Indonesia, maka kami dapat tiba dengan selamat pada 31 Desember. Mula daripada tahun baru, langsung sehingga sekarang, kami telah melakukan berbagai misi. Dan berbagai bantuan, termasuk sukarelawan dari Indonesia. Dan juga beberapa wartawan yang ingin membawa liputan terutama di Banda Aceh. Radio Nederland [RN]: Di samping Malaysia, negara-negara mana lagi yang melakukan pekerjaan seperti Anda? Hafiz: Daripada tim sukarelawan, negara yang saya dapat lihat adalah dari Meksiko, Itali, Spanyol, Singapura dan Malaysia. Dan ramai sekali juga anak-anak Indonesia yang telah menawarkan diri menjadi sukarelawan. RN: Apa yang Anda terbangkan, Anda bawa? Hafiz: Seperti yang saya katakan tadi, yang kami bawa, terutama yang paling penting sekarang adalah air minuman. Dan juga makanan-makanan untuk mengelakkan yang terselamat daripada bencana tsunami. RN: Jadi Anda terbang bolak-balik ya, Medan-Banda Aceh? Hafiz: Benar, tapi di sini kami menerima arahan dari orang atasan. Di mana yang lebih memerlukan bantuan, maka kita langsung terbang ke sana. Bukan hanya ke Banda Aceh. Di Banda Aceh, alhamdullilah, jalan daratnya sudah boleh digunakan. Maka tidak begitu memerlukan angkutan udara. Yang lebih diperlukan sekarang adalah di Meulaboh, karena jalan daratnya masih terputus. Banyak jembatan yang tidak dapat dilalui, telah runtuh. RN: Tentu saja semua pekerjaan begini ada sukanya, dan ada dukanya. Bagaimana? Bisa diceritakan sedikit ini? Hafiz: Alhamdullilah, di Indonesia ini, kami menerima banyak sokongan dari TNI. Bukan saja TNI, malahan juga pegawai-pegawai konsulat dan juga warga di pangkalan Polonia. Maka memudahkan sekali tugas kita. Malahan pihak anggota daripada MAS, Malaysian Airlines sendiri juga banyak membantu kami. Boleh dikatakan tidak ada duka. Semuanya elok-elok saja, enak-enak di Indonesia sini. RN: Apa harapan-harapan Anda? Hafiz: Saya cuma berharap orang-orang yang terlibat dalam tsunami, dapat menabahkan diri dan membangunkan negara mereka. Semoga kerajaan Indonesia dapat memberi sepenuh sokongan kepada rakyat yang mengalami bencana ini. Saya berharap rakyat Indonesia dan juga negara-negara lain yang terlibat langsung tsunami tabah, dan dapat membangunkan negara mereka kembali. Demikian Hafiz kepada Radio Nederland. * KTT TSUNAMI DI JAKARTA BERLANGSUNG TANPA KALANGAN LSM Intro: Kalangan LSM Indonesia maupun internasional mengungkapkan kecewa dengan keputusan penyelenggara, yaitu pemerintah Jakarta karena tidak mengundang mereka dalam KTT Tsunami yang berlangsung hari ini di Jakarta. Rafendi Djamin dari Aceh Working Group menyatakan kalangan LSM harus diundang karena paling sedikit ada tiga hal yang akan mereka kemukakan. Rafendi Djamin: Di luar atau pun di dalam, tentu kami melakukan beberapa sumbang saran ya. Sumbang saran dalam bentuk begini, misalnya. Nanti apa format bantuan atau hibah ini? Apakah hibah ini kemudian akan merupakan sebuah hibah yang mempunyai istilahnya "string attached"? Artinya hibah dengan berbagai macam persyaratan? Nah itu merupakan kepedulian kita. Karena dalam beberapa pengalaman di bagian dunia yang lain, yang mengalami bencana yang cukup besar, itu sering juga politik bantuan ini kemudian dijadikan sebagai instrumen untuk menekan negara penerima untuk membuka peluang-peluang perdagangan yang pada akhirnya di belakang politik bantuan ini sebetulnya sebuah kepentingan perdagangan yang lebih besar. Itu sebuah contoh. Jadi itu salah satu hal yang menjadi keprihatinan kita. Lalu yang kedua, skala dari bencana yang besar ini, kalau tidak diatur dengan sebuah mekanisme nasional yang memadai, akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. Bahkan mungkin akan semakin memperbanyak jumlah korban yang jatuh. Itu yang merupakan wanti-wanti dari pihak kita, bahwa seandainya bantuan ini kemudian terkoordinir ya, kemudian diberikan kepada pihak Indonesia, tanpa ada sebuah mekanisme nasional yang memadai. Dan yang saya katakan memadai adalah dalam konteks kita tahu bahwa sampai saat ini pemerintah Indonesia itu masih mempunyai mekanisme yang masih gagap gitu lho, untuk mengatasi masalah bencana ini. Kita lihat saja sekarang dalam persoalan status darurat sipil yang masih berlaku di situ. Di satu pihak ada pejabat pemerintah yang mengatakan bahwa darurat sipil itu sudah tidak relevan dalam konteks bencana ini. Tetapi keesokan harinya kami mendengar lagi seorang pejabat yang mengatakan bahwa darurat sipil tetap dipertahankan. Nah yang kayak gitu yang merupakan inkonsistensi dan inkoherensi politik dan kebijakan yang seharusnya bisa membangun awal dari sebuah mekanisme nasional yang efisien dan efektif berdasarkan prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas. Nah itu yang menjadi keprihatinan kita. Yang ketiga yang menjadi keprihatinan kita di dalam konteks KTT ini adalah jangan sampai bantuan yang nanti dijanjikan sebagai sebuah komitmen dari KTT ini, pada akhirnya hanya akan menjadi janji-janji kosong. Itu sudah merupakan pengalaman di bagian dunia yang lain juga, bahwa begitu banyak negara yang bersedia membantu, itu hanya pada saat media massa mempunyai perhatian besar pada kasus tersebut. Pada saat media sudah tidak mempunyai perhatian pada kasus tersebut, ternyata yang sudah berjanji untuk membantu itu kemudian kayak menghilang begitu saja. Jadi, di tingkat internasional pun ada sebuah desakan, di tingkat internasional maupun regional, dalam hal ini adalah PBB dibantu dengan beberapa lembaga-lembaga keuangan multilateral, itu orang membuat semacam mekanisme yang bisa menjamin bahwa janji-janji tersebut, komitmen-komitmen tersebut benar-benar akan dilaksanakan. Kalau sampai tidak dilaksanakan akan ada semacam sanksi politik atau sanksi moral kepada negara-negara donor tersebut. Nah, saya kira tiga kepedulian tesebut yang merupakan pokok-pokok pikiran yang disampaikan dalam sebuah pernyataan sikap di Jakarta oleh sekelompok LSM, baik LSM Indonesia maupun LSM internasional dan LSM regional. Demikian Rafendi Djamin dari LSM Aceh Working Group. --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.ranesi.nl/ http://www.rnw.nl/ Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [EMAIL PROTECTED] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. ---------------------------------------------------------------------
