--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia
Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Rabu 23 Desember 2009 15:10 UTC ** DEPLU BELANDA: INDONESIA BERDIRI TAHUN 1949 ** GEMPA RINGAN DI SUMATRA BARAT ** METRO TANAH ABANG, JAKARTA, AMBRUK ** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: NATAL BAGI MUSLIM JERMAN ** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: ORGANISASI PENYIARAN MUSLIM BELANDA AKUI AHMADIYAH ** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: IMPIAN RUSIA TIDAK TERWUJUD ** GEMA WARTA TINJAUAN PERS: FAR EASTERN ECONOMIC REVIEW GULUNG TIKAR DAN DESAKAN UNTUK MENGAKUI PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945 ** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: PETISI KAUM INTELEKTUAL DAN PENULIS BELANDA * INDONESIA BERDIRI TAHUN 1949 Kemerdekaan Indonesia terjadi pada tanggal 27 Desember 1949, pada saat penyerahan kedaulatan di Istana Dam di Amsterdam. Bukan pada saat Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Demikian pernyataan Departemen Luar Negeri Belanda, menanggapi petisi 22 orang penulis, sejarawan dan ahli hukum terkemuka Belanda, dalam harian NRC Handelsblad, Selasa 22 Desember 2009. Menurut para pendukung petisi, pemerintah Belanda harus mengakui, bahwa proklamasi kemerdekaan tahun 1945 adalah suatu pernyataan sah. Selanjutnya Deplu Belanda menyatakan, pengalihan kedaulatan terjadi pada tanggal 27 Desember 1949. Indonesia menerima pengalihan kekuasaan tersebut. Itu semua adalah kenyataan sejarah dan hukum. Kita tidak bisa mengubahnya, 60 tahun kemudian setelah peristiwa tersebut berlalu. Sementara menurut para penulis petisi, Belanda tidak bisa begitu saja menentukan saat kemerdekaan. Rakyat Indonesia telah menentukan sendiri, kapan mereka merdeka. * GEMPA RINGAN DI SUMATRA BARAT Gempa bumi lemah kembali mengguncang propinsi Sumatra Barat. Sejauh ini tidak laporan mengenai kerusakan atau korban. Dan juga, tidak ada peringatan bahaya tsunami. Episentrum gempa berkekuatan 5,9 pada skala Richter ini, terletak di laut, pada kedalaman 19 kilometer, sekitar 113 kilometer di Baratdaya kota Padang. September lalu, gempa berkekuatan 7,6 pada skala Richter juga telah melanda propinsi ini, dan menewaskan lebih dari 1.000 jiwa. * METRO TANAH ABANG, JAKARTA, AMBRUK Runtuhnya bangunan tambahan Pusat Grosir Metro Tanah Abang, Jakarta Pusat, menewaskan dua orang dan melukai duabelas orang lainnya, di antaranya tiga orang menderita luka parah. Diperkirakan, lima orang buruh bangunan masih terjebak di bawah reruntuhan. Dengan menggunakan alat berat dan tangan kosong, regu penyelamat berusaha menemukan mereka. Bangunan tambahan ini masih dalam proses pembangunan, dan dibangun tanpa Surat Izin Mendirikan Bangunan. * PERANG PUNGUTAN BEA MASUK, CINA - UE Cina akan memungut bea-masuk bagi impor produk besi dari Uni Eropa, seperti misalnya paku, sekrup dan baud. Tarif bea-masuk bisa mencapai 25 persen. Beijing menyatakan, mereka harus melindungi produk Cina sendiri, dari impor banting harga dari Eropa. Diperkirakan, kebijakan baru Cina ini merupakan tindakan balasan pada keputusan Uni Eropa, memperpanjang ketentuan bea-masuk bagi impor sepatu dari Cina dan Vietnam, selama limabelas bulan. Dengan perpanjangan tersebut, Uni Eropa mencoba menghadapi saingan sepatu murah dari Asia. Cina marah atas perpajangan masa pungutan bea-masuk tersebut, dan mengajukan pengaduan pada Organisasi Perdagangan Dunia, WTO. * SIDANG PENGADILAN PEMBANGKANG CINA Di Beijing, mulai dibuka sidang pengadilan pembangkang Cina, Liu Xiaobo. Ia dituduh mencoba menggulingkan kekuasaan. Liu Xiaobo ditangkap tahun lalu karena terlibat dalam penerbitan Petisi Charta 08. Petisi ini mendesak perlunya perubahan dalam tatanan satu partai komunis, yang berlaku sekarang. Sementara itu, puluhan ribu orang telah ikut menanda-tangani petisi tersebut. Liu Xiaobo, saat ini merupakan salahsatu kritikus penguasa Cina, yang paling beken. Menurut Amerika Serkat, Uni Eropa dan beberapa kelompok hak azasi manusia, sidang pengadilan ini lebih merupakan masalah politik. * Isfahan, Masih Rusuh Di kota Isfahan, Iran, pasukan polisi berbaku hantam dengan para pendukung kelompok oposisi. Demikian laporan suatu situs web kalangan oposisi. Kerumunan massa berkumpul di sebuah mesjid, menghadiri upacara berkabung, sehubungan dengan meninggalnya Ayatollah Hossein Ali Montazeri, Ahad lalu, pada usia 87 tahun. Almarhum termasuk salah seorang pengecam keras Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Situs web ini melaporkan, polisi memukul massa menggunakan pentungan, dan menembakkan gas airmata untuk membubarkan kerumunan. Diberitakan banyak korban menderita luka-luka, dan banyak juga orang yang ditangkap. Ayatollah Hossein Ali Montazeri dimakamkan Senin lalu, di kota Qom. Upacara pemakaman dihadiri ratusan ribu pengunjung, dan upacara tersebut berubah menjadi demonstrasi masaal anti pemerintah. * SANKSI DK PBB BAGI ERITREA Dewan Keamanan PBB, hari Rabu ini mungkin akan menerbitkan sanksi pada Eritrea, karena menganggu stabilitas di wilayah Tanduk Afrika. Menurut Dewan Keamanan PBB, Eritrea membantu kelompok pemberontak Al Shabaab, di negeri jiran Somalia, dalam bentuk uang dan senjata. Saat ini, kelompok Al Shabaab telah menguasai sebagian besar wilayah Somalia, dan berusaha menumbangkan pemerintah pusat di Mogadishu, yang berada dalam keadaan lemah. PBB juga akan berusaha menekan Eritrea, agar menarik mundur tentara mereka dari perbatasan Jibuti. Eritrea dan Jibuti sudah lama bertikai mengenai garis perbatasan wilayah mereka. sanksi pada Eritrea akan berbentuk, embargo senjata, pembekuan rekening bank dan pencekalan bagi para politisi dan pejabat militer. * KECELAKAAN PESAWAT DI JAMAIKA Di bandara Kingston, Jamaika, sebuah pesawat milik maskapai penerbangan, American Airlines, pada saat mendarat ke luar dari landasan pacu, dan patah menjadi tiga bagian. Empat puluh orang menderita luka-luka, di antaranya empat orang cedera parah. Pesawat jenis Boeing 737 ini sebenarya sudah selamat mendarat, para penumpang sudah bertepuk-tangan, ketika tiba-tiba terdengar ledakan, dan pesawat pecah menjadi tiga bagian. Penyebab kecelakaan masih belum diketahui. Yang jelas, ketika itu sedang turun hujan lebat. Pesawat ini bertolak dari Miami, berisi 154 penumpang dan awak pesawat. * BERITA BURSA Pada saat pembukaan pasar bursa Rabu pagi tadi, nilai indeks saham gabungan AEX di Amsterdam naik 0,5 persen, pada 334,46 poin. Kenaikan yang sama juga terjadi di bursa Frankfurt, Paris dan London. Di Tokyo, pada saat penutupan pasar Rabu sore waktu setempat, nilai indeks Nikkei naik 1,9 persen, pada 10.378 poin. Nilai tukar: 1 euro sama dengan 1,4249 dolar. 1 euro sama dengan 13,544 rupiah. 1 dolar Amerika sama dengan 9,505 rupiah. * NATAL BAGI MUSLIM JERMAN Hari Natal memang hari raya umat Kristen, tetapi tidak semua yang merayakan Natal adalah umat yang taat pergi ke gereja. Bagi kebanyakan orang, hari libur ini lebih sering digunakan untuk berkumpul dengan keluarga, bertukar kado atau makan malam besar-besaran daripada merayakan hari kelahiran Yesus Kristus. Banyak orang Muslim yang tinggal di negara dengan mayoritas penduduk beragama Kristen juga ikut andil dalam hari raya ini. Contohnya di Jerman, Sinterklas pun bisa berbahasa Turki. Laporan Louise Dunne. Mayoritas penduduk Jerman mengidentifikasikan dirinya sebagai umat Kristen, tetapi sebanyak tiga juta umat Muslim juga tinggal di sana. Bagaimana mereka menghadapi hari-hari raya ini? Ali tiba di Jerman tigabelas tahun lalu ketika dia masih remaja. Dia berasal dari Irak. Di Jerman ia belajar untuk menjadi insinyur. Untuk membayar uang sekolah dia bekerja di pasar akhir pekan di kota Berlin menjual kue-kue Timur Tengah. Akhir tahun seperti sekarang amat berarti bagi Ali. Dia dan istrinya menikah pada tanggal 24 Desember 2007. Namun dia tidak sepenuhnya mengikuti hari raya Natal sendiri. Ali: Saya Muslim, jadi saya tidak merayakan Natal. Saya gunakan waktu liburan itu dengan menghabiskan waktu bersama isteri. Mungkin kami akan pergi ke pasar Natal. Saya juga gunakan waktu libur untuk belajar atau semacamnya. Hari Natal modern sepertinya lebih berarti untuk kado daripada untuk agama. Ini bisa menjadi masalah untuk keluarga Muslim yang anak-anaknya merasa ketinggalan ketika melihat teman-temannya yang beragama Kristen dilimpahi hadiah. Idan Suer, anak seorang imigran Turki dan seorang dosen sosiologi di salah satu universitas di Berlin, menjelaskan bagaimana salah satu temannya menangani masalah ini. Idan Suer: Keluarganya dan beberapa keluarga Turki lain berkumpul pada Malam Natal dan membeli hadiah untuk anak-anak mereka. Mereka mengadakan acara Natal versi Turki. Musik Turki dinyalakan, makanan Turki disajikan dan tentu saja, ada Sinterklas yang bisa berbahasa Turki. Ini bukan sesuatu yang berhubungan dengan agama. Ini hanya cara untuk membuat anak senang dengan membelikan mereka hadiah-hadiah kecil. Tapi tidak semua orang setuju dengan solusi ini. Burhan Kesici, wakil presiden Federasi Islam Berlin percaya pentingnya membuat batas antara suasana umum dan pribadi. Burhan Kesici: Jika seorang rekan Jerman mengundang Anda, maka Anda dapat merayakan Natal bersamanya. Tapi sebagai seorang Muslim tidak baik merayakan Natal secara pribadi bersama keluarga. Ini bukan hari raya Islam. Kesici paham Natal bisa menyulitkan banyak orang tua Muslim, tapi dia yakin mereka dapat meredam tekanan dari luar dan menjelaskan pada anak-anak bahwa hari Natal - dan kado-kado yang berasosiasi dengan hari raya itu - adalah bukan bagian tradisi mereka. Meskipun demikian kepopuleran perayaan Natal secara besar-besaran mempengaruhi cara orang Muslim mengamati hari raya mereka sendiri. Dulu mereka tidak punya bulan Ramadhan dalam bentuk ini. Sekarang mereka membuat perayaan besar-besaran di berbagai institusi dan kita membeli banyak hadiah untuk anak-anak. Mereka telah melihat perayaan Natal orang Jerman, lalu berkata, OK, kita juga bisa buat seperti ini di hari raya kita. Menurut Kesici ini adalah perkembangan positif. Tidak hanya anak-anak Muslim dapat menikmati suguhan yang sama seperti teman-teman Kristennya, tetapi perayaan besar-besaran dan gamblang telah membawa kesadaran yang lebih besar untuk hari raya Muslim dalam masyarakat luas. * ORGANISASI PENYIARAN MUSLIM BELANDA AKUI AHMADIYAH Organisasi Penyiaran Muslim di Belanda, de Stichting Moslim Omroep (SMO) mengakui keberadaan sekte Ahmadiyah sebagai salah satu aliran utama Islam. Ini belum pernah terjadi di dunia. "Di seluruh Eropa belum ada organisasi yang bisa menggabungkan kaum Suni, Syiah, Alevitis dan Ahmadiyah," tandas Fethi Killi dari SMO dengan bangganya. "Kamilah yang berhasil melakukan ini untuk pertama kalinya." Ahmadiyah adalah sebuah aliran yang tidak diakui oleh aliran-aliran Islam ortodoks lainnya. Karena kebanyakan pengikut aliran Ahmadiyah di Belanda adalah warga Belanda keturunan Suriname, pengakuan aliran yang asalnya dari Pakistan ini acap kali menjadi polemik yang sensitif. Pemerintah Belanda mengakui Ahmadiyah sebagai salah satu aliran agama Islam. Namun organisasi-organisasi Islam ortodoks menolak untuk mengakui sekte tersebut. Perlombaan subsidi Masalah ini muncul ke permukaan ketika sekarang ada perlombaan mendapatkan subsidi sebuah saluran penyiaran Muslim yang baru. Saluran penyiaran Muslim sebelumnya yaitu Nederlandse Moslim omroep (NMO) terbelah menjadi dua organisasi yang tidak lagi mampu mengajukan permintaan subsidi pada pemerintah. Sekarang lima organisasi penyiaran baru sedang menawar waktu siaran. SMO mendapat peluang siaran paling besar. Dalam penyeleksian organisasi penyiaran baru, Komisaris Media Belanda menuntut satu kriteria penting, yaitu mewakili semua aliran. Organisasi penyiaran baru harus dapat sebanyak mungkin mewakili kelompok-kelompok Muslim yang ada di Belanda. SMO memenuhi kriteria itu dengan cara mempersatukan semua aliran agama Islam yang diakui pemerintah Belanda: Suni, Syiah, Alevitis dan Ahmadiyah. Dalam pengajuan subdisi bahkan disebut julukan empat 'pilar' Islam. "Penting untuk meluruskan keragaman komunitas Islam di Belanda," ungkap yasin Furqani dari Dewan Masjid Marokko Belanda (RMMN), yang merupakan salah satu anggota SMO. "Ahmadiyah berperan besar dalam komunitas Islam dan oleh karena itu harus dimasukkan." Dewasa Menurut Fathi Killi dari SMO, Ahmadiyah sangat kontroversial di dunia Islam. Dia juga menjelaskan kaum Suni dalam organisasi SMO ternyata cukup dewasa menanggapi keputusan SMO untuk memasukkan Ahmadiyah dalam organisasi. "Untuk pertama kalinya keempat aliran ini memutuskan untuk tidak menutup diri karena alasan teologisnya. Kami menekankan bahwa kami percaya Tuhan, kitab dan nabi yang sama." Tidak semua Organisasi Muslim di Belanda setuju dengan pendekatan umum seperti ini, jelas Killi. "Ada juga yang tidak ingin bekerjasama dan menekankan hanya ada satu Islam yang benar, yaitu Islamnya mereka." Pembahasan kerjasama dengan calon organisasi penyiaran lain, yaitu De Stichting Moslim Omroep Nederland (SMON), berjalan kurang baik. SMON sepertinya menolak mengakui Ahmadiyah sebagai mitra yang sederajat. Menutup Radi Suudi membantah bahwa organisasinya, SMON, ingin mengucilkan Ahmadiyah. "Kami ingin bekerjasama. Yang SMO inginkan dari kami adalah supaya kami memberikan keterangan tertulis bahwa kami mengakui Ahmadiyah sebagai salah satu aliran agama Islam. Itu adalah sebuah masalah teologis yang tidak dapat kami bawa sebagai organisasi jurnalistik." Menurut rencana, minggu ini akan diumumkan organisasi penyiaran mana yang mendapatkan waktu siaran dan menjadi saluran penyiaran Muslim yang baru di Belanda. * IMPIAN RUSIA TIDAK TERWUJUD Gerakan hak-hak asasi manusia Rusia menerima pukulan telak di tahun 2009. Di awal tahun saja, pengacara Stanislav Merkelov dan jurnalis Anastasia Baboerova ditembak di siang hari bolong di tengah kota Moskow. Setelahnya di bulan Juli, aktivis hak-hak asasi manusia Natalia Estemirova diseret masuk ke dalam mobil oleh orang tak dikenal di ibukota Chechnya, Grozny. Ia akhirnya ditemukan tewas. Tidak lama setelah itu, peristiwa yang sama juga menimpa dua aktivis Chechnya lainnya. Peristiwa pembunuhan itu menutup dasawarsa penuh penekanan terhadap gerakan hak-hak asasi manusia Rusia. Para anggota organisasi hak-hak asasi manusia Rusia yang tertua, Memorial, pesimis dan meramalkan tidak akan ada perubahan di dasawarsa mendatang, kata ketuanya Oleg Orlov. Di awal tahun 90 an, sempat merebak optimisme dan saat itu banyak orang berharap. Kemunduran demokrasi Sejak tahun 1994 kondisi hak-hak asasi manusia terus memburuk. Kami terus memikirkan soal siapa pengganti presiden Jeltsin. Dan kami juga memiliki gambaran jelas apa yang akan terjadi saat itu: kami meramalkan orang yang berkuasa akan menghentikan reformasi dan membekukan Rusia. Periode sebelumnya juga dikritik dengan hebat. Dan itu semua adalah kejadian yang persis terjadi. Kantor sempit Memorial berada di lantai dua sebuah gedung tua di tengah kota Moskow. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, karena masih banyak yang harus dilakukan di bidang hak-hak asasi manusia. Kamar kerja Orlov dan rekannya yang seadanya itu merupakan simbol dari posisi gerakan hak-hak asasi manusia di Ruisa. Pergantian kekuasaan Posisi hak-hak asasi manusia semakin memburuk, sejak presiden Boris Jeltsin tanpa diduga lengser pada akhir tahun 1999. Bulan-bulan sebelumnya pemberontak Chechnya menyerang republik Dagestan dan meledakkan bom di antaranya di Moskow dan menewaskan ratusan orang. Pengganti Jeltsin adalah mantan bos KGB Vladimir Putin. Ia bertindak seperti yang ditakutkan Orlov. "Perang Chechnya kedua dibarengi dengan chauvinisme dan gelombang propaganda menentang kami. Kami merasakan diri sebagai kaum paria, terisolasi dari masyrakarat. Perasaan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Periode saat ini sama sulitnya seperti di akhir tahun sembilan puluhan. Orlov sebetulnya juga mengalaminya. Kendati demikian ia tetap berkharisma, duduk di kantornya Memorial di Moskow dengan tenang. Hal itu sangat mencolok karena ia belum lama ini pernah diculik di republik Kaukaus, Ingustan dengan ancaman mati,. Namun akhirnya ia dibebaskan dan dicampakkan di ladang bersama dengan beberapa jurnalis lainnya. Saat ini ia malah harus menghadap pengadilan. Orlov berbicara singkat mengenai hal tersebut. Setelah pembunuhan Estemirova, Orlov menutnut pertanggungjawaban presiden Ramzan Kadyrov. Presiden akhirnya dibebaskan oleh pengadilan. Orlov naik banding dan berharap kasus itu akan dibahas oleh mahkamah Eropa. Saat ini ia juga didakwa karena melakukan penghinaan. Jika ia terbukti bersalah maka hukuman penjara menantinya. Fitnah Orlov menuntut presiden Ramzan Kadyrov sebagai orang yang bertanggungjawab atas kematian Esterminova. Kadyrov akhirnya terbukti tidak bersalah. Orlov tidak mau kalah, ia naik banding dan berharap kasus itu akan dibahas di Mahkamah Eropa untuk hak-hak asasi manusia. Kendati demikian saat ini pula Orlov harus menjalani penyelidikan pidana, dengan dakwaan memfitnah. Jika ia terbukti bersalah maka hukumanya adalah penjara. Saat ini posisi gerakan hak-hak asasi manusia semakin terpuruk oleh sebab itu setiap upaya penyelamatan disambut gembira. Hadiah Sacharov dari parlemen eropa merupakan salah satu contoh pemicu. Hadiah itu diberikan buat tiga aktivis gerakan hak asasi manusia, Oleg Orlov, Sergei Kovaljov dan Ljudmila Alekseyeva. Itu adalah tanda-tanda yang indah kendati juga menimbulkan perasaan bercampur. Rusia terus berkembang namun ke arah yang berbeda dibanding apa yang diinginkan para aktivis hak asasi manusia. Banyak yang sudah dicapai, kata Orlov. Di awal tahun 90 an--berkat Memorial, terdapat dasar untuk demokrasi. Namun Rusia sekarang justru berjalan mundur, dan untuk itu Orlov merasa turut bertanggungjawab. Peluru Ada pula perasaan getir, kata Orlov. Di dinding kantor Memorial tertapampang potret Natalya Estemirova, yang tidak mendapat hadiah namun menurut Orlov, ia sebetulnya berhak atas hadiah tersebut menurut. "Saya ingat dengan baik ketika Natasya bersama Sergeij Kovaljov dinominasi untuk hadiah itu. Yang menerima hadiah orang lain bukan Natasja. Itu sudah dua tahun yang lalu. Kami memperoleh penghargaan namun Natasja memperoleh peluru. Dan itu perasaan getir yang tidak bsia saya hilangkan." * FAR EASTERN ECONOMIC REVIEW GULUNG TIKAR DAN DESAKAN UNTUK MENGAKUI PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945 Bulan Desember ini, berkala Far Eastern Economic Review terbit untuk kali terakhir dan kemudian gulung tikar. Sejak pertama terbit pada tahun 1946, majalah yang berkedudukan di Hongkong ini sudah dikenal sebagai media independen dan berbobot, dalam hal pemberitaan masalah politik, ekonomi dan budaya Asia. Demikian tulis harian pagi De Volkskrant yang terbit di Amsterdam. Bagi banyak penguasa Asia, kebebasan pers bukan sesuatu yang bisa diterima begitu saja. Padahal, selama masa penerbitan Far Eastern Economic Review, Asia mengalami berbagai pergolakan besar. Seperti misalnya, akhir Perang Dunia Kedua, proses dekolonisasi, perang saudara di Cina antara kelompok komunis melawan nasionalis dan kemiskinan di banyak wilayah Asia. Walaupun mengalami banyak pembatasan, Far Eastern Economic Review berhasil menyajikan banyak laporan spektakuler. Pada detik-detik terakhir Perang Vietnam, seorang wartawan Far Eastern Economic Review masih mengirim berita dari medan pertempuran. Ketika pasukan tank Vietnam Utara menerjang pagar istana kepresidenan di Saigon, sang wartawan masih membuat laporan pandangan mata melalui telex, hingga hubungan telekomunikasi terputus. Laporan spektakuler lainnya adalah wawancara dengan mendiang pemimpin Khmer Merah, Pol Pot, di hutan belantara Kamboja, beberapa tahun sebelum ia meninggal dunia. Far Eastern Economic Review merupakan satu-satunya media yang berhasil menemui sang diktator, setelah pemerintahannya tumbang. Sejak lima tahun lalu, majalah yang semula terbit mingguan ini berubah jadi bulanan. Penyebabnya, jumlah pelanggan dan pemasukan iklan yang berkurang. Awal tahun 2009, Dow Jones, sebagai pemilik berkala ini, memutuskan untuk menghentikan penerbitan. Dari Hongkong kita beralih ke Belanda. Menjelang hari peringatan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Kerajaan Belanda pada tahun 1949, sekelompok penulis, sejarawan dan ahli hukum terkemuka Belanda, mendesak pemerintah Belanda agar mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Menurut kelompok ini, pada tahun 2005, Menteri Luar Negeri Belanda saat itu, Ben Bot, menyatakan Belanda, secara politik dan moril, mengakui tanggal 17 Agustus 1945. Demikian harian Trouw. Namun, kelompok ini berpendapat, pengakuan seperti itu belum cukup. Dengan pengakuan setengah-setengah seperti itu, sikap Belanda saat ini masih sama dengan sikap pada tahun-tahun setelah 1945. Ketika itu, Belanda dengan segala cara, berupaya untuk kembali berkuasa di Indonesia. Hanya atas tekanan keras Amerika Serikat, Belanda bersedia dengan berat hati mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Menurut para pendukung desakan, dalam masa dekat ini ada dua saat yang sangat tepat untuk mengakui kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Pada saat kunjungan kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Belanda nanti. Atau, pada saat peringatan hari ulang tahun kemerdekaan, tanggal 17 Agustus 2010. Demikian harian Trouw, dan sekian pula Tinjauan Pers kali ini. * PETISI KAUM INTELEKTUAL DAN PENULIS BELANDA Sejumlah kaum intelektual dan penulis Belanda mengajukan petisi kepada pemerintah Belanda, agar Belanda mengakui 17 Agustus 1945 sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Radio Nederland Wereldomroep menghubungi seorang tokoh yang ikut menandatangani petisi tersebut, yakni Prof. Dr. Nico Schulte Nordholt, yang menjelaskan mengapa harus diajukan petisi tersebut dan apa maknanya. Serta ikuti juga pendapat seorang sejarahwan, Rusdy Husain. Yang mendorong para intelektual dan penulis Belanda mengajukan petisi adalah kesadaran pada 27 Desember, 60 tahun yang lalu, pada Konferensi Meja Bundar di Amsterdam ditandatangani suatu penyerahan kedaulatan kepada RIS. Dengan demikian sebetulnya pada waktu itu pemerintah Belanda semestinya mengakui hak rakyat Indonesia, untuk memproklamirkan kemerdekaannya 17 Agustus 1945. Dalam sejarah kemudian, setelah 1949 itu, pemerintah Belanda sampai hari ini, belum pernah sampai berani atau besar hati untuk mengakui kelalaian pada waktu itu. Karena ada peringatan 27 Desember yang ke-60 tahun, maka mereka ingin supaya hal itu diselesaikan secara tuntas dengan pengakuan hari Kemerdekaan 17 Agustus itu. Nico Schulte Nordholt menyadari bahwa hubungan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda, sudah sangat membaik, setelah pada tahun 2005 Menteri Luar Negeri Ben Bot hadir pada upacara 17 Agustus itu di Medan Merdeka, Jakarta. Tetapi pada waktu itu Menteri Ben Bot hanya sampai mampu untuk menyatakan bahwa: "... maaf kami menyadari bahwa pada waktu itu Belanda terletak pada sisi yang keliru dalam sejarah itu." Permintaan maaf itu ternyata oleh pemerintah SBY dianggap cukup, sedangkan Nico Schulte Nordholt merasakan hal itu terlalu kurang. Mereka terdorong ingin meluruskan suatu kelalaian pada fihak Belanda. Permintaan maaf itu kemudian diingkari dengan fakta oleh pemerintah yang sama, dengan tidak mengijinkan Ratu Beatrix hadir pada upacara 17 Agustus di Jakarta itu. Dualisme sikap ini menurut Nico Schulte Nordholt karena mereka takut menyakiti hari para veteran. Mereka menyadari bahwa ada sensitivitas pada pihak mereka. Tidak lagi diperlukan Sementara itu sejarahwan Rusdy Hussain mengatakan, pengakuan kemerdekaan karena ada riwayat perkembangan hubungan Indonesia Belanda setelah tahun 2000. Kedatangan Menlu Ben Bot tahun 2005 hanya berupa sebatas pengakuan kemerdekaan dan itu hanya bersifat sebagai suatu basa-basi. Yang dimintakan oleh kelompok itu adalah suatu pernyataan resmi, permintaan maaf dan inginnya sebetulnya de jure. Sebetulnya, apapun bentuknya, hal itu tidak diperlukan lagi. Karena bagi bangsa Indonesia, 27 Desember 1949 saat penyerahan kedaulatan, adalah berakhirnya kolonialisme di bumi Indonesia. Jadi buat apa lagi? Dua negara sudah berada di dalam satu fase sejajar. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Pengakuan tidak diperlukan lagi. Memang pengakuan cukup membanggakan tapi tidak ada esensinya buat bangsa Indonesia. Kalaupun ada pengakuan maka tidak akan ada tindak lanjut lagi. Segala bentuk ganti rugi juga tidak akan berlangsung. "Itu hanya untuk masyarakat Belanda, sebagai suatu pencerahan." Ikuti wawancara lengkap dengan Prof. Dr. Nico Schulte Nordholt dan sejarawan Rusdy Hussain pada situs web kami www.ranesi.nl. --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.ranesi.nl/ http://www.radionetherlands.nl/ Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [email protected] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. ---------------------------------------------------------------------
