---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Rabu 23 Desember 2009 15:10 UTC



** DEPLU BELANDA: INDONESIA BERDIRI TAHUN 1949

** GEMPA RINGAN DI SUMATRA BARAT

** METRO TANAH ABANG, JAKARTA, AMBRUK

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: NATAL BAGI MUSLIM JERMAN

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: ORGANISASI PENYIARAN MUSLIM BELANDA AKUI 
AHMADIYAH

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: IMPIAN RUSIA TIDAK TERWUJUD

** GEMA WARTA TINJAUAN PERS: FAR EASTERN ECONOMIC REVIEW GULUNG TIKAR DAN 
DESAKAN UNTUK MENGAKUI PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945

** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: PETISI KAUM INTELEKTUAL DAN PENULIS BELANDA



* INDONESIA BERDIRI TAHUN 1949

Kemerdekaan Indonesia terjadi pada tanggal 27 Desember 1949, pada saat 
penyerahan kedaulatan di Istana Dam di Amsterdam. Bukan pada saat Soekarno dan 
Hatta memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Demikian 
pernyataan Departemen Luar Negeri Belanda, menanggapi petisi 22 orang penulis, 
sejarawan dan ahli hukum terkemuka Belanda, dalam harian NRC Handelsblad, 
Selasa 22 Desember 2009. Menurut para pendukung petisi, pemerintah Belanda 
harus mengakui, bahwa proklamasi kemerdekaan tahun 1945 adalah suatu pernyataan 
sah.

Selanjutnya Deplu Belanda menyatakan, pengalihan kedaulatan terjadi pada 
tanggal 27 Desember 1949. Indonesia menerima pengalihan kekuasaan tersebut. Itu 
semua adalah kenyataan sejarah dan hukum. Kita tidak bisa mengubahnya, 60 tahun 
kemudian setelah peristiwa tersebut berlalu.

Sementara menurut para penulis petisi, Belanda tidak bisa begitu saja 
menentukan saat kemerdekaan. Rakyat Indonesia telah menentukan sendiri, kapan 
mereka merdeka.


* GEMPA RINGAN DI SUMATRA BARAT

Gempa bumi lemah kembali mengguncang propinsi Sumatra Barat. Sejauh ini tidak 
laporan mengenai kerusakan atau korban. Dan juga, tidak ada peringatan bahaya 
tsunami. Episentrum gempa berkekuatan 5,9 pada skala Richter ini, terletak di 
laut, pada kedalaman 19 kilometer, sekitar 113 kilometer di Baratdaya kota 
Padang. September lalu, gempa berkekuatan 7,6 pada skala Richter juga telah 
melanda propinsi ini, dan menewaskan lebih dari 1.000 jiwa.


* METRO TANAH ABANG, JAKARTA, AMBRUK

Runtuhnya bangunan tambahan Pusat Grosir Metro Tanah Abang, Jakarta Pusat, 
menewaskan dua orang dan melukai duabelas orang lainnya, di antaranya tiga 
orang menderita luka parah. Diperkirakan, lima orang buruh bangunan masih 
terjebak di bawah reruntuhan. Dengan menggunakan alat berat dan tangan kosong, 
regu penyelamat berusaha menemukan mereka. Bangunan tambahan ini masih dalam 
proses pembangunan, dan dibangun tanpa Surat Izin Mendirikan Bangunan.


* PERANG PUNGUTAN BEA MASUK, CINA - UE

Cina akan memungut bea-masuk bagi impor produk besi dari Uni Eropa, seperti 
misalnya paku, sekrup dan baud. Tarif bea-masuk bisa mencapai 25 persen. 
Beijing menyatakan, mereka harus melindungi produk Cina sendiri, dari impor 
banting harga dari Eropa. Diperkirakan, kebijakan baru Cina ini merupakan 
tindakan balasan pada keputusan Uni Eropa, memperpanjang ketentuan bea-masuk 
bagi impor sepatu dari Cina dan Vietnam, selama limabelas bulan. Dengan 
perpanjangan tersebut, Uni Eropa mencoba menghadapi saingan sepatu murah dari 
Asia. Cina marah atas perpajangan masa pungutan bea-masuk tersebut, dan 
mengajukan pengaduan pada Organisasi Perdagangan Dunia, WTO.


* SIDANG PENGADILAN PEMBANGKANG CINA

Di Beijing, mulai dibuka sidang pengadilan pembangkang Cina, Liu Xiaobo. Ia 
dituduh mencoba menggulingkan kekuasaan. Liu Xiaobo ditangkap tahun lalu karena 
terlibat dalam penerbitan Petisi Charta 08. Petisi ini mendesak perlunya 
perubahan dalam tatanan satu partai komunis, yang berlaku sekarang. Sementara 
itu, puluhan ribu orang telah ikut menanda-tangani petisi tersebut. Liu Xiaobo, 
saat ini merupakan salahsatu kritikus penguasa Cina, yang paling beken. Menurut 
Amerika Serkat, Uni Eropa dan beberapa kelompok hak azasi manusia, sidang 
pengadilan ini lebih merupakan masalah politik.


* Isfahan, Masih Rusuh

Di kota Isfahan, Iran, pasukan polisi berbaku hantam dengan para pendukung 
kelompok oposisi. Demikian laporan suatu situs web kalangan oposisi. Kerumunan 
massa berkumpul di sebuah mesjid, menghadiri upacara berkabung, sehubungan 
dengan meninggalnya Ayatollah Hossein Ali Montazeri, Ahad lalu, pada usia 87 
tahun. Almarhum termasuk salah seorang pengecam keras Presiden Mahmoud 
Ahmadinejad. Situs web ini melaporkan, polisi memukul massa menggunakan 
pentungan, dan menembakkan gas airmata untuk membubarkan kerumunan. Diberitakan 
banyak korban menderita luka-luka, dan banyak juga orang yang ditangkap. 
Ayatollah Hossein Ali Montazeri dimakamkan Senin lalu, di kota Qom. Upacara 
pemakaman dihadiri ratusan ribu pengunjung, dan upacara tersebut berubah 
menjadi demonstrasi masaal anti pemerintah.


* SANKSI DK PBB BAGI ERITREA

Dewan Keamanan PBB, hari Rabu ini mungkin akan menerbitkan sanksi pada Eritrea, 
karena menganggu stabilitas di wilayah Tanduk Afrika. Menurut Dewan Keamanan 
PBB, Eritrea membantu kelompok pemberontak Al Shabaab, di negeri jiran Somalia, 
dalam bentuk uang dan senjata. Saat ini, kelompok Al Shabaab telah menguasai 
sebagian besar wilayah Somalia, dan berusaha menumbangkan pemerintah pusat di 
Mogadishu, yang berada dalam keadaan lemah. PBB juga akan berusaha menekan 
Eritrea, agar menarik mundur tentara mereka dari perbatasan Jibuti. Eritrea dan 
Jibuti sudah lama bertikai mengenai garis perbatasan wilayah mereka. sanksi 
pada Eritrea akan berbentuk, embargo senjata, pembekuan rekening bank dan 
pencekalan bagi para politisi dan pejabat militer.


* KECELAKAAN PESAWAT DI JAMAIKA

Di bandara Kingston, Jamaika, sebuah pesawat milik maskapai penerbangan, 
American Airlines, pada saat mendarat ke luar dari landasan pacu, dan patah 
menjadi tiga bagian. Empat puluh orang menderita luka-luka, di antaranya empat 
orang cedera parah. Pesawat jenis Boeing 737 ini sebenarya sudah selamat 
mendarat, para penumpang sudah bertepuk-tangan, ketika tiba-tiba terdengar 
ledakan, dan pesawat pecah menjadi tiga bagian. Penyebab kecelakaan masih belum 
diketahui. Yang jelas, ketika itu sedang turun hujan lebat. Pesawat ini 
bertolak dari Miami, berisi 154 penumpang dan awak pesawat.


* BERITA BURSA

Pada saat pembukaan pasar bursa Rabu pagi tadi, nilai indeks saham gabungan AEX 
di Amsterdam naik 0,5 persen, pada 334,46 poin. Kenaikan yang sama juga terjadi 
di bursa Frankfurt, Paris dan London.

Di Tokyo, pada saat penutupan pasar Rabu sore waktu setempat, nilai indeks 
Nikkei naik 1,9 persen, pada 10.378 poin.

Nilai tukar:
1 euro sama dengan 1,4249 dolar.
1 euro sama dengan 13,544 rupiah.
1 dolar Amerika sama dengan 9,505 rupiah.


* NATAL BAGI MUSLIM JERMAN

Hari Natal memang hari raya umat Kristen, tetapi tidak semua yang merayakan 
Natal adalah umat yang taat pergi ke gereja. Bagi kebanyakan orang, hari libur 
ini lebih sering digunakan untuk berkumpul dengan keluarga, bertukar kado atau 
makan malam besar-besaran daripada merayakan hari kelahiran Yesus Kristus. 
Banyak orang Muslim yang tinggal di negara dengan mayoritas penduduk beragama 
Kristen juga ikut andil dalam hari raya ini. Contohnya di Jerman, Sinterklas 
pun bisa berbahasa Turki. Laporan Louise Dunne. 

Mayoritas penduduk Jerman mengidentifikasikan dirinya sebagai umat Kristen, 
tetapi sebanyak tiga juta umat Muslim juga tinggal di sana. Bagaimana mereka 
menghadapi hari-hari raya ini?

Ali tiba di Jerman tigabelas tahun lalu ketika dia masih remaja. Dia berasal 
dari Irak. Di Jerman ia belajar untuk menjadi insinyur. Untuk membayar uang 
sekolah dia bekerja di pasar akhir pekan di kota Berlin menjual kue-kue Timur 
Tengah. Akhir tahun seperti sekarang amat berarti bagi Ali. Dia dan istrinya 
menikah pada tanggal 24 Desember 2007. Namun dia tidak sepenuhnya mengikuti 
hari raya Natal sendiri. 

Ali: Saya Muslim, jadi saya tidak merayakan Natal. Saya gunakan waktu liburan 
itu dengan menghabiskan waktu bersama isteri. Mungkin kami akan pergi ke pasar 
Natal. Saya juga gunakan waktu libur untuk belajar atau semacamnya. 

Hari Natal modern sepertinya lebih berarti untuk kado daripada untuk agama. Ini 
bisa menjadi masalah untuk keluarga Muslim yang anak-anaknya merasa ketinggalan 
ketika melihat teman-temannya yang beragama Kristen dilimpahi hadiah. Idan 
Suer, anak seorang imigran Turki dan seorang dosen sosiologi di salah satu 
universitas di Berlin, menjelaskan bagaimana salah satu temannya menangani 
masalah ini. 

Idan Suer: Keluarganya dan beberapa keluarga Turki lain berkumpul pada Malam 
Natal dan membeli hadiah untuk anak-anak mereka. Mereka mengadakan acara Natal 
versi Turki. Musik Turki dinyalakan, makanan Turki disajikan dan tentu saja, 
ada Sinterklas yang bisa berbahasa Turki. Ini bukan sesuatu yang berhubungan 
dengan agama. Ini hanya cara untuk membuat anak senang dengan membelikan mereka 
hadiah-hadiah kecil. 

Tapi tidak semua orang setuju dengan solusi ini. Burhan Kesici, wakil presiden 
Federasi Islam Berlin percaya pentingnya membuat batas antara suasana umum dan 
pribadi. 

Burhan Kesici: Jika seorang rekan Jerman mengundang Anda, maka Anda dapat 
merayakan Natal bersamanya. Tapi sebagai seorang Muslim tidak baik merayakan 
Natal secara pribadi bersama keluarga. Ini bukan hari raya Islam. 

Kesici paham Natal bisa menyulitkan banyak orang tua Muslim, tapi dia yakin 
mereka dapat meredam tekanan dari luar dan menjelaskan pada anak-anak bahwa 
hari Natal - dan kado-kado yang berasosiasi dengan hari raya itu -  adalah 
bukan bagian  tradisi mereka. Meskipun demikian kepopuleran perayaan Natal 
secara besar-besaran mempengaruhi cara orang Muslim mengamati hari raya mereka 
sendiri. 

Dulu mereka tidak punya bulan Ramadhan dalam bentuk ini. Sekarang mereka 
membuat perayaan besar-besaran di berbagai institusi dan kita membeli banyak 
hadiah untuk anak-anak. Mereka telah melihat perayaan Natal orang Jerman, lalu 
berkata, OK, kita juga bisa buat seperti ini di hari raya kita. 

Menurut Kesici ini adalah perkembangan positif. Tidak hanya anak-anak Muslim 
dapat menikmati suguhan yang sama seperti teman-teman Kristennya, tetapi 
perayaan besar-besaran dan gamblang telah membawa kesadaran yang lebih besar 
untuk hari raya Muslim dalam masyarakat luas.


* ORGANISASI PENYIARAN MUSLIM BELANDA AKUI AHMADIYAH

Organisasi Penyiaran Muslim di Belanda, de Stichting Moslim Omroep (SMO) 
mengakui keberadaan sekte Ahmadiyah sebagai salah satu aliran utama Islam. Ini 
belum pernah terjadi di dunia. 

"Di seluruh Eropa belum ada organisasi yang bisa menggabungkan kaum Suni, 
Syiah, Alevitis dan Ahmadiyah," tandas Fethi Killi dari SMO dengan bangganya. 
"Kamilah yang berhasil melakukan ini untuk pertama kalinya." 

Ahmadiyah adalah sebuah aliran yang tidak diakui oleh aliran-aliran Islam 
ortodoks lainnya. Karena kebanyakan pengikut aliran Ahmadiyah di Belanda adalah 
warga Belanda keturunan Suriname, pengakuan aliran yang asalnya dari Pakistan 
ini acap kali menjadi polemik yang sensitif. Pemerintah Belanda mengakui 
Ahmadiyah sebagai salah satu aliran agama Islam. Namun organisasi-organisasi 
Islam ortodoks menolak untuk mengakui sekte tersebut. 

Perlombaan subsidi
Masalah ini muncul ke permukaan ketika sekarang ada perlombaan mendapatkan 
subsidi sebuah saluran penyiaran Muslim yang baru. Saluran penyiaran Muslim 
sebelumnya yaitu Nederlandse Moslim omroep (NMO) terbelah menjadi dua 
organisasi yang tidak lagi mampu mengajukan permintaan subsidi pada pemerintah. 
Sekarang lima organisasi penyiaran baru sedang menawar waktu siaran. SMO 
mendapat peluang siaran paling besar. 

Dalam penyeleksian organisasi penyiaran baru, Komisaris Media Belanda menuntut 
satu kriteria penting, yaitu mewakili semua aliran. Organisasi penyiaran baru 
harus dapat sebanyak mungkin mewakili kelompok-kelompok Muslim yang ada di 
Belanda. SMO memenuhi kriteria itu dengan cara mempersatukan semua aliran agama 
Islam yang diakui pemerintah Belanda: Suni, Syiah, Alevitis dan Ahmadiyah.  
Dalam pengajuan subdisi bahkan disebut julukan empat 'pilar' Islam.

"Penting untuk meluruskan keragaman komunitas Islam di Belanda," ungkap yasin 
Furqani dari Dewan Masjid Marokko Belanda (RMMN), yang merupakan salah satu 
anggota SMO.  "Ahmadiyah berperan besar dalam komunitas Islam dan oleh karena 
itu harus dimasukkan." 

Dewasa
Menurut Fathi Killi dari SMO, Ahmadiyah sangat kontroversial di dunia Islam. 
Dia juga menjelaskan kaum Suni dalam organisasi SMO ternyata cukup dewasa 
menanggapi keputusan SMO untuk memasukkan Ahmadiyah dalam organisasi. "Untuk 
pertama kalinya keempat aliran ini memutuskan untuk tidak menutup diri karena 
alasan teologisnya. Kami menekankan bahwa kami percaya Tuhan, kitab dan nabi 
yang sama." 

Tidak semua Organisasi Muslim di Belanda setuju dengan pendekatan umum seperti 
ini, jelas Killi. "Ada juga yang tidak ingin bekerjasama dan menekankan hanya 
ada satu Islam yang benar, yaitu Islamnya mereka." Pembahasan kerjasama dengan 
calon organisasi penyiaran lain, yaitu De Stichting Moslim Omroep Nederland 
(SMON), berjalan kurang baik. SMON sepertinya menolak mengakui Ahmadiyah 
sebagai mitra yang sederajat. 

Menutup
Radi Suudi membantah bahwa organisasinya, SMON, ingin mengucilkan Ahmadiyah. 
"Kami ingin bekerjasama. Yang SMO inginkan dari kami adalah supaya kami 
memberikan keterangan tertulis bahwa kami mengakui Ahmadiyah sebagai salah satu 
aliran agama Islam. Itu adalah sebuah masalah teologis yang tidak dapat kami 
bawa sebagai organisasi jurnalistik." 

Menurut rencana, minggu ini akan diumumkan organisasi penyiaran mana yang 
mendapatkan waktu siaran dan menjadi saluran penyiaran Muslim yang baru di 
Belanda.


* IMPIAN RUSIA TIDAK TERWUJUD
Gerakan hak-hak asasi manusia Rusia menerima pukulan telak di tahun 2009. Di 
awal tahun saja, pengacara Stanislav Merkelov dan jurnalis Anastasia Baboerova 
ditembak di siang hari bolong di tengah kota Moskow. Setelahnya di bulan Juli, 
aktivis hak-hak asasi manusia Natalia Estemirova diseret masuk ke dalam mobil 
oleh orang tak dikenal di ibukota Chechnya, Grozny. Ia akhirnya ditemukan 
tewas. Tidak lama setelah itu, peristiwa yang sama juga menimpa dua aktivis 
Chechnya lainnya.
Peristiwa pembunuhan itu menutup dasawarsa penuh penekanan terhadap gerakan 
hak-hak asasi manusia Rusia. Para anggota organisasi hak-hak asasi manusia 
Rusia yang tertua, Memorial, pesimis dan meramalkan tidak akan ada perubahan di 
dasawarsa mendatang, kata ketuanya Oleg Orlov. Di awal tahun 90 an, sempat 
merebak optimisme dan saat itu banyak orang berharap. 
Kemunduran demokrasi
Sejak tahun 1994 kondisi hak-hak asasi manusia terus memburuk. Kami terus 
memikirkan soal siapa pengganti presiden Jeltsin. Dan kami juga memiliki 
gambaran jelas apa yang akan terjadi saat itu: kami meramalkan orang yang 
berkuasa akan menghentikan reformasi dan membekukan Rusia. Periode sebelumnya 
juga dikritik dengan hebat. Dan itu semua adalah kejadian yang persis terjadi. 
Kantor sempit Memorial berada di lantai dua sebuah gedung tua di tengah kota 
Moskow. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, karena masih banyak yang 
harus dilakukan di bidang hak-hak asasi manusia. Kamar kerja Orlov dan rekannya 
yang seadanya itu merupakan simbol dari posisi gerakan hak-hak asasi manusia di 
Ruisa. 
Pergantian kekuasaan
Posisi hak-hak asasi manusia semakin memburuk, sejak presiden Boris Jeltsin 
tanpa diduga lengser pada akhir tahun 1999. Bulan-bulan sebelumnya pemberontak 
Chechnya menyerang republik Dagestan dan meledakkan bom di antaranya di Moskow 
dan menewaskan ratusan orang. Pengganti Jeltsin adalah mantan bos KGB Vladimir 
Putin. Ia bertindak seperti yang ditakutkan Orlov. 
"Perang Chechnya kedua dibarengi dengan chauvinisme dan gelombang propaganda 
menentang kami. Kami merasakan diri sebagai kaum paria, terisolasi dari 
masyrakarat. Perasaan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Periode saat 
ini sama sulitnya seperti di akhir tahun sembilan puluhan. 
Orlov sebetulnya juga mengalaminya. Kendati demikian ia tetap berkharisma, 
duduk di kantornya Memorial di Moskow dengan tenang. Hal itu sangat mencolok 
karena ia belum lama ini pernah diculik di republik Kaukaus, Ingustan dengan 
ancaman mati,. Namun akhirnya ia dibebaskan dan dicampakkan di ladang bersama 
dengan beberapa jurnalis lainnya. Saat ini ia malah harus menghadap pengadilan. 
Orlov berbicara singkat mengenai hal tersebut. 
Setelah pembunuhan Estemirova, Orlov menutnut pertanggungjawaban presiden 
Ramzan Kadyrov. Presiden akhirnya dibebaskan oleh pengadilan. Orlov naik 
banding dan berharap kasus itu akan dibahas oleh mahkamah Eropa. Saat ini ia 
juga didakwa karena melakukan penghinaan. Jika ia terbukti bersalah maka 
hukuman penjara menantinya.
Fitnah
Orlov menuntut presiden Ramzan Kadyrov sebagai orang yang bertanggungjawab atas 
kematian Esterminova. Kadyrov akhirnya terbukti tidak bersalah. Orlov tidak mau 
kalah, ia naik banding dan berharap kasus itu akan dibahas di Mahkamah Eropa 
untuk hak-hak asasi manusia. Kendati demikian saat ini pula Orlov harus 
menjalani penyelidikan pidana, dengan dakwaan memfitnah. Jika ia terbukti 
bersalah maka hukumanya adalah penjara. 
Saat ini posisi gerakan hak-hak asasi manusia semakin terpuruk oleh sebab itu 
setiap upaya penyelamatan disambut gembira. Hadiah Sacharov dari parlemen eropa 
merupakan salah satu contoh pemicu. Hadiah itu diberikan buat tiga aktivis 
gerakan hak asasi manusia, Oleg Orlov, Sergei Kovaljov dan Ljudmila Alekseyeva. 
Itu adalah tanda-tanda yang indah kendati juga menimbulkan perasaan bercampur. 
Rusia terus berkembang namun ke arah yang berbeda dibanding apa yang diinginkan 
para aktivis hak asasi manusia. Banyak yang sudah dicapai, kata Orlov. Di awal 
tahun 90 an--berkat Memorial, terdapat dasar untuk demokrasi. Namun Rusia 
sekarang justru berjalan mundur, dan untuk itu Orlov merasa turut 
bertanggungjawab. 
Peluru
Ada pula perasaan getir, kata Orlov. Di dinding kantor Memorial tertapampang 
potret Natalya Estemirova, yang tidak mendapat hadiah namun menurut Orlov, ia 
sebetulnya berhak atas hadiah tersebut menurut. 
"Saya ingat dengan baik ketika Natasya bersama Sergeij Kovaljov dinominasi 
untuk hadiah itu. Yang menerima hadiah orang lain bukan Natasja. Itu sudah dua 
tahun yang lalu. Kami memperoleh penghargaan namun Natasja memperoleh peluru. 
Dan itu perasaan getir yang tidak bsia saya hilangkan."




* FAR EASTERN ECONOMIC REVIEW GULUNG TIKAR DAN DESAKAN UNTUK MENGAKUI 
PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945

Bulan Desember ini, berkala Far Eastern Economic Review terbit untuk kali 
terakhir dan kemudian gulung tikar. Sejak pertama terbit pada tahun 1946, 
majalah yang berkedudukan di Hongkong ini sudah dikenal sebagai media 
independen dan berbobot, dalam hal pemberitaan masalah politik, ekonomi dan 
budaya Asia. Demikian tulis harian pagi De Volkskrant  yang terbit di Amsterdam.

Bagi banyak penguasa Asia, kebebasan pers bukan sesuatu yang bisa diterima 
begitu saja. Padahal, selama masa penerbitan Far Eastern Economic Review, Asia 
mengalami berbagai pergolakan besar. Seperti misalnya, akhir Perang Dunia 
Kedua, proses dekolonisasi, perang saudara di Cina antara kelompok komunis 
melawan nasionalis dan kemiskinan di banyak wilayah Asia.

Walaupun mengalami banyak pembatasan, Far Eastern Economic Review berhasil 
menyajikan banyak laporan spektakuler. Pada detik-detik terakhir Perang 
Vietnam, seorang wartawan Far Eastern Economic Review masih mengirim berita 
dari medan pertempuran. Ketika pasukan tank Vietnam Utara menerjang pagar 
istana kepresidenan di Saigon, sang wartawan masih membuat laporan pandangan 
mata melalui telex, hingga hubungan telekomunikasi terputus.

Laporan spektakuler lainnya adalah wawancara dengan mendiang pemimpin Khmer 
Merah, Pol Pot, di hutan belantara Kamboja, beberapa tahun sebelum ia meninggal 
dunia. Far Eastern Economic Review merupakan satu-satunya media yang berhasil 
menemui sang diktator, setelah pemerintahannya tumbang.

Sejak lima tahun lalu, majalah yang semula terbit mingguan ini berubah jadi 
bulanan. Penyebabnya, jumlah pelanggan dan pemasukan iklan yang berkurang. Awal 
tahun 2009, Dow Jones, sebagai pemilik berkala ini, memutuskan untuk 
menghentikan penerbitan.

Dari Hongkong kita beralih ke Belanda. Menjelang hari peringatan pengakuan 
kedaulatan Indonesia oleh Kerajaan Belanda pada tahun 1949, sekelompok penulis, 
sejarawan dan ahli hukum terkemuka Belanda, mendesak pemerintah Belanda agar 
mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Menurut kelompok ini, pada tahun 2005, Menteri Luar Negeri Belanda saat itu, 
Ben Bot, menyatakan Belanda, secara politik dan moril, mengakui tanggal 17 
Agustus 1945. Demikian harian Trouw. Namun, kelompok ini berpendapat, pengakuan 
seperti itu belum cukup.

Dengan pengakuan setengah-setengah seperti itu, sikap Belanda saat ini masih 
sama dengan sikap pada tahun-tahun setelah 1945. Ketika itu, Belanda dengan 
segala cara, berupaya untuk kembali berkuasa di Indonesia. Hanya atas tekanan 
keras Amerika Serikat, Belanda bersedia dengan berat hati mengakui kedaulatan 
Republik Indonesia.

Menurut para pendukung desakan, dalam masa dekat ini ada dua saat yang sangat 
tepat untuk mengakui kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Pada saat kunjungan 
kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Belanda nanti. Atau, pada saat 
peringatan hari ulang tahun kemerdekaan, tanggal 17 Agustus 2010.

Demikian harian Trouw, dan sekian pula Tinjauan Pers kali ini.


* PETISI KAUM INTELEKTUAL DAN PENULIS BELANDA

Sejumlah kaum intelektual dan penulis Belanda mengajukan petisi kepada 
pemerintah Belanda, agar Belanda mengakui 17 Agustus 1945 sebagai Hari 
Kemerdekaan Republik Indonesia. Radio Nederland Wereldomroep menghubungi 
seorang tokoh yang ikut menandatangani petisi tersebut, yakni Prof. Dr. Nico 
Schulte Nordholt,  yang menjelaskan mengapa harus diajukan petisi tersebut dan 
apa maknanya. Serta ikuti juga pendapat seorang sejarahwan, Rusdy Husain. 

Yang mendorong para intelektual dan penulis Belanda mengajukan petisi adalah 
kesadaran pada 27 Desember, 60 tahun yang lalu, pada Konferensi Meja Bundar di 
Amsterdam ditandatangani suatu penyerahan kedaulatan kepada RIS. Dengan 
demikian sebetulnya pada waktu itu pemerintah Belanda semestinya mengakui hak 
rakyat Indonesia, untuk memproklamirkan kemerdekaannya 17 Agustus 1945.

Dalam sejarah kemudian, setelah 1949 itu, pemerintah Belanda sampai hari ini, 
belum pernah sampai berani atau besar hati untuk mengakui kelalaian pada waktu 
itu.  Karena ada peringatan  27 Desember yang ke-60 tahun, maka mereka ingin 
supaya hal itu diselesaikan secara tuntas dengan pengakuan hari Kemerdekaan 17 
Agustus itu. 

Nico Schulte Nordholt menyadari bahwa hubungan antara pemerintah Indonesia dan 
pemerintah Belanda, sudah sangat membaik, setelah pada tahun 2005 Menteri Luar 
Negeri Ben Bot hadir pada upacara 17 Agustus itu  di Medan Merdeka, Jakarta. 
Tetapi pada waktu itu Menteri Ben Bot hanya sampai mampu untuk menyatakan 
bahwa: "... maaf kami menyadari bahwa pada waktu itu Belanda terletak pada sisi 
yang keliru dalam sejarah itu." 

Permintaan maaf itu ternyata oleh pemerintah SBY dianggap cukup, sedangkan Nico 
Schulte Nordholt  merasakan hal  itu terlalu kurang. Mereka  terdorong  ingin 
meluruskan suatu kelalaian pada fihak Belanda. Permintaan maaf itu kemudian 
diingkari dengan fakta oleh pemerintah yang sama, dengan tidak mengijinkan Ratu 
Beatrix hadir pada upacara 17 Agustus di Jakarta itu. Dualisme sikap ini 
menurut Nico Schulte Nordholt  karena mereka takut menyakiti hari para veteran. 
Mereka menyadari bahwa ada sensitivitas pada pihak mereka.

Tidak lagi diperlukan
Sementara itu sejarahwan Rusdy Hussain mengatakan, pengakuan kemerdekaan karena 
ada riwayat perkembangan hubungan Indonesia Belanda setelah tahun 2000. 
Kedatangan Menlu Ben Bot tahun 2005 hanya berupa sebatas pengakuan kemerdekaan 
dan itu hanya bersifat sebagai suatu basa-basi. 

Yang dimintakan oleh kelompok itu adalah suatu pernyataan resmi, permintaan 
maaf dan inginnya sebetulnya de jure. Sebetulnya, apapun bentuknya, hal itu 
tidak diperlukan lagi. Karena bagi bangsa Indonesia, 27 Desember 1949 saat 
penyerahan kedaulatan, adalah berakhirnya kolonialisme di bumi Indonesia. Jadi 
buat apa lagi?

Dua negara sudah berada di dalam satu fase sejajar. Duduk sama rendah berdiri 
sama tinggi. Pengakuan tidak diperlukan lagi. Memang pengakuan cukup 
membanggakan tapi tidak ada esensinya buat bangsa Indonesia.  

Kalaupun ada pengakuan maka tidak akan ada tindak lanjut lagi. Segala bentuk 
ganti rugi juga tidak akan berlangsung. "Itu hanya untuk masyarakat Belanda, 
sebagai suatu pencerahan." 

Ikuti wawancara lengkap dengan Prof. Dr. Nico Schulte Nordholt dan sejarawan 
Rusdy Hussain pada situs web kami www.ranesi.nl.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.radionetherlands.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[email protected]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep. 
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke