---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Jumat 05 Agustus 2011 15:50 UTC



** THAILAND PUNYA PM PERTAMA WANITA

** REJIM LIBYA SANGKAL KEMATIAN PUTRA GADDAFI

** ANAK KENA MUSIBAH, IBU BOLEH HAMIL LAGI

** MELEPAS ANAK-ANAK JADI WARGA NEGARA BELANDA

** OPINI: LIGA BELANDA DIMULAI, DENGAN LAGA PEMAIN KETURUNAN

** KISAH DUA PEMUDA GAY: "INILAH HIDUPKU, INILAH DUNIAKU"

** TANK DAN OBROLAN RINGAN DI SURIAH



* THAILAND PUNYA PM PERTAMA WANITA

Parlemen Thailand mendukung Yingluck Shinawatra sebagai perdana menteri baru, 
Jumat ini. Penguasaha 44 tahun itu adalah perempuan pertama yang menjadi 
perdana menteri Thailand.

Yingluck adalah calon tunggal pada pemilihan di parlemen Bangkok. Ia adalah 
adik kandung mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra yang digulingkan tahun 
2006 dan sekarang hidup di pengasingan. Partainya meraih mayoritas mutlak pada 
pemilu Juli.

Pada pemilihan parlemen Yingluck mendapat dukungan 296 dari 500 suara. Tingga 
anggota parlemen menentang dan 197 ubstain. Sejumlah anggota tidak hadir para 
pemilihan. Setelah Yingluck mendapat dukungan parlemen maka dalam waktu dekat 
Raja Bhumibol akan menobatkannya resmi sebegai perdana menteri.


* REJIM LIBYA SANGKAL KEMATIAN PUTRA GADDAFI

Jubir rezim Libya Muammar Gaddafi menyangkal berita kematian anak Gaddafi yang 
bernama Khamis. Dia menduga siasat kotor untuk mengalihkan perhatian dari 
pembunuhan dan kejahatan yang dilakukan NATO. Sebelumnya pemberontak Libya 
memberitakan Khamis terbunuh dalam serangan udara NATO di kota Zliten. 

Khamis adalah putra ke enam Gaddafi. Setelah mengikuti pendidikan di Rusia ia 
menjadi komandan satuan elit Khamis Brigade di Angkatan Bersenjata Libya. Bulan 
Maret lalu juga sudah dikabarkan Khamis meninggal, ketika terjadi kecelakaan 
pesawat jatuh. 

Sebelumnya Gaddafi diperkirakan juga sudah kehilangan putra bungsunya, Saif 
al-Arab 29 tahun, akibat pemboman NATO. Gaddafi dikaruniai tujuh putra dan 
seorang putri dari dua istri. Selain itu Gaddafi juga diduga punya dua anak 
angkat.


* ANAK KENA MUSIBAH, IBU BOLEH HAMIL LAGI

Pasangan Cina yang menjadi korban banjir lumpur di Zhouqu propinsi Gansu, tahun 
lalu, diijinkan punya anak lagi. Demikian media Cina melaporkan Jumat.

Banyak perempuan Cina yang disteril karena jumlah anaknya sudah maksimal, 
antara dua dan tiga. Karena kehilangan anak akibat musibah banjir, sterilisasi 
ini dibuka lagi. Sejauh ini sudah dialami 27 wanita dan sebagian wanita sudah 
hamil lagi. Beaya penanganan ditanggung negara.

Di banyak wilayah Cina berlaku kebijakan satu. Aturan itu ditujukan untuk 
mencegah ledakan jumlah penduduk Cina. Di Zhouqu dan sekitar di kawasan 
pedesaan berlaku kebijakan maksimal dua atau tiga anak. Banjir lumpur di 
propinsi Gansu menewaskan sedikitnya 1700 orang.


* MANTAN PM UKRAINA DITANGKAP

Pengadilan Ukraina memberikan perintah untuk menahan mantan Perdana Mentri 
Yulia Tymoshenko.

Menurut kabar, dia tidak diperbolehkan meninggalkan ibukota Kiev selama proses 
pengadilan terhadapnya berlangsung. Dia dituduh melakukan penyalahgunaan 
kekuasaan.

Dia antara lain juga menyebabkan Ukraina mengalami kerugian sebesar 135 juta 
euro akibat kontrak baru di bidang energi dengan perusahaan Rusia Gazprom. 
Sehingga, dia terancam dikenai hukuman tujuh sampai sepuluh tahun penjara.


* PAYPAL DI HP MAKIN POPULER

Konsumen Belanda semakin sering melakukan pembayaran online PayPal lewat 
smartphone. Setiap pekan terjadi transaksi senilai 200 ribu euro lewat sistem 
pembayaran elektronik ini, demikian pihak PayPal. Empat bulan silam pembayaran 
elektronik masih 32 ribu euro sepekan.

PayPal memperkirakan jumlahnya pembayaran akan meningkat di Belanda, sejalan 
dengan kenaikan penggunaan smartphone. Selanjutnya PayPal menengarai bahwa 
perusahaan-perusahaan Belanda sedang berusaha keras memungkinkan pembayaran 
konsumen lewat smartphone.

Penelitian sebelumnya membuktikan bahwa penggunaan smartphone meningkat 30 
persen di Belanda. Teristimewa pada kalangan muda.


* MELEPAS ANAK-ANAK JADI WARGA NEGARA BELANDA

Agrar Sudrajat

Sudah hampir dua dasawarsa saya dan keluarga- istri dan tiga anak- tinggal di 
Belanda. Sampai saat ini, saya dan istri masih ragu untuk pindah warga negara. 
Tapi, dua anak saya malah sudah duluan menjadi warga negara Belanda. Untuk 
alasan praktis, supaya mudah bepergian. Kakek anak-anak yang dulu sangat 
menentang penjajah Belanda, karena perjalanan hidup, setelah masa tua juga 
beralih menjadi warga Belanda.

Perjalanan hidup manusia kadang sama sekali di luar rencana dan bayangan 
semula. Saya datang ke Belanda pada tahun 1979 dengan tujuan studi. Ketika itu 
saya memilih studi sosiologi, di Vrije Universiteit di Amsterdam. Pergi ke 
Belanda tanpa membawa istri dan anak. Setelah lulus, pada tahun 1987, saya 
sempat kembali ke Indonesia dan bekerja di sana.

Pada tahun 1993, saya kembali ke Amsterdam untuk mengikuti program S3. Kali 
ini, istri dan anak-anak saya bawa. Sejak bulan-bulan pertama tinggal di 
Amsterdam istri saya sudah mulai mengemukakan gagasan untuk menetap di Belanda 
saja. Dan begitulah, berbeda dengan rencana pada saat berangkat dulu, sampai 
kini, kami masih tinggal di Amsterdam.

Pilihan Dua Anak Pria
Saya punya tiga orang putra. Yusuf lahir pada 1980, Yunus 1988 dan Yuris 1990. 
Belum lama ini Yunis memutuskan akan mengambil kewarganegaraan Belanda, sama 
seperti kakaknya, Yunus. Dorongan untuk pindah warga negara bagi dua anak ini 
sama, dengan paspor Belanda mereka gampang bepergian ke luar negeri.

Ketika duduk di kelas terakhir sekolah menengah, VWO, pada tahun 2006, Yunus 
bersama tiga orang teman sekolahnya sepakat usai ujian akan jalan jalan ke 
Amerika Serikat. Agar dapat tiket murah, teman-teman anak kami sejak bulan 
Januari sudah pesan tiket. Anak saya sendiri, saya nasehatkan jangan dulu 
booking karena ia harus mengurus visa dulu. Dan semua itu harus ia urus sendiri.

Kebetulan pengurusan visa ke USA dipusatkan di Konsulat Amerika di Amsterdam. 
Jadi, sebenarnya, dari segi jarak tidak begitu merepotkan. Namun akibatnya, 
kami harus membeli tiket yang harganya jauh lebih mahal. Dan anak saya tidak 
bisa berangkat dengan penerbangan yang sama bersama teman-temannya.

Pulang dari Amerika, anak ini mulai menjajaki pendapat kami bagaimana jika ia 
memutuskan akan mengambil kewarganegaraan Belanda. Kami hanya mengingatkan agar 
ia mempertimbangkan berbagai dampak pilihan tersebut. Dan bahwa soal 
kewarganegaraan bukan hanya soal status untuk dokumen resmi saja. Sementara 
anak nomor dua ini menyatakan, sejauh ini ia dibesarkan di Belanda dan 
tampaknya juga akan tetap tinggal di Belanda. Dari berbagai pertimbangan 
praktis, ia menganggap lebih baik menjadi warga negara Belanda.

Belum lama ini, Yuris mengalami hal yang hampir sama. Kami ingin mengunjungi 
seorang keponakan yang sedang studi di Inggris. Pada mulanya, pengurusan visa 
untuk itu dilayani oleh Konsulat Inggris di Amsterdam. Sayang sejak Februari 
lalu, pelayanan dipindahkan ke kota Dusseldorf di Jerman. Itu berarti untuk 
visa kami harus berhubungan dengan kantor pelayanan visa di Jerman. Anak nomor 
tiga memperhitungkan, baik dari segi biaya, mau pun kerepotan, lebih mudah 
mengurus proses naturalisasi. Dengan paspor Belanda, ia tidak usah meminta 
visa, dan dengan demikian juga tidak usah membayar apa pun.

Nasib Orang Kiri
Keputusan anak-anak ini mengingatkan saya pada kisah hidup kakek mereka, ayah 
saya. Ketika berangkat pada tahun 1979, selain untuk tujuan studi, saya 
sebenarnya juga ingin menemani almarhum ayah yang dulu tinggal di Amsterdam. 
Nama ayah saya Suparna Sastradiredja. Saya tidak pernah berjumpa dengannya 
sejak akhir September 1965, saat ia meninggalkan Indonesia. Ketika itu, ia ikut 
rombongan delegasi MPRS menghadiri perayaan 1 Oktober 1965 di Peking. Pecahnya 
Peristiwa G30S dengan dampak gelombang penumpasan orang kiri, membuatnya sulit 
untuk pulang kembali ke Indonesia.

Hingga pertengahan tahun 1970an ia tinggal di Cina. Walaupun semua kebutuhan 
hidup ditanggung pemerintah Cina, namun, sebagai tamu, ruang gerak orang-orang 
yang tertahan pulang ini sangat terbatas. Akhirnya, almarhum ayah memutuskan 
untuk pergi ke Belanda. Sejak ia tinggal di Belanda, baru ia bisa mulai mencari 
kontak, melalui surat, dengan keluarga di Indonesia. Salah satu surat yang ia 
kirim akhirnya sampai juga ke tangan kami.

Paspor asing
Ayah datang ke Belanda sebagai pencari suaka. Ketika itu, permintaan suakanya 
ditolak. Tapi, ia boleh tinggal menetap di Belanda atas dasar kemanusiaan. 
Sebagai orang yang pernah aktif di bidang politik ayah selalu mengikuti 
perkembangan politik.  Apalagi yang melibatkan nasib para terpidana kasus 
urusan politik, tapol dan korban pelanggaran hak azasi manusia di Indonesia. 
Dan untuk berbagai aksi yang menyangkut urusan itu, ia kadang harus pergi ke 
luar Belanda, seperti misalnya ke Paris atau Bonn.

Karena tidak punya paspor RI, ketika itu ia mendapat paspor khusus bagi orang 
asing yang dikeluarkan oleh pemerintah Belanda. Dan bagi pemegang jenis paspor 
seperti ini, ketika itu belum ada Kesepakatan Schengen, untuk ke Paris pun 
orang harus minta visa masuk. Soal pengurusan visa ini, jelas bagi banyak orang 
bukan suatu kegiatan yang menyenangkan. Termasuk buat ayah. Akhirnya, sekitar 
awal tahun 1980an, ia memutuskan untuk mengajukan permohonan naturalisasi. Dan 
beberapa waktu kemudian, ia sudah jadi pemegang paspor Belanda.

Ternyata perjalanan hidup ayah mengalami saat saat yang tampaknya tidak pernah 
ia bayangkan pada masa mudanya dulu. Karena, pada pertengahan tahun 1930an, 
sebagai pemimpin redaksi majalah Indonesia Muda, ia pernah mendapat vonis 
hukuman penjara, dari pengadilan kolonial Belanda. Atas tuduhan memuat tulisan 
yang menyebarkan kebencian pada penguasa Belanda! Selanjutnya, pada masa Perang 
Kemerdekaan, antara tahun 1945 - 1949, ia aktif ikut menentang kembalinya 
penguasa kolonial Belanda ke Indonesia. Ia akhirnya malah menjadi warga Belanda.

Upacara Naturalisasi
Pada masa lalu, kalau permintaan naturalisasi disetujui, paspor baru tinggal 
diambil di loket Dinas Kependudukan di balaikota. Sejak beberapa tahun ini, 
mengikuti kebiasaan di Amerika, penyerahan dokumen dilakukan dalam suatu 
upacara resmi di balaikota.

Beberapa hari lalu, saya menghadiri upacara naturalisasi anak bungsu di 
balaikota Amsterdam. Bila memungkinkan penyerahan dilakukan oleh walikota. 
Tapi, biasanya cukup diwakilkan pada pejabat setingkat camat atau pejabat lain 
dari balaikota.

Pada dasarnya, inti upacara adalah pengucapan sumpah atau janji untuk 
menghormati konstitusi dan bersedia melaksanakan kewajiban sebagai warga 
negara. Teks lengkap sumpah atau janji dibacakan oleh pejabat balaikota, calon 
warga negara tinggal mengucapkan akhir pernyataan: '... zo waarlijk helpe mij 
God almachtig', atau atas nama Tuhan Yang Maha Kuasa  atau mengucapkan janji: 
'... dat verklaar en beloof ik' saya menyatakan dan menjanjikan itu.

Konon, permintaan visa masuk ke Belanda, apalagi naturalisasi, sulitnya 
setengah mati. Anehnya, banyak juga calon yang tampak sangat kesulitan membaca 
salah satu dari dua kalimat singkat tersebut. Seorang calon asal Turki terpaksa 
harus dibimbing kata demi kata oleh sang pejabat karena sama sekali tidak 
mengerti Bahasa Belanda.

Saling Suruh
Saya, istri dan anak sulung sejauh ini belum memutuskan akan menanggalkan 
kewarganegaraan Indonesia kami. Walaupun sang anak sulung sudah mulai 
mempertimbangkan juga akan melakukan hal itu. "Paling tidak mengingat masa 
depan anak," katanya. Dari partnernya, seorang warga Belanda, ia sekarang sudah 
mempunyai seorang putri. Tapi, ia masih ragu.

Saya dan istri sebenarnya sepakat, mungkin akan lebih baik jika salah seorang 
di antara kami mengambil kewarganegaraan Belanda. Namun, sampai sekarang, kami 
belum sepakat siapa yang harus mengambil langkah tersebut. Kami masih saling 
dorong, masing-masing masih tetap ingin mempertahankan kewarganegaraan RI.

Saya dan istri sudah tidak punya ambisi besar untuk pergi ke berbagai negeri 
lain. Jadi, tidak lagi terlalu memikirkan urusan visa. Kami masih lebih senang 
berliburan ke Indonesia. Entah bagaimana, kalau nanti anak-anak kami yang lain 
juga sudah punya pasangan hidup dan cucu kami makin banyak dan semuanya tinggal 
di Belanda. Siapa tahu!

Agrar Sudrajat


* OPINI: LIGA BELANDA DIMULAI, DENGAN LAGA PEMAIN KETURUNAN

Liga Belanda 2011/12 dimulai Jumat ini dengan duel antara dua klub Rotterdam, 
Excelsior dan Feyenoord. Pemain keturunan Indonesia berpeluang berlaga, sebuah 
opini.

Sabtu ini kemungkinan besar berlangsung duel antara dua pemain keturunan 
Michael Timisela dan Mark van der Maarel. VVV-Venlo klubnya Michael Timisela 
kedatangan FC Utrecht klubnya pemain keturunan Indonesia, Mark van der Maarel. 
Kalau ada kesempatan, ada baiknya untuk nonton pertandingan ini.

Favorit
Berdasarkan pembelian pemain dan prestasi musim lalu, maka tiga klub layak 
difavoritkan juara. Ajax Amsterdam juara musim lalu dengan permainan menarik di 
bawah besutan pelatih Frank de Boer, FC Twente adalah mantan juara dua musim 
lalu dan dua kali berturut-turut merebut Supercup Belanda, Johan Cruijff 
Schaal. Sementara PSV Eindhoven tampak mulai serius ingin membidik posisi 
tertinggi dengan merekrut pemain-pemain berbakat Georginio Wijnaldum, Kevin 
Strootman dan Dries Mertens.

AZ x PSV
Ketiganya bermain tandang Ahad. Ajax berkunjung ke De Graafschap. FC Twente 
dijamu NAC Breda dan PSV bertandang ke Alkmaar menghadapai AZ. Secara potensi 
AZ lawan PSV merupakan duel yang paling seru akhir pekan ini. AZ dalam stamina 
puncak karena masih hangat dengan pertandingan di penyisihan Europa League.

Feyenoord
Sementara itu Feyenoord yang secara tradisi adalah klub tiga besar Belanda, 
tidak dijagokan musim ini karena banyak kehilangan pemain berbakat dan 
mengalami kemelut pergantian pelatih dari Mario Been ke Ronald Koeman. Luc 
Castaignos pindah ke Inter Milan dan Georginio Wijnaldum dibeli PSV.

Maluku Belanda
Sementara itu ADO Den Haag, kejutan musim lalu kedatangan klub ambisius Vitesse 
Arnhem. Selanjutnya duel Roda JC kontra FC Groningen dan sc Heerenveen 
berhadapan NEC Nijmegen. Salah seorang pemain NEC, Cayfano Latupeirissa adalah 
keturunan Maluku.


* KISAH DUA PEMUDA GAY: "INILAH HIDUPKU, INILAH DUNIAKU"

"Pengennya sih cerita ke orang tua. Tapi orang tua tinggalnya jauh di kampung. 
Tetangga nanti bilangnya gimana-gimana, itu kan sakit di telinga orang tua. 
Jadi, saya putuskan tidak cerita ke mereka," demikian tutur Hendro seorang pria 
gay asal Indonesia yang sekarang bermukim di Belanda.

Sabtu 6 Agustus 2011 ini kanal kota Amsterdam kembali menjadi ajang pesta akbar 
para lesbian dan gay. Amsterdam Gay Pride setiap tahunnya menarik ratusan ribu 
penonton. Tujuan Gay Pride ini adalah untuk meningkatkan penerimaan terhadap 
homoseksualitas di masyarakat Belanda. Memperingati Gay Pride ini, Radio 
Nederland mewawancarai dua pria gay asal Indonesia.

Orangtua Tidak Tahu (Hendro)
Hendro, berasal dari suatu desa di Pulau Jawa. Ia menyatakan, sejak kecil ia 
sudah merasakan menyukai sesama jenis. Ketika itu ia tinggal di kampung. Ia 
tidak tahu persis, apa yang lain dari dirinya. Baru pada usia sekitar 23 tahun, 
ia sadar, bahwa ia hanya tertarik pada sesama jenis.

"Waktu itu saya lima tahun tinggal dan bekerja di Bali. Mungkin karena pengaruh 
lingkungan, lama-lama, saya terbiasa dengan perasaan saya. Kalau di kampung kan 
mungkin saya harus kawin. Dalam hati saya masih ada kontradiksi tapi kemudian 
saya putuskan yang penting saya bahagia. Itu yang terpenting dalam hidup saya," 
tutur Hendro.

Sampai saat ini, ia tidak mau menceritakan kecenderungan seksualnya pada orang 
tua di kampung. Ia merasa kasihan, nanti mereka akan menjadi bahan ejekan para 
tetangga. "Lagian aku jauh tinggalnya di Eropa. Mau cerita juga bagaimana. 
Sejauh ini, hanya adik sama sepupu yang tahu. Mereka pikirannya sudah terbuka," 
jelas Hendro.

Hendro memeluk Agama Islam. Ia tahu penerimaan orang Islam masih sulit menerima 
homoseksualitas. "Dibilangnya tidak boleh, di semua agama juga ditolak. Itu 
dibilangnya dosa besar. Tapi bagaimana lagi, aku tidak bisa merubah diriku 
sendiri," tutur Hendro.

Di Belanda, Hendro bisa bebas menjalani hidupnya sebagai gay. Ia merasa kasihan 
dengan orang-orang gay yang di Indonesia. "Aku sendiri juga sering baca berita 
tentang apa sebetulnya kejadian di Indonesia. Bagaimana dengan agama dan 
tradisi di Indonesia yang sangat kental, jadi sangat susah dengan mereka yang 
menyukai sesama jenis."

Selalu Terbuka (Hendra)
Hendra bekerja di salon sebagai ahli rambut. Ia adalah keturunan Cina asal 
Pontianak. Sejak masih duduk di SD kelas enam, Hendra sudah tahu ia lain dengan 
anak laki-laki sebaya. "Saya sudah suka mainan anak perempuan dan mengenakan 
pakaian milik kakak perempuan. Sampai tingkat SMA, ia belum pernah berhubungan 
seksual dengan pria," kenang Hendra.

Begitu ia menyadari ia suka pada pria, ia langsung bercerita kepada 
keluarganya. "Kali pertama, pada kakak perempuan terdekat," kata Hendra. Pada 
lingkungan teman, ia menceritakan secara bertahap. "Saya berpikir, kalau mereka 
itu teman pasti bisa menerima. Kalau tidak ya sudah saya tidak perduli." 
Setelah bercerita ternyata teman-teman justru semakin akrab dengan Hendra.  

Bagi Hendra yang sudah menikah dengan pria Belanda, ia sangat menikmati 
berbagai acara untuk meningkatkan penerimaan terhadap homoseksualitas seperti 
Gay Pride di Amsterdam atau Roze Maandag (Senin Merah Jambu), pasar malam untuk 
kaum homoseksual. Ia merasa senang dan dengan bersemangat selalu mengikuti 
acara tersebut sebagai peserta.

"Saya bersama teman-teman dari Indonesia selalu merayakan. Kita dandan. Kita 
sampai masuk televisi. Teman-teman saya lihat itu, keluarga saya juga. Malah 
saya dipuji. Orang-orang tanya saya asalnya dari mana. Bangga kita orang 
Indonesia bisa ikut dalam acara itu. Di sinilah kebahagiaan kami sebagai orang 
homoseksual di Belanda," tutur Hendra dengan berapi-api.


* TANK DAN OBROLAN RINGAN DI SURIAH

Tank-tank membombardir Hama. Warga Suriah berbondong-bondong turun ke jalan. 
Bagi anda yang mengikuti berita tentang Suriah, sepertinya sudah pecah perang 
di  negara itu. Tapi, di Ibukota Damaskus orang sibuk belanja buat Ramadhan, 
orang bepergian dengan bus, polisi sama sekali tidak memeriksa paspor, tutur 
seorang warga Belanda di Suriah.

"Ada perbedaan besar dengan situasi sebelum kerusuhan," kata Johan Akersloot. 
"Dulu orang Suriah tidak mau ngomong politik. Sekarang mereka lebih berani, 
walau tetap berhati-hati, membahas masalah politik dalam negeri." Akersloot 
melihat adanya dua kubu: mereka yang setia para rejim dan kelompok lain yang 
ingin rejim segera bubar.

Coca cola
Dalam beberapa tahun terakhir, menurut Akersloot, Suriah mengalami kemajuan 
setapak demi setapak. "Sebenarnya Suriah sudah mengalami revolusi besar sejak 
Bashar al-Assad menggantikan ayahnya." Assad junior memusatkan perhatian pada 
perkembangan ekonomi.

Tujuh tahun lalu di Suriah hanya ada mobil buatan Eropa Timur. Mobil merk 
internasional dan ATM belum ada. "Dulu untuk dapat Coca Cola saja susah," 
kenang Akersloot. "Orang harus beli Cola selundupan dari Libanon." Waktu itu 
tidak semua orang bisa menikmati kemajuan ekonomi. Situasi sosial dan politik 
tetap terbelakang.

Karena berbagai tindak kekerasan yang dilakukan rejim, menurut Akersloot, 
Suriah terbelah. " Satu wilayah damai, kehidupan berjalan seperti biasa dan 
wilayah lainnya yang diwarnai kekerasan."

Naik Bus
Sebagain besar turis dan mahasiswa internasional sudah meninggalkan Suriah 
karena nasehat dari berbagai kedutaan Barat. Di beberapa wilayah ada 
peningkatan patroli polisi. Akersloot masih bisa bebas berjalan-jalan di Kota 
Damascus. Naik bus ke kota lain juga tidak jadi masalah, seperti ke Homs, Hama 
atau Deir za-Zur.

Warga Suriah sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar wilayah 
mereka, seberapa besar berbagai kerusuhan yang terjadi.

Jejering sosial
Warga Suriah bisa menonton Al-Jazeera dan BBC Arab lewat satelit. "Orang 
mengkombinasikan berita yang mereka dapat dari media dengan apa yang mereka 
dengar dari orang-orang di wilayah sendiri," kata Akersloot.

Peran jejaring sosial tidak sehebat yang diberitakan Barat. "Cuma sekelompok 
kecil saja yang memakainya. Tanpa Twitter dan Facebook pun situasinya masih 
akan tetap sama." Menurut Akersloot terlalu banyak spekulasi.

Berpelukan
Bagi Akersloot, Suriah masih tetap negara di mana sopir taksi menunggu anda 
kalau anda tidak ketinggalan tas, di mana persahabatan muncul tanpa memandang 
suku dan agama.

"Warga Suriah tidak suka konflik. Baru-baru ini saya dengar obrolan dua warga 
Suriah tentang politik. Seorang bilang, "kamu boleh ngomong apa saja, tapi kamu 
tetap Alawiet". Yang satunya menjawab, "benar sih". Mereka kemudian saling 
berpelukan. Saya harap itu tidak akan berubah. Tapi kalau kekerasan terus saja 
berlangsung, bisa saja semuanya berubah total."


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia

Anda bisa berhenti berlangganan dengan mengirim email ke:
[email protected]

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[email protected]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep. 
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke