--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia
Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Jumat 05 Agustus 2011 15:50 UTC ** THAILAND PUNYA PM PERTAMA WANITA ** REJIM LIBYA SANGKAL KEMATIAN PUTRA GADDAFI ** ANAK KENA MUSIBAH, IBU BOLEH HAMIL LAGI ** MELEPAS ANAK-ANAK JADI WARGA NEGARA BELANDA ** OPINI: LIGA BELANDA DIMULAI, DENGAN LAGA PEMAIN KETURUNAN ** KISAH DUA PEMUDA GAY: "INILAH HIDUPKU, INILAH DUNIAKU" ** TANK DAN OBROLAN RINGAN DI SURIAH * THAILAND PUNYA PM PERTAMA WANITA Parlemen Thailand mendukung Yingluck Shinawatra sebagai perdana menteri baru, Jumat ini. Penguasaha 44 tahun itu adalah perempuan pertama yang menjadi perdana menteri Thailand. Yingluck adalah calon tunggal pada pemilihan di parlemen Bangkok. Ia adalah adik kandung mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra yang digulingkan tahun 2006 dan sekarang hidup di pengasingan. Partainya meraih mayoritas mutlak pada pemilu Juli. Pada pemilihan parlemen Yingluck mendapat dukungan 296 dari 500 suara. Tingga anggota parlemen menentang dan 197 ubstain. Sejumlah anggota tidak hadir para pemilihan. Setelah Yingluck mendapat dukungan parlemen maka dalam waktu dekat Raja Bhumibol akan menobatkannya resmi sebegai perdana menteri. * REJIM LIBYA SANGKAL KEMATIAN PUTRA GADDAFI Jubir rezim Libya Muammar Gaddafi menyangkal berita kematian anak Gaddafi yang bernama Khamis. Dia menduga siasat kotor untuk mengalihkan perhatian dari pembunuhan dan kejahatan yang dilakukan NATO. Sebelumnya pemberontak Libya memberitakan Khamis terbunuh dalam serangan udara NATO di kota Zliten. Khamis adalah putra ke enam Gaddafi. Setelah mengikuti pendidikan di Rusia ia menjadi komandan satuan elit Khamis Brigade di Angkatan Bersenjata Libya. Bulan Maret lalu juga sudah dikabarkan Khamis meninggal, ketika terjadi kecelakaan pesawat jatuh. Sebelumnya Gaddafi diperkirakan juga sudah kehilangan putra bungsunya, Saif al-Arab 29 tahun, akibat pemboman NATO. Gaddafi dikaruniai tujuh putra dan seorang putri dari dua istri. Selain itu Gaddafi juga diduga punya dua anak angkat. * ANAK KENA MUSIBAH, IBU BOLEH HAMIL LAGI Pasangan Cina yang menjadi korban banjir lumpur di Zhouqu propinsi Gansu, tahun lalu, diijinkan punya anak lagi. Demikian media Cina melaporkan Jumat. Banyak perempuan Cina yang disteril karena jumlah anaknya sudah maksimal, antara dua dan tiga. Karena kehilangan anak akibat musibah banjir, sterilisasi ini dibuka lagi. Sejauh ini sudah dialami 27 wanita dan sebagian wanita sudah hamil lagi. Beaya penanganan ditanggung negara. Di banyak wilayah Cina berlaku kebijakan satu. Aturan itu ditujukan untuk mencegah ledakan jumlah penduduk Cina. Di Zhouqu dan sekitar di kawasan pedesaan berlaku kebijakan maksimal dua atau tiga anak. Banjir lumpur di propinsi Gansu menewaskan sedikitnya 1700 orang. * MANTAN PM UKRAINA DITANGKAP Pengadilan Ukraina memberikan perintah untuk menahan mantan Perdana Mentri Yulia Tymoshenko. Menurut kabar, dia tidak diperbolehkan meninggalkan ibukota Kiev selama proses pengadilan terhadapnya berlangsung. Dia dituduh melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Dia antara lain juga menyebabkan Ukraina mengalami kerugian sebesar 135 juta euro akibat kontrak baru di bidang energi dengan perusahaan Rusia Gazprom. Sehingga, dia terancam dikenai hukuman tujuh sampai sepuluh tahun penjara. * PAYPAL DI HP MAKIN POPULER Konsumen Belanda semakin sering melakukan pembayaran online PayPal lewat smartphone. Setiap pekan terjadi transaksi senilai 200 ribu euro lewat sistem pembayaran elektronik ini, demikian pihak PayPal. Empat bulan silam pembayaran elektronik masih 32 ribu euro sepekan. PayPal memperkirakan jumlahnya pembayaran akan meningkat di Belanda, sejalan dengan kenaikan penggunaan smartphone. Selanjutnya PayPal menengarai bahwa perusahaan-perusahaan Belanda sedang berusaha keras memungkinkan pembayaran konsumen lewat smartphone. Penelitian sebelumnya membuktikan bahwa penggunaan smartphone meningkat 30 persen di Belanda. Teristimewa pada kalangan muda. * MELEPAS ANAK-ANAK JADI WARGA NEGARA BELANDA Agrar Sudrajat Sudah hampir dua dasawarsa saya dan keluarga- istri dan tiga anak- tinggal di Belanda. Sampai saat ini, saya dan istri masih ragu untuk pindah warga negara. Tapi, dua anak saya malah sudah duluan menjadi warga negara Belanda. Untuk alasan praktis, supaya mudah bepergian. Kakek anak-anak yang dulu sangat menentang penjajah Belanda, karena perjalanan hidup, setelah masa tua juga beralih menjadi warga Belanda. Perjalanan hidup manusia kadang sama sekali di luar rencana dan bayangan semula. Saya datang ke Belanda pada tahun 1979 dengan tujuan studi. Ketika itu saya memilih studi sosiologi, di Vrije Universiteit di Amsterdam. Pergi ke Belanda tanpa membawa istri dan anak. Setelah lulus, pada tahun 1987, saya sempat kembali ke Indonesia dan bekerja di sana. Pada tahun 1993, saya kembali ke Amsterdam untuk mengikuti program S3. Kali ini, istri dan anak-anak saya bawa. Sejak bulan-bulan pertama tinggal di Amsterdam istri saya sudah mulai mengemukakan gagasan untuk menetap di Belanda saja. Dan begitulah, berbeda dengan rencana pada saat berangkat dulu, sampai kini, kami masih tinggal di Amsterdam. Pilihan Dua Anak Pria Saya punya tiga orang putra. Yusuf lahir pada 1980, Yunus 1988 dan Yuris 1990. Belum lama ini Yunis memutuskan akan mengambil kewarganegaraan Belanda, sama seperti kakaknya, Yunus. Dorongan untuk pindah warga negara bagi dua anak ini sama, dengan paspor Belanda mereka gampang bepergian ke luar negeri. Ketika duduk di kelas terakhir sekolah menengah, VWO, pada tahun 2006, Yunus bersama tiga orang teman sekolahnya sepakat usai ujian akan jalan jalan ke Amerika Serikat. Agar dapat tiket murah, teman-teman anak kami sejak bulan Januari sudah pesan tiket. Anak saya sendiri, saya nasehatkan jangan dulu booking karena ia harus mengurus visa dulu. Dan semua itu harus ia urus sendiri. Kebetulan pengurusan visa ke USA dipusatkan di Konsulat Amerika di Amsterdam. Jadi, sebenarnya, dari segi jarak tidak begitu merepotkan. Namun akibatnya, kami harus membeli tiket yang harganya jauh lebih mahal. Dan anak saya tidak bisa berangkat dengan penerbangan yang sama bersama teman-temannya. Pulang dari Amerika, anak ini mulai menjajaki pendapat kami bagaimana jika ia memutuskan akan mengambil kewarganegaraan Belanda. Kami hanya mengingatkan agar ia mempertimbangkan berbagai dampak pilihan tersebut. Dan bahwa soal kewarganegaraan bukan hanya soal status untuk dokumen resmi saja. Sementara anak nomor dua ini menyatakan, sejauh ini ia dibesarkan di Belanda dan tampaknya juga akan tetap tinggal di Belanda. Dari berbagai pertimbangan praktis, ia menganggap lebih baik menjadi warga negara Belanda. Belum lama ini, Yuris mengalami hal yang hampir sama. Kami ingin mengunjungi seorang keponakan yang sedang studi di Inggris. Pada mulanya, pengurusan visa untuk itu dilayani oleh Konsulat Inggris di Amsterdam. Sayang sejak Februari lalu, pelayanan dipindahkan ke kota Dusseldorf di Jerman. Itu berarti untuk visa kami harus berhubungan dengan kantor pelayanan visa di Jerman. Anak nomor tiga memperhitungkan, baik dari segi biaya, mau pun kerepotan, lebih mudah mengurus proses naturalisasi. Dengan paspor Belanda, ia tidak usah meminta visa, dan dengan demikian juga tidak usah membayar apa pun. Nasib Orang Kiri Keputusan anak-anak ini mengingatkan saya pada kisah hidup kakek mereka, ayah saya. Ketika berangkat pada tahun 1979, selain untuk tujuan studi, saya sebenarnya juga ingin menemani almarhum ayah yang dulu tinggal di Amsterdam. Nama ayah saya Suparna Sastradiredja. Saya tidak pernah berjumpa dengannya sejak akhir September 1965, saat ia meninggalkan Indonesia. Ketika itu, ia ikut rombongan delegasi MPRS menghadiri perayaan 1 Oktober 1965 di Peking. Pecahnya Peristiwa G30S dengan dampak gelombang penumpasan orang kiri, membuatnya sulit untuk pulang kembali ke Indonesia. Hingga pertengahan tahun 1970an ia tinggal di Cina. Walaupun semua kebutuhan hidup ditanggung pemerintah Cina, namun, sebagai tamu, ruang gerak orang-orang yang tertahan pulang ini sangat terbatas. Akhirnya, almarhum ayah memutuskan untuk pergi ke Belanda. Sejak ia tinggal di Belanda, baru ia bisa mulai mencari kontak, melalui surat, dengan keluarga di Indonesia. Salah satu surat yang ia kirim akhirnya sampai juga ke tangan kami. Paspor asing Ayah datang ke Belanda sebagai pencari suaka. Ketika itu, permintaan suakanya ditolak. Tapi, ia boleh tinggal menetap di Belanda atas dasar kemanusiaan. Sebagai orang yang pernah aktif di bidang politik ayah selalu mengikuti perkembangan politik. Apalagi yang melibatkan nasib para terpidana kasus urusan politik, tapol dan korban pelanggaran hak azasi manusia di Indonesia. Dan untuk berbagai aksi yang menyangkut urusan itu, ia kadang harus pergi ke luar Belanda, seperti misalnya ke Paris atau Bonn. Karena tidak punya paspor RI, ketika itu ia mendapat paspor khusus bagi orang asing yang dikeluarkan oleh pemerintah Belanda. Dan bagi pemegang jenis paspor seperti ini, ketika itu belum ada Kesepakatan Schengen, untuk ke Paris pun orang harus minta visa masuk. Soal pengurusan visa ini, jelas bagi banyak orang bukan suatu kegiatan yang menyenangkan. Termasuk buat ayah. Akhirnya, sekitar awal tahun 1980an, ia memutuskan untuk mengajukan permohonan naturalisasi. Dan beberapa waktu kemudian, ia sudah jadi pemegang paspor Belanda. Ternyata perjalanan hidup ayah mengalami saat saat yang tampaknya tidak pernah ia bayangkan pada masa mudanya dulu. Karena, pada pertengahan tahun 1930an, sebagai pemimpin redaksi majalah Indonesia Muda, ia pernah mendapat vonis hukuman penjara, dari pengadilan kolonial Belanda. Atas tuduhan memuat tulisan yang menyebarkan kebencian pada penguasa Belanda! Selanjutnya, pada masa Perang Kemerdekaan, antara tahun 1945 - 1949, ia aktif ikut menentang kembalinya penguasa kolonial Belanda ke Indonesia. Ia akhirnya malah menjadi warga Belanda. Upacara Naturalisasi Pada masa lalu, kalau permintaan naturalisasi disetujui, paspor baru tinggal diambil di loket Dinas Kependudukan di balaikota. Sejak beberapa tahun ini, mengikuti kebiasaan di Amerika, penyerahan dokumen dilakukan dalam suatu upacara resmi di balaikota. Beberapa hari lalu, saya menghadiri upacara naturalisasi anak bungsu di balaikota Amsterdam. Bila memungkinkan penyerahan dilakukan oleh walikota. Tapi, biasanya cukup diwakilkan pada pejabat setingkat camat atau pejabat lain dari balaikota. Pada dasarnya, inti upacara adalah pengucapan sumpah atau janji untuk menghormati konstitusi dan bersedia melaksanakan kewajiban sebagai warga negara. Teks lengkap sumpah atau janji dibacakan oleh pejabat balaikota, calon warga negara tinggal mengucapkan akhir pernyataan: '... zo waarlijk helpe mij God almachtig', atau atas nama Tuhan Yang Maha Kuasa atau mengucapkan janji: '... dat verklaar en beloof ik' saya menyatakan dan menjanjikan itu. Konon, permintaan visa masuk ke Belanda, apalagi naturalisasi, sulitnya setengah mati. Anehnya, banyak juga calon yang tampak sangat kesulitan membaca salah satu dari dua kalimat singkat tersebut. Seorang calon asal Turki terpaksa harus dibimbing kata demi kata oleh sang pejabat karena sama sekali tidak mengerti Bahasa Belanda. Saling Suruh Saya, istri dan anak sulung sejauh ini belum memutuskan akan menanggalkan kewarganegaraan Indonesia kami. Walaupun sang anak sulung sudah mulai mempertimbangkan juga akan melakukan hal itu. "Paling tidak mengingat masa depan anak," katanya. Dari partnernya, seorang warga Belanda, ia sekarang sudah mempunyai seorang putri. Tapi, ia masih ragu. Saya dan istri sebenarnya sepakat, mungkin akan lebih baik jika salah seorang di antara kami mengambil kewarganegaraan Belanda. Namun, sampai sekarang, kami belum sepakat siapa yang harus mengambil langkah tersebut. Kami masih saling dorong, masing-masing masih tetap ingin mempertahankan kewarganegaraan RI. Saya dan istri sudah tidak punya ambisi besar untuk pergi ke berbagai negeri lain. Jadi, tidak lagi terlalu memikirkan urusan visa. Kami masih lebih senang berliburan ke Indonesia. Entah bagaimana, kalau nanti anak-anak kami yang lain juga sudah punya pasangan hidup dan cucu kami makin banyak dan semuanya tinggal di Belanda. Siapa tahu! Agrar Sudrajat * OPINI: LIGA BELANDA DIMULAI, DENGAN LAGA PEMAIN KETURUNAN Liga Belanda 2011/12 dimulai Jumat ini dengan duel antara dua klub Rotterdam, Excelsior dan Feyenoord. Pemain keturunan Indonesia berpeluang berlaga, sebuah opini. Sabtu ini kemungkinan besar berlangsung duel antara dua pemain keturunan Michael Timisela dan Mark van der Maarel. VVV-Venlo klubnya Michael Timisela kedatangan FC Utrecht klubnya pemain keturunan Indonesia, Mark van der Maarel. Kalau ada kesempatan, ada baiknya untuk nonton pertandingan ini. Favorit Berdasarkan pembelian pemain dan prestasi musim lalu, maka tiga klub layak difavoritkan juara. Ajax Amsterdam juara musim lalu dengan permainan menarik di bawah besutan pelatih Frank de Boer, FC Twente adalah mantan juara dua musim lalu dan dua kali berturut-turut merebut Supercup Belanda, Johan Cruijff Schaal. Sementara PSV Eindhoven tampak mulai serius ingin membidik posisi tertinggi dengan merekrut pemain-pemain berbakat Georginio Wijnaldum, Kevin Strootman dan Dries Mertens. AZ x PSV Ketiganya bermain tandang Ahad. Ajax berkunjung ke De Graafschap. FC Twente dijamu NAC Breda dan PSV bertandang ke Alkmaar menghadapai AZ. Secara potensi AZ lawan PSV merupakan duel yang paling seru akhir pekan ini. AZ dalam stamina puncak karena masih hangat dengan pertandingan di penyisihan Europa League. Feyenoord Sementara itu Feyenoord yang secara tradisi adalah klub tiga besar Belanda, tidak dijagokan musim ini karena banyak kehilangan pemain berbakat dan mengalami kemelut pergantian pelatih dari Mario Been ke Ronald Koeman. Luc Castaignos pindah ke Inter Milan dan Georginio Wijnaldum dibeli PSV. Maluku Belanda Sementara itu ADO Den Haag, kejutan musim lalu kedatangan klub ambisius Vitesse Arnhem. Selanjutnya duel Roda JC kontra FC Groningen dan sc Heerenveen berhadapan NEC Nijmegen. Salah seorang pemain NEC, Cayfano Latupeirissa adalah keturunan Maluku. * KISAH DUA PEMUDA GAY: "INILAH HIDUPKU, INILAH DUNIAKU" "Pengennya sih cerita ke orang tua. Tapi orang tua tinggalnya jauh di kampung. Tetangga nanti bilangnya gimana-gimana, itu kan sakit di telinga orang tua. Jadi, saya putuskan tidak cerita ke mereka," demikian tutur Hendro seorang pria gay asal Indonesia yang sekarang bermukim di Belanda. Sabtu 6 Agustus 2011 ini kanal kota Amsterdam kembali menjadi ajang pesta akbar para lesbian dan gay. Amsterdam Gay Pride setiap tahunnya menarik ratusan ribu penonton. Tujuan Gay Pride ini adalah untuk meningkatkan penerimaan terhadap homoseksualitas di masyarakat Belanda. Memperingati Gay Pride ini, Radio Nederland mewawancarai dua pria gay asal Indonesia. Orangtua Tidak Tahu (Hendro) Hendro, berasal dari suatu desa di Pulau Jawa. Ia menyatakan, sejak kecil ia sudah merasakan menyukai sesama jenis. Ketika itu ia tinggal di kampung. Ia tidak tahu persis, apa yang lain dari dirinya. Baru pada usia sekitar 23 tahun, ia sadar, bahwa ia hanya tertarik pada sesama jenis. "Waktu itu saya lima tahun tinggal dan bekerja di Bali. Mungkin karena pengaruh lingkungan, lama-lama, saya terbiasa dengan perasaan saya. Kalau di kampung kan mungkin saya harus kawin. Dalam hati saya masih ada kontradiksi tapi kemudian saya putuskan yang penting saya bahagia. Itu yang terpenting dalam hidup saya," tutur Hendro. Sampai saat ini, ia tidak mau menceritakan kecenderungan seksualnya pada orang tua di kampung. Ia merasa kasihan, nanti mereka akan menjadi bahan ejekan para tetangga. "Lagian aku jauh tinggalnya di Eropa. Mau cerita juga bagaimana. Sejauh ini, hanya adik sama sepupu yang tahu. Mereka pikirannya sudah terbuka," jelas Hendro. Hendro memeluk Agama Islam. Ia tahu penerimaan orang Islam masih sulit menerima homoseksualitas. "Dibilangnya tidak boleh, di semua agama juga ditolak. Itu dibilangnya dosa besar. Tapi bagaimana lagi, aku tidak bisa merubah diriku sendiri," tutur Hendro. Di Belanda, Hendro bisa bebas menjalani hidupnya sebagai gay. Ia merasa kasihan dengan orang-orang gay yang di Indonesia. "Aku sendiri juga sering baca berita tentang apa sebetulnya kejadian di Indonesia. Bagaimana dengan agama dan tradisi di Indonesia yang sangat kental, jadi sangat susah dengan mereka yang menyukai sesama jenis." Selalu Terbuka (Hendra) Hendra bekerja di salon sebagai ahli rambut. Ia adalah keturunan Cina asal Pontianak. Sejak masih duduk di SD kelas enam, Hendra sudah tahu ia lain dengan anak laki-laki sebaya. "Saya sudah suka mainan anak perempuan dan mengenakan pakaian milik kakak perempuan. Sampai tingkat SMA, ia belum pernah berhubungan seksual dengan pria," kenang Hendra. Begitu ia menyadari ia suka pada pria, ia langsung bercerita kepada keluarganya. "Kali pertama, pada kakak perempuan terdekat," kata Hendra. Pada lingkungan teman, ia menceritakan secara bertahap. "Saya berpikir, kalau mereka itu teman pasti bisa menerima. Kalau tidak ya sudah saya tidak perduli." Setelah bercerita ternyata teman-teman justru semakin akrab dengan Hendra. Bagi Hendra yang sudah menikah dengan pria Belanda, ia sangat menikmati berbagai acara untuk meningkatkan penerimaan terhadap homoseksualitas seperti Gay Pride di Amsterdam atau Roze Maandag (Senin Merah Jambu), pasar malam untuk kaum homoseksual. Ia merasa senang dan dengan bersemangat selalu mengikuti acara tersebut sebagai peserta. "Saya bersama teman-teman dari Indonesia selalu merayakan. Kita dandan. Kita sampai masuk televisi. Teman-teman saya lihat itu, keluarga saya juga. Malah saya dipuji. Orang-orang tanya saya asalnya dari mana. Bangga kita orang Indonesia bisa ikut dalam acara itu. Di sinilah kebahagiaan kami sebagai orang homoseksual di Belanda," tutur Hendra dengan berapi-api. * TANK DAN OBROLAN RINGAN DI SURIAH Tank-tank membombardir Hama. Warga Suriah berbondong-bondong turun ke jalan. Bagi anda yang mengikuti berita tentang Suriah, sepertinya sudah pecah perang di negara itu. Tapi, di Ibukota Damaskus orang sibuk belanja buat Ramadhan, orang bepergian dengan bus, polisi sama sekali tidak memeriksa paspor, tutur seorang warga Belanda di Suriah. "Ada perbedaan besar dengan situasi sebelum kerusuhan," kata Johan Akersloot. "Dulu orang Suriah tidak mau ngomong politik. Sekarang mereka lebih berani, walau tetap berhati-hati, membahas masalah politik dalam negeri." Akersloot melihat adanya dua kubu: mereka yang setia para rejim dan kelompok lain yang ingin rejim segera bubar. Coca cola Dalam beberapa tahun terakhir, menurut Akersloot, Suriah mengalami kemajuan setapak demi setapak. "Sebenarnya Suriah sudah mengalami revolusi besar sejak Bashar al-Assad menggantikan ayahnya." Assad junior memusatkan perhatian pada perkembangan ekonomi. Tujuh tahun lalu di Suriah hanya ada mobil buatan Eropa Timur. Mobil merk internasional dan ATM belum ada. "Dulu untuk dapat Coca Cola saja susah," kenang Akersloot. "Orang harus beli Cola selundupan dari Libanon." Waktu itu tidak semua orang bisa menikmati kemajuan ekonomi. Situasi sosial dan politik tetap terbelakang. Karena berbagai tindak kekerasan yang dilakukan rejim, menurut Akersloot, Suriah terbelah. " Satu wilayah damai, kehidupan berjalan seperti biasa dan wilayah lainnya yang diwarnai kekerasan." Naik Bus Sebagain besar turis dan mahasiswa internasional sudah meninggalkan Suriah karena nasehat dari berbagai kedutaan Barat. Di beberapa wilayah ada peningkatan patroli polisi. Akersloot masih bisa bebas berjalan-jalan di Kota Damascus. Naik bus ke kota lain juga tidak jadi masalah, seperti ke Homs, Hama atau Deir za-Zur. Warga Suriah sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar wilayah mereka, seberapa besar berbagai kerusuhan yang terjadi. Jejering sosial Warga Suriah bisa menonton Al-Jazeera dan BBC Arab lewat satelit. "Orang mengkombinasikan berita yang mereka dapat dari media dengan apa yang mereka dengar dari orang-orang di wilayah sendiri," kata Akersloot. Peran jejaring sosial tidak sehebat yang diberitakan Barat. "Cuma sekelompok kecil saja yang memakainya. Tanpa Twitter dan Facebook pun situasinya masih akan tetap sama." Menurut Akersloot terlalu banyak spekulasi. Berpelukan Bagi Akersloot, Suriah masih tetap negara di mana sopir taksi menunggu anda kalau anda tidak ketinggalan tas, di mana persahabatan muncul tanpa memandang suku dan agama. "Warga Suriah tidak suka konflik. Baru-baru ini saya dengar obrolan dua warga Suriah tentang politik. Seorang bilang, "kamu boleh ngomong apa saja, tapi kamu tetap Alawiet". Yang satunya menjawab, "benar sih". Mereka kemudian saling berpelukan. Saya harap itu tidak akan berubah. Tapi kalau kekerasan terus saja berlangsung, bisa saja semuanya berubah total." --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia Anda bisa berhenti berlangganan dengan mengirim email ke: [email protected] Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [email protected] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. ---------------------------------------------------------------------
