---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Rabu 29 Mei 2002 15:30 UTC



** KEJAKSAAN AGUNG INDONESIA PERTIMBANGKAN ADILI KETUA FKM DI LUAR
MALUKU

** TIMOR LORO SAE TOLAK BERI KOMPENSASI

** AS TAWARKAN US$ 25 JUTA UNTUK TANGKAP PEMIMPIN ABU SAYYAF

** TOPIK GEMA WARTA: PERGANTIAN PANGDAM PATTIMURA MENUNJUKAN RAKYAT
LEBIH SUKA TENTARA DARIPADA POLISI

** TOPIK GEMA WARTA: DENDAM GARIS KERAS JAKARTA MENAMPIK ULURAN
TANGAN TIMOR LOROSA'E



* KEJAKSAAN AGUNG INDONESIA PERTIMBANGKAN ADILI KETUA FKM DI LUAR
MALUKU
Kejaksaan Agung Republik Indonesia sedang mempertimbangkan untuk
mengadili Ketua Front Kedaulatan Maluku, FKM, Alex Manuputty di luar
wilayah Maluku. Upaya pemindahan itu dilakukan dengan alasan
keamanan.
Aksi-aksi kekerasan Maluku terus berlanjut meski pembicaraan damai
antara dua kelompok yang bertikai yaitu Kristen dan Islam telah
dilakukan. Selain telah menangkap Manuputty, penguasa Indonesia Juga
telah menangkap pemimpin Laskar Jihad, Jafar Umar Thalib. Manuputty
ditangkap pertengahan April lalu dengan tuduhan memimpin gerakan
separatis RMS, sedangkan Umar Thalib ditangkap awal Mei lalu dengan
tuduhan menghasut melakukan tindakan kekerasan terhadap warga Kristen
di Soya, Ambon, yang mengakibatkan 13 orang tewas.

Sebelumnya kejaksaan Agung Republik Indonesia mengirim 20 orang jaksa
ke Ambon untuk menangani perkara-perkara hukum yang selama ini sempat
terhenti akibat kerusuhan di sana.


* TIMOR LORO SAE TOLAK BERI KOMPENSASI
Pemerintah Indonesia hendaknya tidak membicarakan tuntutan kompensasi
atas aset-aset di Timor Loro Sae yang dibangun selama kekuasaan
Indonesia. Demikian ditegaskan Menteri Luar Negeri Timor Loro Sae,
Jose Ramos Horta, Rabu ini.
Horta menambahkan kerugian yang diderita Timor Loro Sae lebih banyak
ketimbang Indonesia. Korban tewas sekitar 2000 orang dan ribuan rumah
serta bangunan lainnya terbakar dalam aksi kekerasan pasca referendum
kemerdekaan Timtim, Agustus 1999 silam.

Sebelumnya Pemerintah Indonesia mebatalkan kunjungan Presiden Timor
Loro Sae, Xanana Gusmao ke Jakarta. Horta mengatakan itu hanya
masalah protokoler semata. Indonesia ingin agar kunjungan ini menjadi
kunjungan kenegaraan yang membutuhkan lebih banyak persiapan.


* AS TAWARKAN US$ 25 JUTA UNTUK TANGKAP PEMIMPIN ABU SAYYAF
Pemerintah Amerika Serikat menawarkan hadiah uang sebesar US$ 25 juta
atau sekitar 220 milyar rupiah untuk menangkap lima pimpinan kelompok
radikal di Filipina, Abu Sayyaf. Tawaran ini diumumkan Duta Besar AS
untuk Manila, Francis Ricciardone, Rabu ini.
Tawaran itu berkaitan dengan program "hadiah untuk keadilan" yang
dilancarkan pemerintah AS dan merupakan bagian dari kampanye apa yang
disebut dengan perang terhadap teroris.
Kelima pimpinan Abu Sayyaf yang diincar AS tersebut adalah Khadaffy
Janjalani, Abu Sabaya, Abu Solaiman, Isnilon Hapilon dan Hamsiraji
Sali. Mereka diyakini memimpin unit-unit terpisah di Pulau Basilan,
Filipina selatan. Hingga sekarang gerilyawan Abu Sayyaf masih
menyandera suami istri asal AS dan seorang perawat warga Filipina.
Presiden George W Bush belum lama ini menjuluki Abu Sayyaf sebagai
gerakan teroris.


* BOM MELEDAK DI GUJARAT, INDIA

Sedikitnya 12 orang terluka dalam ledakan tiga bom di propinsi
Gujarat, India.

Bom diletakan di sebuah bis kota di pusat ibukota Ahmedabad. Ledakan
tidak menimbulkan kehancuran hebat.

Polisi Gujarat bersiaga penuh dalam menghadapi aksi-aksi kekerasan
belakangan ini antara kelompok Hindu dan Islam.

Aksi-aksi kekerasan bermula tiga bulan lalu setelah kelompok islam
militan membakar kereta dan menewaskan 59 orang Hindu. Hingga
sekarang hampir seribu orang tewas dalam kekerasan yang melanda
wilayah itu.


* BRIGADE AL-AQSA BERTANGGUNG JAWAB ATAS DUA SERANGAN TERAKHIR DI
ISRAEL

Kelompok militan Palestina dari Brigade Martir Al-Aqsa bertanggung
jawab atas dua serangan terakhir di Israel.

Kelompok ini merupakan sayap bersenjata dari gerakan Fatah Yasser
Arafat.

Dalam dua serangan di Tepi Barat Sungai Yordan itu, empat orang
Israel tewas. Salah seorang penyerang tewas, sedangkan lainnya
melarikan diri.

Sebelumnya Brigade Al-Aqsa telah mengumumkan mereka berencana untuk
menyerang beberapa target di Israel.


* SEPP BLATTER KEMBALI JADI PRESIDEN FIFA

Di Seoul, ibukota Korea Selatan, Sepp Blatter dipilih kembali menjadi
Presiden Badan Sepakbola Dunia, FIFA. Kandidat Swiss itu menerima 139
suara sementara saingannya Issa Hayatou dari Kamerun hanya menerima
56 suara.

Blatter sebelumnya menerima kritik beberapa bulan terakhir sehingga
terpilihnya ia kembali merupakan suatu kejutan. Beberapa anggota
komite FIFA menuduh dia melakukan korupsi dan penyalahgunaan
kekuasaan, sebuah tuduhan yang ia tidak tolak secara keseluruhan.

Sudah sebuah tradisi konferensi FIFA dilaksanakan satu minggu sebelum
pelaksanaan babak final piala dunia, yang dimulai di Seoul Jumat
pekan ini.


* PRESIDEN BARU KOLOMBIA MINTA PBB JADI PENENGAH

PBB sedang mempertimbangkan permohonan Presiden Kolombia yang baru,
Alvaro Uribe, yang meminta untuk menjadi penengah antara pemerintah
Kolombia dan pembangkan FARC.

Uribe ingin bertemu dengan Sekretaris Jenderal Kofi Annan sebelum
pelantikannya tujuh Agustus mendatang.

Beberapa tahun terakhir ini PBB hanya memainkan peran kecil saja
dalam pembicaraan damai yang gagal antara presiden Kolombia
sebelumnya, Pastrana dengan FARC.
Penggantinya, Alvaro Uribe, berjanji dalam kampanye pemilu lalu untuk
mengakhiri kekerasan di Kolombia, dan ia berharap PBB dapat
dilibatkan untuk mencapai tujuan itu.


* PERGANTIAN PANGDAM PATTIMURA MENUNJUKAN RAKYAT LEBIH SUKA TENTARA
DARIPADA POLISI

Intro: Pangdam Pattimura Ambon diganti oleh seorang jenderal, Mayjen
Jenderal Djoko Santoso. Selain sebagai Pangdam, Djoko sekaligus
menjabat sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan
(Koopslihkam) Maluku. Pangdam lama, Mustopo akan ditarik ke MABES TNI
Angkatan Darat. Pergantian ini merupakan isyarat bahwa rakyat di
Maluku lebih suka ditertibkan oleh tentara daripada oleh polisi,
demikian tanggapan pengamat militer dari LIPI, Indria Samego kepada
Radio Nederland.
Indria Samego [IS]: Saya kira itu jalan keluar yang baru. Sebab
menurut saya kalau seandainya pendekatan sipil mestinya bintang dua
polisi yang naik. Tetapi nampaknya polisi kurang efektif
menyelesaikan persoalan di sana, sehingga dipilih orang dari angkatan
darat lagi. Ini dilematis sebetulnya untuk Indonesia. Kalau kita
ingin menegakkan hukum mestinya polisi yang di depan, kemudian
tentara itu alat dari polisi. Tapi di dalam praktek seperti terjadi
di Ambon, bintang dua lagi yang masuk. Sehingga, ya mungkin untuk
sementara sulit untuk berharap adanya suatu pengembangan demokrasi
secara otonom di sini. Ya amsih sangat dipengaruhi oleh budaya lama
ya, kultur budaya yang sentralistik dan hegemonik itu.
Radio Nederland [RN]: Itu berarti anda melihat ini bukan suatu jalan
keluar ya, malah mungkin bisa memperuncing atau memperhebat lagi
konflik di sana bukan?
IS: Oh tidak. Ini  barangkali terapi buat Indonesia sementara.
Orang-orang Indonesia yang kalau sebut dipisah oleh polisi tidak
suka, tetapi kalau tentara yang masuk itu mereka diam gitu. Tentara
memiliki posisi tertentu yang jauh lebih ditakuti dibandingkan
polisi. Pendekatannya tidak hukum begitu. Ya sayang sekali.
RN: Kalau begitu semuanya harus dikembalikan kepada masalah mental
ya, mentalitas di mana bangsa kita lebih menghargai tentara ya
ketimbang polisi. Ini sebuah sinisme anda atau?
IS: Ya saya kira ini karena sejak puluhan tahun ya tentara begitu
dekat dengan rakyat dan nampaknya telah terjadi satu hubungan yang
begitu dekat antara tentara dengan rakyat, dan  rakyat menganggap
tentara tidak terlalu banyak merepotkan dibandingkan polisi gitu.
Kalau polisi kan berurusan dengan soal-soal yang seringkali
merepotkan masyarakat, jadi image tentang tentara jauh lebih positif
untuk sementara kalangan terutama di daerah konflik itu.
RN: Anda melihat pergantian personil Pangdam atau Kapolda di sana itu
juga merupakan jalan keluar? atau mungkin sudah jalan yang bukan
efektif lagi?
IS: Tapi baru sekarang itu kesadaran dari Jakarta untuk melihat bahwa
polisi dan tentara dengan bintang yang sama itu dianggap tidak
menyelesaikan masalah sehingga perlu ada bintang dua di situ. Tapi
saya katakan mestinya bintang dua yang sesuai dengan prinsip
pemerintahan darurat sipil itu yang harus dipilih di sana adalah
polisi. Tetapi kenapa bukan polisiyang diangkat.
RN: Anda optimis atau tidak dengan pergantian pangdam sekarang?
IS: Ya saya berharap bahwa walaupun di sana tentara mempunyai posisi
yang lebih tetapi pendekatan terkatan terhadap konflik mestinya tidak
menggunakan pendekatan-pendekatan yang militeristik. Sebab kalau itu
yang dilakukan maka menimbulkan resistensi yang baru juga.
RN: Konflik terakhir di Ambon ya menunjukan sebuah fakta baru
sebetulnya satu penyebab yang paling besar tidak ada koordinasi
antara tentara dan polisi. Anda tetap masih pada pendapat yang sama?
IS: Ya memang! jadi tidak ada koordinasi dan bahkan rivalitas antara
keduanya.
RN: Nah itu berarti pergantian pangdam sekarang itu kan bukan jalan
keluar juga.
IS: Oh iya. Begini jadi dengan menggunakan perspektif di daerah
konflik, harus ada orang kuat gitu ya. Namapkanya yang disebut dengan
orang kuat atau lembaga yang kuat itu TNI Angkatan Darat. Jadi
pendekatannya ya pragmatis begitu. Tidak idealistik.
RN: Seberapa lama ini nanti pendekatan semacam ini akan bertahan?
IS: Ya karena itu pangdam bahkan sudah dilembagakan menjadi pangdam,
saya kira tanggung jawabnya lebih banyak kepada tentara. Jadi tidak
seperti sekarang.Seolah-olah dipisahkan antara polisi dan tentara.
Tapi kalau misalnya nanti memang sudah berjalan TNI memiliki tanggung
jawab lebih dibandingkan polisi.
RN: Anda sebagai orang sipil prihatin sekali ya karena kewenangan dan
kekuasaan sipil ini masih lama di Indonesia ini.
IS: Ya memang masih lama kelihatannya, begitu. Jadi ada elemen-elemen
yang tidak mendukung dalam proses berkembangnya civil society.

Demikian Indria Samego, pengamat militer dari LIPI.


* DENDAM GARIS KERAS JAKARTA MENAMPIK ULURAN TANGAN TIMOR LOROSA'E

Pemerintah Timor Lorosa'e dapat memahami permintaan Indonesia agar
kunjungan Presiden Xanana Gusmao ke Jakarta diubah menjadi kunjungan
kenegaraan di lain waktu. Padahal Dili sudah lama merencanakan
kunjungan ke Jakarta itu sebagai kunjungan pertama kepala negara,
negeri baru ini. Di Jakarta penundaan itu dinilai sebagai tanggapan
yang kurang simpatik terhadap suatu isyarat baik dari Dili. Dua
contoh isyarat baik itu adalah kasus Lafu dan kasus Sebastiao, dua
pahlawan perdamaian yang mengulurkan persahabatan kepada Indonesia.

Laporan Aboeprijadi Santoso sekembali dari Dili, ibukota Timor Leste.


Bagi kami, penundaan itu adalah soal timing yang tidak kena, jadi
Timor Leste dapat memahaminya, demikian ujar jurubicara Departemen
Luar Negeri di Dili, Domingos Savio kemarin kepada Radio Nederland.
Lebih jauh, kalangan resmi di ibukota Dili tidak berkomentar.

Namun di Jakarta, permintaan Indonesia itu menimbulkan berbagai
pertanyaan. Kunjungan Presiden Xanana Gusmao sedianya memang bersifat
kunjungan resmi, dan akan lebih terhormat bagi tuan rumah, apabila
itu bersifat kunjungan kenegaraan. Tetapi, mengapa Jakarta baru
meminta perubahan Selasa lalu, hanya sehari sebelum rencana
kedatangan Presiden Xanana Gusmao, padahal Dili sudah meminta waktu
untuk kunjungan tersebut pada tanggal 22 Mei lalu? Adalah suatu
kehormatan bagi Indonesia untuk menjadi tuan rumah pertama dari
kepala negara baru tsb. Tetapi dengan penundaan itu, maka boleh jadi
Australia yang akan dikunjungi Presiden Xanana Gusmao lebih dulu,
yaitu pada tanggal 17 Juni mendatang.


Yang terang, Indonesia belum bebas dari demam Timor Timur. Kalangan
nasionalis di DPR merencanakan interpelasi terhadap Presiden Megawati
untuk menjelaskan hasil kunjungan Presiden ke Dili selama empat jam
dalam perayaan kemerdekaan Timor Leste 20 Mei lalu. Kalangan TNI dan
veteran Seroja masih menggerutu dan menyesali kunjungan Megawati itu,
dan sang presiden harus memperhitungkan perasaan kalangan DPR, TNI
dan veteran veteran, demikian menurut beberapa kalangan di Jakarta.


Bagaimana  pun juga, sikap garis keras yang traumatik kehilangan
propinsi ke-27 itu, oleh para pengkritik disebut sebagai "ortodoksi
neo-kolonial - tak banyak bedanya dengan sikap veteran Belanda yang
dulu ingin menggugat pemerintah Belanda, ketika Ratu Beatrix ingin
berkunjung ke Jakarta pada ulang tahun ke-50 RI, 17 Agustus tahun 95.


Sebaliknya di Dili justru tampak good will untuk mengulurkan
persahabatan kepada Jakarta karena hal itu dinilai amat strategis
demi keamanan dan kesejahteraan Timor Leste di masa depan. Dua kasus
yang terkenal di kalangan masyarakat, menjadi contoh good will itu,
yaitu kasus Lafu Bien Sila dan Domingos Sebastiao. Seperti kebanyakan
rakyat Timor Loro Sa'e, keduanya suka Indonesia, tapi tak suka ABRI.
Keduanya adalah orang yang terggolong miskin dan menyaksikan sendiri
kekejaman tentara Indonesia di masa lalu.


Sebastiao, misalnya, mengalami menjadi hansip di Matebian dan melihat
kawan kawannya mati dibunuh sesama orang TimTim yang dipaksa membantu
ABRI di akhir tahun 1970an. Ironisnya, Sebastiao kelak di Jakarta,
dibantu oleh seorang jenderal Indonesia yang amat buruk citranya.
Namun Sebastiao, yang hidup dan sekolahnya seluruhnya dibiayai oleh
jenderal tersebut akhirnya sekolah di Eropa, kini berpendirian, tetap
hormat dan berterima kasih kepada jenderal tersebut, dan tak
menunjukkan dendam. Bahkan, dia berambisi menjalin persahabatan
dengan Indonesia dan orang Indonesia demi kebaikan masa depan
negaranya sendiri. Setiap orang Indonesia yang ditemuinya disapanya
dengan "kawan".


Kasus ironis lain adalah Lafu Bien Sila, anak lelaki yang pada usia
13 tahun, tahun 1999, berjasa besar, menyelamatkan penduduk
daerah-kantong Oecussi dari bahaya maut milisi piaraan ABRI. Lafu
suka jalan-jalan ke Indonesia, dia berjalan kaki di Jawa Timur dan di
Aceh. Ketika dia melihat kampung halamannya dibantai milisi itu, dia
tak tahan, lalu ber-Lawalatta, jalan kaki menembus pos pos tentara
dan milisi, menyelinap naik gunung, dari Oecussi lewat Batugade dan
Atambua, dan beberapa minggu kemudian tiba di Dili. Di sandalnya dia
menyembunyikan surat yang menceritakan keadaan di Oecussi untuk
disampaikan kepada tentara Interfet. Akhirnya dia bertemu dengan
Panglima Interfet Brigjen Peter Cosgrove dan Komandan Falintil Taur
Matan Ruak. Kisah itu baru baru itu ditayangkan di televisi Australia
berkat film dokumenter karya David Bradbury berjudul, "General
Cosgrove and A Boy Hero".


Berikut ini, Lafu menuturkan kisahnya kepada Radio Nederland


Lafu: Waktu saya bertemu dengan Taur Matan Ruak, saya memberitahukan
apa yang terjadi di Oecussi tentang milisi tentang masyarakat yang
ada di Oecussi. Bahwa masyarakat Oecusi sekarang berada di gunung dan
mengharapkan pertolongan INTERFET dan para milisi dari 12 kabupaten
telah membuat markas besarnya di Oecussi. Jadi saya minta kepada Taur
Matan Ruak dan Peter Cosgrove untuk membantu masyarakat di sana. Lalu
INTERFET dapat datang ke Oecussi menyelamatkan mereka.

Radio Nederland [RN]: Tanggapan Taur Matan Ruak bagaimana?

Lafu: Tanggapan Taur Matan Ruak harus mengatakan kepada Peter
Cosgrove supaya memerintahkan pasukannya ke Oecussi. Lalu Peter
Cosgrove mengatakan pasukannya tidak begitu banyak untuk ke Oecussi.
Soalnya di Oecussi itu kan daerah kantong. Jadi saya harus membawa
dulu sebuah radio ke Oecussi. Taur Matan Ruak bilang oke, sekarang,
harus langsung ikut Taur Matan Ruak. Jadi aku bersama Taur Matan Ruak
ke Oemuri. Di sana saya dilatih radio, terus setelah seminggu saya
kembali dari Oemuri untuk bertemu dengan Peter Cosgrove dan pada
tanggal 14 Oktober kami dari Dili, saya ke pelabuhan untuk naik kapal
agar pergi ke Oecussi. Setelah pergi ke kapal saya disuruh duduk
menimpan radionya dan saat itu tepat jam lima sore, kami dari Dili
berangkat ke Oecussi.

RN: Untuk apa bawa radio?

Lafu: Untuk bisa berkomunikasi dengan Taur Matan Ruak dan Peter
Cosgroove juga.

RN: Tapi kan mencurigakan, membahayakan kamu itu. Radio itu. Milisi
bisa curiga kamu.

Lafu: Saya rasa begitu. Namun saya percaya diri bahwa saya harus bisa
membawa radio itu.

RN: Apa yang terjadi?

Lafu: Saya sampainya di Oecussi pada tanggal 15 Oktober. Sesampai di
perbatasan Kupang sama Oecussi saya diturunkan sama INTERFET. Setelah
saya di pantai semua INTERFET menuju ke laut dan saya kembali ke
Kupang, INTERFET kembali ke Dili. Tinggal saya sendiri di Oecussi
tanpa INTERFET.

RN: Masih dengan radio, selamat tidak diganggu milisi?

Lafu: Tidak.

RN: Tujuannya apa mengirim kamu dengan radio itu ya? Untuk
memberitahukan situasi?

Lafu: Yang pertama mereka mencurigai saya, mungkin saja saya ini
disuruh oleh TNI. Supaya INTERFET ke sana dan mereka bisa melakukan
aksi kontak senjata. Jadi mereka mencoba saya untuk membawa radio
itu. Apakah aku itu benar-benar orang CNRT atau tidak.

RN: Dia kemudian percaya?

Lafu: Ya!

RN: Lalu kenapa INTERFET kembali lagi?

Lafu: Ya itulah INTERFET kembali terus saya berjalan kaki dari daerah
dekat perbatasan Kupang ke tempat persembunyian saya. Dalam seminggu
saya calling terus lewat radio untuk Taur Matan Ruak, dalam seminggu
masyarakat sudah menjerit. Kami minta kepada Taur Matan Ruak agar
bisa datang ke Oecussi bersama INTERFET.

Terus Taur Matan Ruak mengatakan tenang saja INTERFET akan datang
dalam seminggu ini. Kita tunggu-tunggu nggak datang. Akhirnya lagi
dua hari serangan dari 12 kabupaten milisi membuat markasnya di
Oecussi menyerang naik ke gunung. Saya bilang sama Taur Matan Ruak
kemungkinan besar dua hari lagi radio ini bukan ada di tangan saya
lagi. Karena radio ini berat, saya lari tidak bisa kalau di gunung.
Ada milisi banyak-banyak naik ke gunung untuk serang kita.

RN: Itu berapa jauh jaraknya dengan milisi?

Lafu: Waktu kita punya tempat persembunyian tidak begitu jauh dari
kota.

RN: Jadi kamu kembali dari Oecussi dengan radio dan memberitahu
situasi dan mereka sudah percaya. lalu mereka belum datang juga ke
Oecussi?

Lafu: Itu yang saya tidak tahu apa maksud mereka. Dan selama saya
membawa radio ke Oecussi, banyak kepala-kepala politisi saya sudah
berbicara ke sana.  Tapi tidak tahu alasannya kenapa belum
datang-datang juga. Tapi pada tanggal 21 Oktober, INTERFET datang
juga malam-malam.



Demikikan Lafu, dan hanya berkat Lafu Bien Sila, tentara Interfet
datang, dan Oecussi selamat dari tragedi yang lebih besar. Kasus Lafu
adalah suatu misi perdamaian, dan kasus Domingos Sebastiao yang
pernah jadi saksi kekejaman namun berterimakasih kepada seorang
jenderal bermasalah yang membantu hidupnya, adalah kasus suatu
keberanian dan kehormatan moral.

Lafu dan Sebastiao menjadi simbol perdamaian dan persahabatan dari
Timor Leste ke arah Indonesia - yang amat berbeda dengan sikap
kalangan garis keras di Jakarta yang masih juga demam kehilangan
propinsi ke-27.


Sekian laporan Aboeprijadi Santoso dari Jakarta.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke