---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Kamis 30 Mei 2002 13:10 UTC



** PENJUALAN KARCIS PIALA DUNIA KACA

** PAKISTAN PUNYA HAK PAKAI SENJATA NUKLIR

** PEMBUNUHAN DI ALJAZAIR

**

** TOPIK GEMA WARTA: MEGAWATI HARUS MEMILIH RAKYAT ACEH ATAU TNI

** TOPIK GEMA WARTA: DENDAM GARIS KERAS JAKARTA MENAMPIK ULURAN
TANGAN TIMOR LOROSA'E

** TOPIK GEMA WARTA: PERGANTIAN PANGDAM PATTIMURA MENUNJUKAN RAKYAT
LEBIH SUKA TENTARA DARIPADA POLISI



* PENJUALAN KARCIS PIALA DUNIA KACA

Mentri Olah Raga Jepang Atsuko Toyama menyebut kekacauan sekitar
penjualan karcis pertandingan perebutan piala dunia mengkhawatirkan.
Ia minta FIFA turun tangan membereskan kekacauan ini. Sekitar 100.000
kartu tanda masuk yang dicetak di Inggris baru tiba di Jepang hari
Sabtu lalu. Oleh karena itu banyak pencinta sepakbola dari luar
negeri yang sudah tiba di negara tuan rumah belum memperoleh karcis,
padahal mereka sudah membayar. Sekitar 5000 suporter yang ingin
menghadiri pertandingan pembukaan hari Jumat esok, antara Prancis dan
Senegal, belum memperoleh kartu tanda masuk. Sementara itu agen
Inggris yang bertugas mengurus karcis mengatakan  keterlambatan
terjadi bukan karena kesalahan mereka. Penyebab keterlambatan adalah
karena negara-negara yang harus menyampaikan identitas para suporter
seperti diwajibkan,  terlambat menyampaikan informasi itu.


* PAKISTAN PUNYA HAK PAKAI SENJATA NUKLIR

Bila terjadi perang dengan India, maka Pakistan  sebagai negara
pertama yang berhak menggunakan senjata nuklir. Demikian dikatakan
oleh Munor Akram, duta Pakistan yang baru untuk PBB. Menurutnya hal
ini adalah alasan bagi India agar tidak memutuskan menyerang
Pakistan. Sedang duta India mengatakan bahwa negaranya yang besar
itu, memiliki gudang persenjataan yang jauh melebihi kekuatan negara
tetangga Pakistan. P.M. India Atal Behari Vajpayee mengatakan mulai
kehilangan kesebaran terhadap Pakistan. Ketegangan antar kedua negara
dalam minggu belakangan meningkat. Kedua negara yang memiliki senjata
nuklir itu sudah menyiapkan sekitar 1 juta tentara di sekitar
perbatasan.


* PEMBUNUHAN DI ALJAZAIR

Paling sedikit 23 orang di Aljazair mati terbunuh pada malam baru
lalu. Pembunuhan itu dilakukan oleh beberapa pria bersenjata. Menurut
pihak berwenang para pembunuh adalah pemberontak-pemberontak Islam.
Pembantaian ini terjadi beberapa jam sebelum pemilihan parlemen di
Aljazair dimulai. Semenjak Presiden Abdelaziz Bouteflika pada bulan
Februari mengumumkan akan mengadakan pemilihan, kekerasan di Aljazair
merebak. Tahun ini sudah 600 orang menjadi korban kekerasan.
Pemilihan yang diselenggarakan Kamis ini diboykot oleh partai oposisi
terpenting dan minoritas Berber. Mereka berpendapat pemilihan itu
tidak akan berjalan jurdil dan kekuasaan tentara di Aljazair tidak
akan berubah. Sepuluh tahun lalu kalangan militer di Aljazair
membatalkan hasil pemilihan, ketika tampaknya pihak oposisi radikal
Islam akan menang.


* APEC DI MEKSIKO

Negara-negara anggota APEC berada di Meksiko untuk membicarakan
perdagangan dan perang melawan terorisme. Salah satu tujuan utama
adalah jangan sampai peraturan-peraturan baru  demi mencegah serangan
teror menghambat perjanjian dagang mereka. Salah satu dampak
perjanjian internasional memerangi terorisme adalah bahwa semua lalu
lintas uang harus diawasi. Menurut mentri-mentri perdagangan dari 21
negara Asia dan Amerika, peraturan itu tidak boleh menghambat
transaksi pembayaran. Dalam konperensi ini mereka juga mencari
kesepakatan bulat menyangkut beberapa masalah perdagangan
internasional yang tidak lama lagi akan dibicarakan dalam perjumpaan
organisasi dagang sedunia WTO.


* FBI DITATA KEMBALI

Dinas Reserse Amerika Serikat FBI akan ditata kembali. Beberapa ribu
karyawan akan ditugaskan melacak kegiatan-kegiatan teror. Kemudian
beberapa puluh petugas dari dinas rahasia CIA akan ditempatkan di
kantor khusus anti teror. Mereka bertugas menganalisa dan
mengumpulkan informasi. Setelah serangan teror 11 September FBI
dihujani kecaman, karena tidak mampu menfasir arti tanda-tanda akan
terjadi serangan teror. Ternyata petugas-petugas menyampaikan
laporan, namun tidak dilanjutkan dengan penarikan kesimpulan.


* KELAPARAN DI AFRIKA

Sekitar 10 juta manusia di 4 negara di Afrika bagian Selatan
menderita kelaparan. Menurut FAO, organisasi pangan dan pertanian PBB
dalam waktu satu bulan harus diselenggarakan kampanye internasional
untuk mencegah jutaan orang mati kelaparan. Negara-negara yang
dilanda bahaya kelaparan adalah Malawi, Zimbabwe, Lesotho dan
Swaziland. Selama dua tahun panen di negara-negara itu gagal. Setelah
kemarau panjang, terjadi banjir, setelah itu suhu turun sampai di
bawah titik beku. Menurut perkiraan bahaya serupa juga akan melanda
Zambia, Mozambique dan Angola.


* MEGAWATI HARUS MEMILIH RAKYAT ACEH ATAU TNI

Wakil Ketua DPR A.M. Fatwa mendukung pendapat Panglima Kodam Iskandar
Muda Brigjen TNI Muhammad Djali Yusuf tak setuju usulan kalangan LSM
agar peninjau-peninjau PBB masuk di Aceh. Pernyataan ini menanggapi
Otto Syamsuddin Ishak dari Yayasan Aliansi Masyarakat Sipil untuk
Demokrasi (Yappika) yang menginginkan agar PBB masuk Aceh untuk
menjadi wasit. Baik Pangdam maupun A.M. Fatwa menilai kehadiran pihak
asing belum tentu dapat menyelesaikan persoalan Aceh secara cepat.
Lebih lanjut laporan koresponden Syahrir dari Jakarta:

Aktivis Yapika, Otto Syamsuddin Ishak mengusulkan agar pihak PBB
terjun ke Aceh. Bagi dia pemerintah ternyata tidak menggunakan hasil
perundingan terakhir RI-GAM di Jenewa untuk menekan TNI agar
mendukung penyelesaian damai di Nanggo Aceh Darussalam NAD. Kehadiran
PBB ini diperlukan untuk menjadi wasit atau pengawas dan pemberi
sanksi terhadap pihak-pihak yang melanggar hasil perundingan. Bagi
sebagian masyarakat Aceh yang bermukim di Jakarta, saat ini memang
sudah tepat bila pihak PBB mengirim tenaga-tenaga pemantaunya ke
sana. Bahkan lebih tepat lagi jika PBB langsung mengirim pasukan
perdamaian ke Aceh. "Aceh memang bisa mengalami nasib yang sama
seperti Timor Timur dahulu," kata Wakil Ketua DPR A.M. Fatwa



Masyarakat  Aceh umummnya gembira dengan hasil-hasil pertemuan RI-Gam
di Jenewa awal bulan Mei lalu. Antara lain disepakati untuk
mengadakan pemilu lokal di Aceh. Meski pemilu tersebut hanya bersifat
lokal tetapi mereka senang melihat semua pihak terlibat termasuk
kalangan sipil dalam all-inclusve dialogue yang akan diadakan  bulan
Juli mendatang. Keputusan menghentikan pertikaian dan permusuhan
antara pihak RI dan GAM jelas menggembirakan rakyat. Meski keputusan
ini tidak menjamin genjatan senjata. Dialog bulan Juli mendatang baru
akan membahas mekanisme pemilu lokal dan penghentian permusuhan.
Tetapi setidak-tidaknya ini sudah memberikan harapan pada masyarakat
yang sudah bosan dengan peperangan.



A.M. Fatwa [AMF]:  Pernyataan Pangdam itu sudah benar, menurut garis
NKRI, tetapi yang penting jangan cuma pernyataan tapi bagaimana kita
di Jakarta ini khususnya pemerintah pusat jangan telat mikir didalam
mengantisipasi keadaan  lapangan. Jadi, kalau sampai sudah ada kantor
perwakilan PBB di sana meskipun itu masih dimulai dari
kegiatan-kegiatan sosial, itu kan suatu embryo nanti nya bisa
melangkah ke tuntutan-tuntutan yang lebih politis. Misalnya sudah mau
ikut dalam perundingan-perundingan antara RI dengan GAM. Bisa di fait
accompli  kalau kita tidak mengantisipasi secara dini.

Radio Nederland [RN]: Bagaimana pendapat bapak mengenai hasil
pembicaraan antara GAM dengan pemerintah RI  pada awal Mei lalu
dimana diputuskan agar sesegera mungkin diadakan pertemuan lebih
lanjut Juli mendatang untuk suatu pemilihan lokal?

AMF: Ya, pemilu lokal itu tentu harus melalui ketentuan perundangan.
Jadi hal itu tidak bisa tentunya kita tolerir, ijinkan begitu saja,
tanpa melalui aturan perundangan sebagai negara kesatuan. Meskipun di
sana ada otonomi daerah khusus tetapi tidak bisa terlepas dari
kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Sedangkan sebagai suatu LSM, Centre Henry Dunant atau yang di Aceh
dikenal sebagai HDC, tidak bisa berbuat banyak. HDC tidak mampu
melakukan mediasi, kata Jawon, perwakilan Front Perlawanan Demokratik
Rakyat Aceh di Jakarta. Tetapi jika PBB yang turun tangan, maka
lembaga ini bisa menjadi mediator sekaligus pemantau dan dapat
mengontrol gencatan senjata di Aceh.

Rakyat Aceh sementara itu kini punya harapan baru dengan resolusi
parlemen Eropa baru-baru ini. Pers Indonesia selama ini hanya
memberitakan kasus Maluku, yaitu bahwa parlemen Eropa mendesak agar
suatu tim pemantau independen dibentuk pemerintah RI. Tetapi
sesungguhnya parlemen Eropa juga menginginkan suatu penyelesaian
damai bagi Aceh dan Papua.

Bahwa TNI yang kini paling menentang intervensi asing bisalah
dimengerti karena TNI khawatir akan terbongkar kasus-kasus
pelanggaran HAM di sana mulai dari zaman Soeharto. Menurut seorang
aktivis generasi muda Aceh di Jakarta, Mudal, TNI sangat takut dengan
intervensi dari luar. Apalagi jika peninjau-peninjau PBB yang masuk
wilayah Aceh. Ini memang bukanlah suatu hal yang baru. Sejak
pemerintahan Habibie hingga pemerintahan Gus Dur dan kini Megawati,
usulan agar pihak asing menengahi pertikaian di Aceh selalu ditentang
TNI, termasuk pihak Pemda dan DPRD. Tetapi kini dengan meningkatnya
tekanan dari luar negeri, maka mau tak mau lembaga-lelmbaga sipil ini
harus membuka diri, mengakomodasi keinginan lembaga-lembaga
internasional yang terus memonitor pelbagai pelanggaran HAM di Aceh.

Tetapi pendekatan pemda dan DPRD tentu saja tetap berpijak pada
konsep NKRI atau negara kesatuan RI. Kalangan pengamat politik
melihat pada suatu titik tertentu Megawati harus memilih antara
rakyat Aceh atau TNI. Tetapi seorang mayjen TNI di Jakarta yang masih
aktif, menyatakan, Mega pasti akan tetap mendukung kebijakan Mabes
TNI. "Bukankah kami ini sepenuhnya mendukung pemerintahan Mega,"
katanya. Ia juga mengatakan bahwa rekan-rekan jenderalnya pun puas
atas perlindungan Megawati terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM
perwira-perwira TNI.


* DENDAM GARIS KERAS JAKARTA MENAMPIK ULURAN TANGAN TIMOR LOROSA'E

Pemerintah Timor Lorosa'e dapat memahami permintaan Indonesia agar
kunjungan Presiden Xanana Gusmao ke Jakarta diubah menjadi kunjungan
kenegaraan di lain waktu. Padahal Dili sudah lama merencanakan
kunjungan ke Jakarta itu sebagai kunjungan pertama kepala negara,
negeri baru ini. Di Jakarta penundaan itu dinilai sebagai tanggapan
yang kurang simpatik terhadap suatu isyarat baik dari Dili. Dua
contoh isyarat baik itu adalah kasus Lafu dan kasus Sebastiao, dua
pahlawan perdamaian yang mengulurkan persahabatan kepada Indonesia.

Laporan Aboeprijadi Santoso sekembali dari Dili, ibukota Timor Leste.


Bagi kami, penundaan itu adalah soal timing yang tidak kena, jadi
Timor Leste dapat memahaminya, demikian ujar jurubicara Departemen
Luar Negeri di Dili, Domingos Savio kemarin kepada Radio Nederland.
Lebih jauh, kalangan resmi di ibukota Dili tidak berkomentar.

Namun di Jakarta, permintaan Indonesia itu menimbulkan berbagai
pertanyaan. Kunjungan Presiden Xanana Gusmao sedianya memang bersifat
kunjungan resmi, dan akan lebih terhormat bagi tuan rumah, apabila
itu bersifat kunjungan kenegaraan. Tetapi, mengapa Jakarta baru
meminta perubahan Selasa lalu, hanya sehari sebelum rencana
kedatangan Presiden Xanana Gusmao, padahal Dili sudah meminta waktu
untuk kunjungan tersebut pada tanggal 22 Mei lalu? Adalah suatu
kehormatan bagi Indonesia untuk menjadi tuan rumah pertama dari
kepala negara baru tsb. Tetapi dengan penundaan itu, maka boleh jadi
Australia yang akan dikunjungi Presiden Xanana Gusmao lebih dulu,
yaitu pada tanggal 17 Juni mendatang.


Yang terang, Indonesia belum bebas dari demam Timor Timur. Kalangan
nasionalis di DPR merencanakan interpelasi terhadap Presiden Megawati
untuk menjelaskan hasil kunjungan Presiden ke Dili selama empat jam
dalam perayaan kemerdekaan Timor Leste 20 Mei lalu. Kalangan TNI dan
veteran Seroja masih menggerutu dan menyesali kunjungan Megawati itu,
dan sang presiden harus memperhitungkan perasaan kalangan DPR, TNI
dan veteran veteran, demikian menurut beberapa kalangan di Jakarta.


Bagaimana  pun juga, sikap garis keras yang traumatik kehilangan
propinsi ke-27 itu, oleh para pengkritik disebut sebagai "ortodoksi
neo-kolonial - tak banyak bedanya dengan sikap veteran Belanda yang
dulu ingin menggugat pemerintah Belanda, ketika Ratu Beatrix ingin
berkunjung ke Jakarta pada ulang tahun ke-50 RI, 17 Agustus tahun 95.


Sebaliknya di Dili justru tampak good will untuk mengulurkan
persahabatan kepada Jakarta karena hal itu dinilai amat strategis
demi keamanan dan kesejahteraan Timor Leste di masa depan. Dua kasus
yang terkenal di kalangan masyarakat, menjadi contoh good will itu,
yaitu kasus Lafu Bien Sila dan Domingos Sebastiao. Seperti kebanyakan
rakyat Timor Loro Sa'e, keduanya suka Indonesia, tapi tak suka ABRI.
Keduanya adalah orang yang terggolong miskin dan menyaksikan sendiri
kekejaman tentara Indonesia di masa lalu.


Sebastiao, misalnya, mengalami menjadi hansip di Matebian dan melihat
kawan kawannya mati dibunuh sesama orang TimTim yang dipaksa membantu
ABRI di akhir tahun 1970an. Ironisnya, Sebastiao kelak di Jakarta,
dibantu oleh seorang jenderal Indonesia yang amat buruk citranya.
Namun Sebastiao, yang hidup dan sekolahnya seluruhnya dibiayai oleh
jenderal tersebut akhirnya sekolah di Eropa, kini berpendirian, tetap
hormat dan berterima kasih kepada jenderal tersebut, dan tak
menunjukkan dendam. Bahkan, dia berambisi menjalin persahabatan
dengan Indonesia dan orang Indonesia demi kebaikan masa depan
negaranya sendiri. Setiap orang Indonesia yang ditemuinya disapanya
dengan "kawan".


Kasus ironis lain adalah Lafu Bien Sila, anak lelaki yang pada usia
13 tahun, tahun 1999, berjasa besar, menyelamatkan penduduk
daerah-kantong Oecussi dari bahaya maut milisi piaraan ABRI. Lafu
suka jalan-jalan ke Indonesia, dia berjalan kaki di Jawa Timur dan di
Aceh. Ketika dia melihat kampung halamannya dibantai milisi itu, dia
tak tahan, lalu ber-Lawalatta, jalan kaki menembus pos pos tentara
dan milisi, menyelinap naik gunung, dari Oecussi lewat Batugade dan
Atambua, dan beberapa minggu kemudian tiba di Dili. Di sandalnya dia
menyembunyikan surat yang menceritakan keadaan di Oecussi untuk
disampaikan kepada tentara Interfet. Akhirnya dia bertemu dengan
Panglima Interfet Brigjen Peter Cosgrove dan Komandan Falintil Taur
Matan Ruak. Kisah itu baru baru itu ditayangkan di televisi Australia
berkat film dokumenter karya David Bradbury berjudul, "General
Cosgrove and A Boy Hero".


Berikut ini, Lafu menuturkan kisahnya kepada Radio Nederland


Lafu: Waktu saya bertemu dengan Taur Matan Ruak, saya memberitahukan
apa yang terjadi di Oecussi tentang milisi tentang masyarakat yang
ada di Oecussi. Bahwa masyarakat Oecusi sekarang berada di gunung dan
mengharapkan pertolongan INTERFET dan para milisi dari 12 kabupaten
telah membuat markas besarnya di Oecussi. Jadi saya minta kepada Taur
Matan Ruak dan Peter Cosgrove untuk membantu masyarakat di sana. Lalu
INTERFET dapat datang ke Oecussi menyelamatkan mereka.

Radio Nederland [RN]: Tanggapan Taur Matan Ruak bagaimana?

Lafu: Tanggapan Taur Matan Ruak harus mengatakan kepada Peter
Cosgrove supaya memerintahkan pasukannya ke Oecussi. Lalu Peter
Cosgrove mengatakan pasukannya tidak begitu banyak untuk ke Oecussi.
Soalnya di Oecussi itu kan daerah kantong. Jadi saya harus membawa
dulu sebuah radio ke Oecussi. Taur Matan Ruak bilang oke, sekarang,
harus langsung ikut Taur Matan Ruak. Jadi aku bersama Taur Matan Ruak
ke Oemuri. Di sana saya dilatih radio, terus setelah seminggu saya
kembali dari Oemuri untuk bertemu dengan Peter Cosgrove dan pada
tanggal 14 Oktober kami dari Dili, saya ke pelabuhan untuk naik kapal
agar pergi ke Oecussi. Setelah pergi ke kapal saya disuruh duduk
menimpan radionya dan saat itu tepat jam lima sore, kami dari Dili
berangkat ke Oecussi.

RN: Untuk apa bawa radio?

Lafu: Untuk bisa berkomunikasi dengan Taur Matan Ruak dan Peter
Cosgroove juga.

RN: Tapi kan mencurigakan, membahayakan kamu itu. Radio itu. Milisi
bisa curiga kamu.

Lafu: Saya rasa begitu. Namun saya percaya diri bahwa saya harus bisa
membawa radio itu.

RN: Apa yang terjadi?

Lafu: Saya sampainya di Oecussi pada tanggal 15 Oktober. Sesampai di
perbatasan Kupang sama Oecussi saya diturunkan sama INTERFET. Setelah
saya di pantai semua INTERFET menuju ke laut dan saya kembali ke
Kupang, INTERFET kembali ke Dili. Tinggal saya sendiri di Oecussi
tanpa INTERFET.

RN: Masih dengan radio, selamat tidak diganggu milisi?

Lafu: Tidak.

RN: Tujuannya apa mengirim kamu dengan radio itu ya? Untuk
memberitahukan situasi?

Lafu: Yang pertama mereka mencurigai saya, mungkin saja saya ini
disuruh oleh TNI. Supaya INTERFET ke sana dan mereka bisa melakukan
aksi kontak senjata. Jadi mereka mencoba saya untuk membawa radio
itu. Apakah aku itu benar-benar orang CNRT atau tidak.

RN: Dia kemudian percaya?

Lafu: Ya!

RN: Lalu kenapa INTERFET kembali lagi?

Lafu: Ya itulah INTERFET kembali terus saya berjalan kaki dari daerah
dekat perbatasan Kupang ke tempat persembunyian saya. Dalam seminggu
saya calling terus lewat radio untuk Taur Matan Ruak, dalam seminggu
masyarakat sudah menjerit. Kami minta kepada Taur Matan Ruak agar
bisa datang ke Oecussi bersama INTERFET.

Terus Taur Matan Ruak mengatakan tenang saja INTERFET akan datang
dalam seminggu ini. Kita tunggu-tunggu nggak datang. Akhirnya lagi
dua hari serangan dari 12 kabupaten milisi membuat markasnya di
Oecussi menyerang naik ke gunung. Saya bilang sama Taur Matan Ruak
kemungkinan besar dua hari lagi radio ini bukan ada di tangan saya
lagi. Karena radio ini berat, saya lari tidak bisa kalau di gunung.
Ada milisi banyak-banyak naik ke gunung untuk serang kita.

RN: Itu berapa jauh jaraknya dengan milisi?

Lafu: Waktu kita punya tempat persembunyian tidak begitu jauh dari
kota.

RN: Jadi kamu kembali dari Oecussi dengan radio dan memberitahu
situasi dan mereka sudah percaya. lalu mereka belum datang juga ke
Oecussi?

Lafu: Itu yang saya tidak tahu apa maksud mereka. Dan selama saya
membawa radio ke Oecussi, banyak kepala-kepala politisi saya sudah
berbicara ke sana.  Tapi tidak tahu alasannya kenapa belum
datang-datang juga. Tapi pada tanggal 21 Oktober, INTERFET datang
juga malam-malam.



Demikikan Lafu, dan hanya berkat Lafu Bien Sila, tentara Interfet
datang, dan Oecussi selamat dari tragedi yang lebih besar. Kasus Lafu
adalah suatu misi perdamaian, dan kasus Domingos Sebastiao yang
pernah jadi saksi kekejaman namun berterimakasih kepada seorang
jenderal bermasalah yang membantu hidupnya, adalah kasus suatu
keberanian dan kehormatan moral.

Lafu dan Sebastiao menjadi simbol perdamaian dan persahabatan dari
Timor Leste ke arah Indonesia - yang amat berbeda dengan sikap
kalangan garis keras di Jakarta yang masih juga demam kehilangan
propinsi ke-27.


Sekian laporan Aboeprijadi Santoso dari Jakarta.


* PERGANTIAN PANGDAM PATTIMURA MENUNJUKAN RAKYAT LEBIH SUKA TENTARA
DARIPADA POLISI

Intro: Pangdam Pattimura Ambon diganti oleh seorang jenderal, Mayjen
Jenderal Djoko Santoso. Selain sebagai Pangdam, Djoko sekaligus
menjabat sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan
(Koopslihkam) Maluku. Pangdam lama, Mustopo akan ditarik ke MABES TNI
Angkatan Darat. Pergantian ini merupakan isyarat bahwa rakyat di
Maluku lebih suka ditertibkan oleh tentara daripada oleh polisi,
demikian tanggapan pengamat militer dari LIPI, Indria Samego kepada
Radio Nederland.
Indria Samego [IS]: Saya kira itu jalan keluar yang baru. Sebab
menurut saya kalau seandainya pendekatan sipil mestinya bintang dua
polisi yang naik. Tetapi nampaknya polisi kurang efektif
menyelesaikan persoalan di sana, sehingga dipilih orang dari angkatan
darat lagi. Ini dilematis sebetulnya untuk Indonesia. Kalau kita
ingin menegakkan hukum mestinya polisi yang di depan, kemudian
tentara itu alat dari polisi. Tapi di dalam praktek seperti terjadi
di Ambon, bintang dua lagi yang masuk. Sehingga, ya mungkin untuk
sementara sulit untuk berharap adanya suatu pengembangan demokrasi
secara otonom di sini. Ya amsih sangat dipengaruhi oleh budaya lama
ya, kultur budaya yang sentralistik dan hegemonik itu.
Radio Nederland [RN]: Itu berarti anda melihat ini bukan suatu jalan
keluar ya, malah mungkin bisa memperuncing atau memperhebat lagi
konflik di sana bukan?
IS: Oh tidak. Ini  barangkali terapi buat Indonesia sementara.
Orang-orang Indonesia yang kalau sebut dipisah oleh polisi tidak
suka, tetapi kalau tentara yang masuk itu mereka diam gitu. Tentara
memiliki posisi tertentu yang jauh lebih ditakuti dibandingkan
polisi. Pendekatannya tidak hukum begitu. Ya sayang sekali.
RN: Kalau begitu semuanya harus dikembalikan kepada masalah mental
ya, mentalitas di mana bangsa kita lebih menghargai tentara ya
ketimbang polisi. Ini sebuah sinisme anda atau?
IS: Ya saya kira ini karena sejak puluhan tahun ya tentara begitu
dekat dengan rakyat dan nampaknya telah terjadi satu hubungan yang
begitu dekat antara tentara dengan rakyat, dan  rakyat menganggap
tentara tidak terlalu banyak merepotkan dibandingkan polisi gitu.
Kalau polisi kan berurusan dengan soal-soal yang seringkali
merepotkan masyarakat, jadi image tentang tentara jauh lebih positif
untuk sementara kalangan terutama di daerah konflik itu.
RN: Anda melihat pergantian personil Pangdam atau Kapolda di sana itu
juga merupakan jalan keluar? atau mungkin sudah jalan yang bukan
efektif lagi?
IS: Tapi baru sekarang itu kesadaran dari Jakarta untuk melihat bahwa
polisi dan tentara dengan bintang yang sama itu dianggap tidak
menyelesaikan masalah sehingga perlu ada bintang dua di situ. Tapi
saya katakan mestinya bintang dua yang sesuai dengan prinsip
pemerintahan darurat sipil itu yang harus dipilih di sana adalah
polisi. Tetapi kenapa bukan polisiyang diangkat.
RN: Anda optimis atau tidak dengan pergantian pangdam sekarang?
IS: Ya saya berharap bahwa walaupun di sana tentara mempunyai posisi
yang lebih tetapi pendekatan terkatan terhadap konflik mestinya tidak
menggunakan pendekatan-pendekatan yang militeristik. Sebab kalau itu
yang dilakukan maka menimbulkan resistensi yang baru juga.
RN: Konflik terakhir di Ambon ya menunjukan sebuah fakta baru
sebetulnya satu penyebab yang paling besar tidak ada koordinasi
antara tentara dan polisi. Anda tetap masih pada pendapat yang sama?
IS: Ya memang! jadi tidak ada koordinasi dan bahkan rivalitas antara
keduanya.
RN: Nah itu berarti pergantian pangdam sekarang itu kan bukan jalan
keluar juga.
IS: Oh iya. Begini jadi dengan menggunakan perspektif di daerah
konflik, harus ada orang kuat gitu ya. Namapkanya yang disebut dengan
orang kuat atau lembaga yang kuat itu TNI Angkatan Darat. Jadi
pendekatannya ya pragmatis begitu. Tidak idealistik.
RN: Seberapa lama ini nanti pendekatan semacam ini akan bertahan?
IS: Ya karena itu pangdam bahkan sudah dilembagakan menjadi pangdam,
saya kira tanggung jawabnya lebih banyak kepada tentara. Jadi tidak
seperti sekarang.Seolah-olah dipisahkan antara polisi dan tentara.
Tapi kalau misalnya nanti memang sudah berjalan TNI memiliki tanggung
jawab lebih dibandingkan polisi.
RN: Anda sebagai orang sipil prihatin sekali ya karena kewenangan dan
kekuasaan sipil ini masih lama di Indonesia ini.
IS: Ya memang masih lama kelihatannya, begitu. Jadi ada elemen-elemen
yang tidak mendukung dalam proses berkembangnya civil society.

Demikian Indria Samego, pengamat militer dari LIPI.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke