---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Selasa 03 September 2002 14:10 UTC



** KAPAL TNI AL SEBAGAI RUMAH SAKIT TERAPUNG DI KALIMANTAN TIMUR

** KTT JOHANNESBURG: KESEPAKATAN UNTUK PENGGUNAAN ENERGI
BERKESINAMBUNGAN

** IRAK INGIN CARI JALAN KELUAR KONFLIK AMERIKA SERIKAT BERSAMA DEWAN
KEAMANAN PBB

** TOPIK GEMA WARTA: MEGAWATI DINILAI TIDAK MEMBELA BANGSANYA YANG
MENDERITA

** TOPIK GEMA WARTA: DI JOHANNESBURG MEGAWATI JUGA DIINGATKAN SOAL
TIMOR TIMUR



* KAPAL TNI AL SEBAGAI RUMAH SAKIT TERAPUNG DI KALIMANTAN TIMUR

Angkatan Laut Indonesia mengirim satu kapal TNI dengan dokter,
perawat dan obat-obatan ke Kalimantan Timur sebagai rumah sakit
terapung. Dipastikan 66 orang tewas lima bulan belakangan di sebuah
kamp pengungsi di Nunukan, Kalimantan Timur. Para pengungsi adalah
TKI yang bekerja di Malaysia secara ilegal. Juli lalu pemerintah
Malaysia memberlakukan sebuah undang-undang untuk menghukum pekerjaan
ilegal. Para pekerja ilegal bisa dijatuhi hukuman penjara atau
hukuman cambuk. Setelah pemberlakuan undang-undang ini TKI mengungsi
secara massal dari Malaysia sehingga jumlah orang di kamp pengungsi
Nunukan meningkat sampai setidaknya 40 ribu orang.


* KTT JOHANNESBURG: KESEPAKATAN UNTUK PENGGUNAAN ENERGI
BERKESINAMBUNGAN

Pada KTT PBB di Johannesburg, Afrika Selatan, tercapai kesepakatan
untuk penggunaan energi berkesinambungan. Kesepakatan ini menyatakan
negara-negara peserta misalnya ingin mendorong penggunaan energi
matahari dan angin. Namun kesepakatan tidak menyebutkan tingkat
pemanfaatan energi matahari dan angin. Uni Eropa mendesak untuk
memanfaatkan 15 persen semua energi dari sumber-sumber alternatif
seperti kincir angin dan panel surya dalam tujuh tahun mendatang.
Namun Amerika Serikat, Jepang dan sejumlah besar negara produsen
minyak tidak menyetujui rencana tersebut. Organisasi lingkungan hidup
menyambut dingin kesepakatan di Johannesburg. Kesepakatan tercapai
pada hari pertama di mana para pemimpin pemerintahan 100 negara
peserta turut menghadiri KTT pembangunan berkelanjutan yang berakhir
Rabu besok. Namun sebelum itu para peserta masih harus menyepakati
masalah pengguguran kandungan dan pemakaian alat anti konsepsi.
Sementara itu di tempat lain di Johannesburg terjadi bentrokan antara
polisi anti huru hara dengan demonstran pro Palestina. Polisi antara
lain menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa yang memprotes
pidato Menteri Luar Negeri Israel Shimon Peres di hadapan umum.
Polisi menangkap 17 demonstran.


* IRAK INGIN CARI JALAN KELUAR KONFLIK AMERIKA SERIKAT BERSAMA DEWAN
KEAMANAN PBB

Irak bersedia untuk bersama dengan Dewan Keamanan PBB mencari jalan
keluar bagi konflik dengan Amerika Serikat. Demikian tandas Wakil
Perdana Menteri Irak Tareq Aziz di Johannesburg kepada Sekretaris
Jenderal PBB Kofi Annan. Menurut Aziz krisis tidak hanya berkaitan
dengan mengijinkan inspektur senjata ke Irak. Sanksi internasional,
pemboman Inggris dan Amerika yang terus menerus serta ancaman perang
dari Washington juga berperan penting dalam konflik. Demikian tegas
Aziz. Setelah perundingan selama setengah jam, Kofi Annan belum juga
memberi pernyataan. Aziz dan Annan bertemu pada KTT PBB tentang
Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg, Afrika Selatan.


* ISRAEL KIRIM SAUDARA TERORIS PALESTINA KE JALUR GAZA

Israel diperbolehkan untuk mengasingkan saudara-saudara seorang
teroris Palestina yang melakukan aksi bunuh diri dari Tepi Barat
Sungai Yordan ke Jalur Gaza. Mahkamah Agung Israel memutuskan bahwa
dua orang tersebut membantu saudara mereka dalam serangan bom di Tel
Aviv Juli lalu yang menewaskan lima orang. Sementara itu Mahkamah
Agung mengijinkan warga Palestina lain tetap tinggal di Tepi Barat
Sungai Yordan. Ia meminjamkan mobilnya kepada kakaknya yang
bertanggung jawab atas dua serangan yang menewaskan 17 orang. Dengan
keputusan ini maka Mahkamah Agung Israel juga menegaskan bahwa
seseorang tidak boleh diasingkan untuk menakut-nakutinya. Seorang
juru runding senior Palestina, Saeb Erekat menyebut pengasingan itu
sebagai penghukuman kolektif dan menyebutnya sebagai hari hitam bagi
hak-hak asasi manusia.


* SEKALI LAGI SAKSI MATA DALAM PERKARA MONTESINOS TEWAS

Salah satu saksi utama dalam proses terhadap mantan kepala dinas
keamanan Vladimiro Montesinos ditemukan tewas di apartemen kakaknya
di Peru. Diduga saksi utama Oscar Villanueva bunuh diri dengan
menembak kepala. Ia akan memberi kesaksian dalam proses terhadap
Montesinos yang ditahan karena diduga melakukan korupsi dan
pembunuhan. Villanueva sendiri pun diduga menggelapkan dana
pemerintah. Dikatakan ia menggelapkan dana sebanyak 20 ribu dolar
untuk Montesinos. Montesinos kemudian menggunakan uang tersebut untuk
membeli perhiasan bagi seorang pembawa acara televisi populer Laura
Bozzo. Ini adalah untuk kedua kalinya seorang saksi dalam kasus
Montesinos tewas dalam keadaan misterius. Juli lalu mantan Kolonel
Francisco Nunez juga bunuh diri.


* BLAIR DIKECAM KERAS DI KTT JOHANNESBURG

Dalam pidatonya pada KTT PBB di Johannesburg, Afrika Selatan,
Presiden Zimbabwe Robert Mugabe mengecam keras para kritisi kebijakan
pembagian ulang tanah Mugabe. Ia terutama mengkritik Perdana Menteri
Inggris Tony Blair. Mugabe mengusulkan sang Perdana Menteri supaya
hanya terfokus pada Inggris saja, dan tidak campur tangan dalam
urusan Zimbabwe. Tidak lama kemudian Presiden Namibia Sam Nujoma juga
mengkritik Perdana Menteri Blair. Menurut Nujoma mantan penjajah
Inggris memainkan peranan dalam krisis di Zimbabwe. Dalam pidatonya,
Blair tidak menanggapi semua kritik terhadapnya. Namun dengan
dimikian ia justru menimbulkan kemarahan para penentang politik di
negara sendiri.


* MEGAWATI DINILAI TIDAK MEMBELA BANGSANYA YANG MENDERITA


Bencana nampaknya belum menjauh dari Indonesia. Kali ini 68 tenaga
kerja Indonesia tewas di Nunukan, Kalimantan Timur. Mereka tewas
bukan karena hukuman cambuk Malaysia, tetapi lebih karena nyaris
tidak adanya perhatian pemerintah Jakarta. Radio Nederland
menghubungi Suster Monika Putri Kasih, Sekretaris Eksekutif Komisi
Migran dan Perantau KWI di Jakarta. Biarawati Katolik ini baru saja
kembali dari wilayah bencana itu menceritakan kondisi terakhir
pengungsi. Suster Monika juga menyebut Presiden Indonesia Megawati
Soekarnoputri tidak secara tegas membela bangsanya yang menderita.

Monika Putri Kasih [MPK]: Memang keadaan sangat memprihatinkan ya
buat mereka karena memang tempat-tempat penampungan sudah nggak layak
ya sebetulnya karena mereka tinggal di los-los pasar, lalu di
bangunan-bangunan yang belum jadi, lalu di tenda-tenda penampungan
yang semuanya memang untuk faktor kesehatan sangat sangat jauh dari
memenuhi.

Lalu buang air besar mereka harus bayar 2000 Rp begitu ya, lalu kamar
mandi untuk mandi juga bayar, cuci juga bayar sehingga memang sampai
memang mereka kehabisan uang. Pernah ada kasus bahwa mereka berak di
sembarang tempat sehingga rupanya penduduk setempat tidak terkenan.
Maka sampai terjadi penikaman. Satu orang meninggal karena itu.

Kondisi belakangan anak-anak beberapa hari yang lalu itu
berturut-turut beberapa anak balita meninggal karena kelelahan dan
kurang gizi. Berita terakhir yang saya terima dari Nunukan ada 68
orang yang meninggal.

Radio Nederland [RN]: Berapa jumlah pengungsi TKI di sana?

MPK: Berubah-ubah terus ya, datang dan pergi ya seputar 20 sampai 25
ribu.

RN: Bagaimana, kok bisa tidak tersalur? Artinya itu bisa menupuk 25
ribu orang? Apakah memang mereka tetap bertahan di sana, ingin balik
kembali? Atau mereka belum punya kemampuan untuk kembali ke daerah
asal?

MPK: Sebetulnya dari pemerintah sudah menyediakan kapal ya untuk
gratis sampai ke tempat kampung halaman mereka. Hanya 80%-lah dari
yang datang itu berkeinginan kembali ke Malaysia karena satu, mereka
masih terbelit hutang pada waktu mereka harus meninggalkan
kampungnya, mereka meninggalkan hutang untuk membayar calo. Lalu
faktor yang kedua kenapa mereka nggak mau kembali, karena beberapa
bulan dari gaji mereka ada yang belum dibayarkan sehingga mereka
nekad kembali untuk mengambil hak mereka begitu.

RN: Nah kalau begini kan repot ya. Artinya mereka tidak mungkin bisa
kembali tapi kembali ke daerah asal tidak mungkin juga. Lalu siapa
yang harus bertanggung jawab kalau seperti ini?

MPK: Saya kira ya memang pemerintah dalam arti bahwa mereka mempunyai
power ya untuk mengambil kebijakan-kebijakan.

RN: Nah kita lihat sendiri bahwa Megawati dan pemerintah Indonesia
ini nampaknya tidak melakukan pressure power ke Malaysia untuk
katakan untuk sementara menjaga atau merawat para TKI Indonesia
hendak pulang ini sehingga terjadi bencana di Nunukan. Bagaimana anda
menanggapi ini?

MPK: Memang kalau saya dibandingkan dengan Presiden Filipina
sangat-sangat jauh berbeda, sikap mereka. Arroyo itu menyambut para
tenaga kerja yang datang, dengan penghargaan. Lalu sempat mengutus
Ramos ke sana ya untuk mengadakan pendekatan. Jadi terasa sekali
bagaimana Arroyo itu bersikap terhadap rakyatnya. Pembelaan ya.

Tapi Presiden kita sendiri kayaknya memang seringkali dibilang kok
nggak secara jelas tegas bahwa saya membela bangsa saya yang saat ini
sangat menderita. Walaupun mungkin ada juga sementara mengatakan ya
sudah dilaksanakan oleh para menterinya yang berwenang dalam hal ini.
Jadi dianggap mungkin tidak perlu lagi sebagai pimpinan untuk
langsung terjun.

Tapi toh bagaimana pun juga saya kira kalau misalnya ada satu sikap
yang sebagai seorang pimpinan yang sungguh mengasih atau membela
bangsanya ya mungkin dia lebih mementingkan hubungan baik dengan
Malaysia supaya tidak ada ketersinggungan dan sebagainya.

RN: Nah bagaimana Anda melihat Ibu Megawati sekarang kan sedang ke
luar negeri, keliling katakan ke Eropa dan juga Afrika dan juga akan
terakhir di Mesir? Apakah menurut Anda...

MPK: Itu yang saya tidak mengerti mengapa bisa begitu. Sementara
rakyatnya sungguh bergulat untuk hidup, ya bahkan hidup atau mati
tapi ada urusan-urusan lain yang dianggap lebih penting daripada jiwa
dari bangsa Indonesia ya yang sekian banyak itu.

RN: Menurut Anda apakah perlu Presiden Megawati pulang ke Indonesia
untuk memberikan perhatian secara khusus untuk bencana ini?

MPK: Ya, bagaimana ya? Sebelum berangkat pun tidak memberikan.
Apalagi apakah Beliau pulang hanya untuk memperhatikan ini. Saya
tidak terlalu optimis itu.


Demikian Suster Monika Putri Kasih, Sekretaris Eksekutif Komisi
Migran dan Perantau KWI di Jakarta.



* Normal;heading 1;
TOPIK GEMA WARTA: PEMERINTAH TANPA PEMERINTAHAN ITULAH INDONESIA
JAMAN SEKARANG
PEMERINTAH TANPA PEMERINTAHAN ITULAH INDONESIA JAMAN SEKARANG

Intro: Biar pun anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, pepatah
ini nampaknya cocok untuk sikap Presiden Megawati Soekarnoputri
sekarang. Banyak kalangan di Jakarta menghimbaunya supaya pulang
saja, mengingat krisis Nunukan yang sudah menewaskan 60 orang lebih.
Tentu saja Megawati tidak perduli, bukankah agenda perjalanannya ke
manca negara lebih penting? Koresponden Syahrir mengirim laporan
berikut dari Jakarta:

Duet Mega-Hamzah terbukti gagal mengendalikan negara. Berbagai
peristiwa memilukan datang silih berganti. Demikian juga dengan
bermacam parodi yang dipertontonkan secara telanjang ke dunia luar.
Sesuatu hal yang hanya terjadi dalam situasi yang disebut kosong
kekuasaan. Kehadiran negara hanya terlihat dalam hal pemungutan pajak
dan pembuatan identitas penduduk. Sedangkan jaminan atas rasa aman
menjadi urusan warga negara itu sendiri.
Bila seorang warga Indonesia naik bus dan tiba-tiba busnya meledak
karena awak bus lalai tidak mengecek isi bagasinya yang ternyata
petasan, maka itu dianggap bernasib sial. Negara yang memiliki ribuan
polisi dan intelejen tidak bisa disalahkan. Seolah-olah keamanan
orang-orang Indonesia bukan menjadi tanggung jawab negara, melainkan
menjadi tanggung jawab masing-masing warganya. Seolah-olah negara
hanya bisa mengingatkan dengan kata hati-hati, tanpa adanya kemampuan
mencegah terjadinya serangkaian kisah mengenaskan, baik yang pernah
maupun akan terjadi.
Maka tidak mengherankan bila belakangan ini muncul berbagai kisah
tragis, seperti meninggalnya 67 Tenaga Kerja Indonesia di Nunukan
yang lamban disikapi pemerintahan Megawati. Menurut seorang staf ahli
menteri kabinet, sekarang ini tidak ada pelayanan publik karena
masing-masing sektor punya proyek sendiri-sendiri. Dalam kasus
Nunukan, karena tidak ada proyek maka tidak ada pelayanan. Tidak ada
pejabat yang mau memakai dana-dana taktis yang ada. Seperti urusan
visa misalnya, kalau masyarakat mau membayar maka mereka dilayani.
Artinya, pelayanan masyarakat sekarang ibarat unit-unit bisnis saja.
Keadaan di Indonesia kini sudah seperti keadaan di wilayah ex Uni
Soviet setelah pemerintahan komunis jatuh. Yang menggelikan lagi,
dalam situasi demikian Megawati justru sibuk jalan-jalan ke luar
negeri. Tapi, begitulah Megawati yang sebenarnya tidak memiliki rasa
empati terhadap rakyat karena memang lahir dan dibesarkan di istana
kepresidenan. Sejumlah kalangan nasionalis tua menyebut bahwa Mega
hanya anak biologis Bung Karno. Maka dengan mudahnya Megawati
mengkhianati korban 27 Juli yang mengantarnya ke kursi kekuasaan
dalam kasus pencalonan Sutiyoso.
Abdul Hamid Dipopramono, aktivis mahasiswa UGM angkatan 1980an yang
juga Sekjen Jaringan Aktivis Demokrasi Prodem pernah mengatakan Mega
mestinya sadar bila dia bisa menjadi orang nomer satu di negeri ini
karena dia pernah ditindas. PDI-P menang bukan karena tawaran
programnya bagus. Melainkan karena adanya empati masyarakat luas
terhadap PDI-P yang mengalami penindasan yang luar biasa menjelang
berakhirnya kekuasaan Soeharto. Kenapa Mega bersikap seperti itu.
Karena sebenarnya pemerintah Megawati itu tidak kuat. Untuk itu dia
harus melakukan kompromi dengan kekuatan-kekuatan lain sehingga
kontrol Negara tidak sepenuhnya berada di tangannya.

Abdul Hamid:
Sekarang nampaknya peran negara sangat tidak dirasakan ya sama
masyarakat. Itu bukan saja dari sektor keamanan sebenarnya. Tetapi
juga sektor ekonomi, juga sektor hukum ya. Jadi keamanan, politik,
ekonomi, hukum nyaris peran pemerintah tidak ada. Apalagi dengan
ketidakpastian amandemen ya. Amandemen kemarin, meskipun sudah
dipastikan.

Selain semakin mahalnya rasa aman dan tidak adanya perlindungan
hukum, pemberlakuan otonomi daerah tanpa disertai persiapan matang,
antara lain penyiapan faktor-faktor pendukung yang memadai, telah
memunculkan berbagai kekacauan di daerah. Misalnya di Bali terbuka
kemungkinan terjadinya konflik antar kabupaten hanya karena taksi
yang datang dari kabupaten A tidak boleh memungut penumpang di
kabupaten B. Demikian pula di Cianjur Selatan, Jawa Barat, angkutan
kota yang biasanya melayani trayek lintas kabupaten sekarang ini
hanya dibolehkan mengantar penumpang sampai perbatasan kabupaten. Di
perbatasan itu ia harus naik angkot dari kabupaten berikutnya.
Sedangkan di beberapa kabupaten yang memiliki lautan, nelayan tidak
bisa lagi bebas mencari ikan seperti sebelumnya. Hal itu terjadi
antara lain di Madura dan Cilacap. Bahkan di Sulawesi Utara, Walikota
Bitung Milton Kansil yang dikenal akrab dengan Presiden Megawati dan
Taufik Kiemas telah menandatangani kesepakatan dengan Amerika untuk
membangun pelabuhan kapal-kapal perang Amerika.
Proyek fasilitas militer tersebut bernilai Rp 3 trilyun dan
diperkirakan siap dioperasionalkan pada tahun 2005. Tentu saja ini
mengingatkan kita pada pangkalan militer Subic Bay yang memunculkan
berbagai dampak sosial. Boleh jadi ribuan orang Bitung mendapat
peluang kerja di Pangkalan itu. Namun yang dicemaskan oleh berbagai
kalangan di Sulawesi Utara, seperti halnya kasus yang menimpa
Filipina, akan tumbuh pusat-pusat hiburan lengkap dengan dunia
malamnya termasuk narkoba dan pelacuran. Artinya, otonomi yang semula
diharapkan dapat meningkatkan keberdayaan daerah dalam
mensejahterakan rakyatnya justru sekarang ini berjalan di luar
kendali pemerintah pusat.
Ini adalah konsekuensi sistem pemerintahan yang banci. Di satu sisi
menegaskan diri sebagai negara kesatuan, tapi di sisi lain memberikan
kekuasaan penuh kepada kabupaten dan kota untuk mengelola daerahnya.
Di satu sisi menegaskan berlakunya sistem presidensiil tapi
kenyataannya berlaku sistem parlementer karena didukung oleh
partai-partai. Megawati tidak berani melakukan perombakan kabinet
karena takut dikeroyok oleh partai-part lain sehingga mengalami nasib
seperti Gus Dur.
Tidaklah mengherankan pula jika seorang yang dekat dengan Megawati
mengaku bahwa yang berkuasa saat ini adalah militer yang menjadi
andalan utama Megawati. Jadi, harapan rakyat untuk perubahan kabinet
hanya bisa terjadi jika presidennya diganti seperti di negara-negara
yang menganut sistem parlementer. Bila kondisi ini dibiarkan terus
berlarut, diperkirakan akan terjadi kekacauan yang jauh lebih besar
lagi. Ataukah memang kondisi seperti ini yang sebenarnya telah
dirancang dan direncanakan oleh orang-orang tertentu yang kini belum
muncul ke permukaan?


* DI JOHANNESBURG MEGAWATI JUGA DIINGATKAN SOAL TIMOR TIMUR

Intro: Di sela-sela kesibukan KTT Pembangunan Berlanjut di
Johannesburg, Afrika Selatan, Perdana Menteri Belanda Jan Peter
Balkenende Senin kemarin mengadakan pembicaraan dengan Presiden
Megawati Soekarnoputri. Topik pembicaraan adalah masalah pembunuhan
wartawan Belanda Sander Thoenes di Becora, Dili, September 1999,
ketika Timor Timur diluluhlantakkan menyusul referendum bulan
sebelumnya. Jangankan pengadilan, sampai sekarang tidak seorangpun
didakwa akibat pembunuhan wartawan ini. Dalam kata-kata Perdana
Menteri Balkenende masalah ini sangat peka di Belanda. Berikut ulasan
redaksi di Hilversum:

Hingga saat ini kasus pembunuhan wartawan Belanda Sander Thoenes,
tidak menjadi prioritas utama pemerintah Presiden Megawati. Karena
itu Perdana Menteri Belanda Jan-Peter Balkenende, disela-sela
kesibukan KTT Pembangunan Berlanjut di Johannesburg, menyempatkan
diri untuk berbicara dengan Megawati. Balkenende terutama menanyakan
kapan kasus pembunuhan tersebut akan disidangkan, karena hingga
sekarang pembunuhan Sander Thoenes tidak menunjukkan kemajuan:

Balkenende:
Het gaat over een aantal onderwerpen. De binnenlandse politieke
maatschappelijke ontwikkelingen. Er is natuurlijk veel verdeeldheid
in Indonesie. Veel problemen ook. Het gaat over de financieel
economische ontwikkeling in Indonesie. We hebben het gehad over de
contacten tussen Nederland en Indonesie. En de zaak Thoenes heb ik
ook zelf aan de orde gesteld omdat dat onderwerp, de moord op Thoenes
en de juridische aspecten waarvan de berichting in Indonesie een
onderwerp is dat en in het Nederlandse parlement en in de Nederlandse
samenleving erg zwaar ligt. En ik heb die gevoelens die in Nederland
leven nadrukkelijk overgebracht.

Ada sejumlah tema yang kami bicarakan. Politik dalam negeri dan
perkembangan terbaru dalam masyarakat Indonesia. Beragam pendapat di
antara masyarakat dan juga masalahnya. Juga mengenai perkembangan
ekonomi dan hubungan antara Indonesia dan Belanda. Dan tentu saja
kasus Thoenes, juga saya singgung. Terutama aspek-aspek yuridis dan
jalannya sidang di Indonesia. Saya terutama menekankan bahwa masalah
ini sangat peka, dan dipantau terus baik oleh parlemen maupun
masyarakat Belanda.

Balkenende:
Het is zo dat wanneer zaken onder de rechter zijn, dat je altijd de
onafhankelijkheid van de rechterlijke macht hebt erkennen, de bekende
scheiding der machten. Maar ik heb wel aangegeven in de richting van
President Megawati dat dit onderwerp zeer gevoelig in Nederland ligt.
Dat en in het parlement, en in de samenleving het gaat om grote
zorgen over hoe de berichting in Indonesie plaats vindt.

Tentu saja, apabila sebuah kasus sudah ditangani pengadilan, maka
kita harus menghormati posisi independen para hakim. Ini adalah
pembagian kekuasaan eksekutif, yukatif dan legislatif yang sudah
dikenal siapa saja. Tetapi saya menekankan kepada Presiden Megawati
bahwa kasus ini sangat peka di Belanda. Selain itu baik parlemen
maupun masyarakat sangat khawatir akan jalannya persidangan yang
dilangsungkan di Indonesia. Pesan tersebut telah saya sampaikan
kepadanya.

Walaupun begitu pembicaraan berlangsung dalam suasana persahabatan.
Baik Megawati maupun Balkenende mengundang satu sama lain untuk
kunjungan resmi. Perdana menteri Belanda bisa mengerti reaksi
Presiden Megawati, tetapi menekankan bahwa kasus tersebut sangat peka
di Belanda:

Balkenende:
Ze heeft gewezen uiteraard op de scheiding der machten. Zij is
natuurlijk niet in staat om een juridisch proces te beinvloeden, maar
dat is denk ik wel heel goed dat ze weet hoe de zaak in Nederland
leeft en dat ook Nederland de hele zaak volgt.

Dia tentu saja menunjuk pada pembagian kekuasaan antara
lembaga-lembaga eksekutif, yudikatif, dan legislatif yang selama ini
sudah kita kenal. Megawati menyatakan ia tidak bisa mencampuri urusan
pengadilan. Ini tentu saja baik, tetapi sekarang dia tahu bagaimana
pandangan pemerintah dan rakyat Belanda terhadap kasus Thoenes, dan
bahwa kita terus memantau dengan cermat.

Demikian Perdana Menteri Belanda Jan Peter Balkenende. Ini memang
untuk pertama kalinya, Megawati Soekarnoputri mendapati bahwa seorang
pemimpin pemerintahan asing menyapanya soal Timor Timur. Di masa
lampau masalah Timor Timur selalu menghantui seorang presiden
Indonesia, Soeharto misalnya didemo di Jerman oleh orang-orang Timor
Timur.

Sekarang, walau pun pemerintahan sudah diganti, tetapi ternyata
Indonesia masih belum bebas juga dari masalah Timor Timur. Vonis
Pengadilan Ad Hoc HAM Timtim di Jakarta yang membebaskan orang
Indonesia dan menghukum ringan orang Timor Timur memastikan bahwa
prostes internasional akan terus membayangi Indonesia. Inilah yang
menyebabkan seruan supaya didirikan tribunal internasional Timor
Timur makin lantang saja. Apalagi, karena dalam kunjungannya ke Timor
Leste belum lama berselang Mary Robinson, Komisaris Tinggi Hak-Hak
Azasi Manusia PBB sudah berjanji akan meneruskan tututan tribunal
internasional itu kepada Dewan Keamanan PBB.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke