---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Kamis 03 Oktober 2002 14:40 UTC



** AUSTRALIA DITUDUH LAKUKAN EKSEKUSI DI TIMOR TIMUR

** 2 PEMBERONTAK MUSLIM DI JAMMU - KASJMIR TEWAS DALAM PERTEMPURAN
DENGAN TENTARA INDIA

** CHIRAC DAN SCHRODER NYATAKAN KEMBALI SIKAPNYA TENTANG AKSI MILITER
TERHADAP IRAK

** TOPIK GEMA WARTA: MUNGKINKAH TNI TERLIBAT DALAM KASUS
PENYELUNDUPAN SENJATA KE POSO?

** TOPIK GEMA WARTA: MENJELANG HUT, TNI DAN POLISI HARUS MENGUBAH
JATI DIRI MENJADI APARAT PROFESIONAL.



* AUSTRALIA DITUDUH LAKUKAN EKSEKUSI DI TIMOR TIMUR

Kamis hari ini tentara Australia berjanji akan melakukan penyelidikan
mendasar atas berita tentang pembunuhan dan penyiksaan yang dilakukan
tentaranya di Timor Timur. Penyelidikan akan terpusat kepada
peristiwa setelah dikuasainya kota Suai, berbatasan dengan Timor
Barat pada Oktober 1999. Demikian harian Sydney Morning Herald
melaporkan. Australia mendominasi pasukan perdamaian PBB, yang
dibentuk seusai jajagpendapat di Timor Timur, di mana penduduk Tim
Tim memilih untuk merdeka. Kaum milisi pro-Indonesia dengan dukungan
TNI melampiaskan amarahnya kepada penduduk sipil. Pasukan Perdamaian
PBB segera diperintahkan memulihkan ketertiban. Pada 6 Oktober
Pasukan Perdamaian PBB dari Australia menduduki kota Suai dan menahan
puluhan anggota milisi pro-Indonesia. Namun tentara Australia
mengalami serangan dari pihak milisi. Karena  marah terhadap serangan
itu, tentara Australia membunuh dan menganiaya sejumlah tawanannya.


* 2 PEMBERONTAK MUSLIM DI JAMMU - KASJMIR TEWAS DALAM PERTEMPURAN
DENGAN TENTARA INDIA

Dalam baku tembak dengan terntara India di negara bagian Jammu dan
Kasjmir, dua pemberontak muslim tewas. Pihak tentara menduga para
korban tersebut adalah bagian dari pemberontak yang Selasa lalu
melakukan serangan terhadap sebuah bis yang menewaskan delapan jiwa
di 70 kilometer sebelah Selatan kota Jammu. Baku tembak antara
tentara India dan kaum pemberontak terjadi Rabu malam, dan
berlangsung sepanjang malam. Jammu dan Kasjmir dilanda kerusuhan,
sejak India Agustus lalu menyelenggarakan pemilu di negara bagian
tersebut. Putaran keempat pemilu akan digelar pekan depan


* CHIRAC DAN SCHRODER NYATAKAN KEMBALI SIKAPNYA TENTANG AKSI MILITER
TERHADAP IRAK

Presiden Prancis Jacques Chirac dan Kanselir Jerman Gerard Schroder
menyatakan kembali sikap reserve mereka tentang kemungkinan aksi
militer terhadap Irak. Kedua pemimpin tidak sepenuhnya berpendapat
sama, tetapi punya analisi yang sama, demikiandinyatakan  Chirac
seusai pertemuannya di Paris. Jerman tetap menentang tindakan
militer. Sedang  Prancis menghendaki Dewan Keamanan PBB melakukan
tekanan dua langkah terhadap Irak. Yakni langkah pertama, resolusi
yang menuntut Irak membolehkan inspeksi senjata PBB bekerja lagi,
kedua, resolusi yang membolehkan tindakan militer jika Bagdad tidak
memenuhi tuntutan itu. Amerika Serikat  menghendaki suatu resolusi
yang keras, yang memungkinkan dilancarkannya aksi militer.
Sementara itu Presiden Amerika Serikat George W Bush membuat langkah
penting untuk mendapatkan dukungan Kongres demi aksi militer terhadap
Irak. Ia mencapai kesepakatan dengan para pemimpin Dewan Perwakilan
tentang naskah yang membarinya peluang untuk melakukan aksi jika
diperlukan. Seluruh anggota Dewan masih harus menyetujui hal itu,
namun tampaknya persetujuan itu hanya formalitas belaka.


* SEBAGIAN LAUT JAWA DINYATAKAN SEBAGAI KAWASAN BERBAHAYA

Pemerintah Indonesia sedang bertimbang untuk menjadikan sebagian Laut
Jawa sebagai kawasan berbahaya, karena di kawasan itu terdapat
lintasan pipa gas yang tidak aman. Saluran pipa itu digunakan untuk
menyalurkan gas dari padang gas Paperungan di Laut Jawa. Rabu kemarin
perusahaan energi gas BP memperingatkan, sebagian pipa itu tidak bisa
dikatakan aman lagi akibat erosi. Kalau pipa itu bocor, akan bisa
terjadi kebakaran atau ledakan yang membahayakan lalulintas
pelayaran.


* RICHARD REED BERSEDIA AKUI KESALAHANNYA

Warga Inggris Richard Reed, yang tahun lalu  dengan menggunakan
sepatu-bom mencoba meledakkan pesawat Amerika, bersedia mengakui
kesalahannnya. Tetapi menurut jaksa penuntut umum, tuduhan bahwa Reed
punya hubungan dengan jaringan teroris Al-Qaeda harus dicabut. Reed
bersedia mengakui kesalahannya tentang pemilikan senjata gelap,
percobaan pembunuhan dan peledakan pesawat. Kehakiman Amerika
mengatakan, tidak bisa menerima syarat itu, karena hubungan antara
Reed dan Al-Qaeda jelas terbukti dari pembicaraan teleponnya.
Persidangan terhadap Reed dimulai 4 Noverber besok.


* UTUSAN KHUSUS AMERIKA JAMES KELLY TIBA DI PYONGYANG

Utusan Khusus Amerika James Kelly  tiba di Pyongyang untuk
menghidupkan kembali upaya pendekatan dengan Korea Utara yang macet.
Selama keberadaannnya di Korea selama tiga hari, ia akan berunding
dengan sejumlah menteri dan pejabat pemerintahan Korea Utara. Tidak
diperoleh keterangan apakah James Kelly juga akan bertemu dengan
Presiden Kum Jong-il. Kelly dalam hari-hari belakangan melakukan
persiapan perundingan dengan Korea Selatan. Dua tahun silam, di bawah
Presiden Bill Clinton, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Madelene
Albright datang ke Pyngyang untuk melakukan pendekatan. Di bawah
pemerintahan Bush pendekatan itu dihentikan. Bush mencap Korea Utara
bersama Irak dan Iran sebagai poros-kejahatan.


* TEXAS DAN LOUISIANA BERSIAP HADAPI TOFAN LILI

Di negara bagian Texas dan Lousiana ratusan ribu penduduk diungsikan
sehubungan dengan mendekatnya tofan Lili. Para pakar meteorologi
menduga tofan Lili mencapai pantai Selatan Amerika Serikat pada Kamis
hari ini. Tofan yang bergerak di Teluk Meksiko itu kekuatannya
meningkat dengan kecepatan 217 kilometer per jam. Sebelumnya Lili
mengamuk di Kuba bagian Barat dan menewaskan satu jiwa. Sebelumnya di
Kuba sekitar 200.000 penduduk diungsikan.


* MUNGKINKAH TNI TERLIBAT DALAM KASUS PENYELUNDUPAN SENJATA KE POSO?

Intro: Dua warga ditangkap polisi ketika baru turun dari KM
Nggappulu,  di Pelabuhan Pantoloan, Palu.  Fahrin Ibnu alias Jasir
(37) dan Siswanto tertangkap basah membawa sejumlah senjata api dan
ribuan peluru, yang konon untuk dipasok ke Poso. Menurut seorang juru
bicara pemerintah di Palu, peluru itu buatan Pindad, pabrik senjata
milik TNI. Sampai di mana kemungkinan keterlibatan TNI dalam
kasus-kasus penyelundupan seperti ini?  Radio Nederland menghubungi
pakar militer Indro Tjahjono.

Indro Tjahjono [IT]: Kalau kita cari fakta-fakta yang bisa kasat mata
sih nggak ada ya, tapi yang kita lihat adalah bahwa setelah
terbongkar itu melibatkan oknum-oknum TNI itu rata-rata. Jadi hampir
70 persen ya kasus amunisi ini memang didalangi oleh TNI itu ya. Dan
khususnya kalau bom itu memang ada desersi  iktu di sana. Kelompok
desersi yang analisa saya memang desertir-desertir itu memang ada
yang mengorganisir dalam rangka sebenarnya untuk meningkatkan posisi
tawar TNI atau untuk tujuan-tujuan lain. Kelihatannya begitu sih.

Radio Nederland [RN]: Jadi Anda menduga masih ada dalam rangka untuk
mengeluarkan posisi tawar ya? Tidak lagi sekedar kepentingan bisnis

IT: Nggak, jadi posisi tawar itu satu yang  bisa dihasilkan dari
seluruh keterlibatan dalam kerusuhan. Kedua, adalah bisnis yang
muncul di daerah-daerah yang rusuh itu sendiri.  Jadi ada dua yang
tingkat nasional kan anggaran militer ya dinaikkan ya, sedang di
tingkat micro adalah khususnya bukan anggaran militer tetapi
pendapatan dari oknum-oknum TNI di daerah itu juga bisa naik. Atau
bisa diuntungkan oleh adanya kerusuhan itu.  Jadi memang ada dua
hasil dari kalau orang-orang TNI ini tetap mengakses pada munculnya
kerusuhan-kerusuhan di daerah.

RN: Bicara soal bisnis itu ya, entah apakah yang resmi bisnis tentara
ataupun yang tadi bisnis-bisnis ilegal oleh oknum dan
desetir-desertir, itu seberapa luas ya, bung Indro ya?

IT: Bisnis semacam begitu itu, yang melibatkan TNI, atau yang
melibatkan kekuatan bersenjata, sampai sekarang itu belum bisa
diatasi ya. Kalau mau mengatasi mereka tentunya menggunakan polisi.
Nah kalau polisi bertindak, seperti yang kita lihat, kemudian muncul,
sampai sekarang itu sudah hampir 20 konflik antara tentara dan
polisi. Artinya pada daerah-daerah tertentu, kalau polisi itu nekat
ya, menghentikan bisnis tentara ya, bisnis kriminal tentara itu ya
terjadi konflik. Di beberapa daerah lain justru pollisi bekerjasama
dengan tentara. Kalau untuk pencurian kayu, untuk
mengawalan-pengawalan barang, itu dia bisa koperatif sebenarnya
polisi. Tapi untuk bisnis-bisnis tertentu di mana komandan polisi itu
mencoba menegakkan keamanan secara konsisten, ya di situ biasanya
terjadi konflik.

 Itulah petanya, di manapun begitu. Nah kalau di pusat itu backing
itu kalau pencurian kayu, ya kan, pencurian pasir, pencurian ikan,
itu rata-rata kalau boleh kita simpulkan, itu perwira-perwira tinggi
terlibat di sana.  Nah di daerah yang tentunya merasa bahwa atasannya
masih melakukan hal seperti itu ya iktu-ikutan. Mencoba menjadi
backing tapi dalam skala bisnis yang lebih kecil ya. Yaitu bisnis
keamanan, perdagangan narkoba, pengawalan balok curian, dan kayak
begitu. Jadi sebenarnya rata-rata backing ini belum selesai di
tingkat pusat, dan akhirnya daerah meniru pusat itu sendiri. Sehingga
akhirnya muncul semacam pembangkangan, ketidakpatuhan daerah terhadap
perintah-perintah dari pusat.

RN: Contoh kongkritnya seperti di Binjei itu di Sumatra Utara itu ya?
Itu contoh bahwa kepentingan polisi dan tentara ini bertentangan.
Kalau begitu polisi juga sebenarnya dalam tanda petik tidak suci juga
ya.

IT: O tidak. Polisipun banyak terlibat ya. Sama saja mereka. Di mana
mereka tidak ketemu di situlah terjadi konflik. Tapi untuk beberapa
hal bisa mereka itu berjalan bersama. Oleh karena itu mungkin saja,
atau saya perkirakan, bahwa penahanan orang-orang yang diback up
tentara itu, barangkali bukan untuk mengjhentikan bisnis tentara itu
sendiri ya. Bisa jadi itu merupakan bagian dari polisi minta bagian
dari bisnis yang dilakukan tentara itu.  Jadi ini yang kemudian tidak
klop dan muncul konflik ya. Barangkali dalam tahap tertentu justru
bisa terjadi negosiasi antara polisi dan tentara, bersama-sama
menjalankan bisnis secara gelap.

Demikian Indro Tjahjono seorang pakar militer mengungkapkan kepada
Radio Nederland


* MENJELANG HUT, TNI DAN POLISI HARUS MENGUBAH JATI DIRI MENJADI
APARAT PROFESIONAL

Menjelang perayaan HUT Angkatan Bersenjata 5 Oktober besok, TNI dan
Polri banyak disorot sehubungan praktek-praktek ekonomi baik yang
legal maupun ilegal. Sejumlah media asing bahkan memberitakan bahwa
penghasilan dari kegiatan di luar anggaran ini bisa mencapai 70%.
Belakangan kegiatan tersebut juga mengakibatkan bentroknya kedua
aparat pemerintah tersebut. Laporan rekan Syahrir dari Jakarta:


Sudah menjadi rahasia umum, bahwa maraknya kegiatan ilegal seperti
prostitusi, perjudian, penyelundupan dan peredaran narkoba, bisa
berlangsung aman karena pengusahanya mendapat backing dari aparat
keamanan, baik itu dari anggota TNI maupun anggota Polri. (Clips
Indro Cahyono).Hal itu terjadi, karena sudah terlalu lama ABRI ,
mengenyam hak istimewa yang luar biasa. Mereka tidak saja superior
dalam menjalankan wewenang sebagai satu-satunya lembaga yang
memonopoli kekuatan bersenjata, melainkan juga mereka berada dalam
posisi terdepan dalam berbagai bidang penting kehidupan bernegara.
Dalam bidang politik, mereka menguasai jabatan-jabatan strategis
seperti Menteri Dalam Negeri, Gubernur dan Bupati. Dalam bidang
ekonomi mereka kuasai BUMN-BUMN, Yayasan-yayasan dan
Koperasi-Koperasi yang menjalankan praktek bisnis, baik yang legal
maupun ilegal. Tidak mengherankan bila korps baret merah yang
memiliki PT Kobame dalam waktu singkat bisa mengembangkan sektor
bisnisnya dengan akumulasi modal yang luar biasa. Belum lagi
keberadaan sejumlah perwira militer yang mendapatkan gaji buta jutaan
rupiah per bulan hanya karena namanya tercantum sebagai dewan
komisaris suatu perusahaan, baik swasta maupun perusahaan-perusahaan
milik negara.
Oleh karenanya, sudah terlalu lama pula ABRI menjadi salah satu
faktor ekonomi biaya tinggi yang menyebabkan produk-produk dalam
negeri Indonesia sulit bersaing di dunia internasional. Dengan alasan
itu pula, gerakan reformasi yang dipelopori mahasiswa, di luar
tuntutan penghapusan KKN, juga sering terdengar seruan-seruan ketika
itu agar ABRI kembali ke Barak. Maka setelah Soeharto jatuh,
terjadilah pemisahan kelembagaan antara TNI dan Polri. Dengan
sendirinya pula istilah ABRI dihapuskan. Dalam tubuh TNI sendiri,
sebagaimana seringkali diungkapkan para perwiranya, telah melakukan
reformsi internal, agar TNI semata-mata menjadi alat pertahanan
Negara yang professional. Sedang fungsi keamanan di dalam negeri
diserahkan kepada Polisi. Dengan demikian TNI tidak memiliki
kewenangan lagi menangkap warga sipil, terutama kalau warga sipil itu
melakukan tindak kejahatan, seperti mengedarkan narkoba, membuka
praktek perjudian, pelacuran dan melakukan penyelundupan. Dengan
pemisahan ini pula tidak ada lagi istilah anggota TNI
di-bawah-kendali-operasikan (BKO) ke aparat polisi. Kalau semula
Polri hendak menggrebek sarang-sarang prostitusi, perjudian dan
narkoba terlebih dahulu harus melakukan koordinasi dengan aparat TNI
dan dengan demikian ada anggota TNI yang di-BKO-kan ke aparat polisi,
kini polisi bisa jalan sendiri.
Di sinilah pangkal persoalan yang memicu semakin sering terjadinya
ribut-ribut antara TNI dan Polri. Karena masing-masing, baik dalam
tubuh personil TNI dan Polri sendiri memiliki bisnis ilegal dengan
memback-up bandar-bandar judi, germo dan pengedar narkoba, maka
terjadilah konflik di lapangan.Seperti yang terjadi dalam peristiwa
berdarah Binjai, aparat TNI Yon Linud 100 menganggap Polisi tidak
fair, karena bandar narkoba yang berada dalam kekuasaannya
diacak-acak, sedangkan yang dilindungi oleh Polisi tidak tersentuh
oleh hukum. Kejadian ini akan selalu berulang, manakala praktek yang
berbau mafia dalam tubuh kedua angkatan bersenjata itu dibiarkan
berlanjut. Oleh karena itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan Lembaga
Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Adnan Buyung Nasution menyerukan agar
TNI kembali pada jati dirinya sebagai alat pertahanan negara.
Clip Adnan Buyung Nasution. Dengan kembalinya TNI pada jati dirinya,
sebagai prajurit yang profesional dan tidak mengklaim pada kebesaran
sejarah yang merasa lahir bersamaan dengan revolusi fisik, dan dengan
demikian ada semacam tuntutan pada dirinya untuk memperoleh hak-hak
istimewa, maka terbuka peluang bagi negeri ini bergerak ke arah yang
lebih demokratis. Persoalannya, maukah dalam ulang tahunnya yang
ke-57 ini TNI dengan tegas menyatakan kembali pada jati dirinya
sebagai tentara yang professional. Bukan merasa memilki hak istimewa
untuk memperlakukan negeri ini sekehendak hatinya.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke