--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia
Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Selasa 22 Oktober 2002 14:00 UTC ** SIDANG PERTAMA DI JERMAN BAGI TERDAKWA SERANGAN 11 SEPTEMBER ** TERSANGKA PENEMBAKAN DI MELBOURNE DIAJUKAN KE PENGADILAN ** KOREA UTARA TUNTUT AS BICARAKAN MASALAH PROYEK NUKLIRNYA ** TOPIK GEMA WARTA: PEMERINTAH PUSAT BINGUNG, BALI PRIHATIN ** TOPIK GEMA WARTA: TIM INVESTIGASI JENUH DAN STRESS DENGAN SIKAP JAKARTA * SIDANG PERTAMA DI JERMAN BAGI TERDAKWA SERANGAN 11 SEPTEMBER Sidang pertama bagi terdakwa yang terlibat serangan 11 September di Amerika telah berlangsung di kota Hamburg, Jerman. Tersangka adalah seorang mahasiswa keturunan Maroko berusia 28 tahun. Ia ditahan November tahun lalu. Sang mahasiswa didakwa membantu lebih dari 3000 pembunuhan. Ia diduga menjadi anggota kelompok Muslim di Hamburg yang membantu para pembajak pesawat. Mahasiswa itu bertugas mengelola rekening untuk aksi teror, yang antara lain digunakan untuk membayar pendidikan pilot para pembajak pesawat. * TERSANGKA PENEMBAKAN DI MELBOURNE DIAJUKAN KE PENGADILAN Tersangka penembakan di Universitas Monash, kota Melbourne, Australia, diajukan ke pengadilan. Penembak yang berdarah Asia dan berusia 36 tahun tersebut, telah mengaku dan berada dalam penahanan sementara. Senin pekan ini, tersangka memberondong sebuah kelas dan mengakibatkan dua korban tewas dan lima lainnya luka-luka. Motif penembakan ini belum jelas. Setelah peristiwa penembakan itu, pemerintah Australia mempertimbangkan akan memperketat undang-undang senjata api. Awal tahun ini, pemilikan senjata api telah diawasi lebih ketat karena terjadi serangkaian penembakan di Sydney. Seorang polisi tewas dalam sebuah baku tembak tersebut. Tetapi, upaya menekan pemilikan senjata api di Australia mendapat protes keras dari penduduk, khususnya mereka yang tinggal di pedesaan. * KOREA UTARA TUNTUT AS BICARAKAN MASALAH PROYEK NUKLIRNYA Korea Utara mengancam akan melakukan aksi perlawanan keras jika Amerika Serikat tetap menolak membicarakan proyek nuklir Korea Utara. Demikian dilaporkan oleh kantor berita Korea Utara KCNA. Belum jelas aksi perlawanan apa yang akan dilakukan Korea Utara. Lewat penengah dari Korea Selatan, Pyongyang menyatakan kesediaannya untuk berunding dengan AS. Tetapi utusan Amerika di Seoul, Thomas Hubbard,mengatakan bahwa pemerintah Korea Utara tidak bisa dipercayai lagi. Awal bulan ini Pyongyang membenarkan bahwa negara itu mengembangkan proyek pengolahan uranium secara rahasia. Hal ini melanggar empat perjanjian internasional. * FILIPINA GUNAKAN DANA BENCANA ALAM UNTUK PERANGI TERORISME Pemerintah Filipina akan menggunakan dana bantuan korban bencana alam untuk memerangi terorisme. Ini diperintahkan oleh Presiden Gloria Arroyo. Dana korban bencana alam tersebut antara lain akan digunakan untuk membeli peralatan perang melawan terorisme. Serangkaian aksi teror terjadi di wilayah selatan Filipina beberapa hari belakangan ini. Aksi ini diduga didalangi oleh kelompok pemberontak Muslim. * BUSH MAU PERTIMBANGKAN PENYELESAIAN DIPLOMATIK UNTUK MASALAH IRAK Presiden Amerika, George Bush, tampak mau mempertimbangkan penyelesaian damai untuk masalah Irak. Bush menyatakan kepada pers bahwa negaranya bersedia mencari pemecahan diplomatik dan memberi Saddam Hussein kesempatan untuk menunjukkan bahwa rejim Bagdad memang telah berubah. Untuk itu, Bagdad harus sepenuhnya memenuhi tuntutan Dewan Keamanan PBB. Saat ini pemerintah Bush tengah menggodok sebuah resolusi baru tentang Irak. Namun, Washington masih harus meyakinkan anggota Dewan Keamanan PBB terutama Perancis dan Rusia. * DUA LAKI-LAKI YANG DITAHAN BUKAN PENEMBAK GELAP DI AS Dua laki-laki yang ditahan polisi di kota Virginia, Amerika Serikat, dalam kasus penembak gelap ternyata tidak ada hubungannya sama sekali dengan kasus tersebut. Kedua orang itu, seorang warga Meksiko dan seorang warga Guatemala, diserahkan ke dinas imigrasi dan naturalisasi karena melanggar peraturan keimigrasian. Sebelumnya ada harapan bahwa sang penembak gelap telah ditemukan. Kedua laki-laki itu memiliki mobil putih sejenis dengan mobil yang diduga digunakan oleh sang pembunuh. Penembak gelap di Amerika Serikat telah menembak 11 orang; sembilan diantaranya tewas. Setiap beraksi ia hanya melepaskan satu tembakan jitu dari jarak jauh. Penembak gelap itu menyebabkan kekalutan di antara penduduk wilayah pantai timur Amerika. * TENTARA ISRAEL HANCURKAN DUA RUMAH WARGA PALESTINA Tentara Israel menghancurkan dua rumah warga Palestina di sebelah barat sungai Yordan. Salah sebuah rumah tersebut adalah milik pengikut Front Rakyat Pembebasan Palestina. Organisasi ini dituding bertanggungjawab atas sejumlah serangan terhadap Israel. Rumah kedua yang diratakan dengan tanah adalah milik seorang laki-laki pelaku bom bunuh diri di Tel Aviv bulan Juli lalu. Serangan itu mengakibatkan lima korban tewas. * PEMERINTAH PUSAT BINGUNG, BALI PRIHATIN Hingga sekarang pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk memulihkan diri pasca ledakan Bali. Namun pemulihan itu nampaknya tidak dirasakan oleh mereka yang terkena dampak terbesar pasca aksi teroris itu, yaitu mereka yang menggantungkan asap dapurnya dari Bali. Oei Hok Liang, pekerja pariwisata yang telah menjalani usahanya selama empat tahun di Bali menuturkan kepada Radio Nederland. Oei Hok Liang [OHL]: Pekerja turisme seperti saya ini, yang amat saya rasakan agak kurang memuaskan yaitu kurang adanya tanggapan dari pemerintah ke dunia luar untuk bikin statement apa yang terjadi. Kita harus apa lagi atau gimana. Saya rasa itu masih sedikit lambat di situ nampaknya. Radio Nederland [RN]: Kemudian saya juga tahu anda sebagai volunteer, bagaimana? Apakah memang ada suka dukanya sebagai volunteer? OHL: Sebenarnya sebelumnya saya tidak pernah lihat sendirian korban terorisme itu kayak gimana. Saya sering lihat di tv, di mana ada pemboman gitu. Tapi waktu saya lihat sendiri, sedih banget ya. Sedih banget, sementara orang yang berlibur, jauh dari orang tua, jauh dari keluarga. Mereka jadi korban. Nggak ada yang nolongin. Terus nasibnya juga agak nggak jelas. Bagi volunteer-volunteer yang kayak saya, saya sebenarnya nggak ada latar belakang medis untuk membantu orang dalam situasi ini. Orang yang belum pernah lihat ya pasti depressed-lah. Saya adalah contohnya. Saya belum pernah lihat kondisi yang seperti itu. Dua hari pertama saya tidak bisa tidur, nggak bisa makan. Terus kalau mau dibilang depressed, ya depressed ya. Tapi kompleks masalah kesatu karena kerjaan juga, tamu-tamunya juga nggak ada, pembatalan besar, terus sisa-sisa pemandangan yang di hospital itu juga masih tetap teringat. Demikian Oei Hok Liang pebisnis wisata di Bali. Sementara itu perkembangan investigasi belakangan ini semakin membingungkan menyusul tidak konsistensinya pernyataan-pernyataan dari pemerintah dan polisi Indonesia. Seringkali apa yang dilontarkan para pejabat saling bertolak belakang satu sama lain, demikian juga halnya antara penyelidik pusat dan daerah. Johnson Panjaitan dari Pusat Bantuan Hukum dan Hak Asasi di Jakarta memperkirakan penyelidikan ini akan membentur tembok dan kembali mengulang kebiasaan kambing hitam. Johnson Panjaitan [JP]: Ya, saya kira selain membentur tembok juga menciptakan kembali seperti keterampilan mereka selama ini tiada kambing hitam. Ya contohnya seperti Ba'asyir itu. Itu kan sama aja dia dikambinghitamkan. Anda bayangkan, seorang Faruq diambil dari negara ini, tanpa kita protes. Kemudian dibawa ke Amerika, diperiksa. Kita tidak tahu bagaimana proses pemeriksaannya. Kemudian rombongan sirkus dari kita di sini, dari Mabespolri ke sana terus menyatakan: Ya benar, Faruq mengatakan begini. Ini saya kira sangat diperlihatkan kepada kita bahwa negara ini sebenarnya tunduk sekali pada kepentingan-kepentingan asing. Jadi menurut saya ini untuk kedua kalinya setelah Perpu tentang Timor Timur dikeluarkan akibat dari tekanan luar negeri. RN: Sepanjang pengamatan anda bahan ledak ini kan bisa dilacak ya. Lalu siapa punya kemampuan lebih dalam mengurusi bahan ledakan ini? JP: Gampang sekali dicheck kan. Kita tinggal mengecheck sipil dan militer yang disekolahkan oleh negara. Karena kan sekolah-sekolah seperti ini kan resmi. Tidak ada kan sekolah swasta. Tidak seperti penerbangan kan. Kalau misalkan itu tidak mudah dicheck, nah itulah kerjanya intelijen kita. RN: Anda menduga bahwa justru di dalam peristiwa ini intelijen Indonesia malah kesannya mendorong membiarkan ledakan itu terjadi? JP: Bukan hanya intelijen kita, tapi Wakil Presiden kita juga ikut mendorong suasana sehingga peristiwa ini terjadi, menjadi lebih buruk. Akibatnya ditanggung oleh kelompok-kelompok tertentu akhirnya. RN: Maksud anda dengan Wakil Presiden juga ikut mendorong, maksudnya? JP: Iya, dengan dia menolak mengatakan bahwa terorisme tidak ada itu kan sama saja. Justru memperburuk keadaan menjadi gelap. Masyarakat menjadi tidak ada pegangannya. Sekarang dia tidak bertanggung jawab atas statement-statement itu. Sementara korbannya sudah begitu banyak. Bahkan lebih buruk lagi kesannya akibat dari tindakan dia. Islam menjadi lebih buruk jadinya di mata rakyat. Bagaimana rakyat Australia sekarang menuntut pemerintahannya, katanya Amerika sudah memberi tahu. Dan kita dengar sekarang Amerika juga sudah mengumumkan di pers bahwa akan terjadi ledakan lebih besar. Berarti kan selama ini Amerika sudah lebih tahu dong. Ini kan bukan dobel standar lagi. Ini multi standar. Bukan cuma pembiaran tapi juga ada bagian yang memainkan, ada yang bagian keluarin statement. Ini kayak konser aja. Karena saya tahu betul bahwa pemerintahan Amerika, George Bush yang sekarang juga terancam kan di Amerika dengan selalu program-program terorisme yang sampai sekarang belum bisa dibuktikan. RN: Artinya bahwa dalam kasus ledakan di Bali ini konser itu juga nampaknya melibatkan internal seperti intelijen, tentara dan politisi yang diuntungkan? JP: Ya, betul. Dan mereka sebenarnya orang-orang yang mau mengorbankan apa saja demi kepentingan politik mereka. Demikian Johnson Panjaitan dari Pusat Bantuan Hukum dan Hak Asasi di Jakarta. * TIM INVESTIGASI JENUH DAN STRESS DENGAN SIKAP JAKARTA Lebih satu pekan berlalu sejak aksi teroris di Bali, hasil penyelidikan bukan semakin jelas malah semakin membingungkan. Sementara itu penguasa Jakarta memasang aksi pernyataan dan penangkapan terhadap Abu Bakar Ba'asyir serta mereka yang dituding sebagai kelompok teror. Sayangnya serangkaian aksi itu tidak juga membuat bening upaya penangkapan pelaku teror bom Kuta 12 Oktober lalu. Tim investigasi sendiri yang bekerja siang malam dibawah tekanan terlihat sudah lelah dengan ketidakberanian penguasa pusat membuka tabir teror tersebut. Laporan koresponden Michael Chandra dari Kuta, Bali. Michael Chandra [MC]: Sekarang ini sebetulnya dari tim sudah mulai jenuh dan stres karena mereka maksimal melakukan penyidikan. Cuma sampai saat ini petinggi-petinggi atau elit di Jakarta ini, khususnya atasan mereka ini, Kapolri nampaknya belum berani untuk mengungkapkan siapa sebenarnya yang melakukan pemboman di Bali. Dan mereka ini juga sangat kecewa dengan pernyataan-pernyataan dari elit politik atau birokrasi yang datang hampir setiap hari, datang cuma nengok sepuluh menit, berangkat kembali ke Jakarta buat statement. Nah ini yang mereka sampaikan: "Kita capek-capek kerja di sini untuk menemukan, terus seenak-enaknya orang mengarahkan ke al-Qaeda, kemudian ke Islam garis keras, atau ekstrem kanan." Karena terakhir yang kami juga sempat mengikuti, mereka menginvestigasi masalah dua nelayan, yang satu ini di kampung Muslim. Tapi tidak juga cukup kuat untuk mengarahkan ke sana. Jadi ada beberapa tim ini secara profesional dan pada dasarnya sudah dapat mengindikasi keterlibatan. Seperti satu tim bilang ada keterlibatan bintang dua. Terus ada satu tim lagi bilang ini belum mengarah ke sana, tapi mengarah ke internasional. Berikut ada inisial nama-namanya. Radio Nederland [RN]: Ya, Michael apakah sumber anda juga sudah katakan mengidentifikasi alasan lebih jelas lagi kenapa hal ini tidak berani diungkap? Apa karena menyangkut seorang jenderal atau petinggi Indonesia? MC: Ya, antara lain itu. Jadi mereka perkirakan kok kenapa setiap kali. Ini kan dinanti-nanti oleh seluruh dunia internasional. Biarpun dampaknya mungkin akan pahit, tapi kan lebih baik diungkapkan segera, daripada nanti menjadi kambing hitam lagi, seperti kasus-kasus sebelumnya. Karena mereka yang di lapangan, yang tiap hari, ini sudah hampir dua minggu ya mereka bekerja, mereka kan merasa kerja mereka ini sia-sia. Buat apa kami di sini, ditahan-tahan terus di sini sementara sebetulnya sudah ada yang bisa diungkapkan ke masyarakat internasional khususnya ke masyarakat Indonesia. RN: Belum ada kabar bagaimana sementara pengejaran itu? MC: Nah ini yang mereka katakan. Kalau pun mau dikejar, kejarlah. Masa mesti memerlukan beberapa lama. Tommy aja bisa ditangkap dengan cepat, kalau mau kan. Kenapa ini nggak bisa? Begini, mereka ada keterlibatan dalam negeri juga sebagai operator lapangan. Tim ini merasakan, hasil kerja mereka sia-sia aja, kalau memang timbul lagi "pengkambinghitaman". Tadi sempat kita juga ikut tim ini untuk lebih jauh mendalami kasus dua nelayan ini. Yang satu tinggal di kampung Muslim. Tapi ini kan sudah diarahkan lebih dahulu oleh petinggi-petinggi di Jakarta. Mereka mengarahkan ke estrem kanan. Tapi tidak ada dasarnya. RN: Artinya sekali pun dia tinggal di kampung Muslim bukan berarti pelaku terlibat dalam gerakan radikal? MC: Betul. Betul sekali. Ini kan mereka melihat bahwa di sini motivasinya orang di lapangan, maupun kurir, itu hanya motivasinya uang. Demikian laporan Michael Chandra dari Kuta, Bali. --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.ranesi.nl/ http://www.rnw.nl/ Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [EMAIL PROTECTED] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. ---------------------------------------------------------------------
