--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia
Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Selasa 29 Oktober 2002 14:20 UTC ** PRESIDEN MEGAWATI TINJAU LOKASI PEMBOMAN SECARA MENDADAK ** JEPANG DAN KOREA UTARA BICARAKAN PEMULIHAN HUBUNGAN DIPLOMATIK ** KABINET KRISIS DI ISRAEL ** PEJABAT TINGGI INSPEKTUR SENJATA PBB CENDERUNG PILIH RESOLUSI KERAS UNTUK MASALAH IRAK ** TOPIK GEMA WARTA: SALING TUDUH MENUDUH ANTARA TNI DAN KEPOLISIAN SOAL PEMBOMAN DI BALI ** TOPIK GEMA WARTA: POLITIK INDONESIA MEMASUKI ORBIT "MAC-ANTI-TEROR" * PRESIDEN MEGAWATI TINJAU LOKASI PEMBOMAN SECARA MENDADAK Presiden Megawati meninjau lokasi pemboman Bali secara mendadak hari ini. Kunjungan tiba-tiba ini dilakukannya dalam perjalanan pulang seusai menghadiri KTT Kerjasama Ekonomi Asia Pasific - APEC, di Meksiko. Dalam kunjungan ini Presiden mendapat penjelasan tentang hasil terakhir penyidikan terhadap serangan bom itu. Sebelumnya Megawati juga telah mengunjungi lokasi pemboman sehari setelah musibah. Saat itu, presiden juga mengunjungi rumah sakit dimana para korban baik WNI maupun WNA dirawat. Namun, ia tidak memberi pernyataan apapun pada media. Di Indonesia, Presiden Megawati mendapat kritik keras tentang kepemimpinannya. Para politisi dan pengamat politik mengecam sikap presiden yang pasif dalam menangani krisis bom Bali dan tekanan internasional terhadap Indonesia. Selain itu Presiden juga dipandang tidak tegas dalam memerangi terorisme. * JEPANG DAN KOREA UTARA BICARAKAN PEMULIHAN HUBUNGAN DIPLOMATIK Jepang dan Korea Utara mulai membicarakan pemulihan hubungan diplomatik antara kedua negara. Pembicaraan dua hari yang diadakan di Malaysia itu dibayang-bayangi oleh pengakuan Pyongyang baru-baru ini; negara itu tetap memiliki proyek nuklir sekalipun melanggar perjanjian. Pengakuan ini mengakibatkan munculnya berbagai kecaman, khususnya dari Amerika Serikat, Korea Selatan dan Jepang. Tetapi menurut seorang diplomat Jepang, Pyongyang menolak untuk menghentikan proyek nuklirnya. Bagi Tokio, masalah lain yang mengganggu pembicaraan adalah nasib ke 13 warga Jepang yang diculik Korea Utara tahun 70-80 an. Korea Utara telah meminta maaf atas penculikan tersebut dan lima warga Jepang yang masih hidup diijinkan mengunjungi tanah airnya untuk sementara waktu. Namun Tokio ingin agar kelima warga Jepang dan keluarganya boleh menetap di Jepang seterusnya. * KABINET KRISIS DI ISRAEL Pemimpin partai Buruh Israel, Menteri Pertahanan Binyamin Ben-Eliezer, menyatakan bahwa partainya akan menolak APBN yang baru. Partai buruh menuntut agar 150 juta Euro yang sedianya dialokasikan bagi para perintis pendudukan, digunakan untuk membantu masyarakat miskin. Perdana Menteri Ariel Sharon mangatakan bahwa ia tidak berminat terhadap permainan politik tersebut. Menurutnya, siapa yang tidak setuju dengan APBN harus mundur dari kabinet.Tanpa partai Buruh, pemerintah Israel pasti akan jatuh dan harus diadakan pemilihan umum yang dipercepat. * PEJABAT TINGGI INSPEKTUR SENJATA PBB CENDERUNG PILIH RESOLUSI KERAS UNTUK MASALAH IRAK Pejabat tinggi inspektur senjata PBB cenderung memilih resolusi keras untuk masalah Irak. Ini dinyatakan oleh ketua inspektur senjata PBB, Hans Blix, dan kepala Lembaga Tenaga Atom Internasional, Mohammed el Baradei, dalam sebuah pembicaraan dengan Dewan Keamanan PBB. Menurut Blix, resolusi harus mencantumkan ancaman konsekuensi militer jika Bagdad menolak bekerja sama dalam inspeksi. Hanya dengan cara inilah permainan 'kucing-kucingan' oleh Bagdad dapat dihindari. Amerika Serikat dan Inggris setuju dengan sebuah resolusi keras terhadap Irak, tetapi Rusia dan Perancis menolak. Presiden Amerika George Bush menyatakan bahwa kesabarannya mulai habis setelah tujuh minggu perundingan resolusi. Di mata Bush, Saddam Hussein telah berhasil mempermainkan Dewan Keamanan PBB. * PELANGGARAN HAM BESAR-BESARAN DI RUSIA Pelanggaran Hak azasi Manusia terjadi secara besar-besaran di Rusia. Hal ini disebutkan dalam sebuah laporan Amnesti Internasional. Laporan ini juga menyebutkan bahwa masalah kekebalan hukum merajalela di Rusia, khususnya di wilayah republik Chechnya. Di wilayah itu, terjadi berbagai perusakan, penjarahan, eksekusi tanpa proses hukum dan penculikan. Polisi dan tentara Rusia sering terlibat dalam tindakan-tindakan tersebut. Namun, para pemberontak Chechnya juga acapkali melanggar HAM. Akibatnya, penduduk sipil banyak menjadi korban kekerasan, seperti yang terjadi dalam penyanderaan ratusan pengunjung sebuah teater di Moskou pekan lalu. Amnesti Internasional menyerukan agar dalam KTT Eropa - Rusia bulan depan, Rusia ditekan untuk melindungi HAM. Selain itu diserukan juga agar Eropa menyatakan sikapnya terhadap perang di Republik Chechnya. * PERSELISIHAN ANTARA CHIRAC DAN BLAIR DI KTT EROPA Presiden Preancis, Jacques Chirac, dan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, berselisih dalam KTT Eropa di Brussel. Chirac menanggapi perselisihan ini secara serius. Menurut Harian Inggris Times, Presiden Perancis itu membatalkan sebuah pertemuan dengan Blair yang direncanakan akan diadakan bulan Desember mendatang. Downing Street membenarkan bahwa kedua pemimpin negara berselisih cukup keras. Perselisihan timbul setelah Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, hendak melakukan pembatasan terhadap Komisi Eropa Untuk Subsidi Pertanian dimana Presiden Chirac terlibat. Cara Blair menyatakan keberatannya terhadap kebijakan subsidi pertanian telah menyinggung Chirac. Presiden Perancis ini mengatakan bahwa Perdana Menteri Inggris,Tony Blair, bersikap sangat kasar. Sebaliknya Blair mengecam bahwa ia tidak diundang dalam pembicaraan awal untuk membentuk komisi subsidi pertanian. * MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK SRPSKA DI WILAYAH BOSNIA-SERBIA MUNDUR AKIBAT SKANDAL SENJATA Menteri pertahanan republik Srpska di wilayah Bosnia-Serbia, Slobodan Milic,mundur karena terlibat skandal penjualan senjata ke Irak. Panglima Tinggi Tentara, Jenderal Novica Simic, juga mundur. Baru-baru ini diketahui bahwa sebuah pabrik senjata di wilayah Bosnia-Serbia telah mengekspor senjata ke Irak. Pemerintah di Banja Luka berharap dengan mundurnya Milic, posisi internasional negara itu akan membaik. Sekalipun demikian, sesungguhnya Milic tidak bertanggungjawab secara pribadi atas penjualan senjata tersebut. * TOPIK GEMA WARTA: SALING TUDUH MENUDUH ANTARA TNI DAN KEPOLISIAN SOAL PEMBOMAN DI BALI Ledakan Bom di Bali masih menyimpan misteri yang belum terpecahkan. Apalagi kalangan penyidik mulai mengeluh mengenai intervensi kalangan ibukota dan intel luar negeri di Bali. Sementara di Jakarta sendiri timbul suasana tuduh menuduh di antara elite politik. Laporan rekan Syahrir dari Jakarta: Di lapangan para perwira mengeluh tentang kecerobohan para pemimpin di Jakarta. Misalnya keterangan Menhankam Matori Abdul Jalil yang dengan mudahnya menuduh Al Qaidah terlibat, tanpa adanya suatu bukti konkrit. Sedangkan para petinggi polisi di Jakarta berusaha menuding TNI dan Ba'asyir. Tidaklah mengherankan jika muncul tudingan bahwa KSAD Ryamizard Ryacudu berada di Bali pada saat terjadi peritiwa peledakan tersebut. Tudingan ini terpaksa dibantah oleh Kadispen TNI AD, Brigjen Ratyono. Bahkan pihak kepolisian telah ditegur Cilangkap agar tidak melanjutkan pemeriksaan terhadap beberapa jenderal. Pers sudah memberitakan bahwa Djadja Suparman dan Nugroho Djayusman telah diperiksa pihak kepolisian. Padahal hal ini tidak benar. Hanya salah satu anggota staff Nugroho saja yang diperiksa. Tuduhan terhadap kedua perwira ini dianggap mengada-ada hanya karena mereka sempat main golf di Bali beberapa saat sebelum terjadi pemboman di sana. Menurut harian Tempo, Nugroho Djajoesman dan mantan Pangkostrad meninggalkan Bali sehari setelah pengeboman. Tapi Djaja membantah hal itu. Tidak kurang dari Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono sendiri yang membantah keterlibatan mereka. "Penyimpulan berlebihan akan menggeser masalah, menimbulkan friksi dan bahkan disintegrasi diantara kita semua", kata Susilo Bambang Yudhoyono yang nampaknya khawatir terjadi perpecahan antar perwira. Sedangkan Panglima TNI Jenderal Endriartono mengatakan: Endriartono: Saya sudah bicarakan sama Kapolri. Jangan saya ada di Bali, Bali meledak toh saya juga dituduh lagi ngebom. Saya pas ada di Jakarta, Jakarta meledak, gua lagi yang ngebom. Gimana dong. Sementara itu para menteri bahkan ketua MPR datang silih berganti ke Bali. Dan meski hanya berada sesaat, mereka berani membuat kesimpulan-kesimpulan yang naif. Kemarin untuk kedua kalinya Presiden Megawati mengunjungi Bali untuk melihat lokasi terakhir tempat ledakkan. Hingga kini telah 100 dari 184 korban yang meninggal telah teridentifikasi. Sesuai petunjuk Presiden maka identifikasi terhadap jenazah korban akan diselesaikan selambat-lambatnya akhir November 2002. Megawati: Sampai hari ini 100 sudah bisa diidentifikasi, sehingga sisanya masih ada 86. Dan di rumah sakit masih ada 11 yang diopname, sehingga mudah-mudahan saya memberikan suatu waktu bahwa maskimal nanti akhir November ini semuanya sudah bisa terselesaikan. Tetapi banyak orang pesimis bahwa pelaku teror yang sesungguhnya akan tertangkap. Pihak kepolisian Indonesia pun saat ini merasa dalam keadaan yang terjepit karena begitu banyak pesan sponsor yang ada. AS misalnya menghendaki agar penyidikan tidak diarahkan ke Washington dan tentara Indonesia. Sebaliknya pihak Australia ingin laskar-laskar Islam yang dilibatkan. Mereka tahu ada pihak militer tertentu yang berada di belakang laskar-laskar tersebut. Di kalangan polisi pun ada yang percaya bahwa intel Pakistan bermain dibelakang peledakkan. Mereka punya hubungan erat dengan mantan relawan Indonesia yang dahulu dilatih di Afghanistan. Ketika itu banyak mujahid Indonesia yang bekerjasama dengan teman-temannya Usamah Bin Laden tanpa menyadari bahwa mereka sesungguhnya masuk jaringan CIA. Jaringan Usamah memang sudah lama di Asia Tenggara. Dan memang ada link dengan militer Indonesia ketika Soeharto masih berkuasa. Segera setelah Soeharto jatuh militer pro-Soeharto mendukung didirikannya kamp-kamp latihan militer Al-Qaidah. Mantan pejabat BAKIN A.C Manulang mengatakan, bukan tidak mungkin pelakunya bekas TNI yang direkrut AS. Ridwan Isamuddin alias Hambali sementara itu dituduh sebagai operator pengeboman di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Filipina. Namun Wakil Kepala BIN, As'ad Said saudara ipar Gus Dur mengatakan, gerakan ini memang ada di Indonesia tetapi pengikutnya tidak banyak. Sebagian besar faksi DI/TII, dan motifnya persaingan di antara mereka untuk saling menjatuhkan. Pendiri Jamaah Islam sendiri sudah keluar dari Darul Islam tahun 80-an. Ia juga membantah bahwa Jamaah Islam di Indonesia adalah sel tidur atau sleeping agentnya Al Qaidah seperti yang digambarkan media barat. Pada pokoknya ia meremehkan peran Hambali cs. Bahkan ia mengatakan anggota Jamaah Islam itu miskin-miskin. Bahkan ada yang hanya menjadi tukang ojek. Jadi apa yang sesungguhnya sedang terjadi di Indonesia? Masyarakat umumnya percaya, intel Amerika, Pakistan dan Indonesia yang merancang skenario pemboman tersebut. Ditahannya serta kemudian dibebaskannya sejumlah orang Pakistan baru-baru ini tak lepas dari permainan intel. Keterlibatan seorang pengusaha Indonesia keturunan Pakistan juga disebut-sebut kalangan pers Indonesia. Dalam hubungan ini menarik untuk melihat bagaimana jurubicara BIN Muchyar Yara setiap hari mengarahkan pers agar memuat isyu-isyu tertentu yang menguntungkan KaBIN Hendropriyono. Maka tepatlah apa yang dikatakan Menko Polkam Susilo Bambang Yudoyono bahwa bisa terjadi disintegrasi di Indonesia. Disintegrasi di kalangan elit politik dan militer. Bukan rahasia lagi bahwa yang sebenarnya ingin mengkoordinasi intel adalah pihak Cilangkap. Bukankah semasa Soeharto berkuasa, koordinator intelijen selalu berada di tangan Cilangkap? Tetapi sekarang justru jatuh ditangan BIN. Peran AS juga dipertanyakan. Ucapan Taufik Kiemas kepada pers bahwa dalam waktu 4 tahun 4 presiden Indonesia bisa jatuh, patut pula direnungkan. Misalnya bagaimana Soekarno dulu dijatuhkan CIA. Demikian pula Habibie dan Gus Dur. Kemungkinan Taufik tahu bahwa CIA kembali sedang bermain di Indonesia. Karena itu pula Ba'asyir ditahan. Taufik dan Megawati pun mengetahui bahwa angkatan laut Amerika sudah masuk perairan Indonesia. Hal yang sama terjadi ketika Soeharto mau dilengserkan. Jika Ba'asyir dalam suatu wawancara mengatakan bahwa Megawati harus memilih antara Islam atau Kafir, maka Mega nampaknya lebih suka memilih dituduh "kafir" ketimbang dijatuhkan AS. * POLITIK INDONESIA MEMASUKI ORBIT "MAC-ANTI-TEROR" Setahun setelah Peristiwa Sebelas September yang membuat Amerika Serikat memproklamasikan kampanye global melawan teror, dampaknya sekarang melanda kawasan Asia Pasifik. Menyusul Aksi Teror Bali, KTT 21 negara Asia dan Pasifik di Meksiko memperlihatkan pengaruh kuat adidaya Amerika dan dunia Barat. Bukan pelaksanaan liberalisasi perdagangan yang disepakati dalam KTT APEC di Bogor delapan tahun silam, melainkan soal anti teror yang muncul menjadi agenda KTT APEC di Meksiko. Kampanye Anti Teror, seperti halnya Mac Donald, menjadi trend dunia. Jadi, akankah politik luar negeri Indonesia terjebak orbit baru: Mac Anti Teror, atau Perang Global Melawan Teror di bawah kepemimpinan Amerika? Ulasan redaksi di Hilversum. Kampanye anti teror, kini menjadi komoditi politik dunia. Tidak hanya dunia fast food, tapi juga kampanye anti teror telah mengikuti jejak Mac Donald. Globalisasi kampanye anti teror, alias Mac Anti-Teror, menyusul perang di Afghanistan, kampanye anti-Irak, serangan serangan terhadap kapal Prancis dan Amerika di Teluk, dan terutama, menyusul aksi teror di Kua, Bali, -- menyusul semua itu, sekarang Mac-AntiTeror juga melanda Asia Pasifik. KTT APEC di Meksiko telah dibajak oleh para teroris, demikian ungkap seorang pengamat Amerika secara sinis. Dengan kata lain, kampanye anti teror telah menjadi agenda, tidak saja dalam KTT APEC, namun boleh jadi juga dalam percaturan politik dan diplomatik negara negara Asia Pasifik dalam waktu waktu mendatang. Masalahnya, semua itu datang di saat saat yang amat buruk bagi Indonesia, yaitu ketika Indonesia masih bergulat dengan krisis dan berada di bawah kepemimpinan nasional yang lemah. Bukan pertama kali perubahan politik dunia melanda Indonesia. Semasa Presiden Soekarno, Indonesia malah berupaya merintis perubahan ini dengan penampilan yang kuat dalam ajang negara negara bekas-jajahan Asia Afrika. Menyusul solidaritas Asia Afrika, Soekarno malah mencoba memperkuat barisan dengan apa yang disebutnya dunia New Emerging Forces. Di bawah Presiden Soeharto, Indonesia jelas memasuki orbit politik Barat yang datang dengan modal asing dan memacu pertumbuhan ekonomi. Politik bebas-aktif diuji dan ditempa. Bahkan sempat diguncang Perang Dingin menyusul kemenangan Vietnam terhadap Amerika tahun 75. Sejak itu, tak ada lagi setiakawan Asia-Afrika sejak tentara Indonesia menyerbu Timor Timur yang mengisyaratkan zaman baru di mana negara bekas jajahan kini malah menjadi negara penjajah. Akan tetapi di dalam perjalanan Orde Baru itu, politik luar negeri Indonesia tetap merupakan politik sendiri yang tegak dan kuat berkat represi dan stabilitas pemerintahan Soeharto. Berkat itu, Indonesia menjadi pemimpin ASEAN. Memasuki abad ke 21, Indonesia berada di pintu zaman baru dengan posisi yang tergopoh-gopoh. Krisis moeneter dan kemerosotan di berbagai bidang menyusul jatuhnya Soeharto menghantar Indonesia ke dalam posisi lemah, juga di dalam politik luar negerinya. Menyusul Peristiwa Sebelas September, Indonesia mencoba berdiri tegak, tanpa terlampau mengindahkan desakan para adidaya Barat agar memacu pemberantasan anti-teror. Indonesia sendiri dipimpin oleh pemimpin yang lemah, tanpa visi dan ilham, bahkan nyaris tanpa suara. Maka, di bawah kepemimpinan Megawati, kelompok Islam radikal, dengan atau tanpa bantuan unsur unsur tentara, seolah mendapat peluang, dan memanfaatkannya. Dengan terjadinya aksi teror di Bali, maka kepemimpinan Megawati diuji. Baru setelah Peristiwa bali, Indonesia yang semula dituduh menjadi mata-rantai lemah dalam kampanye anti-teror, kini bangun. Menjelang bertolak ke Meksiko, Presiden Megawati unjuk gigi dengan mengeluarkan Perpu Anti Terorisme, yang sekaligus memberi angin kepada kekuatan pimpinan tentara yang menjadi sandarannya. Tak heran, ada yang mengatakan, dengan wajah Indonesia yang manis, maka APEC pun dengan mulus bergeser ke agenda anti teror. APEC sekaligus membuktikan bahwa kumpulan setengah-informal dari 21 negara Asia Pasifik ini sangat rawan terhadap isu isu dunia, dan mudah menjadi wahana bagi adikuasa. Dalam KTT APEC di Wellington, Selandia Baru, pada tahun 99, juga bukan isu liberalisasi melainkan soal kekerasan di Timor Timur yang mendadak menjadi tema baru, yaitu ketika dunia, yaitu Presiden Clinton dengan didukung negara negara alinnya, memutuskan mengirim tentara Australia atas nama PBB ke TimTim. Semua itu memperlihatkan KTT APEC Meksiko kini menjadi awal yang dapat menggiring negara negara Asia Pasifik, terutama Indonesia dengan mayoritas Muslim terbesar, yang baru dilanda teror Bali, menuju suatu orbit baru -- orbit Mac-Anti-Teror. Persoalannya, apakah seberapa jauh semua itu akan membawa bahaya bagi arus demokratisasi sejak yang mengubah Asia sejak akhir 1990an? Akankah aturan main seperti Perpu Anti Terorisme di Indonesia, atau Security Acts di Malaysia dan Singapura misalnya menjadi wahana bagi perubahan politik bagi mereka yang berkuasa. Menarik, dalam konteks ini, Doktor Chandra Muzaffar meperingatkan bahwa KTT ASEAN dalam waktu dekat menjadi ujian bagi kawasan ini. Kalau ASEAN dilanda agenda baru yang datang dari luar seperti APEC, KTT di Pnom Penh ini bisa menimbulkan perpecahan, katanya: Chandra Muzaffar [CM]: Saya tidak menganggap Abu Bakar Baasyir sebagai seorang pemimpin Islam yang mewakili satu kelompok besar. Sebenarnya Beliau hanya mewakili golongan pinggiran. Radio Nederland [RN]: Ya, akan tetapi dewasa ini Indonesia maupun Asia Tenggara berada di bawah tekanan dunia Barat, Amerika, menganggap Indonesia perlu mengambil tindakan terhadap orang-orang yang dianggap radikal seperti Abu Bakar Baasyir ini? CM: Walaupun Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar kononnya pernah bertapa di Malaysia, tetapi pengaruh mereka begitu terbatas. Dan mereka tidak dikenali oleh sebagian besar masyarakat Muslim di Malaysia. Dan saya tidak menganggap bahwa penangkapan Abu Bakar Baasyir akan membawa kesan-kesan negatif di Malaysia. Tidak mungkin. Saya berpendapat bahwa pelaksanaan undang undang yang berkesan itu perlu. Dan saya kira ada bukti individu-individu yang terlibat dalam keganasan [teror, Red.] harus ditahan. Tapi mengikut proses perundangan. Saya tidak mau suatu keadaan di mana proses perundangan itu diketepikan. Ini yang bahaya karena Indonesia baru muncul daripada cengkeraman otoriter yang berlaku selama tiga dasawarsa. Dan saya kira kita tidak menggalakkan proses demokrasi ini berakar umbi di Indonesia. Ini sungguh bahaya kepada Indonesia dan rantau ini. RN: Bagaimana Anda melihat perbedaan sikap antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Malaysia setelah ada kelompok-kelompok yang dituduh sebagai bagian dari jaringan Al-Qaeda? Apakah Malaysia lebih berhasil menghadapi mereka? CM: Mungkin lebih berhasil karena keadaan dan persekitaran Malaysia jauh berbeda. Keadaan politiknya jauh lebih stabil. Malaysia tidak pernah diperintah oleh militer. Kerajaan [pemerintah, Red.] kita sipil dari dulu. Kita mengamalkan sistem demokrasi walaupun ada banyak kelemahan, tapi mengamalkan sistem demokrasi. Dan yang lebih penting ekonomi kita itu stabil. Kita tidak menghadapi masalah pengangguran seperti Indonesia dewasa ini. Kita tidak menghadapi kemerosotan ekonomi. Tapi yang lebih penting negara-negara Asean yang lain, jiran-jiran Indonesia, dan kuasa-kuasa besar seperti Amerika Serikat, memberi tumpuan kepada masalah soal ekonomi dan sosial politik. Daripada soal undang-undang dan dan cara-cara tertentu yang digunakan untuk mengatasi keganasan. RN: Tetapi apakah menurut anda Perpu anti terorisme Indonesia yang baru ini tidak lebih represif dari pada Internal Security Act aturan keamanan Malaysia? CM: Yang saya tahu, peraturan baru di Indonesia masih membenarkan proses penghakiman jadi si tertuduh harus dibawa ke Mahkamah. Walaupun dia ditahan selama satu tahun tapi sekiranya ada bukti, dia harus dibicarakan. Tapi akta keselamatan negri di Malaysia ini tak ada pembicaraan di Mahkamah. Menurut hemat saya undang-undang di Indonesia itu lebih baik dari yang di Malaysia. Dari Segi Hak Azasi Manusia itu lebih baik dari pada yang di Malaysia. Sekurang-kurangnya si tertuduh dapat mempertahankan dirinya di Mahkamah. RN: Anda tadi menyebut Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir, tapi masih banyak yang lain yang belum tertangkap. Mereka ini pada jaman Suharto berada di Malaysia terutama di Kuala Langat, di Sungai Manggis Selangor. Mengapa Malaysia bisa menjadi sarang bagi tokoh-tokoh radikal ini? CM: Saya tidak menganggap Malaysia sebagai sarang untuk tokoh-tokoh radikal, yang saya tahu dari sumber-sumber, mereka masuk Malaysia hanya untuk menjalankan kegiatan-kegiatan dakwah dan tidak terlibat dalam kegiatan politik sama sekali. Dan mereka tidak berkecimpung dalam politik partai-partai atau pergerakan Islam, mereka hanya menjalankan dakwah dan lebih tumpukan pada Indonesia. Walaupun mereka melakukan tapa di Malaysia, tumpuan mereka atau fokusnya tetap Indonesia. Mereka hanya menggunakan Malaysia itu sebagai tempat perlindungan. RN: Bagaimana pendapat anda tentang apa yang disebut Jemaah Islamiyah? Apakah ini berkembang dari Malaysia kemudian membuka jaringan dari situ? CM: Jemaah Islamiyah disebut-sebut sebagai satu jaringan tapi bukti yang ada pada hemat saya tidak begitu meyakinkan karena tidak dapat membuktikan siapa yang menjadi pemimpin. Sekalipun Abu Bakar Ba'asyir disebut sebagai pemimpin ia membantahnya. Dan tidak bukti pula tentang jaringan, operasi, keuangan dan sebagainya. Demikianlah Chandra Muzaffar di Malaysia. --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.ranesi.nl/ http://www.rnw.nl/ Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [EMAIL PROTECTED] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. ---------------------------------------------------------------------
