---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Kamis 28 November 2002 14:40 UTC



** 11 ORANG TERBUNUH BOM DI HOTEL KENIA, PERSINGGAHAN WISATAWAN
ISRAEL

** AUSTRALIA, KANADA DAN UNI EROPA TUTUP KANTOR KEDUTAAN DI FILIPINA

** HARI KEDUA TUGAS INSPEKSI SENJATA IRAK

** TOPIK GEMA WARTA: BOM BALI DAN SURUTNYA PERAN ISLAM RADIKAL

** TOPIK GEMA WARTA: AMROZI SENYAM-SENYUM, MANGKU PASTIKA TINGGALKAN
BALI, AUSTRALIA BINGUNG

** TOPIK GW RABU : BERANIKAH GUTERRES BERSUARA MELIBATKAN
JENDRAL-JENDRAL  TNI?



* 11 ORANG TERBUNUH BOM DI HOTEL KENIA, PERSINGGAHAN WISATAWAN ISRAEL


Sebuah bom meledak di hotel di pantai Mombasa Kenia. 11 orang
terbunuh dan puluhan lain luka-luka. Hotel tersebut sering disinggahi
wisatawan Israel. Para korban tewas adalah warga Israel dan Kenia
serta tiga orang kemunginan pelaku.

Dalam waktu yang hampir bersamaan pesawat Israel yang baru saja
tinggal landas di bandara Mombasa, ditembaki dengan mortir. Pesawat
carter Arkia itu tidak mengalami kerusakan dan bisa melanjutkan
penerbangan kembali ke Tel Aviv, Israel. Sehubungan dengan insiden
penembakan ini, maskapai lain Israel, El Al untuk sementara tidak
menerbangkan pesawat-pesawatnya yang berada di bandara asing. Hingga
saat ini belum ada pihak yang menyatakan bertanggungjawab. Tahun 1998
di Kenia dan Tanzania terjadi pemboman terhadap kedutaan Amerika
Serikat. Aksi pemboman itu membunuh 224 orang. Amerika Serikat
menuduh Al Qaeda pimpinan Usama bin Laden pelakunya.


* AUSTRALIA, KANADA DAN UNI EROPA TUTUP KANTOR KEDUTAAN DI FILIPINA


Australia, Kanada dan Uni Eropa menutup kantor perwakilan di
Filipina, sehubungan ancaman aksi kekerasan milisia islam.
Kedutaan-kedutaan asing di Manila Filipina dijaga ketat aparat
keamanan. Pemerintah Australia, Kanada dan Uni Eropa menerima ancaman
konkrit, mengenai persiapan aksi kekerasan. Kedutaan Amerika Serikat
sudah menutup kedutaannya sehubungan dengan apa yang disebut
Thanksgiving day. Kedutaan AS buka kembali Jum'at besok. Sementara
itu Britania Raya memutuskan tetap membuka kantor kedutaannya.


* HARI KEDUA TUGAS INSPEKSI SENJATA IRAK


Inspektur senjata PBB melanjutkan tugas pelacakan senjata Irak, Kamis
ini. Hari pertama Rabu kemarin, tim inspeksi mengunjungi sebuah
pabrik dan laboratorium yang memproduksi bahan suntikan. Instalasi
pabrik itu terletak beberapa puluh kilometer dari ibukota Bagdad.
Para petugas PBB dan pendamping dari Irak diijinkan langsung masuk
lokasi-lokasi yang mereka kehendaki. Rabu kemarin para inspektur PBB
menyatakan puas dengan pelayanan Irak.


* PEMIMPIN PARTAI PEMERINTAH TURKI INGIN MEREVISI UUD


Recep Tayyip Erdogan pemimpin partai AK yang berkuasa di Turki,
menyatakan bahwa negaranya harus merevisi Undang-Undang Dasar dan
menerapkan reformasi. Perombakan itu diperlukan untuk memperlancar
proses Turki menjadi anggota Uni Eropa, demikian Erdogan seusai
bertemu Presiden Prancis, Jacques Chirac di Paris. Dalam pertemuan
itu Presiden Chirac menyatakan, tidak mendukung keanggotaan Turki
yang terlalu cepat.
Menurut Erdogan, pemerintah Turki terutama ingin menyetarakan
undang-undang pemilu dan undang-undang parpol dengan standar Uni
Eropa. Turki adalah negara calon anggota Uni Eropa, tetapi tidak
pernah ditetapkan tanggal pembicaraan untuk keanggotaan penuh.
Erdogan, pemimpin partai AK, Jum'at besok mengunjungi Perdana Menteri
demisioner Belanda, Jan-Peter Balkenende.


* PEMILIHAN PEMIMPIN PARTAI KANAN ISRAEL


Di Israel, berlangsung pemilihan pemimpin baru partai kanan Likud.
Dua calon yang bersaing adalah Ariel Sharon perdana menteri sekarang
dan Menteri Luar Negeri, Benjamin Netanyahu. Jajak pendapat
menunjukan keunggulan telak Ariel Sharon. Pemenang pemilihan ini akan
memimpin partai Likud dalam pemilihan umum Israel akhir Januari
mendatang. Karena jajak pendapat menunjukkan keunggulan partai kanan
Likud atas partai Buruh, maka besar kemungkinan Ariel Sharon kembali
menjabat perdana menteri untuk lima tahun mendatang. Israel
mempercepat pemilu, setelah partai Buruh menarik dukungan koalisi,
bulan lalu.


* PEMIMPIN OPOSISI PANTAI GADING LARI KE GABON


Pemimpin oposisi Pantai Gading, Alassane Ouattara lari ke luar
negeri, kemungkinan besar di Gabon. Diperkirakan Ouattara mendapat
pertolongan Prancis. Sejak September silam ia bersembunyi di kediaman
duta besar Prancis di ibukota Abijan, setelah terjadi kudeta yang
gagal. Para pendukung Presiden Laurent Gbagbo menuduh Ouattara,
terlibat kudeta itu.


* SALAH SEORANG WARGA ALJAZAIR YANG DIADILI PRANCIS ADALAH BURUN
BELANDA


Satu dari lima warga Aljazair yang sekarang sedang diadili Prancis
adalah buronan Belanda. Lima orang tersebut ditangkap akhir pekan
silam dengan tuduhan kegiatan teror. Saat ini mereka sedang diperiksa
kepolisian Prancis. Tiga diantaranya untuk sementara dilepas.
Sementara dua orang masih ditahan. Salah satunya warga Aljazair 25
tahun yang melarikan diri dari penjara Breda, Juni silam. Mereka
dituduh anggota organisasi islam garis keras Aljazair yang punya
hubungan dengan jaringan Al Qaida. Kepada pengadilan Prancis, Belanda
menyatakan ingin juga mengadili buron warga Aljazair itu.


* BOM BALI DAN SURUTNYA PERAN ISLAM RADIKAL

Intro: Beda pendapat antara Menteri Pertahanan Matori Abdul Djalil
dengan Majelis Ulama Indonesia, dalam hal ini dengan Sekjen MUI Din
Syamsuddin makin sulit terjembatani. Menhan Matori melihat sudah
jelas Jamaah Islamiyah dan Al Qaidah aktif di Indonesia. Sedangkan
menurut Din Syamsuddin tuduhan itu harus dibuktikan dulu di
pengadilan. Di luar selisih pendapat ini, harus diakui bahwa citra
Islam Indonesia pasca bom Bali cukup tercemar. Kalau begitu bagaimana
memperbaikinya? Koresponden Syahrir mengirim laporan berikut dari
Jakarta.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas Islam meminta pihak aparat
yang berwenang untuk menjatuhkan hukuman seberat-beratnya terhadap
pelaku peledakan bom Bali jika terbukti bersalah. Sekretaris Umum MUI
Din Syamsudin yang didampingi Ketua MUI Amidhan dan KH Ma'ruf Amin,
sempat menyatakan MUI tidak akan membela-bela pelaku peledakan bom
Bali jika nanti terbukti lewat proses hukum yang adil, meski pun
mereka dari kalangan umat Islam. MUI dan ormas Islam juga mendesak
agar Polri mengungkap aktor intelektual di balik peledakan bom
tersebut. Polri perlu mengusut dan mengklarifikasi fakta mau pun
indikasi tentang keterlibatan pihak asing, baik intel maupun non
intelijen.

Akibat peledakan bom di Bali memang telah terjadi stigmanisasi
terhadap umat Islam yang dikesankan seolah-olah identik dengan
pembom. Selama ini memang sebagian besar organisasi Islam menilai,
pengungkapan kasus Bali belum tuntas karena belum menyangkut isu
keterlibatan pihak asing utamanya dinas rahasia Amerika CIA. Sejumlah
kalangan elit Islam, utamanya kalangan Islam radikal, sempat
mengkritik ucapan-ucapan  Menteri Pertahanan Matori Abdul Djalil.
Soalnya jauh-jauh hari Matori yang berasal dari NU, penganut Ahlul
Sunah Wal Jamaah, sudah mengaitkan pelakunya dengan Al Qaeda. Maka
tidaklah mengherankan jika MUI mengimbau semua pihak untuk tidak
buru-buru melakukan penilaian  terhadap orang-orang atau organisasi
tertentu tanpa proses hukum yang adil, terbuka dan independen.

MUI tampaknya ingin agar tim yang menangani kasus bom Bali melakukan
kerjanya secara profesional. Karena selama ini masih terdapat
persoalan mengganjal, antara lain belum ditemukannya asal usul RDX
dan TNT yang residunya ditemukan di lokasi kejadian. Patut diketahui
bahwa RDX tidak diproduksi di Indonesia. Maka wajarlah jika ada
spekulasi bahwa ada keterlibatan pihak asing dalam kasus ini. Apa
lagi sebelumnya muncul perkiraan adanya unsur mikro nuklir dalam
ledakan itu. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya korban yang tubuhnya
sirna.

Bila Imam Samudra Cs terbukti benar-benar bersalah, kalangan Islam
tidak yakin lelaki bertampang tenang ini adalah aktor intelektualnya.
Itulah sebabnya MUI berseru agar aparat penegak hukum menemukan aktor
intelektualnya. MUI ingin membuktikan secara hukum bahwa kasus
pemboman di Bali tidak terkait dengan Organisasi-organisasi Islam di
Indonesia. Bukankah Suripto, seorang pengamat militer sempat
mengungkap tentang keterlibatan elit militer dalam peristiwa ini,
sehingga ia akhirnya  ditangkap? Indikasinya bahwa untuk melakukan
pemboman yang dahsyat diperlukan orang-orang terlatih, baik dalam
perakitan mau pun dalam eksekusi di lapangan.

Namun dugaan ini segera dibantah oleh pihak kepolisian. Para pelaku,
ujar sumber di kepolisan, pernah tinggal di Afghanistan. Jadi ada
kemungkinan mereka memiliki keahlian untuk melakukan tindakan teror
sedahsyat itu. Selain itu, berdasarkan alat bukti yang ada, mereka
memiliki buku panduan untuk membuat bom, bahan-bahan dan cara
perakitannya. Oleh karena itu, Amrozy yang pertama-tama ditangkap
polisi, meski pun hanya lulusan Sekolah Dasar memiliki kemampuan
mengubah telepon seluler yang tidak ada sinyal menjadi ada sinyal.
Dengan ketrampilan yang mereka miliki ini, masyarakat tidak bisa
begitu saja meremehkan mereka.

Mulyana W. Kusumah, kriminolog yang juga anggota KPU mengungkap hal
menarik. Saat Imam Samodra ditangkap polisi di Pelabuhan Merak,
memakai baju dengan gambar yang sama dengan yang dipakai oleh Tommy
Soeharto saat ditangkap. Yaitu kaos bergambar bintang. Hanya saja
warnanya lain. Kaos yang dipakai Tommy berwarna putih, sedang yang
dipakai Imam Samodra berwarna hitam. Tapi disainnya sama. Apakah hal
ini kebetulan belaka? Atau ada keterkaitan peristiwa teror di
Indonesia dengan Tommy Soeharto?

Seorang mantan tokoh Malari, yang dekat dengan kalangan perwira
tinggi kepolisian, mencurigai polisi agak "bermain" dalam masalah
kasus Bali ini. Bukankah dalam kasus pemboman mesjid Istiqlal dahulu
polisi pun menahan seorang pemuda berumur 17 tahun dari rumah singgah
dan menuduhnya sebagai aktor dan pelaku pemboman? Bisa saja memang
polisi melakukan suatu kecerobohan. Tapi yang jelas, dengan peristiwa
pemboman di Bali yang disertai kampanye anti-teroris secara
besar-besaran, ada kalanya muncul opini yang menyudutkan umat Islam.

Gerakan Islam  di Indonesia utamanya gerakan-gerakan Islam radikal
tidak lagi leluasa bergerak karena senantiasa dihantui oleh stigma
bahwa mereka adalah pendukung terorisme. Situasi ini tentu saja
menguntungkan kalangan sekuler yang memang mayoritas di Indonesia.
Memang kalau pun ada orang Islam khususnya yang terlibat dalam
terorisme sangatlah tidak adil bila semua umat Islam dicurigai
sebagai teroris. Kalangan pendukung Habib Rieziq dari FPI misalnya
mengatakan bahwa mereka  penganut Ahlul Sunah Wal Jamaah. Berbeda
dengan kalangan teroris yang umumnya pendukung mazhab Wahabi.
Sedangkan kalangan Wahabi mengatakan, isu terorisme sengaja
dibesar-besarkan untuk melemahkan perjuangan umat Islam dalam
mendorong tatanan dunia yang lebih adil.

Para tokoh Islam tertentu juga menyesalkan pernyataan Menteri
Pertahanan Matori Abdul Djalil yang sebelum terjadinya peristiwa
pemboman Bali sudah berspekulasi bahwa di Indonesia ada gerakan yang
disebut Jemaah Islamiyah. Pernyataan Matori ini dianggap sebagai
kampanye awal untuk melemahkan gerakan Islam radikal. Apalagi
pemboman di Bali memunculkan citra bahwa yang seolah-olah membenarkan
sinyalemen menteri pertahanan itu. Padahal aktor intelektualnya belum
jelas benar.

Dalam hal ini, Egie Soedjana dari Tim Pembela Muslim yang menjadi
kuasa hukum Imam Samodra menyatakan bahwa Imam Samodra tidak pernah
bicara terlibat pemboman kepada polisi. Selama ini berita yang
beredar hanya berasal dari keterangan polisi, antara lain pernyataan
Kapolri Da'i Bachtiar. Untuk itu Egie Soedjana akan melakukan gugatan
terhadap Kapolri yang dituduhnya telah melakukan kebohongan terhadap
publik.

Sedangkan Ray Rangkuti, sarjana lulusan IAIN Syarif Hidayatullah
Jakarta yang kini menjabat koordinator Komite Independen Pemantau
Pemilu (KIPP), menghimbau agar proses penyidikan dilakukan secara
profesional, terbuka dan independen. Ray juga menghimbau agar
perbuatan orang per orang tidak dikaitkan dengan Organisasi atau
ideologi tertentu. Dalam kasus ini Ray mengakui memang ada
kelompok-kelompok Islam di Indonesia yang menerapkan ajaran mirip
dengan yang diajarkan oleh kelompok Taliban di Afghanistan. Mereka
berasal dari satu rumpun yang acap disebut sebagai golongan Wahabi,
dengan ciri-ciri lelakinya memakai jubah dan biasanya berjanggut
sedangkan perempuannya memakai cadar dan seluruh tubuhnya selain
mata, tertutup.

Ray Rangkuti:
"Memang harus dibedakan antara Islam sebagai seperangkat nilai, dan
kebudayaan Arab sebagai seperangkat budaya juga. Hanya saja
kesulitannya adalah Islam itu banyak tumbuh di negara dimana
kebudayaan Arab itu juga merupakan suatu yang indipenden.Tapi saya
pikir memang pada dasarnya kan agama, termasuk Islam dalam hal ini
sangat lentur terhadap kebudayaan yang bersentuhan dengan dirinya
gitu. Paling penting dari agama itu kan sebetulnya kan substansinya.
Bahwa agama mengajarkan ini, ini, ini tapi tidak juga dengan serta
merta mengimpor kebudayaan dimana agama itu muncul"


* AMROZI SENYAM-SENYUM, MANGKU PASTIKA TINGGALKAN BALI, AUSTRALIA
BINGUNG


Ketua Tim Investigasi Bom Bali Irjen I Made Mangku Pastika
diberitakan meninggalkan Bali dan kembali ke Jakarta untuk
berkonsentrasi pada tugas-tugas lain. Menanggapi berita itu Menteri
Luar Negeri Australia Alexander Downer menyatakan amat terkejut,
padahal tim yang dipimpin I Made Mangku Pastika melakukan tugas
dengan baik sekali. Apa yang penyebab tanggapan semacam itu? Radio
Nederland mencari jawabannya pada Prof. Arief Budiman, Direktur Studi
Indonesia di Universitas Melbourne Australia.

Arief Budiman [AB] : Saya kira kita harus tunggu sebentar dulu untuk
mengetahui apa yang terjadi. Karena ada dua kemungkinan ini promosi
atau demosi. Sering kali orang di Indonesia itu dinaikin pangkatnya
terus ditaruh ditempat yang lebih kuat, itu maksudnya diundurkan
gitu. Jadi bener-bener set back, atau memang betul-betul dia
dipromosi. Kalau dia didemosi itu mungkin masalahnya adalah, ini
mungkin ya..kita tidak punya datanya, bahwa mungkin dalam
penelitiannyam dalam bom Bali itu, dia sudah bisa menangkap Amrozi,
Imam Samudra tapi pada saat ini mungkin ada unsur-unsur militer
barangkali orang penting di Jakarta yang terlibat. Sehingga
membahayakan kalau diteruskan, sehingga akhirnya dia dipindahkan
didemosi ke atas, gitu ya.

Tapi bisa juga suatu promosi. Kalau promosi artinya Pastika yang
dikenal tampaknya orangnya cukup berani dan cukup profesional, itu
mungkin diminta supaya dia pada tahap yang sekarang, sesudah Imam
Samudra ditangkap ini mustinya atasannya lagi itu merupakan orang
yang penting. Dan biasanya pada level penting ini, mencari mereka itu
sukar sekali. Kalau tangkap Amrozi barangkali masih gampang, pada
Imam Samudra juga.  Tapi sesudah itu mungkin hubungannya sangat
profesional sehingga sukar sekali untuk ditemukan siapa yang jadi
boss-nya. Karena mungkin mereka enggak berhubungan langsung seperti
halnya Amrozi dan Imam Samudra.
Jadi ada dua kemungkinan itu. Memang Pastika itu ditaroh di Jakarta
di tempat yang lebih strategis atau justeru dia dijauhkan supaya dia
tidak campur lagi dengan masalah ini, karena dikuwatirkan akan kena
kepada tokoh-tokoh politik ataupun seorang jendral yang masih punya
kekuasaan besar.

Radio Nederland [RN] : Sementara bagi anda saja seorang pakar belum
jelas ya. Apakah ketidakjelasan ini bukannya sangat membingungkan
bagi Australi?

AB : Iya, saya kira membingungkan juga. Dari Australi mereka juga
masih menebak apa yang terjadi sebenarnya pada Pastika. Karena di
Indonesia susahnya itu ya.. ada yang istilah jatuh ke atas. Jadi
kalau orang mau digeser itu tidak diturunkan pangkat atau dipecat
tapi dinaikkan pangkatnya tapi kehilangan fungsinya. Nah ini yang
belum jelas pada Pastika.

RN :Namun sementara itu ada tanggapan dari Kementrian Luar Negeri
Australia yang mengatakan sangat terkejut dengan perkembangan ini.
Apakah ini kemudian akan berdampak kepada hubugan Australi-Indonesia?

AB : Kalau saya kira sih enggak akan berdampak. Karena hubungan
Australia-Indoneisa itu dibilang erat ya erat, tapi konfliknya banyak
juga. Saya kira pada hubungan Australia-Indonesia itu suatu kebutuhan
dari kedua negara. Kalau konflik itu terjadi terus menerus sehingga
antara tegang dan juga tetap erat. Saya kira masalah Pastika sih
tidak begitu besar, apalagi Indonesia mengalami banyak tekanan
internasional. Dan juga ada Australian Federal Police itu masih
kerjasama dengan Polisi. Mereka ada di Indonesia, jadi mereka banyak
membantu ya. Kecuali kalau sampai polisi dari Australia ini diusir
dari Indonesia. Meskipun kalau Downer (Menlu Australia red.) kecewa
tapi selama Australian Federal Police itu masih ada di Bali dan juga
diJakarta, hubungannya masih jalan terus.

RN : Sebelumnya wawancara Jendral Da'i Bachtiar dengan Amrozi yang
tertawa-tawa, tersenyum-senyum itu sudah menimbulkan kejengkelan di
Australi, kemudian disusul lagi dengan berita perkembangan ini.
Bagaimana kelanjutannya?

AB : Kejengkelan yang Amrozi itu ketawa-tawa sebenarnya hanyalah
masalah kebudayaan, saya kira. Karena kalau kita kan bangsa Indonesia
selalu ketawa. Seperti kita juga tidak pernah mengerti, ingat enggak
waktu Soeharto menandatangani perjanjian dengan Bank Dunia. Lalu
Camdessus itu berpangkutangan gitu, itu kan menimbulkan masalah
karena dianggap sombong. Padahal di Barat enggak ada masalah. Tapi
segera setelah diberitahu kan mula-mula marah Downer segala, katanya
dianggap enggak serius Amrozi. Tapi sesudah banyak sekali orang
Indonesia menjelaskan akhirnya enggak apa-apa gitu. Jadi sudah
selesai.

Sekarang dengan Pastika juga kita masih melihat, musti gimana dan apa
yang terjadi sebenarnya dengan Pastika. Kalau Pastika bener digeser
dari posisi strategisnya mungkin Australia akan kecewa tapi Australia
juga akan tetap mempertahankan hubungan Indonesia-Australia. Memang
merupakan kebutuhan Australia untuk selalu berdekatan dengan
Indonesia. Yang jelas adalah Indonesia bukan tetangga yang gampang
sukar, cerewet dan harus dijaga perasaanya.

Demikian Prof. Arief Budiman, Direktur Studi Indonesia di Universitas
Melbourne Australia dalam wawancara dengan Yanti Mualim.


* BERANIKAH GUTERRES BERSUARA MELIBATKAN JENDRAL-JENDRAL  TNI?



Jangankan 10 tahun penjara, dihukum satu jam saja Eurico Guterres,
pria yang kerap menggunakan baju bergambar presiden Indonesia
Megawati Sukarnoputri tetap tidak akan terima. Usai diputus ia
langsung berteriak naik banding. Guterres, mantan Wakil Panglima
Pasukan Pejuang Pro Integrasi (PPI) diputus bersalah atas pembunuhan
massal di rumah Manuel Carrascalao. Radio Nederland menghubungi
aktivis HAM Johnson Panjaitan, seorang pengacara yang dulu aktif
mendampingi setiap masalah Timor Timur.

Johnson Panjaitan [JP]: Sebuah output (hasil, Red.) yang memang
skenarionya sudah dirancang. Dari hasil politik bonsai yang dirancang
sejak awal oleh pihak kejaksaan agung, ya kan? Karena tampaknya
tanggung jawab secara hukum memang akan dikenakan seluruhnya kepada
sipil-sipil, supaya jelaslah sebagaimana skenario yang dimuat di
dalam dakwaan bahwa persoalan Timor Timur adalah persoalan konflik
antara pro integrasi dan pro kemerdekaan. Sehingga terbebaslah
militer-militer ini. Kalau pun ada yang kena, paling dihukum sangat
ringan. Bukan karena mereka merupakan otak dan sekaligus pelaku,
sekaligus juga yang membiayai seluruh pelanggaran hak asasi yang
terjadi di Timor Timur.

Radio Nederland [RN]: Tapi kan lucunya yang kena hukuman dalam
peradilan ad hoc HAM ini sampai sekarang orang Timor Timur semua.

JP: Ya memang harus orang Timor Timur yang dikorbankan, supaya sesuai
dengan skenario bahwa persoalan pelanggaran hak-hak asasi manusia
yang terjadi di Timor Timur adalah konflik antara orang Timor Timur
yang pro integrasi dengan pro kemerdekaan! Sehingga militernya bisa
lepas dari tanggung jawab itu.

RN: Tapi yang enggak habis pikir, si Eurico Guterres ini kok mau aja
dimaanfaatin seperti itu?

JP: Ya maklumlah memang orang-orang Timor Timur yang jadi milisi ini
kan memang bodoh-bodoh dan dungu. Jadi dia kira kalau dia sudah
menjalankan perintah dan mendapatkan uangnya dia bisa berleha-leha
menjadi warga negara Indonesia yang baik.

RN: Apakah ada semacam, seperti biasanya begitu ya dengan cara TNI,
habis manis sepah dibuang?

JP: Oh bukan habis manis sepah dibuang. Habis manis sepah
diinjek-injek!

RN: Tapi kan sebenarnya Eurico Guterres sendiri bisalah katakan
membalas dengan "bernyanyi" bahwa ini juga perintah TNI. Kenapa dia
enggak mampu berbuat seperti itu?

JP: Yang pertama adalah tidak punya nyali. Yang kedua adalah masih
ada ketergantungan-ketergantungan, terutama
ketergantungan-ketergantungan perlindungan politik mau pun
ketergantungan ekonomi, saya kira.

Dan dia tahu juga, untuk melakukan tindakan-tindakan membuka semua
ini butuh nyali dan resiko yang tinggi. Saya kira dia tidak akan mau
mengambil itu. Sama seperti dia tidak mau mengambil resiko pada waktu
keluarganya menjadi korban militer.

RN: Ya, jadi kuncinya mau enggak mau memang akhirnya berada di Eurico
sendiri. Apakah akhirnya dalam proses banding yang dia ajukan ini dia
berani "bernyanyi", gitu ya?

JP: Saya jamin sih dia tidak akan berani membuka mulut. Dia lebih
berani dikorbankan, dengan menerima imbalan, tentunya.

RN: Nah, kalau kita lihat seperti itu, berarti para petinggi-petinggi
TNI tampaknya masih kuat juga menguasai pengadilan?

JP: O, militer itu sangat kuat. Karena bukan hanya menguasai
menguasai peradilan, tetapi menguasai pemerintahan dan menguasai
ekonomi kita.

RN: Anda sinis sekarang Bung Johnson!

JP: Tidak, saya kita saya tidak sinis ya. Kita harus terus terang
saja. Coba anda cek. Saya enggak sinis. Ini fakta.

RN: Tapi kenyataannya sampai sekarang laju reformasi sudah berjalan,
dan orang sudah menunggu. Bukti reformasi adalah Pengadilan Ad Hoc
HAM berani memutus si jenderal-jenderal itu dihukum penjara. Tapi kan
tidak juga.

JP: PBHI sudah mengatakan seharusnya reformasi dihentikan, karena
tampaknya reformasi kembali ke otoritarianisme. Itu terlihat dengan
diberlakukannya perpu, kemudian UU Penyiaran juga mulai mengancam
pers dan di badan intelijen nasional pemain-pemain lama yang biasa
nangkap-nangkapi aktivis mulai dihidupkan, bahkan akan dibangun
perwakilan-perwakilan daerahnya. Kemudian aktivis mulai banyak yang
ditangkapi, bukan hanya di Banda Aceh, tetapi juga di Jakarta.
Tinggal kita menunggu juga di daerah-deerah lain. Dan
teknik-tekniknya sama dengan pemerintahan Orde Baru, karena memang
pelakunya sama.

RN: Tapi kan sebenarnya kalau kita mau dan katakan Timor Timur juga
mau, Eurico Guterres didorong untuk membuka mulut, itu yang penting.

JP: Iya, karena itu kita membutuhkan orang-orang yang berani, bukan
para penjilat dan orang-orang yang korup yang mau makan duit dan mau
diperintah apa saja dan dikorbankan apa saja. Dan saya lebih percaya
pada orang-orang muda sebenarnya.

Demikian Johnson Panjaitan dari PBHI di Jakarta.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke