---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Kamis 09 Januari 2003 13:40 UTC



** POLRI MENINDAK UNJUKRASA DI JAKARTA

** INDIA LAKUKAN UJICOBA RUDAL JARAK SEDANG KEDUANYA

** KOREA UTARA USULKAN PERTEMUAN TINGKAT MENTERI DENGAN KOREA SELATAN

** TOPIK GEMA WARTA: BURUH DAN MAJIKAN BERSEKUTU, ADAKAH PEMERINTAH
TERANCAM?



* POLRI MENINDAK UNJUKRASA DI JAKARTA

 Indonesia menindak aksi unjukrasa memprotes kenaikan harga BBM dan
tarif listrik. Para pengunjukrasa melempari polisi dengan batu, dan
polisi memukuli sejumlah demonstran dengan tongkat. Tidak diberitakan
adanya korban luka dan penahanan. Para pengunjukrasa yang terdiri
dari sekitar 2.000 buruh dan mahasiswa berhimpun di depan Istana
Kepresidenan. Mereka menuntut lengsernya Presiden Megawati
Soekarnoputri dan Wakil Presiden Hamzah Haz. Kamis hari ini merupakan
hari keempat berlangsungnya aksi protes terhadap kenaikan harga,
namun baru pertama kali terjadi bentrok kekerasan itu. Belum lama
berselang pemerintah di Jakarta menaikkan harga BBM denan 20 persen
dan tarif listrik dengan enam persen.


* INDIA LAKUKAN UJICOBA RUDAL JARAK SEDANG KEDUANYA

India melakukan ujicoba kedua rudal jarak sedangnya yang baru di
pangkalan pantai Timur India. Rudal baru tersebut adalah versi yang
lebih kecil yang dinamakan Rudal-Agni. Senjata rudal baru itu
berjarak-jangkau sampai 800 kilometer dan bisa bermuatan bom nuklir.
Secara teori versi jarak jauh Rudal-Agni mampu mencapai  Cina, sedang
jarak sedangnya bisa merupakan sarana menakut-nakuti Pakistan. Negara
tersebut juga memiliki rudal yang bisa bermuatan nuklir. Kedua negara
bertetangga tersebut tahun lalu berada di ambang perang, sebagai
akibat terjadinya serangan terhadap parlemen India. Pada bulan-bulan
belakangan, keadaan tenang bisa dipulihkan di kawasan perbatasan
kedua negara.


* KOREA UTARA USULKAN PERTEMUAN TINGKAT MENTERI DENGAN KOREA SELATAN

Korea Utara mengusulkan diadakan perundingan tingkat menteri dengan
Korea Selatan. Demikian diumukan pihak otorita  Korea Selatan.
Pyongyang menghendaki agar pertemuan itu diselenggarakan pada 21
sampai 24 Januari mendatang. Usulan itu merupakan petunjuk bahwa
Korea Utara bersedia berunding dengan Korea Selatan untuk mengurangi
ketegangan. Sebab terjadinya krisis sekarang ini adalah keputusan
Korea Utara untuk mengaktifkan kembali Pusat Pembangkit Listrik
Tenaga Nuklirnya. Dengan itu negara tersebut bisa memproduksi
plutonium yang bisa dijadikan senjata nuklir. Langkah itu membuat
berang Amerika Serikat. Rabu kemarin, Pyongyang menuduh Amerika
Serikat, memperuncing bahaya perang nuklir di Semenanjung Korea.
Washington berseru kepada Korea Utara untuk melakukan perundingan
bilateral, namun belum mendapat tanggapan.


* MENLU INGGRIS DESAK INDONESIA IKUT MENEKAN BAGDAD

Senjata pemusnah massal Irak bukan saja ancaman bagi Barat, tetapi
juga bagi dunia Islam. Itulah pesan yang dibawa Menlu Inggris Jack
Straw dalam pidatonya di Jakarta. Hal itu sebagian sudah diumumkan.
Pejabat Inggris itu berseru kapada pihak Indonesia untuk ikut bersama
negara-negara yang menekan Bagdad agar melucuti senjatanya.  Menlu
Indonesia Hasan Wirajuda sebelumnya menyatakan, menentang keras
tindakan militer terhadap Irak. Wirajuda juga mengatakan, ia akan
menanyakan kepada Menlu Straw, Inggris punya bukti-bukti kongrit apa
tentang adanya senjata-senjata pemusnah massal di Irak. Jack Straw
merada di Indonesia selama dua hari, sebelum meneruskan lawatannya ke
Malaysia.


* AMERIKA SERIKAT MINTA BANTUAN CHEKO DALAM OPERASI MILITERNYA
TERHADAP IRAK

Amerika Serikat meminta bantuan mitra NATO-nya Cheko dalam
kemungkinan operasi militernya  terhadap Irak. Menurut Wakil Perdana
Menteri Pavel Rychetsky, Washington minta diperkanankan menempatkan
pasukan Amerika di Cheko dan penggunaan wilayah udara Cheko.
Selanjutnya Praha diminta agar kesatuan ahli-ahlinya di bidang
senjata kimiawi dan biologinya yang ditempatkan di Kuwait, untuk
sementara dipertahanakan. Parlemen Cheko selang satu setengah pekan
ini akan bersidang untuk mengambil sikap terhadap permintaan Amerika
tersebut.


* SEKTOR PERBANKAN DI VENEZUELA MOGOK

Venezuela kini sektor perbankannya yang mogok.  Para karyawan
Perbankan Kamis hari ini  dan Jum'at besok menghentikan kerjanya,
sebagai solideritasnya terhadap pemogokan umum yang sudah berlangsung
selama lima pekan di negeri itu. Segera setelah diumumkan, terjadi
antrean panjang di depan bank-bank, yang sejak dimulainya pemogokan
buka hanya sebentar saja. Presiden Venezuela, Hugo Chavez, mengancam
dengan tindakan keras terhadap para karyawan bank yang mematuhi
seruang mogok tersebut. Dengan aksi itu pihak oposisi bermaksud
memaksa  Chavez lengser, atau mempercepat diadakannya pemilu baru. Di
ibukota Caracas terjadi lagi kerusuhan Rabu kamarin. Para pengikut
Chavez menyerang sebuah bangunan di mana para pemimpin oposisi sedang
melakukan jumpa pers. Polisi anti-huruhara membubarkan para
demonstran dengan gas airmata.


* BURUH DAN MAJIKAN BERSEKUTU, ADAKAH PEMERINTAH TERANCAM?
Ada gejala menarik dalam demonstrasi menentang kenaikan tarif
listrik, telepon dan bahan bakar minyak (BBM) yang hari ini
berlangsung di Jakarta. Itulah peran para majikan, karena ternyata
yang bermonstrasi bukan hanya mahasiswa dan buruh, tetapi juga para
majikan. Secara tradisional buruh jelas berhadap-hadapan dengan
majikan. Kalau begitu mengapa hari ini mereka berjuang bersama?
Kepada Dita Sari, pemimpin Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia,
FNPBI, ditanyakan latar belakang persekutuannya ini dan sampai kapan
buruh akan berjuang bersama majikannya. Pertama-tama Dita Sari
menuturkan tuntutan aksinya di pusat ibukota Jakarta hari ini:


Dita Sari [DS]: Hari ini kita mengadakan aksi ke Istana Mega yang
mengikutsertakan sekitar 15 ribu buruh dan mahasiswa juga. Dan juga
diikuti oleh 20 asosiasi pengusaha.

Kita lari dari Bundaran HI sampai ke Istana dengan tuntutan batalkan
kenaikan BBM, TDL dan telepon. Juga kita sertai penolakan terhadap
paket reformasi ekonomi Megawati. Penolakan terhadap penjualan
aset-aset BUMN, privatisasi dan juga penolakan terhadap release and
discharge yang dikeluarkan Mega sekitar dua minggu yang lalu.

Radio Nederland [RN]: Jadi sebagai aktivis buruh, Anda berdemonstrasi
dengan kalangan pengusaha ya, majikan ya gitu ceritanya?

DS: Pada hari ini pengusaha menyatakan bahwa tidak akan ada PHK untuk
buruh. Jadi pada intinya mereka merasa bahwa ada kepentingan yang
sama dengan kaum buruh soal kenaikan BBM, TDL itu. Jadi memang ini
merupakan suatu bentuk rekonsiliasi sementara, sejenak, seketika.
Meskipun tentu saja pertentangan-pertentangan dalam masalah upah,
dalam masalah undang-undang itu akan terus ada. Tapi untuk sekarang
ada satu agenda nasional yang menuntut penyatuan dari seluruh
kelompok untuk bersama-sama melawan kebijakan pemerintah Mega.

RN: Itu gagasan siapa? Gagasan Anda atau gagasan para majikan?

DS: Gagasan para majikan. Karena ini persoalan kepentingan. Mereka
melihat ada kepentingan yang sama. Itu yang pertama. Kita juga
menolak kenaikan BBM, mereka juga.

Yang kedua dari jaman Belanda sampai jaman sekarang bangsa Indonesia
kan tidak punya tradisi melawan, melawan kekuasaan. Beraninya cuma
ngomel-ngomel di belakang. Bahkan mereka sering mendapat keuntungan
dari kekuasaan. Mendapat fasilitas dan perlindungan.

Nah sekarang giliran mereka betul-betul terpojok, mereka harus
berpaling kepada kekuatan mayoritas, yaitu rakyat, ya dalam hal ini
buruh. Maka saya bilang ini sifatnya temporer. Karena kami tahu kalau
misalnya kepentingan para pengusaha sudah terpenuhi, pasti kemudian
akan tetap muncul pertentangan antara kita dengan mereka.

Pada saat ini kita akan bersama-sama dengan pihak mana pun yang
secara konsisten menolak kenaikan BBM, TDL dan telepon. Jadi kalau di
tengah jalan nanti pengusaha kemudian tarik diri, mundur karena ada
konsesi, maka ya posisi mereka bisa jadi berseberangan. Tapi karena
saat ini mereka masih tetap mengatakan akan melawan, ayo kita
sama-sama dengan mahasiswa, dengan yang lain.

RN: Kalau gitu pengusaha semacam apa sebenarnya yang bergabung dengan
Anda dalam protes hari ini?

DS: Pengusaha-pengusaha yang kejepit, pengusaha-pengusaha yang kalah
bersaing dengan kekuatan global, pengusaha yang tergeser karena
pemerintah lebih mengakomodir kepentingan korporasi-korporasi
internasional. Pengusaha yang tergeser karena kebangkrutan yang
massal di kalangan mereka. Dan karena kebijakan pemerintah mereka
anggap tidak membantu investasi. Jadi karena mereka tergeser,
kejepit, mereka nggak punya pilihan lain, harus melawan. Dan
kebetulan kepentingan ini juga merupakan kepentingan banyak orang
lain di luar mereka. Jadi terus sama-sama itu, sebenarnya logis sih
kalau kemudian sama-sama.

RN: Tapi Anda tadi sudah mengatakan kemungkinan bahwa mereka akan
menerima konsesi dari pemerintah?

DS: Bisa, karena tuntutan pengusaha sebetulnya, mereka bilang minimal
ditunda. Kalau kita kan dari serikat buruh jelas: batalkan! Tapi di
kalangan pengusaha ditunda atau pun dikurangi. Itu bentuk kompromis
sebetulnya. Nah, kalau dari kita batalkan. Jadi, karena nanti ada
saat-saatnya misalnya sekarang kita bisa ketemu, tapi ada
saat-saatnya harus pisah, dan kembali lagi ke posisi seperti dulu.

RN: Siapa sebenarnya lebih merupakan lawan serikat buruh? Pemerintah
atau majikan dalam hal ini?

DS: Saat ini pemerintah. Dari dulu pun sebenarnya pemerintah. Karena
pemerintahlah yang dari dulu membuat keputusan tentang upah rendah,
yang melindungi pengusaha, dengan tentara, dengan polisi. Dari dulu
juga pemerintah. Cuma sekarang ini tambah kelihatan, karena desakan
dari globalisasi, itu bukannya membuat pemerintah malah melindungi
rakyatnya, tapi justru membuka pintu selebar-lebarnya bagi kekuatan
global untuk mengeksploitasi Indonesia.

Nah, jadi yang kita hadapi sekarang adalah pemerintah yang mendukung
kebijakan globalisasi yang menghancurkan rakyat. Neokolonialismelah
sebetulnya kalau bahasa Bung Karno ya. Penjajahan baru yang disahkan
oleh pemerintah nasional.

RN: Tapi bagaimana ini, misalnya soal kenaikan harga BBM. Itu kan
karena subsidinya besar sekali dan subsidi itu memberatkan APBN.
Bagaimana pemikiran Anda sebagai pemimpin serikat buruh dalam hal
ini?

DS: APBN itu berat. Mayoritas dana APBN, 40% itu bukan lari karena
subsidi. Itu karena satu, membayar hutang luar negeri. Dua membayar
bunga obligasi yang merupakan hutang dari para
konglomerat-konglomerat jahat itu yang sudah diputihkan oleh
Megawati. Jadi pemerintah kebagian yang membayar obligasinya. Dan
pemerintah juga berkewajiban membayar bunga cicilan ke IMF.

Dan itulah kenapa 40% uang kita di APBN, uang rakyat itu, dialokasi
ke sana. Nah, untuk bisa memenuhi dua kewajiban itu, obligasi dan
IMF, pemerintah memutuskan bahwa subsidi buat orang-orang miskin,
subsidi listrik, subsidi telepon, air segala macam harus ditarik.
Artinya di sini pemerintahan Mega jelas, membawa mandat IMF dan para
konglomerat, dan bukan mandat kita.

RN: Jadi Anda merasa sebagai serikat buruh ini dibebankan sesuatu
yang sebenarnya bukan tanggung jawab serikat buruh gitu?

DS: Bukan, itu bukan tanggung jawab kita, bukan tanggung jawab
rakyat, bukan tanggung jawab buruh. Karena yang hutang itu bukan
kita, dan yang melindungi para konglomerat-konglomerat kan pemerintah
Mega. Baik melindungi dalam bentuk fisik, memang betul-betul fisik
dijaga keamanannya, mau pun melindungi dalam bentuk memberikan
undang-undang. Misalnya perpanjangan PKPS, memberikan Release and
Discharge itu.

Jadi kalau pikir, kalau memang pemerintah membawa mandat IMF dan
konglomerat, maka pemerintahnya harus diganti dengan sebuah
pemerintahan yang memang bisa membawa mandat kita. Kalau Mega enggak
bisa, ya buat apa diteruskan.

RN: Tetapi kan masalahnya subsidi BBM, hanya ada di Indonesia, di
tempat lain, di negara lain semakin dikurangi, dan bahkan sudah tidak
ada lagi.

DS: Jadi yang pertama ini adalah persoalan daya beli. Daya beli
rakyat sedang rendah-rendahnya. Dan bahkan tambah lama bukannya
tambah meningkat, tapi tambah hancur. Itu yang membedakan Indonesia
dengan misalnya beberapa negara yang lain.

Kedua kita melihat juga kontrol terhadap sumber-sumber energi kita.
Misalnya BBM. Produksi-produksi bahan bakar kita, terutama minyak dan
gas itu lebih banyak dimonopoli oleh perusahaan-perusahaan asing yang
beroperasi di sini. Jadi bukan dikuasai sepenuhnya oleh BUMN atau
perusahaan-perusahaan negara milik rakyat.

Sehingga, tidak heran kalau kemudian harga minyak juga bukan
pemerintah yang bisa menentukan, tapi kekuatan global. Nah, menurut
kami inilah kenapa begitu mengerikannya nanti kalau pemerintah
betul-betul memprivatisasi Pertamina. Karena belum diprivatisasi
saja, kita yang memproduksi minyak itu tapi kita harus bayar lebih
mahal.

Makanya kita menganggap tidak cukup hanya soal menolak kenaikan BBM
tapi juga menuntut agar jangan sampai terjadi sumber-sumber energi
tidak dikuasai oleh rakyat, tapi dikuasai oleh perusahaan-perusahaan
multinational itu.


Demikian Dita Sari pemimpin Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia
FNPBI.


* Terancam Krismon, Kanselir Jerman Terpaksa Ingkari Janji Pemilu

Intro:
Penjualan barang di toko sangat berkurang, pengangguran makin
meningkat dan pertumbuhan ekonominya diperkirakan hanya akan mencapai
0,6% tahun ini. Berita-berita mengenai perekonomian yang buruk
membanjiri Jerman pekan ini. Berita-berita yang tidak menyenangkan
pemerintah Kanselir Gerhard Schroder yang minggu ini menghadapi
ancaman aksi mogok serta ultimatum Komisi Eropa. Lebih lanjut laporan
redaktur Eropa Barat Johan Huizinga.

Tekst: Sementara pemerintah Jerman masih belum berhasil menyelesaikan
konflik tuntutan kenaikan gaji sampai 3% dengan serikat pegawai
negeri Verdi, beranggotakan tiga juta orang, berita-berita tentang
perekonomian yang semakin buruk pun tidak berhenti membanjiri Jerman.
Omzet toko-toko tampaknya turun 6% November lalu ketimbang setahun
sebelumnya. Pengangguran sedikit naik. Angka-angka terbaru diharapkan
diketahui akhir pekan ini. Pertumbuhan ekonomi tahun ini pun tidak
memberi harapan. Ramalan pemerintah bahwa pertumbuhan ekonomi akan
mencapai 1,5% tidak dianggap serius, tapi lembaga-lembaga terkemuka
Jerman memperkirakan pertumbuhan ekonomi tidak melebihi 6%. Rabu
kemarin Komisi Eropa memberikan ultimatum. Jerman harus mengambil
tindakan sebelum 21 Mei mendatang, supaya defisit anggaran sebesar
3,8% turun sampai 3% sesesuai norma yang ditentukan Uni Eropa.
Apabila Berlin tidak berhasil melakukan ini maka Jerman bisa didenda
oleh Brussel.

Walau ultimatum Brussel memang sangat tegas, tapi berdasarkan
tanggapan-tanggapan pertama, Berlin tampaknya lega.  Lega karena
pemerintah memiliki argumen untuk berdalih tidak menepati janji
pemilu. Dengan begitu pemerintah punya alasan untuk menurunkan upah,
tunjangan dan premi tunjangan sosial, serta mengurangi tunjangan
sosial itu sendiri dan pelbagai fasililitas lain. Menghadapi
pemilihan di dua negara bagian Pebruari mendatang Kanselir Gerhard
Schroder harus mengumumkan tindakan-tindakan paling urgen untuk
mereformasi kebijakan tenaga kerja Jerman yang terlalu kaku.

Pekerjaan-pekerjaan yang bergaji rendah dan bersifat sementara akan
digalakkan. Para penganggur yang enggan melamar pekerjaan akan
dikurangi tunjangannya. Ini hanya segelintir dari rekomendasi komisi
khusus yang akan dibentuk oleh pemerintah.  Tapi rencana itu
berkali-kali dilunakkan karena protes keras kalangan serikat buruh.

Masalah lain adalah pelayanan kesehatan. Sektor kesehatan memang
tidak mengalami peningkatkan daftar tunggu pasien yang harus
dilayani, namun pengeluaran sektor kesehatan terus membengkak. Ada
lagi masalah dana pensiun, apalagi jumlah penduduk berusia lanjut
semakin bertambah. Sepertiga dari gaji kotor di Jerman dialokasikan
untuk membayar premi pensiun dan asuransi kesehatan.

Hampir semua pakar ekonomi berpendapat, beaya yang menyangkut upah
harus dikurangi. Ini berarti, tidak hanya serikat buruh tidak boleh
terlalu banyak menuntut kenaikan upah, tetapi beban pengeluaran
majikan dan premi juga harus dikurangi.  Namun ini hanya bisa
terwujud kalau warga Jerman bersedia menerima tunjangan sosial yang
lebih rendah dan menambah pembayaran premi. Tapi tidak ada yang
berani menyampaikan pesan ini kepada masyarakat Jerman.

Jadi kanselir Jerman Gerhard Schroder terpaksa mengingkari janji
pemilu dengan menaikkan pajak dan premi.  Ini berarti, Schroder tidak
hanya membuat dirinya tidak populer, tetapi juga tidak memecahkan
inti masalah. Jerman juga masih memikul beban beaya penyatuan Jerman
Barat dengan Jerman Timur. Sejak pemberlakuan mata uang tunggal
Eropa, euro, Jerman tidak memiliki alat sendiri untuk menanganani
krismon seperti menurunkan suku bunga atau devaluasi mata uang. Jadi,
satu-satunya pilihan adalah tidak lain adalah mengurangi
kesejahteraan mayoritas warga Jerman.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke