---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Rabu 15 Januari 2003 13:50 UTC



** INSPEKTUR SENJATA PBB PERIKSA ISTANA SADDAM HUSSEIN

** KOREA SELATAN BERUNDING DENGAN KOREA UTARA

** LAURENT GBAGBO YAKIN BISA KUASAI KEMBALI PANTAI GADING

** TOPIK GEMA WARTA: TNI TIDAK SEPENUHNYA MENDUKUNG PEMERINTAHAN
MEGAWATI

** TOPIK GEMA WARTA: MEGAWATI JUGA ALAMI DESAKAN PARA AKTIVIS HAM

** TOPIK GEMA WARTA: DESAKAN INTERNASIONAL TERHADAP ARIEL SHARON
MUBAZIR



* INSPEKTUR SENJATA PBB PERIKSA ISTANA SADDAM HUSSEIN

Inspektur senjata PBB memeriksa istana Presiden Irak Saddam Hussein
di Bagdad. Mereka menghambat pintu masuk istana di mana Saddam
Hussein biasanya bertugas. Ini adalah untuk kedua kalinya tim
inspeksi senjata PBB memeriksa istana presiden. Menurut Bagdad
inspeksi bulan lalu adalah sebuah provokasi. Selasa kemarin para
inspektur menemukan bahan-bahan yang diimpor Irak beberapa tahun
belakangan. Impor ini bertentangan dengan embargo senjata PBB.
Menurut kepala inspektur senjata Hans Blix belum jelas apakah
bahan-bahan tersebut memang dimaksudkan untuk membuat senjata
pemusnah massal.


* KOREA SELATAN BERUNDING DENGAN KOREA UTARA

Pekan mendatang Korea Selatan merundingkan pengembangan senjata
nuklir dengan delegasi Korea Utara. Seoul akan mendesak negara
tetangga supaya menghentikan program nuklirnya. Ini adalah pertemuan
pertama antara dua negeri sejak ancaman Korea Utara untuk
mengaktifkan kembali reaktor nuklirnya. Menteri Reunifikasi Korea
Selatan percaya konflik nuklir ini dapat diselesaikan. Awal pekan ini
Presiden Amerika George W. Bush menyatakan akan memberi Korea Utara
bantuan keuangan dan politik apabila negeri itu menghentikan program
nuklirnya.


* LAURENT GBAGBO YAKIN BISA KUASAI KEMBALI PANTAI GADING

Di Paris dimulai perundingan perdamaian antara pemerintah Pantai
Gading dengan tiga kelompok pemberontak. Tampaknya mereka belum
bersedia menerima konsesi. Para pemberontak mendesak supaya Presiden
Laurent Gbagbo mundur. Namun sang Presiden menolak meletakkan
jabatannya. Perundingan di Paris harus mengakhiri perang saudara yang
melanda Pantai Gading selama empat bulan. Konflik itu telah
menewaskan ratusan orang. Dalam waktu singkat kaum pemberontak
berhasil menguasai Pantai Gading Barat dan Utara. Prancis mengerahkan
sekitar 2500 pasukan di Pantai Gading untuk memantau kesepakatan
gencatan senjata yang goyah.


* PARLEMEN CEKO PILIH PRESIDEN BARU

Putaran pertama pemilihan Presiden Republik Ceko menghasilkan dua
calon. Mantan Perdana Metneri Vaclav Klaus dan Ketua Senat Petr
Pithart mendapatkan mayoritas suara. Siapa yang menggantikan Presiden
Vaclav Havel belum jelas, dan diperkirakan diketahui dalam putaran
kedua. Pemenang harus mendapatkan mayoritas  suara dalam Dewan
Perwakilan Ceko maupun Senat. Masa jabatan kedua Havel berakhir bulan
Februari mendatang. Menurut undang-undang Ceko ia tidak dapat dipilih
kembali.


* UNI EROPA HARUS DIKETUAI DUA ORANG

Prancis dan Jerman ingin supaya dalam masa mendatang Uni Eropa
diketuai dua orang. Satu orang akan menjadi ketua Komisi Eropa, dan
dipilih Parlemen Eropa. Tokoh lainnya harus mengetuai Dewan Eropa. Ia
akan dipilih oleh para pemimpin pemerintah Dewan ini. Presiden
Prancis Jacques Chirac serta kanselir Jerman Gerhard Schroder sepakat
tentang rencana ini di Paris. Hari ini gagasan tersebut akan
dibicarakan dengan Ketua Konvensi Eropa Valery Giscard d'Estaing,
yang bertugas mempersiapkan rencana undang-undang dasar Uni Eropa.
Selain itu Chirac dan Schroder juga membicarakan masalah Irak. Mereka
sepakat aksi militer terhadap Bagdad hanya dapat dilangsungkan dengan
mandat PBB.


* POLISI INGGRIS DITUSUK MATI

Seorang polisi ditusuk mati dalam operasi anti teror di Manchester,
Inggris. Empat polisi lainnya terluka. Tusuk-menusuk terjadi di rumah
seorang tersangka. Pria ini serta dua pria lain akhirnya ditangkap.
Mereka berasal dari Afrika Utara. Menurut polisi Inggris operasi ini
berkaitan dengan penemuan sejumlah zat beracun ricine pekan lalu di
sebuah apartemen di London. Ketika itu polisi menangkap tujuh orang.
Empat tertangkap didakwa karena membuat senjata kimia dan melakukan
aktivitas teroris. Sejauh ini belum ditemukan ricine di rumah
tersangka di Manchester.


* MANTAN PRESIDEN SERBIA HARUS SEGERA MUNCUL DI TRIBUNAL YUGOSLAVIA

Mantan Presiden Serbia Milan Miltutinovic harus muncul di Tribunal
Yugoslavia, Den Haag dalam satu minggu mendatang. Menurut Perdana
Menteri Serbia Zoran Djindjic ini mungkin dalam beberapa hari
mendatang. Tribunal Yugoslavia ingin mengadili Milutinovic dan mantan
Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic dengan tuduhan kejahatan
terhadap masyarakat etnik Albania tahun 1999. Pemerintah Yugoslavia
sudah selama beberapa minggu merundingkan masalah Milutinovic dengan
Tribunal. Menurut Menteri Luar Negeri Yugoslavia Goran Svilanovic
negaranya memberi Tribunal jaminan sehingga mantan Presiden Serbia
itu tidak ditahan sampai awal proses peradilan terhadapnya. Apabila
Milutinovic tidak kembali ke Den Haag secara sukarela, maka Beograd
akan mengirimnya ke Tribunal dengan paksa.


* TENTARA VENEZUELA LUCUTI SENJATA POLISI

Tentara Venezuela melucuti sebagian besar senjata polisi di ibukota
Karakas. Kini polisi tidak lagi bisa menjaga bank, stasiun metro dan
kedutaan besar. Ini adalah sebuah langkah diktatorial dan ilegal.
Demikian tandas Walikota Karakas, Alfredo Pena. Wakil Presiden
Venezuela Jose Vicente Rangel mendukung langkah tentara karena
menurutnya polisi bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap dua
pendukung Presiden Hugo Chavez. Sementara itu Sekretaris Jenderal PBB
Kofi Annan mengimbau baik pihak oposisi maupun pemerintah menemukan
jalan keluar konflik melalui perundingan. Kofi Annan akan bertemu
dengan Presiden Chavez di New York, Kamis besok. Hari ini berbagai
kepala negara Amerika Latin menghadiri upacara pelantikan Presiden
Equador Lucio Gutierrez di ibukota Quito. Selain Presiden Chavez,
Presiden Brasil Lula da Silva dan pemimpin Kuba Fidel Castro juga
menghadiri upacara ini.


* TNI TIDAK SEPENUHNYA MENDUKUNG PEMERINTAHAN MEGAWATI

Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menandaskan bahwa
demonstrasi menentang kenaikan tarif listrik, telpon dan BBM harus
lewat lembaga-lembaga yang ada. Jika demonstrasi bertujuan
menggulingkan pemerintah, maka menurut Endriartono TNI berada dalam
posisi mendukung pemerintahan Megawati. Radio Nederland menghubungi
pengamat militer Indro Cahyono dan menanyakan apa motif di balik
ungkapan Panglima TNI itu.

Indro Cahyono [IC]: Kalau saya lihat sebetulnya dukungan TNI terhadap
pemerintahan sekarang ini adalah dukungan yang palsu, yang harus
dilakukan secara formal. Biasanya TNI menunggu sampai situasi itu
menjadi fifty-fifty untuk mengatakan dia netral. Setelah dia netral,
lbaru dia mengatakan pro perubahan. Jadi dalam historis TNI itu biasa
saja. Ada tiga fase.

Pertama adalah tetap membela dan menolak penggulingan pemerintahan.
Tapi dalam kondisi gejolak sudah demikian besar, dia akan mengatakan
bersikap netral. Dan kalau oposisi memang tak tertahankan, biasanya
dia cenderung mendukung gerakan-gerakan itu sendiri.

Jadi ini fase biasa saja dari TNI yang ujung-ujungnya saya tidak bisa
minyimpulkan bahwa TNI benar-benar mendukung pemerintahan Megawati
itu sendiri. Karena loyalitas TNI terhadap rezim selama ini memang
patut disangsikan.

Radio Nederland [RN]: Kalau kita bilang tadi fase-fase strategi dari
TNI, kira-kira sekarang sudah memasuki fase keberapa ini?

IC: Kalau saya lihat begini. Jadi lepas dari apa yang kita lihat di
permukaan, sebenarnya terjadi pertemuan-pertemuan dari
petinggi-petinggi militer itu. Kalau saya tidak salah kemarin di
hotel Borobudur, itu murni mereka berbicara. Berdiskusi bagaimana
kalangan TNI itu menjadi solid dan kompak untuk menyikapi
situasi-situasi yang berkembang saat ini. Karena mereka merasakan
bahwa saat ini situasi konsolidasi TNI memang terpecah-belah.

Jadi momentum pertemuan di Borobudur. Barangkali juga ada pertemuan
di perwira menengah. Misalnya di Banyuwangi. Dan pertemuan-pertemuan
itu bisa dikatakan bahwa TNI sedang menyusun strategi bagaimana
mereka bisa bersikap sama dalam menanggapi situasi akhir-akhir ini.

Dan pertemuan-pertemuan itu juga yang perlu dipikirkan adalah
barangkali sudah terjadi division of labour, jadi pembagian tugas. Di
kalangan TNI itu, katakan Endriartono harus berbicara apa, Djadja
Suparman harus apa, Syafrie Samsudin harus berbuat apa. Jadi
kalangan-kalangan militer itu sekarang justru sedang getol-getolnya
untuk konsolidasi. Karena mereka berpikir bahwa situasi politik saat
ini tidak tertolong.

Jadi bahwa Mega harus mundur sebelum 2004 dirasakan ini merupakan
suatu political initiative atau peniscayaan politik ya, yang bagi
Mega sendiri saya kira tidak bisa menolak. Melihat di kampus-kampus
kekecewaan begitu besar. Di kalangan aktivis juga demikian. Di
kalangan buruh juga, petani juga demikian. Jadi sekarang hampir semua
elemen saya kira memiliki platform yang sama bahwa pemerintahan Mega
ini memang tidak bisa dipertahankan lebih lama lagi.

Nah inilah yang mengundang TNI untuk mulai mengkonsolidasi diri.
Kendati sebenarnya masih ada jenderal-jenderal yang sulit diatur di
dalam sejarah kehidupan mereka, katakan Hendropriyono. Dia selalu
mengembangkan style sendiri yang tidak kolektif. Mereka bertindak
sendiri. Apakah ini bisa diatur oleh petinggi-petinggi militer. Kalau
ini bisa diatur sehingga para perwira tinggi tidak nyeleneh-nyeleneh,
maka ketika sikap TNI menyatu, maka bisa dipastikan bahwa posisi
pemerintahan saat ini memang patut dipertanyakan.

RN: Kemudian kalau untuk kepentingan politik TNI, barangkali untuk
saat ini mereka ingin menunjukkan: Kami masih ada. Begitu?

IC: Ini begini. Jadi hitung-hitungan politiknya bagi oposisi untuk
melawan suatu rezim, untuk menghilangkan rezim yang dianggap sekarang
ini bobrok, tidak sesuai dengan reformasi. Memang orang berpikir
bagaimana menempatkan TNI sebagai political conveyer. Jadi mereka
adalah fasilitator politik dalam perubahan. Sebenarnya tanpa
menginginkan TNI itu kemudian terlibat dalam politik secara total.

Jadi gambaran itu ada, bahwa TNI yang jaringannya begitu kuat. Dan
dia memegang suatu modalitas politik yang terpenting, yaitu senjata.
Dan dia juga memiliki jaringan bisnis yang luas, yaitu modalitas
kapital, yang begitu kuat. Maka dalam perubahan saat ini memang semua
sedang berpikir bahwa TNI tidak memihak pada rezim Mega saat ini.
Tapi lebih berpaling pada kekecewaan rakyat, terhadap reformasi yang
tidak kunjung selesai saat ini. Jadi arahnya ke sana dan ini TNI
harus bersikap.


Demikian pengamat militer Indro Cahyono.


* MEGAWATI JUGA ALAMI DESAKAN PARA AKTIVIS HAM

Intro: Sementara TNI dibujuk, didesak dan didorong untuk menentukan
sikap terhadap rencana pembentukan presidium yang harus menggantikan
Megawati dan Hamzah Haz, kalangan aktivis hak-hak asasi manusia
mengambil langkah yang bisa jadi memberatkan TNI. Itulah
langkah-langkah pembentukan Tim Penyelidik Dugaan Pelanggaran HAM
berat Soeharto. Selain itu, Komite Kerja Tragedi Mei 1998 juga
menuntut pemerintah Megawati supaya melakukan penyelesaian hukum.
Koresponden Syahrir mengirim laporan berikut dari Jakarta:

Mungkinkah Tim Penyelidik Dugaan Pelanggaran HAM berat Soeharto yang
baru saja dibentuk oleh Komnas HAM  menjadi titik awal untuk bisa
menyeret Soeharto ke pengadilan? Mungkin, kata Profesor Achmad Ali.
Anggota Komnas HAM yang berdomisili di Makassar ini menyatakan hal
itu kepada sekitar 50 orang yang tergabung dalam Komite Kerja Tragedi
Mei 1998 kemarin ketika mereka mendatangi kantor Komnas HAM di
Jakarta.

Memang kerusuhan massal yang terjadi pada tanggal 13-15 Mei 1998 di
Jakarta, Solo, Palembang, Jakarta, Surabaya, Medan, Palembang,
Lampung ternyata hingga saat ini masih belum mampu diselesaikan
melalui jalur pengadilan. Peristiwa yang menelan korban jiwa, harta
benda, dan juga luka batin akibat intimidasi, pelecehan, dan juga
kekerasan seksual yang dialami sebagian besar oleh warga negara non
pribumi saat ini seolah raib ditelan oleh pelbagai peristiwa politik,
sosial dan ekonomi yang terjadi dewasa ini. Suara para korban yang
terus menuntut agar kasus ini segera dituntaskan lewat jalur hukum
hanya menjadi riak kecil di tengah dahsyatnya gelombang suara para
elite politik dan hukum yang berputar pada kursi kekuasaan.

Menurut  Rhein Robby seorang peserta delegasi, temuan Tim Gabungan
Pencari Fakta atau TGPF, ternyata tidak mampu menggugah nurani para
penegak hukum untuk segera menyeret para pelaku. Setidak-tidaknya
merekalah pihak yang membiarkan preseden kemanusiaan ini terjadi.
Bahkan terkesan adanya upaya impunity yaitu kebal terhadap hukum oleh
negara lewat pelbagai peraturan perundangan yang seolah ingin
menegakkan HAM, namun justru menutup peluang bagi para pelanggar HAM
terlepas dari jerat hukum.

Rhein Robby:

Komnas HAM juga merencanakan akan melakukan pengkajian, meneliti
tentang pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh Soeharto.
Kemungkinan besar akan dibentuk KPP HAM Soeharto. Kepada masyarakat
atau korban-korban daripada peristiwa 65 ini diharapkan akan
memberikan bahan-bahan masukan kepada Komnas HAM sebagai bukti bahwa
Soeharto melakukan pelanggaran berat terhadap peristiwa 65 di mana
banyak sekali pembunuhan masal, perampasan harta dan sebagainya.


Seorang lain berpendapat, tegaknya supremasi hukum yang seharusnya
menjadi salah satu pilar reformasi dan demokrasi ternyata hanya
isapan jempol belaka. Sejak pemerintahan Habibie hingga Megawati,
kasus-kasus yang sarat dengan pelanggaran dan kekerasan terhadap
hak-hak azasi manusia dan lain-lain hingga saat ini masih gelap. Di
antaranya kasus DOM di Aceh, Peristiwa 65, Tanjung Priok, 27 Juli
1996, pembunuhan Marsinah, penculikan dan penghilangan sejumlah
aktivis, Tragedi Semanggi I & II,  dan lain-lain.

Sehubungan dengan itu kemarin, Komite Kerja Tragedi Mei 1998 menuntut
pemerintah Megawati supaya melakukan penyelesaian hukum yang
seadil-adilnya terhadap Tragedi 13-15 Mei dan juga kasus penembakan
Trisakti I & II serta membentuk Komite Penyelidik Pelanggaran HAM
serta  seluruh kasus pelanggaran hak-hak asasi manusia lainya secara
transparan, dengan menjunjung tinggi kekuasaan hukum dan bukan hukum
kekuasaan demi menegakkan wibawa hukum di negara hukum, Republik
Indonesia. Mereka juga melihat bahwa akar gagalnya penegakan hukum
yang terjadi saat ini merupakan kegagalan kepemimpinan
Megawati-Hamzah Haz, Akbar Tandjung (Ketua DPR) dan Amien Rais (Ketua
MPR), di mana telah terjadi kompromi kekuasaan negara dengan para
pelanggar HAM dan juga aparat penegak hukum.

Tim tersebut juga menuntut TNI/Polri untuk segera menindak tegas
dengan sanksi pemecatan dan hukum lainya kepada para oknum perwira
yang turut bermain dalam Targedi Mei 1998.  Dan sementara proses
hukum saat ini belum berjalan, maka para oknum perwira yang
terindikasi terlibat peristiwa Mei 1998 untuk sementara
dinon-aktifkan.

Komnas HAM, sementara itu, menurut Profesor Achmad Ali telah menunjuk
lima orang koordinator untuk lima bidang kerja. Ita Fatiyah
koordinator untuk kasus yang menyelidiki pelanggaran HAM peristiwa
G-30-S hingga pengasingan 10.000 tapol ke pulau Buru. Lalu untuk
kasus penembakan misterius atau Petrus akan dimotori oleh Luhut
Pangaribuan. Kasus pelanggaran HAM peristiwa DOM di Aceh, Papua dan
Timtim akan dikoordinatori oleh Hendardi. Sementara kasus penyerbuan
kantor DPP PDI pada tanggal 27 Juli 1996, tragedi Semanggi I dan II
hingga peristiwa kerusuhan berdarah pada 13-15 Mei 1998 dipercayakan
kepada Nursyahbani Katjasungkana. Dan terakhir kasus yang seolah
menemui  jalan buntu yakni kasus Tanjung Priok yang menyangkut Try
Sutrisno cs, akan dibongkar oleh Munir, mantan Ketua Kontras.


* DESAKAN INTERNASIONAL TERHADAP ARIEL SHARON MUBAZIR

Inggris mengesampingkan Israel dan membuka konperensi mengenai
reformasi Pemerintah Palestina. Namun delegasi Palestina tidak hadir
di Inggris, karena P.M. Ariel Sharon melarang mereka meninggalkan
Palestina menuju London, oleh karena itu pembicaraan berlangsung
melalui hubungan video. Larangan ke luar negeri itu adalah sebagai
tindakan balasan atas serangan bunuh diri di Tel Aviv yang menelan
korban 23 jiwa. Insiden ini kembali membuat hubungan Israel dengan
Inggris menjadi dingin. Lebih lanjut prakiraan redaktur Timur Tengah
Bertus Hendriks mengenai hasil pembicaraan itu dan dampak larangan
Israel terhadap delegasi Palestina hadir pada konperensi itu.

Memang benar pembicaraan tetap bisa berlangsung karena dipecahkan
secara teknis, dengan menyelenggarakan teleconference. Namun yang
lebih penting adalah dilihat dari segi politik, perkembangan ini
sangat buruk. P.M. Inggris Tony Blair tidak berhasil membujuk P.M.
Israel Ariel Sharon  menghapus larangan ke luar negeri bagi delegasi
Palestina. Berarti awan gelap menyelubungi Tony Blair sebagai
perantara.

Walaupun Sharon mengatakan bahwa alasan larangan ke luar negeri bagi
delegasi Palestina itu secara resmi adalah sebagai hukuman terhadap
serangan bunuh diri di Tel Aviv, namun sebenarnya ada alasan lain.

Memang bagi dunia luar keputusan itu adalah sebagai salah satu
hukuman terhadap Arafat bila terjadi serangan bunuh diri. Walaupun
pada dasarnya semua kemungkinan bagi Arafat untuk menunjukkan
wewenangnya di Jalur Gaza dan Tepi Barat Sungai Yordan sudah
dihancurkan. Tak-tik pemerintah Sharon sekarang adalah meremehkan
peranan Yasser Arrafat dalam tubuh pemerintah Palestina.

Kenyataan bahwa delegasi Palestina yang akan berangkat ke London itu
ditunjuk oleh Yasser Arrafat dan bahwa mereka berrunding dulu dengan
Arrafat sebelum berniat berangkat membuktikan bahwa Arrafat masih
punya kekuasaan. Hal ini yang hendak dihancurkan oleh Sharon.

Tony Blair sebagai perdana mentri Inggris punya kepentingan
menyelenggarakan konperensi ini di London. Ia banyak dikecam karena
dianggap terlalu patuh pada Amerika Serikat dan tanpa sikap kritis
mendukung persiapan menyerang Irak.  Inggris bersedia mendampingi
Amerika Serikat berperang melawan Sadam Hussein. Sikap itu sangat
dikecam dunia Arab. Oleh karena itu ia ingin membenahi citra Inggris.
Inggris tidak berperang melawan dunia Arab. Inggris tidak berperang
melawan Islam.

Yang hendak dilakukan Inggris adalah menyingkirkan sebuah rejim
kejam. Untuk membuktikan ketulusan niat itu Inggris menunjukkan bahwa
mereka tidak memihak, mereka ingin proses perdamaian berlanjut. Untuk
itu mereka melakukan sesuatu untuk memecahkan masalah Israel
Palestina dan mereka juga berusaha mencapai reformasi bagi Palestina.


Namun pesan itu tidak sampai karena Tony Blair tidak berhasil
meyakinkan Ariel Sharon menghapus larangan keluar negeri bagi
delegasi Palestina. Dengan demikian maka hilanglah kepercayaan dunia
Arab bahwa Tony Blair bisa menjadi kekuatan positif.

Amerika Serikat mengirim wakil Timur Tengahnya ke London, Uni Eropa
juga diwakili dalam konperensi itu. Mereka semua ingin berperan.

Amerika Serikat dan Uni Eropa juga hadir di sana. Mereka semua punya
kepentingan, hendak menujukkan bahwa mereka ingin membuktikan
betul-betul berniat mencapai penyelesaian damai dalam konflik Israel
Palestina. Rusia dan PBB juga hadir dengan alasan sama, karena
adalah bagian dari apa yang disebut kwartet untuk menyusun rencana
menuju sebuah negara Palestina. Kemudian Mesir dan Yordania juga
hadir,  ke dua negara itu akan merasakan langsung dampak rencana ini.


Amerika Serikat mengutus Burns, orang kedua terpenting dalam masalah
Timur Tengah  dan Uni Eropa diwakili tidak kurang dari Xavier Solana.
Itu membuktikan bahwa penyelesaian konflik Israel Palestina sangat
penting. Walaupun demikian mereka tidak berhasil mengubah keputusan
Sharon melarang delegasi Palestina hadir di London.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke