---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Kamis 13 Februari 2003 15:30 UTC



** AMNESTY INTERNATIONAL DESAK PEMBEBASAN AKTIVIS ACEH

** PEREKONOMIAN BELANDA NYARIS TIDAK MENGALAMI PERTUMBUHAN

** KOREA UTARA YAKIN BISA JANGKAU TARGET AS DIMANAPUN

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: IRAK LAKSANA KERIKIL PENGGANJAL
PEMBENTUKAN KABINET BARU BELANDA

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: KANSELIR JERMAN TETAP BERSIKUKUH
ANTI PERANG IRAK

** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: TNI KEJEPIT PERJANJIAN DAMAI ACEH

** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: DI TENGAH GEJOLAK LUAR DAN DALAM
NEGERI, GERAKAN ISLAM LESU



* AMNESTY INTERNATIONAL DESAK PEMBEBASAN AKTIVIS ACEH


Organisasi pemerhati HAM, Amnesty Internasional mendesak pemerintah
Indonesia segera membebaskan Mohamad Nazar, aktivis Aceh. Muhammad
Nazar ditangkap di Banda Aceh, Rabu kemarin dengan tuduhan kegiatan
separatisme. Menurut Amnesty Internasional penangkapan ini
bertentangan dengan kesepakatan damai yang ditandatangani Desember
tahun lalu di Genewa Swiss. Menurut organsasi HAM itu kesepakatan
Aceh juga menjamin kebebasan berpendapat.

Amnesty Internasional juga menyimpulkan bahwa kesepakatan Aceh itu
sampai saat ini masih sedikit memberi kebaikan bagi rakyat Nanggroe
Aceh Darussalam. Kendati bentrokan tentara dengan pejuang GAM
berkurang, namun pelanggaran HAM masih sering terjadi.


* PEREKONOMIAN BELANDA NYARIS TIDAK MENGALAMI PERTUMBUHAN

Perekonomian Belanda, tahun lalu nyaris tidak mengalami pertumbuhan.
Ekonomi hanya tumbuh sebesar 0,3% saja, angka pertumbuhan terendah
dalam 20 tahun terakhir.  Demikian dilaporkan Biro Pusat Statistik
Belanda, CBS. Kondisi paling lesu terjadi di sektor investasi dan
ekspor. Untuk pertama kali sejak tahun 1982, ekspor Belanda tahun
lalu mengalami penurunan. Ekonomi masih tumbuh berkat konsumsi
pemerintah yang meningkat 3,8%.


* KOREA UTARA YAKIN BISA JANGKAU TARGET AS DIMANAPUN


Korea Utara menyatakan diri mampu menjangkau setiap sasaran Amerika
Serikat di seluruh dunia. Daya jangkau pasukan Korea Utara tidak
mengenal batas, demikian disampaikan kementrian luar negeri di
Pyongyang. Sebelumnya, Direktur Dinas Intelijen AS, CIA, George Tenet
mengakui bahwa rudal-rudal Korea Utara mampu menjangkau pantai barat
Amerika Serikat.

Sementara itu Cina tidak ingin, masalah Korea Utara ini dibicarakan
di Dewan Keamanan PBB. Beijing lebih mendukung dialog antara Amerika
Serikat dengan Korea Utara. Ditambahkan bahwa tekanan dan sanksi
terhadap Pyongyang bisa menyulut konflik besar. Dinas Pengawas Nuklir
Internasional, IAEA menyerahkan masalah nuklir Korea Utara itu ke
Dewan Keamanan. Upaya IAEA selama ini tidak berhasil menemukan
trobosan krisis nuklir Korea Utara.


* RUSIA KEMUNGKINAN AKAN VETO SERANGAN AS DI IRAK


Presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan bahwa Rusia bila perlu akan
menggunakan hak-veto di Dewan Keamanan mengenai krisis Irak. Putin
tidak bisa menerima sebuah serangan militer Amerika Serikat terhadap
Irak yang dilakukan sendirian. Ketika mengakhiri kunjungan tiga hari
di Prancis, Putin mengatakan Rusia tetap mendukung rancangan damai
Prancis-Jerman mengenai perluasan inspekasi senjata di Irak.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Colin Powell menyatakan bahwa ia
di Dewan Keamanan akan membicarakan dengan pihak yang keberatan
dengan aksi militer. Menurut Powell, penangguhan aksi militer hanya
akan menguntungkan Saddam Hussein saja. Di samping Powell akan hadir
pula dalam debat di Dewan Keamanan itu menlu Jerman, Prancis, Cina
dan Rusia. Ketua inspektur senjata Hans Blix dan direktur dinas atom
enerji internasional, IAEA, Muhammad el Baradei akan menyampaikan
hasil pengamatan terbaru di Irak.


* AS TARIK SEPAROH STAF DARI BAHREIN DAN QATAR


Amerika Serikat menarik pulang separoh staf kedutaan dari Bahrein dan
Qatar. Karyawan yang tidak darurat diperlukan, ditarik pulang.
Kebijakan yang sama sudah berlaku di kedutaan-kedutaan di Suriah,
Libanon, Kuwait, Arab Saudi, Yordania dan Israel.

Gedung Putih menandaskan bahwa pidato Usamah bin Laden yang
ditayangkan Al Jazirah baru-baru ini menandakan hubungan Al Qaeda
dengan Irak. Untuk mencegah kemungkinan aksi teror, sarana keamanan
Washington diperketat. Di seputar ibukota AS itu ditempatkan sejumlah
perangkat penangkal rudal.


* BELGIA BISA ADILI ARIEL SHARON KALAU PENSIUN

Mahkamah Tertinggi Belgia, Het Hof van Assisen, memutuskan bahwa
Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon bisa diadili di Belgia, kalau
masa jabatannya berakhir. Keputusan ini mempertegas UU Belgia yang
kontroversial mengenai pengadilan orang yang melakukan kejahatan
perang di luar Belgia.

Juni tahun lalu pengadilan rendah menolak tuntutan terhadap Sharon
atas kejahatan perang di kam pengungsi Sabra dan Shatila tahun 1982.
Sharon, yang ketika itu menjabat menteri pertahanan, dinyatakan
bertanggungjawab langsung atas pembantaian itu. Israel gusar
menanggapi keputusan Belgia ini dan memanggil pulang duta besarnya
dari Brussel.


* SERIKAT BURUH BOLIVIA SERUKAN MOGOK MASSAL


Serikat buruh Bolivia menyerukan aksi mogok massal menentang
pembunuhan 16 demonstran. Pemimpin oposisi Evo Morales dan serikat
buruh terkemuka mendukung aksi mogok itu. Mereka memprotes tindakan
tentara yang menembaki massa demonstrasi di Istana presiden La Paz.

Ribuan massa datang ke istana presiden menentang kebijakan kenaikan
harga. Di samping membunuh 16 orang demonstran, tentara juga melukai
80 orang. Untuk penjegahan, tentara melarikan Presiden Gonzalo
Sanchez de Lozada ke lokasi rahasia. Sehubungan dengan protes massal
ini presiden Bolivia akhirnya menangguhkan kenaikan harga.


* IRAK LAKSANA KERIKIL PENGGANJAL PEMBENTUKAN KABINET BARU BELANDA

Apakah krisis Irak semakin menjauhkan partai Kristen Demokrat CDA
dari Partai Buruh PvdA? Kedua partai politik Belanda ini sedang
membicarakan pembentukan kabinet koalisi baru, dan kedua berpendapat
sangat berbeda mengenai penyelesaian krisis Irak. Ini terbukti ketika
Rabu kemarin de tweede kamer, yaitu majelis rendah Belanda
membicarakan keputusan pemerintah demisioner untuk mengirim rudal
penangkal Patriot ke Turki. Dari debat itu jelas, Irak untuk
sementara adalah masalah dalam negeri Belanda. Laporan redaktur Carin
Tiggeloven:

Untuk sementara emosi dapat diredakan. Rabu kemarin parlemen Belanda
menyetujui juga pengiriman rudal patriot ke Turki. Sistem penangkal
ini harus dapat menahan serangan rudal-rudal Irak, apabila sampai
pecah perang. Debat di parlemen memang membicarakan soal Patriot,
tetapi lebih jauh mengenai posisi Partai sosial demokrat PvdA, yang
sedang berunding membentuk pemerintahan koalisi dengan Partai Kristen
Demokrat CDA.

Minggu lalu hubungan kedua partai kelihatannya membaik. Kemudian
pemerintah demisioner Belanda memutuskan untuk mengirim tiga rudal
penangkal Patriot ke Turki. Alasannya permintaan itu datang lewat
NATO. Dan sebagai sekutu yang baik, Perdana Menteri Jan Peter
Balkenende langsung menyanggupi permintaan tersebut. Selain itu
pemerintah datang dengan alasan lain, pengiriman ini hanyalah bagian
tugas pertahanan, jadi bukan berarti Belanda sudah 100 persen setuju
dengan aksi militer di Irak.

Mula-mula Partai Buruh PvdA terlihat sejalan dengan keputusan calon
mitra koalisinya. Hingga pemimpin partai PvdA Wouter Bos mengubah
pendapatnya, ketika Jerman, Prancis dan Belgia jelas-jelas menentang
pengiriman bantuan ke Turki sekarang, yang dianggap terlalu dini.
Alasan soal ketiga negara Eropa itu, diambil alih oleh Wouter Bos:
apabila Belanda mengirim Patriot sekarang, maka sama saja dengan
mempersiapkan sebuah perang.

Wouter Bos: Apabila Patriot dipasang di sekitar pangkalan angkatan
udara, maka para prinsipnya digunakan untuk melindungi pangkalan
tersebut. Pangkalan yang digunakan untuk penerbangan pesawat-pesawat
tempur, jadi tidak ada hubungannya dengan perlindungan negara atau
penduduk Turki. Ini justru lebih berhubungan dengan kemungkinan aksi
ofensif, yang justru kami tentang.

Partai Sosial Demokrat PvdA ingin menunggu hingga keluar keputusan
Pakta Pertahanan NATO. Baru sesudah itu Belanda bisa mengirim bantuan
ke Turki. Pemimpin partai CDA sekaligus Perdana Menteri Jan Peter
Balkenende, beraksi sangat jengkel:

Perdana Menteri Jan Peter Balkenende: Jum'at minggu lalu saya
mengambil kesimpulan, bahwa Wouter Bos atas nama PvdA menyetujui
keputusan kabinet untuk mengirim rudal Patriot ke Turki, apalagi
karena ini adalah bagian dari tugas pertahanan. Sekarang pendapatnya
berubah. Jadi kita harus menunggu hasil debat.

Selain itu kedua partai juga berbeda pendapat mengenai rencana
perdamaian yang akan diajukan Prancis dan Jerman. Menurut partai
sosial demokrat PvdA, usulan tersebut punya kemungkinan untuk
berhasil. Tetapi di mata Menteri Luar Negeri Jaap de Hoop-Scheffer
yang berasal dari Partai Kristen Demokrat CDA, rencana ini datang
pada saat yang salah, dan karena itu tidak perlu didukung oleh
pemerintah Belanda.

Menteri Luar Negeri Jaap de Hoop-Scheffer: Pemerintah Den Haag akan
mengikuti langkah PBB sampai tahap terakhir. Konsekwensi pilihan
politik pemerintah Belanda dan pemerintah Eropa lainnya akan diambil
berdasarkan laporan Hans Blix Jum'at besok. Setelah itu tentu saja
akan dilangsungkan debat, dan dari hasil debat pemerintah akan
menarik kesimpulan. Kesimpulan ini saja dibicarakan secara panjang
lebar di majelis rendah Belanda.

Walau pun begitu kedua partai tidak ingin memperuncing perbedaan
pendapat tersebut. Menurut Wouter Bos, pemimpin Partai Buruh PvdA,
masih banyak masalah lain yang belum disepakati oleh kedua partai.
CDA dan PvdA juga akan tetap melanjutkan pembicaraan koalisi. Sikap
ini dianggap aneh oleh salah seorang tokoh penting Partai Buruh,
yaitu mantan menteri Jan Pronk. Menurutnya Irak harus menjadi agenda
terpenting pembicaraan pembentukan kabinet koalisi. Apalagi krisis
Irak akan tetap menghantui kedua partai. Jum'at besok Hans Blix,
ketua tim inspeksi senjata PBB akan menyampaikan laporan kedua kepada
Dewan Keamanan PBB. Hasilnya akan diperdebatkan oleh De Tweede Kamer
yaitu majelis rendah Belanda.


* KANSELIR JERMAN TETAP BERSIKUKUH ANTI PERANG TERHADAP IRAK

Kanselir Jerman Gerhard Schroder tetap berpegang teguh pada
pendapatnya, menolak perang di Irak. Di hadapan parlemen Jerman ia
membela sikapnya, walau pun dikritik pedas oleh pihak oposisi karena
membawa Jerman pada posisi sulit. Menurut Schroder pemerintahnya
belum melihat alasan untuk mendukung rencana perang di Irak dalam
Dewan Keamanan PBB. Laporan redaktur Eropa Barat Johan Huizinga:

Memang, menurut para lawannya, kanselir Jerman Gerhard Schroder
menyeret negaranya ke dalam keterkucilan penuh. Tetapi yang tidak
disebut kalangan oposan adalah dengan sikap anti perang itu, sekarang
Jerman tampil sebagai aktor politik penting. Schroder memang tidak
mengalami masa Perang Dunia II, karena itu tidak ditahan oleh
perasaan bersalah yang menjadi beban sebagian rakyat Jerman akibat
kejahatan rejim Nazi Hitler. Karena itu ia tidak merasa wajib untuk
selalu mendukung Amerika Serikat. Apalagi karena Paman Sam adalah
pembebas Jerman sewaktu Perang Dunia II dan pelindung dari gerakan
komunis beberapa tahun kemudian.

Justru dengan alasan ini ia banyak mendapat kritik dari dalam negeri.
Bagi banyak orang Jerman masih tetap tabu untuk, secara terbuka,
mempertanyakan kesetiakawanan dengan Washington. Tetapi perasaan ogah
terlibat perang baru, kelihatannya lebih menentukan bagi warga
Jerman. Itu pun jelas berhubungan dengan masa lampau Jerman sebagai
negara yang menyebabkan pecahnya perang dunia kedua.

Kanselir Jerman tahu, penolakannya ikut perang makin mendapat
dukungan mayoritas warga Jerman. Tetapi tidak semua orang menyetujui
langkah-langkah yang ditempuhnya. Berbeda dengan Presiden Prancis
Jacques Chirac, Schroder menyatakan tidak akan mendukung aksi militer
terhadap Irak dengan alasan apa pun. Dengan kata lain ia tidak punya
ruang gerak lagi yang masih akan memungkinkannya memberi dukungan
kepada Washington apabila perang memang tidak bisa dihindari.

Penolakan mentah-mentah Schroder sangat disambut baik oleh rakyat
sipil, tetapi dalam merongrong kedudukan Jerman dalam perundingan
internasional. Hal itulah yang menjengkelkan Menteri Luar Negeri
Joschka Fischer. Memang Fischer sangat menentang perang, tetapi ia
sadar Jerman tidak boleh terburu-buru menutup diri apabila sekutunya
Prancis, Rusia dan Cina akhirnya tetap akan memilih mendukung Amerika
Serikat dan Inggris.

Selain itu Jum'at ini Menlu Fischer harus kembali memimpin sidang
Dewan Keamanan PBB, apabila para anggota merundingkan laporan
terakhir tim inspeksi senjata PBB. Joschka Fischer yang dikenal
sebagai politikus yang berpengalaman dan trampil, ingin dianggap
sebagai mitra diskusi yang serius. Langkah-langkah sangat gegabah
sang kanselir dengan mengumumkan usulan Prancis-Jerman untuk
memberikan waktu lebih banyak kepada tim inspeksi senjata PBB, tidak
akan membantu posisi Fischer.

Kedua pemimpin politik Jerman ini berhasil menjaga perbedaan pendapat
mereka agar tidak keluar ke media. Keduanya sepakat sementara waktu
inspeksi senjata di Irak harus tetap dilanjutkan, kalau bisa malah
diperluas. Selain itu menurut Kanselir Schroder mayoritas anggota
Dewan Keamanan PBB mendukung usulan Prancis, Rusia dan Jerman.
Selanjutnya ia juga menentang kritik Jerman dengan vetonya di Nato
sudah menelantarkan Turki, salah satu mitra anggota Nato.

"Tentu saja kita akan mendukung Turki, apabila negara itu diserang",
kata Kanselir Schroder. Tetapi sama seperti Prancis dan Belgia,
Jerman ingin menunggu laporan kedua inspektur PBB sebelum mengumumkan
rancangan konkrit kepada NATO. Kelihatannya, apa pun kesimpulan Hans
Blix Jum'at malam nanti, Jerman tetap ingin agar perang dihindari.
Yang masih diragukan, apakah ketiga negara Eropa itu akan tetap
membentuk satu front yang kukuh, apabila Hans Blix mengumumkan hasil
negatif di hadapan Dewan Keamanan PBB.


* TNI KEJEPIT PERJANJIAN DAMAI ACEH


Panglima Tentara Nasional Indonesia, Endriartono Sutarto menegaskan,
TNI punya rencana cadangan bila perjanjian penghentian permusuhan
antara Indonesia dan Gerakan Atjeh Merdeka, GAM, gagal. Tidak jelas
mengapa mendadak Sutarto mengeluarkan pernyataan tersebut. Sementara
itu polisi Indonesia menangkap Muhammad Nazar, ketua Sentral
Informasi Referendum Aceh, SIRA, dengan dakwaan melakukan kegiatan
politik tanpa ijin. Apakah manuver Jakarta itu berkaitan dengan
terbetiknya kabar bahwa GAM menganggap perjanjian Jenewa sebagai
jembatan referendum kemerdekaan Aceh? Radio Nederland menghubungi
Otto Syamsuddin Ishak, pemerhati masalah Aceh di Jakarta.

Otto Syamsuddin Ishak [OSI] : Ya itukan suatu hal yang biasa, ada
skenario satu dan skenario dua. Sebenarnya skenario sekarang yang
sedang berlangsung kan sebenarnya skenario yang lebih lunak dari yang
minggu lalu mereka katakan. Nah artinya juga selalu kita lihat bahwa
TNI memang seharusnya memang berbicara begitu gitu lo. Artinya itu
sudah layaknya sikap politik serdadu. Tetapi masalahnya sekarang
adalah apakah sikap serdadu itu kontra produktif dengan sikap politik
negara Republik Indonesia itu sendiri, ini yang menjadi masalah.

Sebenarnya masalah penggudangan senjata itu adalah kewajiban GAM.
Sedangkan kewajiban TNI/Polri adalah replacement, artinya dari lokasi
posisi-posisi militer mereka. Jadi kalau memang itu tidak
dilaksanakan, sebenarnya mereka bukan saja melakukan pembangkangan
terhadap perjanjian Jenewa tetapi mereka sebenarnya juga melakukan
pembangkangan terhadap sikap politik RI sendiri, gitu lo.

Radio Nederland [RN] : Di satu sisi kan GAM melakukan perjanjian
penghentian permusuhan ini dengan satu target yaitu pemilu lokal ya.
Dan ini diendus menjadi referndum sebenarnya. Bagaimana?

OSI : Itukan belum ada perumusan, itu kan perbincangan ke depan.
Artinya karena poin itu memang tidak ada pembahasan yang jelas, baik
dalam bentuk pelarangan ataupun suruhan, maka wajar-wajar saja kalau
ada kebebasan berekspresi. Bagi saya demikian. Jadi kalau ada suatu
itikad yang baik dari pihak TNI atau pihak pemerintah Republik
Indonesia, sebaiknya mendorong aja perdebatan ke arah proses-proses
all inclusive yang demokratis. Itu bagaimana, sekarang diperdebatkan,
daripada membiarkan komitmen-komitmen itu bisa diberikan berbagai
tafsir.

RN : Tapi sulit sekali saya membayangkan TNI bisa mempersilahkan
perjanjian ini menuju arah referendum kemerdekaan, karna harga mati
kan. Apabila ada referendum kemerdekaan tentu TNI akan ngambil sikap
keras.

OSI : Bukan dalam artian begitu. Tapi dalam artian kita membangun
kesepakatan baru jangan berbicara tentang otonomi, jangan berbicara
tentang referendum dan jangan berbicara tentang kemerdekaan. Tetapi
berbicara tentang mekasnisme bagaimana pembicaraan all inclusive itu
dapat diselenggarakan secara demokratis, gitu.

RN : Tapi kan balik lagi, yang disebut proses demokratis ini
ujung-ujungnya bagi GAM adalah referendum untuk kemerdekaan?

OSI : Ya tetap aja sama saja dengan pihak RI mengatakan itu otonomi.
Jadi disini kan artinya ada satu bandul politik antara tarikan
otonomi dengan tarikan kemerdekaan, kemudian ada tarikan tentang
referendum. Nah sekarang bagaimana bandul-bandul ini berjalan sesuai
dengan kesepakatan-kesepakatan, yang dibangun secara demokratis.

RN : Tapi sampai seberapa lama ya TNI bisa menahan diri untuk tidak
masuk begitu, karena kalau dia terlalu lama melihat bahwa arahnya ini
akhirnya menuju referendum kemerdekaan?

OSI : Saya kira kalau memang gerakannya tetap gerakan demokrasi maka
TNI tidak bisa masuk. Karena kalau gerakan bersenjata TNI bisa masuk.
Oleh karena itu TNI kadang-kadang melakukan operasi intelijen yang
mempropagandakan itu sebagai gerakan bersenjata. Oleh karena itu
mereka bisa mengambil langkah meminta pembatalan perundingan di
Jenawe.

RN : Karena ada bandul ini ya. Saya melihatnya bahwa perjanjian
penghentian permusuhan ini sangat ringkih sekali. Artinya di satu
sisi toh pemerintah Indonesia harus taat. Karena ada janji bantuan
dana yang akan dikucurkan di Aceh. Tapi ringkih sekali untuk
dijalankan.

OSI : Memang orang mengatakan itu suatu hal yang ringkih, tetapi kita
bisa ketahui, semingu-dua minggu yang lalu itu SBI bisa mengatakan
bahwa Indonesia punya hak untuk mengundurkan diri dari perjanjian
tersebut. Kemudian DPR itu mengatakan  sebaiknya Indonesia
mengundurkan diri dari perjanjian tersebut. Tetapi kemarin SBI
mengatakan kita harus tetap menjaga kelangsungan perundingan
tersebut.

Artinya, walaupun bagaimana bandul-bandul ini bergerak bukan dalam
ruang vacum politik gitu lo. Tetapi tejadi dalam ruang-ruang dimana
tekanan internasional sangat tinggi. Dan Indonesia tidak bisa
bergeser dari masalah tersebut gitu lo.

Demikian Otto Syamsuddin Ishak pemerhati masalah Aceh.


* DI TENGAH GEJOLAK LUAR DAN DALAM NEGERI, GERAKAN ISLAM LESU


Intro: Selama ini kalangan Islam yang berdemonstrasi menentang
kemungkinan serbuan Amerika ke Irak barulah Partai Keadilan yang
dikenal moderat. Bagaimana dengan partai-partai Islam lain, apalagi
yang lebih radikal? Sejak serangan teror di Bali, kalangan Islam
radikal ini tampaknya terus tiarap, walau pun pemerintahan Megawati
sudah tergoyang. Koresponden Jopie Lasut mengirim laporan berikut
dari Jakarta:

Presiden Megawati akan mengirim suatu tim yang dipimpin mantan
Panglima TNI Laksamana Purnawirawan Widodo ke delapan negara tetangga
Irak. Bagi Irak dan Negara-negara tetangganya Indonesia masih
merupakan negara Islam yang bersahabat. Sebaliknya negara-negara
barat utamanya Amerika Serikat melihat Indonesia bersifat ragu-ragu
dalam mendukung Barat terutama dalam memerangi terorisme.

Negara-negara Barat justru melihat bahwa terorisme dan kelompok Islam
ekstrem merupakan ancaman besar bagi Indonesia dalam meniti masa
transisi menuju sistem demokrasi modern. Dan bagi mereka, kemampuan
Indonesia mengatasi ancaman itu merupakan faktor penting bagi
kestabilan keamanan di wilayah Asia tenggara. Indonesia saat ini
diakui oleh negara-negara barat sebagai negara terpenting di kawasan
Asia Tenggara dalam perang anti terorisme.

Sehubungan dengan itu negara-negara Barat seperti Amerika, melihat
TNI satu-satunya lembaga yang bisa diandalkan untuk menghadapi
ektremisme Islam dan terorisme di Indonesia. Meski demikian,
negara-negara barat ini menyadari sepenuhnya bahwa wajah tentara di
Indonesia saat ini sudah bopeng. TNI rusak wajahnya karena terlalu
lama mendukung rejim Soeharto yang tidak demokratis. Karena itu
Amerika kini berusaha membantu tentara untuk melakukan reformasi
internal. Sekaligus dengan itu Amerika dan sekutu-sekutu Baratnya
tampaknya sedang berusaha mendorong TNI agar mengambil peran politik
kembali dengan mengambil alih kepemimpinan nasional dari tangan
Megawati yang dinilai ragu-ragu. Skenario Amerika saat ini tampaknya
adalah mendudukkan pemerintahan baru yang didukung TNI dan berani
membasmi terorisme di Indonesia. Untuk itu kalangan Islam moderat dan
liberal harus dirangkul.

Tetapi yang menjadi masalah bagi kalangan TNI yang pro-Amerika
Serikat ialah bahwa wajah Amerika sendiri pun saat ini sudah terluka.
Menurut  seorang tokoh intelektual Islam Muslim Abdurachman,
"Kebencian terhadap sikap politik Amerika memuncak juga di kalangan
moderat." Dalam menghadapi Amerika kalangan radikal dan moderat sama,
katanya. Muhamadiyah dan NU misalnya mulai menunjukkan rasa kesal
mereka terhadap sikap Amerika baik yang menyangkut Irak maupun
Palestina. NU dan Muhamadiyah tidak setuju dengan cara-cara kekerasan
Amrozi cs tetapi tidak mendukung AS. "Kelompok radikal itu hanya
mewakili minoritas umat Islam dan mereka tidak usah ditanggapi secara
serius karena akan hilang sendiri," ujar kalangan NU dan Muhamadiyah.
Tetapi tidak ada yang mau bekerjasama dengan Amerika. Sebab
sebagaimana pernah dikatakan Sutan Sjahrir, pendiri Partai Sosialis
Indonesia di tahun 1950an, "Anda tahu kapan Anda mulai bekerjasama
dengan Amerika. Tetapi Anda tidak tahu kapan kerjasama itu akan
berakhir".

Saat ini memang gerakan-gerakan Islam seolah-olah sedang lesu darah.
Di satu pihak mereka harus menghadapi situasi politik dalam negeri
yang tidak menentu. Mereka melihat bagaimana pemerintahan Megawati
tidak membawa berkah bagi masyarakat. Di pihak lain mereka kesal
melihat sikap Amerika Serikat. Umar Abduh, seorang mantan tapol Islam
melihat gerakan-gerakan Islam saat ini, kecuali Partai Keadilan,
sedang tiarap.

Umar Abduh: Gerakan Islam yang diduga punya militansi, potensi, yang
besar ditakuti, ternyata hanya persoalan bom, hanya persoalan mulai
disidik oleh Polisi udah pada tiarap semuanya. Itu menandakan gerakan
Islam tidak murni. Yang tidak perlu ditakuti. Dan mereka bergerak
lantaran ada restu dan koordinasi dengan mereka yang punya keamanan.

Gerakan-gerakan Islam saat ini tahu jalan keluarnya dari kemelut saat
ini, kata Doktor Muslim Abdurahman. Mereka tidak tahu mekanismenya.
Legislatif, eksekutif dan yudikatif tidak berfungsi dengan baik. De
facto Megawati itu presiden. Tapi dia tidak punya pengaruh, bagi
Muslim, Islam di Indonesia dewasa ini lelah.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke