*Tips 172: Tips For Trainer - Perlunya Fun Reframing*

Sebagai trainer, Anda gak boleh lho tampil dengan wajah kecut, muka jutex,
atau gejala kurang mood lainnya. Sebagai trainer, Anda harus tampil all out,
dalam arti memberikan semua yang Anda mampu untuk membantu orang lain
menjadi lebih baik. Tentunya, ini tidak identik dengan sekadar jejingkrakan
di depan audience.

Saya sendiri, memang merasa harus selalu melakukan "fun reframing" ini.
Bukannya apa-apa, masa lalu saya memang sangat jauh berbeda.

Saya pernah bekerja belasan tahun berprofesi sebagai akuntan, dan malah
pernah juga menjadi tax auditor. Dalam semua profesi di atas, saya memang
cenderung tampil dengan wajah yang serius, formal, dan sebisa mungkin penuh
wibawa. Sebagai auditor, saya bahkan cenderung merasa dituntut untuk jaim
dan tampil dengan wajah "menakutkan".

Saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Pendeknya itu semua adalah tuntutan
profesi. Saat masih di sekolah dulu, kebetulan guru dan dosen saya semuanya
adalah praktisi. Jadi, apa yang mereka ajarkan dalam konteks ini, dan tentu
saja di dalam berbagai literatur auditing, adalah "currigation minded".
Sekali lagi, ini bukan menghujat profesi lho. Sebab bagi saya, masa lalu
tetaplah menjadi bagian dari keindahan dan kebaikan yang saya dapatkan saat
ini.

Dalam pendidikan itu, bertahun-tahun kami dijejali dengan berbagai teknik,
metode, dan cara pandang seorang auditor yang selalu mengupayakan pembuktian
bahwa pihak lain adalah "melenceng". Sekalipun, bukan itu sebenarnya yang
diinginkan oleh para guru saya atau diminta oleh berbagai literatur yang
saya baca.

Sekarang pun, saya kadang-kadang masih terbawa sisa-sisa beliefs itu.

Misalnya jika saya pulang dari kerja, kemudian bertanya pada istri saya
apakah anak-anak sudah makan malam. Jika pun istri saya menjawab bahwa
mereka sudah - maaf bercanda - "diberi pakan", saya seringkali tetap merasa
harus menerapkan teknik "cross checking" atau "positive confirmation" secara
langsung kepada buah-buah hati saya yang lucu-lucu menggemaskan itu.
He...he...he...

Jadi, di masa lalu, saya hidup di dalam sebuah pekerjaan yang cenderung
menyusahkan orang lain - maaf lagi, ini bukan menghina profesi, tapi lebih
berbicara tentang efek samping. Dan menjadi trainer, ibarat menemukan
pekerjaan impian buat saya. Sebab, apa yang sekarang saya lakukan, saya
yakini bisa menyenangkan orang lain!

Mungkin itu sebabnya, ada peserta workshop saya yang ikut workshop dengan
sebuah alasan unik. Kebetulan dia seorang akuntan. Saat saya tanya apa
alasannya ikut workshop, ia mengatakan bahwa ia merasa penasaran, kok ada
seorang akuntan bisa menjadi motivator. Ia bahkan mengatakan bahwa biasanya
seorang akuntan itu punya ciri khas; berkaca mata, pendiam dan tidak banyak
omong, serius, "pacaran" dengan komputer dan tidak tengok kiri atau kanan,
dan seterusnya. Walah.....

Rupanya, EO saya mempromosikan CV lama saya yang memang gak nyambung dengan
profesi terbaru saya ini. Maklum, CV baru saya masih pendek barisnya.

Kembali ke soal reframing. Jadi "fun reframing" itu memang perlu. Dan bagi
saya, ini adalah sebuah tantangan yang sangat menarik sebab saya pernah jadi
orang yang terlalu serius, dan sekarang justru harus jadi fun symbol. Nggak
mudah.

Maka, saya melakukan berbagai hal yang saya anggap bisa membuat saya bisa
kembali ke frame-frame yang lebih fun. Di mana saja, kapan saja. Offline
maupun online. Itu sebabnya, blog saya pun sekarang dijejali dengan berbagai
foto-foto lucu dan funny yang saya kumpulkan dengan memulung di internet. Cek
sendiri deh <http://milis-bicara.blogspot.com>.

Thanks to Mas Khrisnamurti for this crazy idea... ;)

Apa yang saya lakukan itu adalah salah satu cara buat saya, agar saya selalu
berada di dalam frame yang fun. Sebab, saya merasa bahwa blog itu sepertinya
sudah mulai terlalu serius. Bisa jadi, Anda juga sudah mulai menganggap saya
terlalu serius. Padahal, saya sudah dengan sengaja menggunakan jargon
E.D.A.N.

Fun itu perlu. Anda bisa menerapkan reframing untuk diri Anda sendiri.
Caranya? Anda cari saja cara yang cocok buat Anda. Apakah dengan "six steps"
atau cara-cara lain. Yang penting, Anda harus selalu bisa tampil prima dan
tentu saja, menyenangkan audience.

Ya penting. Ingatlah yang satu ini:

*"Apapun yang Anda lakukan di dalam hidup, adalah agar Anda bisa fun - dunia
dan akhirat tentu saja."*

Anda bekerja untuk fun. Jadi waspadalah jika pekerjaan Anda justru membuat
Anda stress, jantungan, atau darah tinggi. Anda memilih sebuah profesi untuk
fun. Waspadalah jika Anda mulai merasa terpenjara di dalamnya. Anda
berdagang dan berjualan untuk fun. Waspadalah jika Anda mulai melakukan
cara-cara yang bertentangan dengan hati nurani dan kalbu Anda. Itu tanda
sudah nggak fun, sebab Anda pasti akan selalu cemas dan khawatir.

Jawab pertanyaan ini, apakah audience Anda yang sudah membayar, meluangkan
waktu, meninggalkan pekerjaan lain, dan mungkin harus mematikan handphone
demi datang dan menghadiri event Anda, juga tidak mencari fun?

Saya Ingin Anda Fun,
Saya Harus Membuat Anda Fun.

*Ikhwan Sopa*
Trainer E.D.A.N.
+62 021 70096855
QA Communication
School of Motivational Communication
*Power Workshop E.D.A.N.*
http://milis-bicara.blogspot.com
*The Gallery of Bank Notes Made By People Doing Online*
http://cheques-gallery.blogspot.com

Kirim email ke