He..he... Mas Nano bisa aja deh...
Pan kita udah ngobrol waktu di Jombang, bahwa tentang "camera face"
itu aku punya pertimbangan sendiri. Huaa...ha...ha...itu lho soal
angle kameranya.

Anyway, sekarang sih saya ikutin saran Mas Nano untuk selalu mencoba
memberikan senyum terbaik sebisa mungkin walau entahlah bagaimana
jadinya nanti.

Buat yang udah hadir di seminar atau ikut EDAN pasti tahulah bagaimana fun-nya. 
Begitulah, emang banyak orang bilang kalo saya ini seringkali "tidak terduga". 
Saya sudah terlanjur punya wajah auditor selama belasan tahun. Tapi begitu 
terlibat dengan saya dalam seminar atau workshop, mereka tidak menduga bahwa 
itu cuman 'kemasannya' koq. He...he...

Buat Mbak Eriyani, jadwal EDAN bisa dilihat diblog baru ku. Blog
singa.

Sukses buat Mas Nano.

Ikhwan Sopa.
http://milis-bicara.blogspot.com

--- In [email protected], "WURYANANO" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> Ya, hidup memang semestinya selalu bisa mencari sela buat "having
fun"
> atau membuat sendiri "having fun". Apalagi profesi trainer, malah
harus
> selalu bisa membuat audience "having fun".
>
> Enaknya trainer, sudah kerjaannya adalah "having fun"...eh "having
much
> money" lagi...
>
> Bagi trainer yang terlalu serius, sebaiknya memang mesti melakukan
"fun
> reframing". Kalau tetap nggak bisa, ya mesti magang dulu di Srimulat
> kali..hehehe...
>
> Hahaha... Lha yang nulis ini saja, saya lihat juga masih cukup
serius
> wajahnya, apalagi jika harus berhadapan dengan kamera... wah...mesti
> lebih dulu "fun reframing for camera face" ya... hahaha... biar bisa
> lebih berwajah rileks dan bisa senyum. Wong kalau saya lihat,
senyum Mas
> Sopa ini juga manis lho.... ini serius tapi "having fun"
lah...hehehe...
>
> Ok, sukses terus Mas Ikhwan Sopa, mesti sering foto ya, biar jadi
> "camera face"... hehehe...
>
> Salam Luar Biasa Prima!
> Wuryanano
>
> http://wuryanano.com/ <http://wuryanano.com/>
>
> =======================
> --- In [email protected], "Ikhwan Sopa" <ikhwan.sopa@> wrote:
> >
> > *Tips 172: Tips For Trainer - Perlunya Fun Reframing*
> >
> > Sebagai trainer, Anda gak boleh lho tampil dengan wajah kecut,
muka
> jutex,
> > atau gejala kurang mood lainnya. Sebagai trainer, Anda harus
tampil
> all out,
> > dalam arti memberikan semua yang Anda mampu untuk membantu orang
lain
> > menjadi lebih baik. Tentunya, ini tidak identik dengan sekadar
> jejingkrakan
> > di depan audience.
> >
> > Saya sendiri, memang merasa harus selalu melakukan "fun reframing"
> ini.
> > Bukannya apa-apa, masa lalu saya memang sangat jauh berbeda.
> >
> > Saya pernah bekerja belasan tahun berprofesi sebagai akuntan, dan
> malah
> > pernah juga menjadi tax auditor. Dalam semua profesi di atas, saya
> memang
> > cenderung tampil dengan wajah yang serius, formal, dan sebisa
mungkin
> penuh
> > wibawa. Sebagai auditor, saya bahkan cenderung merasa dituntut
untuk
> jaim
> > dan tampil dengan wajah "menakutkan".
> >
> > Saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Pendeknya itu semua adalah
> tuntutan
> > profesi. Saat masih di sekolah dulu, kebetulan guru dan dosen saya
> semuanya
> > adalah praktisi. Jadi, apa yang mereka ajarkan dalam konteks ini,
dan
> tentu
> > saja di dalam berbagai literatur auditing, adalah "currigation
> minded".
> > Sekali lagi, ini bukan menghujat profesi lho. Sebab bagi saya,
masa
> lalu
> > tetaplah menjadi bagian dari keindahan dan kebaikan yang saya
dapatkan
> saat
> > ini.
> >
> > Dalam pendidikan itu, bertahun-tahun kami dijejali dengan berbagai
> teknik,
> > metode, dan cara pandang seorang auditor yang selalu mengupayakan
> pembuktian
> > bahwa pihak lain adalah "melenceng". Sekalipun, bukan itu
sebenarnya
> yang
> > diinginkan oleh para guru saya atau diminta oleh berbagai
literatur
> yang
> > saya baca.
> >
> > Sekarang pun, saya kadang-kadang masih terbawa sisa-sisa beliefs
itu.
> >
> > Misalnya jika saya pulang dari kerja, kemudian bertanya pada istri
> saya
> > apakah anak-anak sudah makan malam. Jika pun istri saya menjawab
bahwa
> > mereka sudah - maaf bercanda - "diberi pakan", saya seringkali
tetap
> merasa
> > harus menerapkan teknik "cross checking" atau "positive
confirmation"
> secara
> > langsung kepada buah-buah hati saya yang lucu-lucu menggemaskan
itu.
> > He...he...he...
> >
> > Jadi, di masa lalu, saya hidup di dalam sebuah pekerjaan yang
> cenderung
> > menyusahkan orang lain - maaf lagi, ini bukan menghina profesi,
tapi
> lebih
> > berbicara tentang efek samping. Dan menjadi trainer, ibarat
menemukan
> > pekerjaan impian buat saya. Sebab, apa yang sekarang saya lakukan,
> saya
> > yakini bisa menyenangkan orang lain!
> >
> > Mungkin itu sebabnya, ada peserta workshop saya yang ikut workshop
> dengan
> > sebuah alasan unik. Kebetulan dia seorang akuntan. Saat saya
tanya apa
> > alasannya ikut workshop, ia mengatakan bahwa ia merasa penasaran,
kok
> ada
> > seorang akuntan bisa menjadi motivator. Ia bahkan mengatakan bahwa
> biasanya
> > seorang akuntan itu punya ciri khas; berkaca mata, pendiam dan
tidak
> banyak
> > omong, serius, "pacaran" dengan komputer dan tidak tengok kiri
atau
> kanan,
> > dan seterusnya. Walah.....
> >
> > Rupanya, EO saya mempromosikan CV lama saya yang memang gak
nyambung
> dengan
> > profesi terbaru saya ini. Maklum, CV baru saya masih pendek
barisnya.
> >
> > Kembali ke soal reframing. Jadi "fun reframing" itu memang perlu.
Dan
> bagi
> > saya, ini adalah sebuah tantangan yang sangat menarik sebab saya
> pernah jadi
> > orang yang terlalu serius, dan sekarang justru harus jadi fun
symbol.
> Nggak
> > mudah.
> >
> > Maka, saya melakukan berbagai hal yang saya anggap bisa membuat
saya
> bisa
> > kembali ke frame-frame yang lebih fun. Di mana saja, kapan saja.
> Offline
> > maupun online. Itu sebabnya, blog saya pun sekarang dijejali
dengan
> berbagai
> > foto-foto lucu dan funny yang saya kumpulkan dengan memulung di
> internet. Cek
> > sendiri deh <http://milis-bicara.blogspot.com>.
> >
> > Thanks to Mas Khrisnamurti for this crazy idea... ;)
> >
> > Apa yang saya lakukan itu adalah salah satu cara buat saya, agar
saya
> selalu
> > berada di dalam frame yang fun. Sebab, saya merasa bahwa blog itu
> sepertinya
> > sudah mulai terlalu serius. Bisa jadi, Anda juga sudah mulai
> menganggap saya
> > terlalu serius. Padahal, saya sudah dengan sengaja menggunakan
jargon
> > E.D.A.N.
> >
> > Fun itu perlu. Anda bisa menerapkan reframing untuk diri Anda
sendiri.
> > Caranya? Anda cari saja cara yang cocok buat Anda. Apakah dengan
"six
> steps"
> > atau cara-cara lain. Yang penting, Anda harus selalu bisa tampil
prima
> dan
> > tentu saja, menyenangkan audience.
> >
> > Ya penting. Ingatlah yang satu ini:
> >
> > *"Apapun yang Anda lakukan di dalam hidup, adalah agar Anda bisa
fun -
> dunia
> > dan akhirat tentu saja."*
> >
> > Anda bekerja untuk fun. Jadi waspadalah jika pekerjaan Anda justru
> membuat
> > Anda stress, jantungan, atau darah tinggi. Anda memilih sebuah
profesi
> untuk
> > fun. Waspadalah jika Anda mulai merasa terpenjara di dalamnya.
Anda
> > berdagang dan berjualan untuk fun. Waspadalah jika Anda mulai
> melakukan
> > cara-cara yang bertentangan dengan hati nurani dan kalbu Anda. Itu
> tanda
> > sudah nggak fun, sebab Anda pasti akan selalu cemas dan khawatir.
> >
> > Jawab pertanyaan ini, apakah audience Anda yang sudah membayar,
> meluangkan
> > waktu, meninggalkan pekerjaan lain, dan mungkin harus mematikan
> handphone
> > demi datang dan menghadiri event Anda, juga tidak mencari fun?
> >
> > Saya Ingin Anda Fun,
> > Saya Harus Membuat Anda Fun.
> >
> > *Ikhwan Sopa*
> > Trainer E.D.A.N.
> > +62 021 70096855
> > QA Communication
> > School of Motivational Communication
> > *Power Workshop E.D.A.N.*
> > http://milis-bicara.blogspot.com
> > *The Gallery of Bank Notes Made By People Doing Online*
> > http://cheques-gallery.blogspot.com
> <http://cheques-gallery.blogspot.com>
>


Kirim email ke