Ya, hidup memang semestinya selalu bisa mencari sela buat "having fun"
atau membuat sendiri "having fun". Apalagi profesi trainer, malah harus
selalu bisa membuat audience "having fun".

Enaknya trainer, sudah kerjaannya adalah "having fun"...eh "having much
money" lagi...

Bagi trainer yang terlalu serius, sebaiknya memang mesti melakukan "fun
reframing". Kalau tetap nggak bisa, ya mesti magang dulu di Srimulat
kali..hehehe...

Hahaha... Lha yang nulis ini saja, saya lihat juga masih cukup serius
wajahnya, apalagi jika harus berhadapan dengan kamera... wah...mesti
lebih dulu "fun reframing for camera face" ya... hahaha... biar bisa
lebih berwajah rileks dan bisa senyum. Wong kalau saya lihat, senyum Mas
Sopa ini juga manis lho.... ini serius tapi "having fun" lah...hehehe...

Ok, sukses terus Mas Ikhwan Sopa, mesti sering foto ya, biar jadi
"camera face"... hehehe...

Salam Luar Biasa Prima!
Wuryanano

http://wuryanano.com/ <http://wuryanano.com/>

=======================
--- In [email protected], "Ikhwan Sopa" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> *Tips 172: Tips For Trainer - Perlunya Fun Reframing*
>
> Sebagai trainer, Anda gak boleh lho tampil dengan wajah kecut, muka
jutex,
> atau gejala kurang mood lainnya. Sebagai trainer, Anda harus tampil
all out,
> dalam arti memberikan semua yang Anda mampu untuk membantu orang lain
> menjadi lebih baik. Tentunya, ini tidak identik dengan sekadar
jejingkrakan
> di depan audience.
>
> Saya sendiri, memang merasa harus selalu melakukan "fun reframing"
ini.
> Bukannya apa-apa, masa lalu saya memang sangat jauh berbeda.
>
> Saya pernah bekerja belasan tahun berprofesi sebagai akuntan, dan
malah
> pernah juga menjadi tax auditor. Dalam semua profesi di atas, saya
memang
> cenderung tampil dengan wajah yang serius, formal, dan sebisa mungkin
penuh
> wibawa. Sebagai auditor, saya bahkan cenderung merasa dituntut untuk
jaim
> dan tampil dengan wajah "menakutkan".
>
> Saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Pendeknya itu semua adalah
tuntutan
> profesi. Saat masih di sekolah dulu, kebetulan guru dan dosen saya
semuanya
> adalah praktisi. Jadi, apa yang mereka ajarkan dalam konteks ini, dan
tentu
> saja di dalam berbagai literatur auditing, adalah "currigation
minded".
> Sekali lagi, ini bukan menghujat profesi lho. Sebab bagi saya, masa
lalu
> tetaplah menjadi bagian dari keindahan dan kebaikan yang saya dapatkan
saat
> ini.
>
> Dalam pendidikan itu, bertahun-tahun kami dijejali dengan berbagai
teknik,
> metode, dan cara pandang seorang auditor yang selalu mengupayakan
pembuktian
> bahwa pihak lain adalah "melenceng". Sekalipun, bukan itu sebenarnya
yang
> diinginkan oleh para guru saya atau diminta oleh berbagai literatur
yang
> saya baca.
>
> Sekarang pun, saya kadang-kadang masih terbawa sisa-sisa beliefs itu.
>
> Misalnya jika saya pulang dari kerja, kemudian bertanya pada istri
saya
> apakah anak-anak sudah makan malam. Jika pun istri saya menjawab bahwa
> mereka sudah - maaf bercanda - "diberi pakan", saya seringkali tetap
merasa
> harus menerapkan teknik "cross checking" atau "positive confirmation"
secara
> langsung kepada buah-buah hati saya yang lucu-lucu menggemaskan itu.
> He...he...he...
>
> Jadi, di masa lalu, saya hidup di dalam sebuah pekerjaan yang
cenderung
> menyusahkan orang lain - maaf lagi, ini bukan menghina profesi, tapi
lebih
> berbicara tentang efek samping. Dan menjadi trainer, ibarat menemukan
> pekerjaan impian buat saya. Sebab, apa yang sekarang saya lakukan,
saya
> yakini bisa menyenangkan orang lain!
>
> Mungkin itu sebabnya, ada peserta workshop saya yang ikut workshop
dengan
> sebuah alasan unik. Kebetulan dia seorang akuntan. Saat saya tanya apa
> alasannya ikut workshop, ia mengatakan bahwa ia merasa penasaran, kok
ada
> seorang akuntan bisa menjadi motivator. Ia bahkan mengatakan bahwa
biasanya
> seorang akuntan itu punya ciri khas; berkaca mata, pendiam dan tidak
banyak
> omong, serius, "pacaran" dengan komputer dan tidak tengok kiri atau
kanan,
> dan seterusnya. Walah.....
>
> Rupanya, EO saya mempromosikan CV lama saya yang memang gak nyambung
dengan
> profesi terbaru saya ini. Maklum, CV baru saya masih pendek barisnya.
>
> Kembali ke soal reframing. Jadi "fun reframing" itu memang perlu. Dan
bagi
> saya, ini adalah sebuah tantangan yang sangat menarik sebab saya
pernah jadi
> orang yang terlalu serius, dan sekarang justru harus jadi fun symbol.
Nggak
> mudah.
>
> Maka, saya melakukan berbagai hal yang saya anggap bisa membuat saya
bisa
> kembali ke frame-frame yang lebih fun. Di mana saja, kapan saja.
Offline
> maupun online. Itu sebabnya, blog saya pun sekarang dijejali dengan
berbagai
> foto-foto lucu dan funny yang saya kumpulkan dengan memulung di
internet. Cek
> sendiri deh <http://milis-bicara.blogspot.com>.
>
> Thanks to Mas Khrisnamurti for this crazy idea... ;)
>
> Apa yang saya lakukan itu adalah salah satu cara buat saya, agar saya
selalu
> berada di dalam frame yang fun. Sebab, saya merasa bahwa blog itu
sepertinya
> sudah mulai terlalu serius. Bisa jadi, Anda juga sudah mulai
menganggap saya
> terlalu serius. Padahal, saya sudah dengan sengaja menggunakan jargon
> E.D.A.N.
>
> Fun itu perlu. Anda bisa menerapkan reframing untuk diri Anda sendiri.
> Caranya? Anda cari saja cara yang cocok buat Anda. Apakah dengan "six
steps"
> atau cara-cara lain. Yang penting, Anda harus selalu bisa tampil prima
dan
> tentu saja, menyenangkan audience.
>
> Ya penting. Ingatlah yang satu ini:
>
> *"Apapun yang Anda lakukan di dalam hidup, adalah agar Anda bisa fun -
dunia
> dan akhirat tentu saja."*
>
> Anda bekerja untuk fun. Jadi waspadalah jika pekerjaan Anda justru
membuat
> Anda stress, jantungan, atau darah tinggi. Anda memilih sebuah profesi
untuk
> fun. Waspadalah jika Anda mulai merasa terpenjara di dalamnya. Anda
> berdagang dan berjualan untuk fun. Waspadalah jika Anda mulai
melakukan
> cara-cara yang bertentangan dengan hati nurani dan kalbu Anda. Itu
tanda
> sudah nggak fun, sebab Anda pasti akan selalu cemas dan khawatir.
>
> Jawab pertanyaan ini, apakah audience Anda yang sudah membayar,
meluangkan
> waktu, meninggalkan pekerjaan lain, dan mungkin harus mematikan
handphone
> demi datang dan menghadiri event Anda, juga tidak mencari fun?
>
> Saya Ingin Anda Fun,
> Saya Harus Membuat Anda Fun.
>
> *Ikhwan Sopa*
> Trainer E.D.A.N.
> +62 021 70096855
> QA Communication
> School of Motivational Communication
> *Power Workshop E.D.A.N.*
> http://milis-bicara.blogspot.com
> *The Gallery of Bank Notes Made By People Doing Online*
> http://cheques-gallery.blogspot.com
<http://cheques-gallery.blogspot.com>

Kirim email ke