Pak Agus Syafii,
Agar pemahaman untuk "menjadi diri sendiri" tidak mengarahkan ke proses
"egosentris" maka sudah saatnya kita menjadi "diri sendiri yang arif" yang
bisa menjadi lentera bagi orang lain. Yang dapat memaknai kehidupan ini
dengan adil bagi segala umat, bahkan makhluk hidup (ini sangat berat
lho). Bukan diri yang terkungkung perasaan ria karena menjadi orang penting.
Menjadi diri sendiri dalam porsi yang sewajarnya. Menurut pendapat saya itu
yang terpenting.

Saya pribadi sebagai consultan masih harus belajar dari orang lain dan akan
terus belajar, mungkin belum cukup sampai ajal menjemput. Tapi saya merasa
saya dapat belajar dari siapapun,tanpa beban saya dibodohin maupun
apa..  Saya bisa belajar dari cerita tukang bakso yang kita temui, dari obr
olan dengan rekan kerja mengenai problem rumah tangga, dari bagaimana kita
memacu anak agak rajin belajar, dari customer yang selalu menginginkan
pelayanan yang cepat, dari pergaulan dengan multi etnis dan nationalities.
Semua itu akan memberikan "warna" bagi proses menjadi diri sendiri. Setiap
individu menjadi pribadi yang unik karena diwarnai oleh pergaulan, konsep
religi yang ia anut, pendidikan dan lingkungan disekitarnya.

Sebagai khalifah tentu setiap manusia harus memberikan warna dan makna bagi
diri dan orang lain. Karena itulah jalan menuju "Kebahagian" yang Pak Agus
Syafii lontarkan kepada forum di milis ini.

Dan menurut saya kita tidak perlu men-chalenge Orang2 penting itu untuk
membubarkan organisasinya. Yang dibutuhkan adalah memperbaiki apa
kekurangan2 yang ada agar wadah mereka makin nyaman untuk diikuti. Kalau
individu2nya adalah orang2 terpilih, terpelajar dan agamis, Insya Allah
wadah mereka akan semakin baik. Jadi menurut saya akan lebih baik menjadi
orang yang arif. Saat ini persoalan di sekitar kita membutuhkan orang2 yang
berilmu, arif dan bekerja tanpa pamrih dan tanpa ria. Banyak orang2
membutuhkan uluran tangan kita: pecandu narkoba (ini generasi kita),
gelandangan dan pengangguran (hanya menyalahkan pemerintah?), pornografi
(tidak cukup hanya diundang2, harus ada langkah nyata dan dukungan kebijakan
pemerintah yang pasti), dan banyak lagi pengerusakan generasi yang tidak
cukup hanya mengatakan..mereka hanyalah sampah masyarakat ...nah kalau kita
tidak bisa berbuat apa2 hanya diam, apakah kita bukan sampah juga?

Berfikir hanya dari sudut pandang diri sendir, menurut hemat kami kurang
arif, karena orang disekitar kita juga bisa menjadi guru kita, bahkan anak
kita sendiri.

Wassalam,
ASurya




On 1/15/08, agussyafii <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Jadilah Diri Sendiri
>
> Di dalam perjalanan hidup saya hampir seluruh hidup habis digunakan
> untuk mengajar, trainer dan konselor dan dari perjalanan itu yang
> menarik buat saya adalah bertemu banyak orang yang selalu bertanya
> setelah ini apa yang harus kita lakukan.
>
> Pertanyan-pertanyaan inilah yang paling mencemaskan buat saya,
> bagaimana saya tidak cemas jika kalangan terpelajar dan terdidik saja
> masih bertanya demikian, lantas bagaimana dengan mereka yang tidak
> terpelajar. Pertanyaan lantas apa yang harus kita lakukan, buat saya
> sebuah pertanyaan yang bertanda matinya kreatifitas bagi sebagian
> masyarakat kita. Kematian kreatifitas berarti juga kematian peradaban
> umat manusia.
>
> Hal itu dikarenakan banyaknya pendidik, intelektual dan pemimpin
> selalu meracuni pikiran-pikiran dengan konsep, kiat dan kerangka
> berpikir agar kita selalu takut menghadapi hidup yang muaranya
> berlomba-lomba untuk mencari pengikut sebanyak-banyaknya ditengah
> masyarakat. Begitu serakahnya manusia berlomba-lomba untuk mencari
> pengikut . Bahkan terkadang sampai terjadi pertumpahan darah untuk
> berebut pengikut. Kenapa semua itu harus terjadi?
>
> Sudah saatnya kita bertanya, beranikah Din Syamsudin membubarkan
> Muhamadiyah? Beranikah Hasyim Musyadi membubarkan NU? Beranikah Gusdur
> Membubarkan PKB? Beranikah Tifatul Sembiring membubarkan PKS?
> Beranikah Jusuf Kalla membubarkan Golkar? Beranikah SBY membubarkan
> Partai Demokrat?
>
> Dan kemudian mengatakan kepada para pengikutnya saya bubarkan ini
> karena saya tidak butuh pengikut, karena pengikut meracuni diri saya
> sendiri. Temukan pertanyaan-pertanyaan hidup anda ke dalam diri anda
> dan anda akan menemukan jawabannya. Jika anda mencari jawaban diluar
> diri maka anda akan tersesat.
>
> Beranikah mereka melakukannya? Anda pasti tahu jawabannya.
>
> Maka berhentilah untuk berpikir dengan cara orang lain, berhentilah
> menjadi pengikut siapapun, berhentilah untuk meracuni diri sendiri,
> berhentilah untuk selalu merunduk dan bertiarap. Jadilah diri anda
> sendiri dan temukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan anda ke dalam
> diri anda sendiri. Jika tidak, anda akan tersesat.
>
> Wassalam,
> agussyafii
>
> ==============================================
> Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui
> http://agussyafii.blogspot.com atau sms 0888 176 48 72
> ==============================================
>
> 
>

Kirim email ke