Pemimpin Sejati (Jawaban Untuk Tanggapan Pak Djamhari Maskat) Pemimpin sejati tidaklah dihitung berapa banyak jumlah pengikutnya tetapi pemimpin sejati dihitung dari berapa banyak orang yang sudah dibebaskan dari belenggu kejumudannya. Itulah sebabnya dalam sejarah peradaban umat manusia selalu mencatat nama orang-orang yang berpenampilan sederhana namun melakukan tindakan-tindakan kecil yang memiliki pengaruh besar bagi orang lain yaitu dengan membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan.
Pemimpin sejati tidak pernah dipusingkan dengan jumlah pengikutnya yang kian surut, pemimpin sejati tidak pernah menumpahkan darah hanya karena berebut pengikut. Pemimpin sejati adalah mereka, orang-orang yang duduk damai dalam kesendiriannya disetiap jari sibuk berbuat dan bertindak yang tiap langkah dan tindakannya selalu mengilhami orang lain untuk selalu mencintai dan melayani sesama. Kehidupan yang selalu dikelilingi pengikut banyak, berkelimpahan materi, semua apa yang diucapkan seolah sabda yang mengikat, siapa yang tak tergoda oleh itu semua? Tapi tidak bagi mereka yang telah menemukan diri sejatinya. Baginya kepuasaan hidup yang dimilikinya adalah ketika dia hidup mencintai dan melayani sesama sebagaimana yang dilakukan baginda Nabi SAW menyuapi seorang pengemis buta yang selalu mengatakan bahwa Muhamad adalah orang yang paling dia benci. Namun setiap pagi Baginda Nabi SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Nabi SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Nabi SAW melakukannya hingga menjelang Beliau wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis buta itu dan pengemis buta itu juga tidak tahu bahwa yang menyuapinya setiap hari adalah orang yang dia benci. Itulah pemimpin sejati tidak disibukkan dengan organisasi, tidak disibukkan dengan jumlah pengikut namun disibukkan dengan langkah dan tindakan mencintai dan melayani yang mengilhami saya dan anda. Salam Cinta, agussyafii ============================================== Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui http://agussyafii.blogspot.com atau sms 0888 176 48 72 ============================================== --- In [email protected], Jamhari Maskat <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Salam untuk ustaz Agussafi, > > Berani juga antum menantang Tokoh-tokoh seperti Din Samsuddin dan lain-lain, hebat luar biasa, pikiran anak muda. > Aye selalu tergelitik untuk harus menjawab, karena kalau tidak antum masuk neraka nanti aye dibawah-bawah. > Jadilah diri sendiri? Individualis, padahal Islam itu kan Jamaah, Uswahnya Rasul. > Jika antum menolak Uswah, yang ada dalam Al-Quran menurut Sunnah Rasul, lalu Islam model apa yang musti ditegakkan? > Bukankah setiap manusia dan Jin itu diciptakan untuk mengabdi, padahal kalau mau ikut diri sendiri, lalu buat apa shalat, buat apa puasa, ikut aje kemauan diri sendiri? > "Afaraaital lazii ilaahahu hawaahu" Kata Allah : "Tidakkah anda melihat orang yang mengikuti subjektifnya sendiri" > Kalau mau ikut diri sendiri, tanpa menerima informasi dari luar diri, antum akan menjadi Tarsan di hutan, padahal antum sudah mengutip banyak pendapat orang maupun Firman Tuhan, tul kan? > Jadi ikutlah Petunjuk Allah, buanglah pendapat pribadi bila bertentangan dengan Firman Allah, Jadilah orang seperti Rasulullah, kalau ngga bisa minim mendekati Rasul, jangan jadi diri sendiri, itu Konsep Barat yang hidup tanpa standard ilmiyah. > Namun Allah mempersilahkan :"Ihbituuu, ba'dhukum liba'din aduwwun" Silahkan kalian menyimpang dari petunjuk Al Quran ini, niscaya satu terhadap yang lain kalian akan hidup dalam permusuhan" > Bayangkan kalau semua menurut Saya, ada berapa banyak saya di dunia ini, jikalau saya diikuti oleh emosi, orang lain tidak mau merunduk pada pendapat saya, maka terjadilah apa yang seharus tidak terjadi. > Jadi Ustaz, maaf kalau kritik ini agak pedas, tetapi Aye hanya membebaskan diri Aye agar di Akhirat Aye terbebas dari pertenggungan jawab, karena Kata Nabi : "Jika kamu melihat sesuatu kemungkaran/kesalahan, maka robahlah dengan tanganmu, kalau ngga bisa robahlah dengan lisanmu" Begitukan Ustaz, jadi jangan mancing-mancing Din Syamsuddin untuk bubarkan Muhammadiyyah, Hasyim Muzadi bubarkan NU, dia pada jadi ketua kan dipilih oleh anggota, kalau mau anggotanya yang punya Muhammadia atau NU suruh bubarkan, nanti apa kata mereka, antum bisa dituduh PKI. > Waspadalah dengan lidah, karena tajamnya lidah bisa lebh tajam dari pedang. > Wassalam > > Djamhari Maskat > [EMAIL PROTECTED] > > > > > > > --------------------------------- > Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers >
