Tips 182: I Made Mistake, I Have To GoMinggu yang lalu saya membuat kesalahan. Di sebuah milis, saya memposting iklan E.D.A.N. sehari lebih cepat dari jadwal resmi "iklan mingguan" di milis itu. Tanggapan pun muncul. Beberapa di antaranya bahkan sangat subyektif dan menyerang pribadi. Yang diserang bukan kesalahan saya, tapi sayanya. Malah, serangan itupun dilakukan secara terbuka dan bukan japri, seolah kesalahan saya adalah serangan pribadi bagi mereka. That's not good, but that's fine with me.
Buat saya, kesalahan itu ada dua. Pertama jika kesalahan itu teknis sifatnya, dan kedua jika kesalahan itu moral sifatnya. Menurut pertimbangan saya, kesalahan yang telah saya lakukan itu lebih teknis sifatnya. Dan untuk kesalahan semacam ini, saya hanya perlu meminta maaf dan berkomitmen untuk tidak lagi melakukannya. Tanpa mengurangi kenyataan bahwa secara etika salah adalah tetap salah, kesalahan seperti ini sebenarnya tidak perlu didramatisir menjadi kesalahan yang bernuansa moral. Bagaimanakah jika sekiranya ada sementara pihak yang justru menyeretnya ke wilayah moral dan personal? Inilah yang sering sulit dipahami. Dalam banyak kasus, kesalahan yang dimoralisir seperti inilah yang seringkali membuat kita menjadi enggan melangkah. "Ah takut salah." "Apa kata orang nanti?" Dan seterusnya. Jika Anda tidak berhasil memahami, mengelola, dan menghadapi jenis-jenis kesalahan ini, Anda memang akan terjebak pada rasa bersalah di masa lalu, atau ketakutan akan terjadinya kesalahan di masa depan, yang mengakibatkan Anda tidak melanjutkan langkah, atau bahkan malah surut ke belakang. Sekali lagi, apa yang penting berkaitan dengan kesalahan atau kemungkinan terjadinya kesalahan, yang berikut ini mungkin perlu Anda pertimbangkan. Apakah kesalahan itu akan menimpakan dosa kepada diri Anda? Apakah kesalahan itu akan menjerumuskan Anda ke neraka? Jika tidak, teruslah melangkah dan berharaplah bahwa kesalahan itu tidak terjadi. Jika kesalahan itu benar-benar terjadi, bersikaplah santun dan bijak untuk meminta maaf, kepada orang lain atau kepada diri sendiri, untuk kemudian berkomitmen tidak mengulanginya lagi. Tentu saja, Anda juga harus tetap konsekuen untuk menerima punishment-nya. Keep running! Apa yang bisa saya dan Anda pelajari dari kasus kesalahan saya minggu lalu itu? Pertama, pahamilah "model" kesalahan itu. Tekniskah atau moralkah. Kedua, jika Anda meyakini bahwa itu "teknis" sifatnya, mintalah maaf dengan sopan dan santun, berkomitmenlah untuk tidak mengulanginya dan menaati etika, terimalah konsekuensi atau punishment yang berlaku, dan jika mungkin kontribusikan sesuatu sebagai pengganti. Ketiga, ketahuilah bahwa sebuah kesalahan justru memunculkan kejernihan peta dunia di hadapan Anda. Dengan pernah salah, Anda makin jelas mengetahui siapa kawan dan siapa lawan, siapa yang memusuhi Anda, siapa yang menjadi teman Anda, dan siapa yang perlu Anda ragukan kedekatannya dengan Anda. Juga, Anda akan makin jelas tentang apa yang bisa atau tidak bisa Anda lakukan. Lebih dari itu, tak hanya tentang siapa kawan atau lawan. Ada semilyar pelajaran di dalam satu kesalahan. Keempat, pahamilah bahwa dengan makin jelas dan terbukanya peran orang-orang di sekitar Anda, baik sebagai kawan atau sebagai lawan, justru menunjukkan bahwa Anda sedang mengalami kenaikan kelas. Makin banyak orang yang secara terbuka menunjukkan permusuhan dengan Anda, baik yang alamiah atau yang dipaksakan, makin membuktikan bahwa Anda mulai diperhitungkan. Kelima, kejernihan baru itu menunjukkan kejelasan dari positioning orang-orang di sekitar Anda. Artinya, sebuah kesalahan juga menjadi sinyal bagi Anda untuk melakukan re-positioning diri Anda di hadapan mereka. Peluang bagi Anda untuk melakukan perbaikan. Sungguh luar biasa, beberapa hari yang lalu, Pak Jamil Azzaini<http://www.kubik.co.id/>menasehati saya tentang "pitstop", alias masuk ke kandang untuk merenungkan semua langkah. Nasehat beliau sungguh tepat waktu. Terimakasih Pak Jamil. Semoga pahala dilimpahkan Allah SWT kepada Bapak dan Kubik Leadership. Keenam, repositioning yang Anda butuhkan, adalah mengadjust segala pola sikap, perilaku, dan tindakan. Di antara yang terpenting adalah yang berikut ini. Ketahuilah, bahwa Anda tidak akan mungkin menjadikan semua manusia di dunia ini sebagai teman atau saudara. Namun apa yang pasti, siapapun mereka, kawan atau lawan, hanya berkontribusi satu hal bagi diri Anda, yaitu memberikan * dukungan* yang terbaik. Kawan Anda mendukung Anda, dan musuh Anda pun mendukung Anda. Setiap sikap dan langkah mereka, akan membuat Anda bergerak dan berupaya menjadi lebih baik. Maka, apa yang terbaik bagi Anda adalah berterimakasih kepada mereka. Berterimakasihlah pada kawan-kawan Anda, dan berterimakasihlah kepada "musuh-musuh" Anda. Hormati mereka. Merekalah, yang punya peran besar dalam mencetak diri Anda menjadi lebih baik. Sekali lagi dengan segala kerendahan hati, mohon maaf untuk segala kesalahan saya. Terimakasih banyak untuk semua pihak yang mengingatkan dan memberi pelajaran besar tentang "repositioning" dan perbaikan diri. Terimakasih juga kepada semua pihak yang dengan rela telah menjadi bagian dari fragmentasi kesalahan saya, baik sebagai "good guys" maupun sebagai "bad guys". Drama kehidupan ini, tidak bisa tidak hanya memberi kita peran yang saling memberi pelajaran. Lebih dari itu, tak lain dan tak bukan, kita semua adalah saudara yang saling memberi dukungan. Akhir kata, semua yang di atas itu sebenarnya adalah tentang bagaimana seharusnya saya. Jika Anda berkenan memetik hikmahnya, Alhamdulillah semoga kita semua mendapat berkah. Btw, judul di atas sebenarnya salah. Mestinya, "I Made Mistake, I've Learned To Go On". Keep positive! *Ikhwan Sopa* Trainer E.D.A.N. +62 21 70096855 QA Communication *School of Motivational Communication* http://milis-bicara.blogspot.com
