Bener banget Mbak Yunda.

Kebetulan, saya mengalaminya di awal-awal dulu saat membangun QA 
Communication. Dimulai dari keluarnya saya dari pegawai negeri. Orang 
mau membayar puluhan juta untuk jadi pegawai negeri, sementara saya 
harus membayar puluhan juta untuk keluar. Ini membingungkan, 
khususnya bagi berbagai pihak yang kurang mengerti tentang apa 
keinginan saya. Dalam banyak kasus, kinipun langkah saya itu 
dipandang nyeleneh dan mengada-ada. Wallahu'alam.

Berikutnya, saat saya benar-benar menggeser diri dan menekuni dunia 
dan profesi yang sama sekali baru. Sebuah dunia, yang saya bisa 
dikatakan tidak punya background sama sekali. Saat itulah berbagai 
persoalan sebagai business starter muncul. Dalam kondisi demikian, 
saya memang sangat membutuhkan dukungan, baik moril maupun materiil.

Jika saja, mereka sekedar heran atau tidak bisa membantu, tentulah 
itu persoalan yang wajar-wajar saja. Tapi jika ketidaksenangan malah 
berujung pada upaya menjatuhkan atau mensabotase, pastilah kita mulai 
menempatkan mereka pada posisi musuh yang menghalangi jalan. Bukan 
begitu. Tapi seperti pengalaman saya sebelumnya, kita tidak perlu 
disibukkan dengan upaya dan usaha orang-orang yang memang tidak bisa 
dipaksa untuk setuju atau menyukai kita. Lebih baik, persepsikan 
semua itu sebagai tantangan, dan sebagai bentuk dukungan (yang sudah 
ikut E.D.A.N. pasti tahu ini).

Alhamdulillah, sebagian besar mereka yang tadi menusuk dari belakang, 
kini mulai punya respek. Tak lebih dan tak kurang, tak bisa tidak, 
kita memang harus "menghormati" sikap permusuhan mereka. Karena jelas-
jelas, positioning seperti itulah, yang justru membuat kita menjadi 
lebih baik dan lebih baik lagi. Ingatlah bahwa pada permainan catur, 
setiap langkah lawan, justru akan memaksa kita untuk menampilkan 
segala sumber daya dan apa yang terbaik dari dalam diri kita. Itu 
artinya, musuh pun harus disyukuri karena mereka juga sebenarnya 
"mendukung" kita dengan gayanya masing-masing.

Kita tidak berharap makin banyak musuh, tapi jika mereka muncul 
secara terbuka, hadapilah sebagai tantangan dan sebagai DUKUNGAN. 
Keep positive!

Sukses buat Anda semua.

Ikhwan Sopa
http://milis-bicara.blogspot.com

--- In [email protected], YUNDA SUZANNA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Sopa,
> 
> Ini pertama kali saya ikut serta untuk ngasih komentar di milist 
ini, selama ini saya jadi member yang pasif aja alias hanya membaca 
semua email2 dari anggota milist ini. Lumayan banyak juga ilmu yang 
saya dapatkan walau jadi member pasif...
> 
> Saya tergerak untuk ngasih komen atas tulisan Mas Sopa dibawah 
ini...Menurut saya untuk mengenal untuk mana yang "bener2 teman" atau 
lawan tidak hanya melalui suatu kesalahan yang pernah kita alami 
seperti yang Mas Sopa alami, akan tetapi itu dapat kita ketahui 
ketika kita atau seseorang yang sedang mengalami/mempunyai masalah/
problem.
> 
> Pengalaman saya telah membuktikan, ketika saya menghadapi suatu 
masalah/problem yang cukup pelik, temen yang telah bertahun-tahun 
saya kenal ternyata bukannya membantu memberi solusi, malahan ikutan 
menambah parah persoalan yang sedang saya hadapi, justru yang belum 
begitu lama saya kenal malah benar-benar mengerti  akan artinya 
sebagai seorang teman. Dari pengalaman ini lah saya dapat mengenal 
dengan cukup baik mana orang-orang yang bener2 menjadi teman atau 
lawan.
> 
> Jadi dengan kata lain, kita dapat mengenal teman atau lawan bukan 
hanya melalui kesalahan aja akan tetapi melalui masalah/problem pun 
kita juga dapat mengenal mana mereka yang sebagai teman atau lawan.
> 
> Bener ga menurut Mas Sopa.
> 
> Yunda
> 
> 
> 
> Ikhwan Sopa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
> Tips 182: I Made Mistake, I Have To GoMinggu yang lalu saya membuat 
kesalahan. Di sebuah milis, saya memposting iklan E.D.A.N. sehari 
lebih cepat dari jadwal resmi "iklan mingguan" di milis itu. 
Tanggapan pun muncul. Beberapa di antaranya bahkan sangat subyektif 
dan menyerang pribadi. Yang diserang bukan kesalahan saya, tapi 
sayanya. Malah, serangan itupun dilakukan secara terbuka dan bukan 
japri, seolah kesalahan saya adalah serangan pribadi bagi mereka. 
That's not good, but that's fine with me.
> 
> Buat saya, kesalahan itu ada dua. Pertama jika kesalahan itu teknis 
sifatnya, dan kedua jika kesalahan itu moral sifatnya.
> 
> Menurut pertimbangan saya, kesalahan yang telah saya lakukan itu 
lebih teknis sifatnya. Dan untuk kesalahan semacam ini, saya hanya 
perlu meminta maaf dan berkomitmen untuk tidak lagi melakukannya. 
Tanpa mengurangi kenyataan bahwa secara etika salah adalah tetap 
salah, kesalahan seperti ini sebenarnya tidak perlu didramatisir 
menjadi kesalahan yang bernuansa moral. Bagaimanakah jika sekiranya 
ada sementara pihak yang justru menyeretnya ke wilayah moral dan 
personal? Inilah yang sering sulit dipahami.
> 
> Dalam banyak kasus, kesalahan yang dimoralisir seperti inilah yang 
seringkali membuat kita menjadi enggan melangkah. "Ah takut 
salah." "Apa kata orang nanti?" Dan seterusnya. Jika Anda tidak 
berhasil memahami, mengelola, dan menghadapi jenis-jenis kesalahan 
ini, Anda memang akan terjebak pada rasa bersalah di masa lalu, atau 
ketakutan akan terjadinya kesalahan di masa depan, yang mengakibatkan 
Anda tidak melanjutkan langkah, atau bahkan malah surut ke belakang.
> 
> Sekali lagi, apa yang penting berkaitan dengan kesalahan atau 
kemungkinan terjadinya kesalahan, yang berikut ini mungkin perlu Anda 
pertimbangkan.
> 
> Apakah kesalahan itu akan menimpakan dosa kepada diri Anda? Apakah 
kesalahan itu akan menjerumuskan Anda ke neraka? Jika tidak, teruslah 
melangkah dan berharaplah bahwa kesalahan itu tidak terjadi. Jika 
kesalahan itu benar-benar terjadi, bersikaplah santun dan bijak untuk 
meminta maaf, kepada orang lain atau kepada diri sendiri, untuk 
kemudian berkomitmen tidak mengulanginya lagi. Tentu saja, Anda juga 
harus tetap konsekuen untuk menerima punishment-nya. Keep running!
> 
> Apa yang bisa saya dan Anda pelajari dari kasus kesalahan saya 
minggu lalu itu?
> 
> Pertama, pahamilah "model" kesalahan itu. Tekniskah atau moralkah.
> 
>  Kedua, jika Anda meyakini bahwa itu "teknis" sifatnya, mintalah 
maaf dengan sopan dan santun, berkomitmenlah untuk tidak 
mengulanginya dan menaati etika, terimalah konsekuensi atau 
punishment yang berlaku, dan jika mungkin kontribusikan sesuatu 
sebagai pengganti.
> 
> Ketiga, ketahuilah bahwa sebuah kesalahan justru memunculkan 
kejernihan peta dunia di hadapan Anda. Dengan pernah salah, Anda 
makin jelas mengetahui siapa kawan dan siapa lawan, siapa yang 
memusuhi Anda, siapa yang menjadi teman Anda, dan siapa yang perlu 
Anda ragukan kedekatannya dengan Anda. Juga, Anda akan makin jelas 
tentang apa yang bisa atau tidak bisa Anda lakukan. Lebih dari itu, 
tak hanya tentang siapa kawan atau lawan. Ada semilyar pelajaran di 
dalam satu kesalahan.
> 
> Keempat, pahamilah bahwa dengan makin jelas dan terbukanya peran 
orang-orang di sekitar Anda, baik sebagai kawan atau sebagai lawan, 
justru menunjukkan bahwa Anda sedang mengalami kenaikan kelas. Makin 
banyak orang yang secara terbuka menunjukkan permusuhan dengan Anda, 
baik yang alamiah atau yang dipaksakan, makin membuktikan bahwa Anda 
mulai diperhitungkan.
> 
> Kelima, kejernihan baru itu menunjukkan kejelasan dari positioning 
orang-orang di sekitar Anda. Artinya, sebuah kesalahan juga menjadi 
sinyal bagi Anda untuk melakukan re-positioning diri Anda di hadapan 
mereka. Peluang bagi Anda untuk melakukan perbaikan.
> 
> Sungguh luar biasa, beberapa hari yang lalu, Pak Jamil Azzaini 
menasehati saya tentang "pitstop", alias masuk ke kandang untuk 
merenungkan semua langkah. Nasehat beliau sungguh tepat waktu. 
Terimakasih Pak Jamil. Semoga pahala dilimpahkan Allah SWT kepada 
Bapak dan Kubik Leadership.
> 
> Keenam, repositioning yang Anda butuhkan, adalah mengadjust segala 
pola sikap, perilaku, dan tindakan. Di antara yang terpenting adalah 
yang berikut ini. 
> 
> Ketahuilah, bahwa Anda tidak akan mungkin menjadikan semua manusia 
di dunia ini sebagai teman atau saudara. Namun apa yang pasti, 
siapapun mereka, kawan atau lawan, hanya berkontribusi satu hal bagi 
diri Anda, yaitu memberikan dukungan yang terbaik. Kawan Anda 
mendukung Anda, dan musuh Anda pun mendukung Anda.
> 
> Setiap sikap dan langkah mereka, akan membuat Anda bergerak dan 
berupaya menjadi lebih baik. Maka, apa yang terbaik bagi Anda adalah 
berterimakasih kepada mereka. Berterimakasihlah pada kawan-kawan 
Anda, dan berterimakasihlah kepada "musuh-musuh" Anda. Hormati 
mereka. Merekalah, yang punya peran besar dalam mencetak diri Anda 
menjadi lebih baik.
> 
> Sekali lagi dengan segala kerendahan hati, mohon maaf untuk segala 
kesalahan saya. Terimakasih banyak untuk semua pihak yang 
mengingatkan dan memberi pelajaran besar tentang "repositioning" dan 
perbaikan diri. Terimakasih juga kepada semua pihak yang dengan rela 
telah menjadi bagian dari fragmentasi kesalahan saya, baik sebagai 
"good guys" maupun sebagai "bad guys". Drama kehidupan ini, tidak 
bisa tidak hanya memberi kita peran yang saling memberi pelajaran. 
Lebih dari itu, tak lain dan tak bukan, kita semua adalah saudara 
yang saling memberi dukungan.
> 
> Akhir kata, semua yang di atas itu sebenarnya adalah tentang 
bagaimana seharusnya saya. Jika Anda berkenan memetik hikmahnya, 
Alhamdulillah semoga kita semua mendapat berkah.
> 
> Btw, judul di atas sebenarnya salah. Mestinya, "I Made Mistake, 
I've Learned To Go On". Keep positive!
> 
> Ikhwan Sopa
> Trainer E.D.A.N.
>  +62 21 70096855
> QA Communication
> School of Motivational Communication
> http://milis-bicara.blogspot.com
>  
>      
>                                
> 
>  Send instant messages to your online friends http://
uk.messenger.yahoo.com
>


Kirim email ke