Mas Sopa,

Ini pertama kali saya ikut serta untuk ngasih komentar di milist ini, selama 
ini saya jadi member yang pasif aja alias hanya membaca semua email2 dari 
anggota milist ini. Lumayan banyak juga ilmu yang saya dapatkan walau jadi 
member pasif...

Saya tergerak untuk ngasih komen atas tulisan Mas Sopa dibawah ini...Menurut 
saya untuk mengenal untuk mana yang "bener2 teman" atau lawan tidak hanya 
melalui suatu kesalahan yang pernah kita alami seperti yang Mas Sopa alami, 
akan tetapi itu dapat kita ketahui ketika kita atau seseorang yang sedang 
mengalami/mempunyai masalah/problem.

Pengalaman saya telah membuktikan, ketika saya menghadapi suatu masalah/problem 
yang cukup pelik, temen yang telah bertahun-tahun saya kenal ternyata bukannya 
membantu memberi solusi, malahan ikutan menambah parah persoalan yang sedang 
saya hadapi, justru yang belum begitu lama saya kenal malah benar-benar 
mengerti  akan artinya sebagai seorang teman. Dari pengalaman ini lah saya 
dapat mengenal dengan cukup baik mana orang-orang yang bener2 menjadi teman 
atau lawan.

Jadi dengan kata lain, kita dapat mengenal teman atau lawan bukan hanya melalui 
kesalahan aja akan tetapi melalui masalah/problem pun kita juga dapat mengenal 
mana mereka yang sebagai teman atau lawan.

Bener ga menurut Mas Sopa.

Yunda



Ikhwan Sopa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
Tips 182: I Made Mistake, I Have To GoMinggu yang lalu saya membuat kesalahan. 
Di sebuah milis, saya memposting iklan E.D.A.N. sehari lebih cepat dari jadwal 
resmi "iklan mingguan" di milis itu. Tanggapan pun muncul. Beberapa di 
antaranya bahkan sangat subyektif dan menyerang pribadi. Yang diserang bukan 
kesalahan saya, tapi sayanya. Malah, serangan itupun dilakukan secara terbuka 
dan bukan japri, seolah kesalahan saya adalah serangan pribadi bagi mereka. 
That's not good, but that's fine with me.

Buat saya, kesalahan itu ada dua. Pertama jika kesalahan itu teknis sifatnya, 
dan kedua jika kesalahan itu moral sifatnya.

Menurut pertimbangan saya, kesalahan yang telah saya lakukan itu lebih teknis 
sifatnya. Dan untuk kesalahan semacam ini, saya hanya perlu meminta maaf dan 
berkomitmen untuk tidak lagi melakukannya. Tanpa mengurangi kenyataan bahwa 
secara etika salah adalah tetap salah, kesalahan seperti ini sebenarnya tidak 
perlu didramatisir menjadi kesalahan yang bernuansa moral. Bagaimanakah jika 
sekiranya ada sementara pihak yang justru menyeretnya ke wilayah moral dan 
personal? Inilah yang sering sulit dipahami.

Dalam banyak kasus, kesalahan yang dimoralisir seperti inilah yang seringkali 
membuat kita menjadi enggan melangkah. "Ah takut salah." "Apa kata orang 
nanti?" Dan seterusnya. Jika Anda tidak berhasil memahami, mengelola, dan 
menghadapi jenis-jenis kesalahan ini, Anda memang akan terjebak pada rasa 
bersalah di masa lalu, atau ketakutan akan terjadinya kesalahan di masa depan, 
yang mengakibatkan Anda tidak melanjutkan langkah, atau bahkan malah surut ke 
belakang.

Sekali lagi, apa yang penting berkaitan dengan kesalahan atau kemungkinan 
terjadinya kesalahan, yang berikut ini mungkin perlu Anda pertimbangkan.

Apakah kesalahan itu akan menimpakan dosa kepada diri Anda? Apakah kesalahan 
itu akan menjerumuskan Anda ke neraka? Jika tidak, teruslah melangkah dan 
berharaplah bahwa kesalahan itu tidak terjadi. Jika kesalahan itu benar-benar 
terjadi, bersikaplah santun dan bijak untuk meminta maaf, kepada orang lain 
atau kepada diri sendiri, untuk kemudian berkomitmen tidak mengulanginya lagi. 
Tentu saja, Anda juga harus tetap konsekuen untuk menerima punishment-nya. Keep 
running!

Apa yang bisa saya dan Anda pelajari dari kasus kesalahan saya minggu lalu itu?

Pertama, pahamilah "model" kesalahan itu. Tekniskah atau moralkah.

 Kedua, jika Anda meyakini bahwa itu "teknis" sifatnya, mintalah maaf dengan 
sopan dan santun, berkomitmenlah untuk tidak mengulanginya dan menaati etika, 
terimalah konsekuensi atau punishment yang berlaku, dan jika mungkin 
kontribusikan sesuatu sebagai pengganti.

Ketiga, ketahuilah bahwa sebuah kesalahan justru memunculkan kejernihan peta 
dunia di hadapan Anda. Dengan pernah salah, Anda makin jelas mengetahui siapa 
kawan dan siapa lawan, siapa yang memusuhi Anda, siapa yang menjadi teman Anda, 
dan siapa yang perlu Anda ragukan kedekatannya dengan Anda. Juga, Anda akan 
makin jelas tentang apa yang bisa atau tidak bisa Anda lakukan. Lebih dari itu, 
tak hanya tentang siapa kawan atau lawan. Ada semilyar pelajaran di dalam satu 
kesalahan.

Keempat, pahamilah bahwa dengan makin jelas dan terbukanya peran orang-orang di 
sekitar Anda, baik sebagai kawan atau sebagai lawan, justru menunjukkan bahwa 
Anda sedang mengalami kenaikan kelas. Makin banyak orang yang secara terbuka 
menunjukkan permusuhan dengan Anda, baik yang alamiah atau yang dipaksakan, 
makin membuktikan bahwa Anda mulai diperhitungkan.

Kelima, kejernihan baru itu menunjukkan kejelasan dari positioning orang-orang 
di sekitar Anda. Artinya, sebuah kesalahan juga menjadi sinyal bagi Anda untuk 
melakukan re-positioning diri Anda di hadapan mereka. Peluang bagi Anda untuk 
melakukan perbaikan.

Sungguh luar biasa, beberapa hari yang lalu, Pak Jamil Azzaini menasehati saya 
tentang "pitstop", alias masuk ke kandang untuk merenungkan semua langkah. 
Nasehat beliau sungguh tepat waktu. Terimakasih Pak Jamil. Semoga pahala 
dilimpahkan Allah SWT kepada Bapak dan Kubik Leadership.

Keenam, repositioning yang Anda butuhkan, adalah mengadjust segala pola sikap, 
perilaku, dan tindakan. Di antara yang terpenting adalah yang berikut ini. 

Ketahuilah, bahwa Anda tidak akan mungkin menjadikan semua manusia di dunia ini 
sebagai teman atau saudara. Namun apa yang pasti, siapapun mereka, kawan atau 
lawan, hanya berkontribusi satu hal bagi diri Anda, yaitu memberikan dukungan 
yang terbaik. Kawan Anda mendukung Anda, dan musuh Anda pun mendukung Anda.

Setiap sikap dan langkah mereka, akan membuat Anda bergerak dan berupaya 
menjadi lebih baik. Maka, apa yang terbaik bagi Anda adalah berterimakasih 
kepada mereka. Berterimakasihlah pada kawan-kawan Anda, dan berterimakasihlah 
kepada "musuh-musuh" Anda. Hormati mereka. Merekalah, yang punya peran besar 
dalam mencetak diri Anda menjadi lebih baik.

Sekali lagi dengan segala kerendahan hati, mohon maaf untuk segala kesalahan 
saya. Terimakasih banyak untuk semua pihak yang mengingatkan dan memberi 
pelajaran besar tentang "repositioning" dan perbaikan diri. Terimakasih juga 
kepada semua pihak yang dengan rela telah menjadi bagian dari fragmentasi 
kesalahan saya, baik sebagai "good guys" maupun sebagai "bad guys". Drama 
kehidupan ini, tidak bisa tidak hanya memberi kita peran yang saling memberi 
pelajaran. Lebih dari itu, tak lain dan tak bukan, kita semua adalah saudara 
yang saling memberi dukungan.

Akhir kata, semua yang di atas itu sebenarnya adalah tentang bagaimana 
seharusnya saya. Jika Anda berkenan memetik hikmahnya, Alhamdulillah semoga 
kita semua mendapat berkah.

Btw, judul di atas sebenarnya salah. Mestinya, "I Made Mistake, I've Learned To 
Go On". Keep positive!

Ikhwan Sopa
Trainer E.D.A.N.
 +62 21 70096855
QA Communication
School of Motivational Communication
http://milis-bicara.blogspot.com
 
     
                               

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke