Saya sendiri tidak memahami (merasakan) seperti apa itu cinta tulus itu... tapi 
saya dapat mengerti apa cinta tulus itu dari kutipan tulisan seorang ulama 
besar Imam Ibnul Qoyyim Al-Zaujiyah:
"...di hati siapapun cinta yang tulus itu singgah, kita seharusnya mengasihi 
pemilik hati itu. Sebab cinta tulus itu adalah perasaan yang luhur... Dan sebab 
cinta adalah perasaan yang luhur, mengertilah kita mengapa ia mendapat ruang 
yang sangat luas dalam Islam. Itu karena Islam memahami betapa dahsyatnya 
goncangan jiwa yang dirasakan oleh orang-orang yang cinta sedang singgah di 
hatinya. Tak ada lelah... Tak ada jarak..."

--- On Sat, 1/24/09, uni rani <[email protected]> wrote:

From: uni rani <[email protected]>
Subject: Re: [Bicara] Re: FW: PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU
To: [email protected]
Date: Saturday, January 24, 2009, 4:49 PM






Terima kasi sy diberi kesempatan untuk membaca kisah "perempuan yang dicintai 
suamiku",
betul-betul sangat menyentuh...
Rima punya kesabaran luar biasa untuk dapat merubah hati suaminya...
namun berbeda dengan kisah saya sendiri,
mungkin sy belum mengerti dengan makna cinta.. namun ingin sekali rasanya 
berbagi cerita..

suatu saat, orang yang sy cintai dan mencintai sy memiliki raut wajah dan 
pancaran mata yang tidak seperti biasanya...
dia yang biasanya begitu terbuka, berperilaku dan berkata-kata penuh cinta, 
dalam beberapa hari ini menghabiskan waktu untuk berdiam
pembicaraan diantara kami pun terjadi,
ternyata dia sangaaaaat kangen dengan pacar lamanya,
lalu tanpa disadari, dia cerita mengenai pacar lamanya mengalir begitu indah,
dia bercerita dengan mata yang berbinar, terlihat sekali kalau dia mengagumi 
pacar lamanya.
ternyata kenangan itu muncul kembali setelah sms dan telepon yang dia terima 
malam kemarin,  dari pacar lamanya.
....
mungkin seharusnya aku cemburu atau marah..
namun, aku rasa aku sangat mencintainya
sejak itu aku berfikir ulang mengenai hubungan kita,
apakah aku betul-betul mencintainya,
dan aku menjawab pada diriku "iya"
iya, aku mencintainya karena kerendahan hatinya, jiwa sosialnya, jiwa 
penyayangnya dan kecerdasannya.
lalu aku memberanikan diri untuk mengirimkannya pesan pendek,
"aku melihatmu bahagia ketika menceritakan pacar lamamu, dan aku juga tahu dari 
ceritamu bahwa wanita itu meminta kembali padamu. kembalilah padanya, aku ingin 
melihatmu bahagia, sebelumnya jarang sekali aku melihatmu berbinar-binar 
seperti itu, aku menyayangimu. kamu seorang dokter dan aku hanya wanita biasa 
yang penuh dengan kekurangan".
hpku segera aku redupkan....
.....
mungkin banyak orang tidak memahami jalan fikiranku, namun aku memilih jalan 
itu, hingga sekarang aku memilih untuk sendiri.






2009/1/22 zamzamahmadnurzaman <jm_hn...@yahoo. com>






Cerita yang manis, dari sudut yang sangat perempuan, 
saya rasa saat ini pun banyak pernikahan yang dipertahankan atas nama
cinta, 
bukan karena cinta suami kepada istri atau istri kepada suami,
tetapi karena cinta kepada anak anak, keluarga besar, status jabatan,
kedudukan sosial dimasyarakat dan sebagainya. 
galilah kembali alasan untuk menikah, 
apakah kita menikah untuk membuat seseorang bahagia
apakah kita menikah untuk membuat diri kita menjadi pemenang
apakah kita menikah karena menjalankan kewajiban sebagai manusia
ataukah kita memang menikah bukan untuk apapun kecuali menilai
kedalaman cinta...

dan apabila anda memilih untuk menikah dengan alasan yang terakhir
saya rasa anda adalah orang yang paling berbahagia.. .


 














      

Kirim email ke