SAYA SANGAT SETUJU SEKALI DENGAN SAUDARA RIZDY.

ada kata kata bijak yang berbunyi seperti ini :

LIHATLAH KE DEPAN JANGAN KE BELAKANG

AKAN LEBIH BIJAK BILA KITA BERSIKAP LEBIH REALISTIS DAN BERFIKIR POSITIF 
MENGHADAPI KEHIDUPAN INI, MELIHAT KEBELAKANG HANYA AKAN MEMBUAT KITA 
TERBELENGGU DAN MASUK KEDALAM LINGKARAN / PUSARAN YG TAK BERTEPI , KALAU MAU 
MAJU YAH LIHAT KE DEPAN..

Salam Hartawan S

  ----- Original Message ----- 
  From: Ridzy Afiat 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, February 19, 2009 9:44 AM
  Subject: RE: [Bicara] Mewaspadai Kunjungan Menlu AS di Indonesia



  Tulisan yang cukup menarik.



  Kalau saya sih, lebih memilih berpikir positif. karena dengan berpikir 
positif Insya Allah semua hal yang positif akan datang menghampiri kita.



  -----Original Message-----
  From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of 
Wawan Purnomo
  Sent: Wednesday, February 18, 2009 20:52
  To: [email protected]
  Subject: [Bicara] Mewaspadai Kunjungan Menlu AS di Indonesia



  Sebagaimana telah banyak diberitakan, dalam rangkaian kunjungan
  pertamanya sebagai menteri luar negeri Amerika Serikat, Hillary
  Clinton akan berkunjung ke Jepang, Indonesia, Korea Selatan dan China.
  Kunjungan ke Indonesia akan dilakukan pada tanggal 18-19 Febuari 2009
  ini. Menurut Juru Bicara Deplu AS Robert Wood di Washington,
  "Indonesia adalah negara yang penting bagi AS sebagai negara dengan
  jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia. Menlu merasa penting untuk
  merangkul Indonesia lebih awal." (Kompas.com, 7/2/09).

  Tentang agenda kunjungan ke Indonesia, Dubes AS untuk Indonesia
  Cameron Hume mengungkapkan, Menlu Hillary bersama para pejabat negara
  tuan rumah akan membicarakan pendekatan-pendekatan bersama dalam
  menghadapi tantangan yang melanda masyarakat internasional. Selain
  terkait dengan krisis pasar keuangan dan isu-isu kemanusiaan, Hume
  mengungkapkan, "Beliau (Hilarry, red.) akan bertukar pandangan
  mengenai hubungan AS-Indonesia yang terus berkembang, termasuk
  kerjasama di berbagai bidang seperti pendidikan, keamanan regional,
  lingkungan hidup, perdagangan dan kesehatan."
  Rencana kunjungan itu mendapat sambutan besar dari kalangan pejabat di
  Indonesia. Pasalnya, kunjungan Menlu AS yang baru biasanya dilakukan
  ke Eropa atau Timur Tengah, dan baru sekarang ke wilayah Asia,
  khususnya Indonesia. Rencana kunjungan itu membuat Pemerintah
  Indonesia merasa senang dan bangga. "Kita melihat Indonesia sudah
  masuk dalam radar negara besar sebagai emerging country (negara yang
  sangat penting. red.) yang patut diperhitungkan dalam kontribusinya di
  dunia ini," ujar Mensesneg Hatta Rajasa di Jakarta, Kamis kemarin
  (MIOL, 5/2/09).
  Makna di Balik Kunjungan

  Jika dicermati lebih jauh, kunjungan Menlu AS ke Indonesia sebagai
  negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia mengandung sejumlah
  tujuan. Sayangnya, tujuan tersebut seluruhnya semata-mata demi
  memenuhi ambisi politik dan ekonomi AS. Di antara tujuan di balik
  kunjungan Menlu AS itu adalah:

  Pertama, memulihkan citra AS secara internasional, khususnya di Dunia
  Islam, yang terlanjur semakin terpuruk selama kepemimpinan Bush.
  Terpuruknya citra AS tentu saja terutama karena pendudukan sekaligus
  tindakan brutal AS di Irak dan Afganistan; juga dukungan AS yang
  membabi-buta dan terus-menerus terhadap Israel, khususnya dalam kasus
  Pembantaian Gaza oleh Israel baru-baru ini. Citra itulah yang hendak
  "diperbaiki" oleh AS. Karena itulah, Indonesia sebagai negeri Muslim
  terbesar diharapkan bisa menjembatani hubungan Dunia Islam dengan
  Barat, khususnya AS, supaya citra AS di mata Dunia Islam bisa
  diperbaiki. Ini tentu sejalan dengan strategi baru Obama dalam politik
  luar negerinya, yakni penggunaan "smart power" (kekuatan pintar).
  Inilah juga yang bisa kita simak dari pernyataan Hillary, dalam dengar
  pendapat di depan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS (13/1/2009),
  bahwa dirinya akan bekerja "memperbarui kepemimpinan Amerika melalui
  diplomasi yang akan meningkatkan keamanan kita, mengedepankan
  kepentingan kita, dan mencerminkan nilai-nilai kita."

  Jadi, tujuan utama dari berbagai kunjungan Menlu AS tersebut tidak
  lain adalah untuk memperbarui kepemimpinan-termasuk citra-AS di dunia.

  Kedua, dalam konteks masalah Palestina, AS berharap bahwa Indonesia
  bisa memainkan peran di dalamnya, terutama karena Indonesia memiliki
  hubungan yang semakin dekat dengan Hamas dan rakyat Palestina secara
  umum. Bahkan menurut Wapres Jusuf Kalla, Wapres AS Joe Biden secara
  khusus telah meminta proposal ke Indonesia tentang penyelesaian
  konflik Palestina (MIOL, 8/2/09).

  Persoalannya, Presiden Barack Obama telah menandaskan bahwa
  kesepakatan dengan rakyat Palestina harus tetap menjaga identitas
  Israel sebagai negara Yahudi yang memiliki perbatasan aman dan diakui.
  Israel harus dibela dan al-Quds harus menjadi ibukota Israel dan
  sebagai kota bersatu. Ia menyebut pertemanan AS dengan Israel tidak
  mungkin dipisahkan (Inilah.com, 6/2/09).

  Artinya, penyelesaian masalah Palestina harus sesuai dengan garis yang
  telah ditandaskan oleh Obama/AS. Karena itu, Pemerintah Indonesia
  tidak boleh terjebak dengan skenario itu. Jika Indonesia mengikuti
  keinginan AS itu, berarti Indonesia telah menjadi perantara bagi
  terwujudnya pengakuan legal terhadap keberadaan Yahudi-Israel sang
  penjajah, yang telah mencaplok tanah Palestina.

  Ketiga, dalam konteks keamanan regional, AS ingin memastikan kerjasama
  yang lebih erat dengan Indonesia, khususnya terkait dengan isu
  terorisme dan keamanan di Selat Malaka. Dalam hal ini, Deputi Juru
  Bicara Departemen Luar Negeri AS Robert Wood mengatakan, "Amerika
  mungkin membuka kembali program Korps Perdamian AS di Indonesia
  setelah dihentikan sebelumnya pada pertengahan 1960-an." (Antara, 9/2/09).

  Dengan kata lain, lewat kunjungan ini, AS ingin memastikan bahwa
  Indonesia akan tetap melanjutkan program perang melawan terorisme,
  meski dengan cara yang sedikit berubah sesuai dengan gaya AS yang
  berubah di bawah Obama. Adapun terkait dengan Selat Malaka,
  sebagaimana diketahui, selama ini terus diopinikan bahwa Selat Malaka
  menjadi salah satu jalur pelayaran yang rawan perompakan. Padahal
  Selat Malaka langsung berkaitan erat dengan keamanan regional, bahkan
  dunia, selain berkaitan erat dengan keamanan pasokan minyak dan bahan
  baku lainnya. Karena itu, kunjungan ini akan digunakan Hillary untuk
  membuka pintu lebih lebar bagi kerjasama AS-RI yang lebih dalam untuk
  mengontrol keamanan Selat Malaka ini.

  Keempat: AS mulai menyadari pesatnya perkembangan Islam dan kesadaran
  umat Islam di Indonesia untuk kembali pada syariah agama mereka,
  sebagaimana yang ditunjukkan oleh berbagai hasil survey. Hal ini
  dipandang bisa menjadi ancaman potensial bagi penjajahan AS di kawasan
  ini. Di mata AS, meningkatnya kesadaran umat Islam itu akan mengancam
  nilai-nilai mereka seperti Demokrasi, HAM, Pluralisme, Kebebasan dan
  Kesetaraan Gender, yang pada akhirnya akan menggulung tradisi
  penjajahan mereka di negeri ini.

  Karena itu, AS ingin Indonesia memelopori dan mendorong Dunia Islam
  menjadi menganut Islam moderat dan menjunjung demokrasi. Untuk itu,
  Indonesia harus lebih dulu menunjukkan diri menjadi negara moderat dan
  demokratis. Negara moderat dan demokratis tentu saja maksudnya adalah
  negara yang bersahabat dengan AS dan tidak anti AS serta
  mempertahankan sistem dan nilai-nilai sekular. Dubes AS untuk
  Indonesia Cameron Hume mengisyaratkan hal ini. Ia menyatakan, Menlu
  Hillary menantikan untuk melihat langsung bagaimana Indonesia berubah
  menjadi negara demokrasi yang stabil, moderat dalam wilayah penting
  ASEAN. Harapan ini kemudian diamini Menlu RI Hassan Wirajuda.
  "Sepanjang RI-AS menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia,
  demokrasi, dan pluralisme, ada cukup alasan untuk mengeratkan hubungan
  bilateral." (Kompas, 7/2/09).

  Kelima: Di depan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS (13/1/2009),
  Hillary menyebut Indonesia memiliki peran penting dalam memecahkan
  masalah krisis ekonomi global (Detiknews.com, 14/01/09). Tentu bukan
  karena Indonesia dianggap mampu mengatasi krisis global. Pernyataan
  Hilarry tersebut harus dimaknai bahwa dalam pandangan AS, Indonesia
  bukan saja telah dan akan menjadi pasar potensial bagi produk AS,
  tetapi juga menjadi sumber bahan-bahan baku dan suplay energi bagi
  industri AS. Apalagi banyak perusahaan AS yang telah lama beroperasi
  di Indonesia sekaligus menguasai akses terhadap sumber-sumber kekayaan
  tersebut. PT Freeport dan ExxonMobil adalah di antaranya. Inilah
  kepentingan AS yang ingin terus dipertahankan di Indonesia.

  Keenam: Kunjungan ini dilakukan menjelang Pemilu Legislatif dan
  Pilpres 2009. Dalam agenda kunjungannya, Menlu AS itu juga
  direncanakan akan bertemu dengan sejumlah tokoh dan politisi di negeri
  ini, termasuk para calon capres dan cawapres. Kunjungan ini secara
  kasatmata bisa dibaca sebagai upaya AS untuk memastikan dukungannya
  kepada-sekaligus terpilihnya-tokoh dan politisi yang bisa menjamin
  kepentingannya di negeri ini. Apalagi dalam rentang sejarah
  kepemimpinan di negeri ini sejak awal kemerdekaan hingga era
  reformasi, secara langsung ataupun tidak, AS turut `menentukan'
  naik-turunnya para pemimpin di negeri ini.
  Catatan Kritis

  Memperhatikan penjelasan di atas, jelas bahwa kunjungan Hillary pada
  18-19 Februari ini akan lebih menguntungkan AS. Apalagi menurut Menlu
  Hassan Wirajuda, Pemerintah Indonesia sendiri sampai awal Februari
  belum menentukan agenda khusus yang akan dibicarakan dengan Menlu AS
  Hillary. Hal itu menunjukkan kekurangsiapan Indonesia dalam melakukan
  pembicaraan dan negoisasi dengan AS. Inilah ironi dari potret negara
  yang di klaim negara besar, padahal arah kebijakan politik luar
  negerinya ternyata tidak jelas.

  Lebih dari itu, kunjungan Hillary ke Indonesia pada tanggal 18-19
  Februari ini tidak lain adalah untuk lebih menguatkan pengaruh AS di
  kawasan regional, khususnya di Indonesia.

  Karena itu, sudah seharusnya Pemerintah tidak terjebak dengan skenario
  dan keinginan AS. Pasalnya, AS adalah negara penjajah pengemban utama
  ideologi Kapitalisme, yang menjadikan penjajahan sebagai metode baku
  dalam menjalankan politik luar negerinya. Metode penjajahan ini tidak
  pernah berubah selamanya. Yang berubah hanyalah strategi dan caranya
  saja; dari sebelumnya "hard power" menjadi "smart power", sebagaimana
  diistilahkan Presiden AS Obama. Jika kedua cara tersebut mendapatkan
  tempat atau diberi kesempatan oleh para penguasa negeri Islam,
  khususnya Indonesia, maka hal itu jelas bertentangan dengan firman
  Allah SWT:

  ]وَلَنْ 
يَجْعَلَ 
اللهُ 
لِلْكَافِرِينَ
 عَلَى 
الْمُؤْمِنِينَ
 سَبِيلاً[
  Allah sekali-kali tidak akan pernah memberikan jalan kepada
  orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang Mukmin (QS an-Nisa'
  [4]: 141).

  Lebih dari itu, membantu kepentingan negara-negara kafir harbi seperti
  AS, apalagi tunduk pada kemauannya, dengan mengorbankan kepentingan
  dan kamaslahatan kaum Muslim, merupakan bentuk nyata pengkhianatan
  kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum Muslim. Padahal tindakan demikian
  nyata-nyata telah diharamkan oleh Allah SWT:

  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah
  dan Rasul-Nya; jangan pula kalian mengkhianati amanat-amanat yang
  dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui (QS al-Anfal
  [8]: 27).


  

Kirim email ke