Kasian nich para Binusian di Indo, karena di- munir - isasi secara sistematis. Beli bakmi, tahu, daging ayam di pasar tradisional ataupun di hyper market sama juga, semua dikasih formalin. Dan sekedar sharing rahasia umum buat Binusian, itu sudah berlangsung berbulan bulan bahkan bertahun lohh, tanpa ada action.
Wah tahu berformalin itu kayak nya dijual di semua warteg se Jakarta dech, soalnya tahu nya kelihatan keras, ngak lembek. Daging ayam berformalin aja kemaren dimusnahkan sebanyak 1 ton. :D Dan lagi kayaknya dirjen POM (pengawasan obat & makanan) cuma berfungsi sebagai penghimbau, bukan pemerintah. Soalnya sweeping juga setahun sekali. Dan setelah ketauan hasil nya, tidak ada penangkapan terhadap pengedar dan bandar tahu, ikan asin, bakmi, daging berformalin. Cuma sekedar menghimbau pengedar dan bandar makanan beformalin untuk tidak menggunakan formalin lagi. Mana bisaa bosss, waktu binusian belajar logika algoritma ajah udah dikasih tau logikanya: Inflasi tinggi -- > Daya beli turun. Flu burung -- > Daging ngak laku Bandar rugi -- > Tahu, ikan, ayam, bakmi dikasih formalin supaya besoknya bisa dijual lagi. Super / hyper market -- > Setelah dihimbau, tinggal pulangin produk ke bandar, tentunya sesuai logika algoritma bandar rugi besar donk, kalau 1 supermarket pulangin 1 mobil box. ==> ya dijual murah murah lagi ke warteg warteg dan masyarakat. Akhirnya 5 tahun lagi nanti ada Binusian di Amrik bilang kok si Anu dan si Miss X ngak posting lagi, nanti ada yg jawab oh si Anu licensenya udah expired karena kanker, gara gara ada formalin di usus nya atau jantung nya. http://www.kompas.co.id/ Updated : Selasa, 27 Desember 2005, 07:48 WIB Waspadai Adanya Makanan Berformalin di Pasaran! Peredaran sejumlah produk makanan yang mengandung formalin di wilayah DKI Jakarta, Banten, Bogor, dan Bekasi ternyata kian marak. Padahal penggunaan formalin sebagai pengawet makanan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak mengonsumsi produk pangan berformalin. Produk-produk makanan yang mengandung formalin tersebut tak hanya dijual di pasar- pasar tradisional, di pasar serba ada pun tidak menjamin produk makanan sejenis bebas formalin. Berdasarkan hasil investigasi dan pengujian laboratorium yang dilakukan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM) di Jakarta, ditemukan sejumlah produk pangan seperti ikan asin, mi basah, dan tahu yang memakai formalin sebagai pengawet. Produk pangan berformalin itu dijual di sejumlah pasar dan supermarket di wilayah DKI Jakarta, Banten, Bogor, dan Bekasi. Hasil pengujian Balai Besar POM di Jakarta pada November-Desember 2005 terhadap 98 sampel produk pangan yang dicurigai mengandung formalin, 56 sampel di antaranya dinyatakan positif mengandung formalin. Berbagai produk pangan itu diambil dari sejumlah pasar tradisional dan supermarket di wilayah Jakarta, antara lain, Pasar Muara Angke, Pasar Muarakarang, dan Pasar Rawamangun. Perinciannya, dari 23 sampel mi basah, 15 sampel di antaranya tercemar formalin (65 persen). Sebanyak 46,3 persen dari 41 sampel beragam jenis tahu positif mengandung formalin. Dari 34 sampel aneka jenis ikan asin, 22 sampel di antaranya juga tercemar formalin (64,7 persen). Sampel ikan asin yang positif berformalin itu, antara lain, ikan asin sange belah, ikan cucut daging super, dan jambal roti. Lima sampel bahan pangan yang dinyatakan positif mengandung formalin diambil dari sejumlah supermarket. Sementara 41 sampel lain diambil secara acak dari sejumlah pasar tradisional. Bahan pangan itu sengaja diberi formalin agar lebih awet dan tidak mudah hancur, kata Atiek Harwati, Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan, Senin (26/12), kepada wartawan di Jakarta. Atiek mengingatkan bahwa formalin merupakan bahan kimia sangat berbahaya bagi kesehatan. Efek jangka pendeknya antara lain berupa iritasi pada saluran pernapasan, muntah-muntah, pusing, dan rasa terbakar pada tenggorokan. Jika dikonsumsi secara terus- menerus dalam jangka waktu lama, ujar Atik, produk makanan yang mengandung formalin itu dapat menyebabkan kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan saraf pusat, dan ginjal. Memang dampaknya bagi kesehatan baru terasa setelah dikonsumsi beberapa tahun, ujarnya menambahkan. Sanksi hukum Untuk menghindari efek buruk karena mengonsumsi produk pangan berformalin, masyarakat diimbau untuk tidak membeli dan mengonsumsi berbagai produk pangan berformalin yang beredar di pasaran. Memang sulit membedakan produk pangan yang berformalin dan tidak. Jika dilihat dari ciri-ciri fisiknya, mi basah dengan kadar formalin tinggi akan terlihat sangat berminyak dan bau menyengat, ujarnya. Para pelaku usaha yang memproduksi dan mengedarkan produk pangan berformalin juga diminta segera menghentikan kegiatan tersebut. Mereka harus menarik serta memusnahkan produk itu dari peredaran. Kami berupaya menginformasikan dan memberikan penyuluhan kepada para pelaku usaha agar tidak memproduksi dan mengedarkan produk pangan yang menggunakan formalin sebagai bahan pengawet, kata Atiek Harwati. Apabila melanggar Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan, di antaranya termasuk penggunaan bahan yang dilarang dipakai sebagai bahan tambahan pangan seperti formalin, pelakunya diancam hukuman penjara maksimal lima tahun dan atau denda paling banyak Rp 600 juta. Juga diingatkan, penggunaan formalin dalam produk pangan melanggar Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Sayangnya, sejauh ini penegakan hukum di bidang pangan masih lemah. Sanksi hukum yang dijatuhkan kepada pelakunya juga terlalu ringan. Sepanjang tahun 2005, misalnya, tidak ada kasus berkaitan dengan penggunaan formalin sebagai pengawet bahan pangan di wilayah DKI Jakarta dan Banten yang diproses secara hukum. Baru satu produsen bakso yang memakai boraks sebagai pengawet makanan yang ditindak, tuturnya. Oleh karena itu, dalam waktu dekat Balai Besar POM akan membuat nota kesepahaman bersama dengan pemerintah daerah setempat dan jajaran penegak hukum, termasuk kepolisian, untuk mengatasi peredaran produk pangan berformalin. Pelakunya perlu ditindak tegas sebagai terapi kejut agar tidak ada lagi yang berani menggunakan bahan yang dilarang sebagai bahan tambahan pangan, ujar Atiek. (EVY) __________________________________________ Yahoo! DSL Something to write home about. Just $16.99/mo. or less. dsl.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org! http://us.click.yahoo.com/iEagnA/LpQLAA/HwKMAA/wf.olB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._* Owner dan Moderator mengucapkan Selamat Hari Natal & Tahun Baru 2006 bagi yang merayakannya *._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._* BinusNet founded on Dec 28, 1998 Stop or Unsubscribe: send blank email to [EMAIL PROTECTED] Questions or Suggestions, send e-mail to [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/binusnet/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
