Tuhan Saja Ada Gambarnya Kenapa Nabi Tidak?

Dalam suatu test uji memori yang bersifat subyektif diselengarakan oleh 
saya, diikuti oleh satu orang yaitu saya sendiri. Test uji memori itu 
caranya sederhana dengan mengetuk dua ketukan untuk dua huruf  dengan 
interval  empat detik. Test dimulai, tugasnya menerjemahkan dua huruf, 
pertama, AW, otak saya menerjemahkan secara bebas  AW itu American Warteg 
atau restoran saji Amerika, BW = itu Black and White atau foto hitam putih, 
CW bayangan saya menjelaskan tentang wanita muda, demikin mengikuti abjad 
sampai VW fikiran saya tertuju pada mobil kodok bikinan Jerman sampai ZW 
itu terjemahan abjad terakhir yaitu Zet Weeeeeee!! : ) ,  kesimpulan dari 
test itu adalah bahwasannya huruf-huruf mampu menerabas fikiran sehingga 
mengundang terbukanya record atau file memory semasa kita hidup. 
Demikianlah, pada dunia spiritualpun sama, sepanjang kehidupanku  yang 
kebetulan Islam karena keturunan, dan telah beredar di muka bumi ini selama 
14,600 hari, belum pernah terfikir dalam benak tentang gambar Nabi Muhammad 
SAW beserta Allah SWT, tiba-tiba belum lama berselang  disodorkan sosok 
nabi yang bernama Muhammad SAW digambarkan dalam ujud kartun, tentu sangat 
mengejutkan dan mengecewakan.

Boleh jadi nabi  dan Allah dalam agama selain Islam bisa divisualkan, 
tetapi dalam Islam sangat diharamkan, karena dikuatirkan akan menjadi 
Syirik, sehingga umatnya menyembah bukan lagi kepada Allah SWT yang hakiki, 
tetapi pada gambaran ujud manusia.

Penggambaran Nabi Muhammad SAW  yang dimuat pada koran Denmark Jylland 
Posten sangatlah menyakitkan hari umat muslim, permintaan penghentian 
penayangan sudah dilontarkan oleh umat muslim Denmark, akan tetapi tidak 
diindahkan dengan alasan kebebasan berpendapat. Penayangan kartun nabi juga 
dimuat di La Stampa koran Italia, El Periodico Spanyol, juga France Soir 
dari Perancis. Seakan-akan bangsa Eropah mendukung kebebasan berpendapat 
yang kebablasan, bebas lepas dan mutlak. Pagi ini (06/02) saya melihat dua 
kedutaan besar Denmark dibumi hanguskan di Damaskus Ibukota Syria dan di 
Libanon, sebagai ungkapan kebebasan umat muslim Syria dan Libanon, itu juga 
merupakan ungkapan bebas tanpa batas umat muslim di sana. Benarkan 
kebebasan bereksperesi itu harus bebas dan mutlak? Masing-masing memeliki 
argumen kebenaran sendiri.

Gambar Tuhan

Dibawah tulisan "Ya, kami berhak menggambar Tuhan", France Soir memasang 
gambar kartun Tuhan dalam Agama Budha, Yahudi Kristen, dan Islam. Beberapa 
kartun menampilkan Nabi Muhammad, salah satunya memperlihatkan Tuhan Agama 
yang lain dengan mengatakan "Jangan Mengeluh Muhammad, kami semua seudah 
digambar dalam karikatur".

Untuk mengetahui sejarah penggambaran tuhan, saya mencoba membuka beberapa 
buku yang saya miliki, buku-buku karya maestro kelas dunia, Pertama, 
"Tangan Tuhan" karya Fresko yang dilukis pada gereja San Clement, Barcelona 
Spanyol, dilukis pada abad ke delapan. Ke dua, gambar "Allah menyelamatkan 
Maria atas Binatang Berkepala Tujuh" karya Albrecht Duerer", ditandatangani 
pelukisnya pada tahun 1498, Ke tiga lukisan Michel Angelo (1508-1512) di 
Capella Sixtina, Roma, dengan judul "Yahweh Sedang mengantarkan Hawa di 
pelukanNya kepada Adam", dan William Blake (1757-1827) menggambarkan Tuhan 
sedang memegang parser dan diberi judul "Tuhan menciptakan bumi", terakhir 
pada tahun 1922, Ernst Barlach, menggambar sosok  manusia dengan wajah 
kelelahan dengan diberi judul  "Tuhan", itu gambar Tuhan yang 
disembah-sembah umat bebas sekali dilukiskan sesuai imajinasi pelukisnya. 
Sementara itu Jesus Kristus banyak sekali dilukis dalam berbagai keadaan, 
bahkan kawan saya sendiri seorang pelukis memilih karya yang dibuat adalah 
spesialis Jesus Kristus.

Era post modern adalah era globalisasi, era abad 21, pada jaman ini nyaris 
terjadi  dekadensi teologis yang sempat menghilangkan kepercayaan terhadan 
Dzat Sang Pencipta. Ruhani manusia yang dahulu mampu berhubungan dengan 
tuhan secara ruhani, kini tidak lagi kecuali orang tertentu. Zaman sekarang 
"akal" adalah sebagai sang pembimbing, yang memanipulasi "kenyataan" 
menjadi "khayalan" belaka.

Mari kita masuk pada zaman Bani Israil, pada zaman tersebut wujud Tuhan 
dihayati sebagai 'Dzat Ruhani", kebudayaan berkembang, kemudian pada abad 
delapan sosok tuhan mulai 'dimaterialkan' dengan dalih sosialisasi dan 
membumikan firman tuhan atau bahasa lainnya sebagai ekspressi bebas para 
penghayal. Sebagai akibatnya Allah Yang Maha Agung dengan segenap 
kemuliaannya dipaksa berwujud sesuia imajinasi nakal manusia. Keberadaan 
Tuhan Yang Maha hidup dan Berdiri Sendiri tiba-tiba menjadi sosok orang 
yang sudah tua, berwajah lelah demikianlah yang dilukiskan oleh Ernst 
Barlach. Tidak mengherankan apabila filuf eksistensialisme William 
Friedrich Nietche dalam bukunya "Sabda Zarachustra" menyebutkan bahwa Tuhan 
telah tua renta dan telah mati. Konon pikiran Nietche ini didasarkan pada 
pengetahuan tentang ketuhanan dan keimanan di negara barat sana yang 
nampaknya tidak mampu mengadakan hubungan ruhani dengan Sang Pencipta. 
Pengetahuan tentang ketuhanan telah merosot jauh dan mencapai jurang 
kesesatannya.

Demikianlah kesesatan demi kesesatan secara halus dibuat orang barat 
sehingga akalnya sudah tidak tahu lagi mana yang sesat mana yang tidak, 
karena kini akalnya sudah menjadi tuhannya.

Kembali lagi ke masalah kartun Nabi Muhammad SAW, kebebasan pers 
berpendapat tentunya tidak berarti kebebasan dalam menghina simbol mulia 
milik orang lain, karena orang lain seperti juga barat, memiliki hak azasi 
manusia yang sama untuk tidak dilecehkan. Sangatlah jelas perilaku 
segelintir mereka (saya tidak menganggap semuanya) perilaku mereka, kita 
dapat saksikan mereka masyarakat yang modern, yang menghormati orang lain, 
tetapi kenyataan membuktikan, penghormatan kepada orang lain itu hanya 
ditujukan untuk mereka. Apa yang pernah ditayangkan tentang kedamaian 
beragama di Denmark, seminggu lalu di metro TV hanya merupakan propaganda 
murahan, tidak ada toleransi dan saling menghargai seperti apa yang 
digembor-gemborkan mereka, tidak seperti apa  yang mereka harapkan dari 
orang lain dalam memperlakukan mereka. Perdana Menteri (PM) Denmark Anders 
Forgh Rasmussen baru minta maaf setelah kedutaannya di Indonesia dikirim 
telor busuk dan tomat busuk oleh Forum Pembela Islam (FPI), dan di dua 
negara Syria dan Damaskus kantor kedutaannya dibakar, sebelumnya telah 
bersikeras bahwa kebebasan itu mutlak, aksi protes muslim di seluruh dunia 
masih berlangsung hingga saat ini.

Nasi sudah jadi kerak, tidak lagi menjadi bubur, ternyata kebebasan 
menyampaikan pendapat memang harus dihormati, namun bukan berarti kebebasan 
yang bersifat absolut, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab, yang hakiki.

Semoga Allah Yang Maha Bijaksana, memaafkan dan memberikan petunjuk kepada 
insan yang telah berlaku dzalim, agar kembali ke jalanNya yang lurus. Amin..

Salam,
<http://ferrydjajaprana.multiply.com/>http://ferrydjajaprana.multiply.com


[Non-text portions of this message have been removed]



*._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._*
Owner dan Moderator mengucapkan

Selamat Hari Raya Imlek bagi yang merayakannya

Wishing you a Happy and Properous New Year
*._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._*

BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan
Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar


Stop or Unsubscribe: send blank email to [EMAIL PROTECTED]
Questions or Suggestions, send e-mail to [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke