Halo Binusian..

Sekarang kayaknya segala macam makanan di Indo itu
banyak mengandung zat zat tambahan yachh.. Yang
terbaru itu karena beras yg beredar di pasar induk
terutama tangerang semua mengandung klorin. 

Tadi malem baru ngobrol sama orang peneliti di suatu
departemen, katanya klorin itu berbahaya sekali, 
efeknya baru kelihatan setelah 4 atau 5 tahun.  Dan
menurut rekannya, dari sample itu satu kota boleh
dibilang segala macam beras mo merek ramos atau pandan
ada klorin nya.   Dan yg banyak beli itu kayak warteg
dan padang..  walaupun resto fastfood juga beli beras
dari pasar induk situ.. Jadi kalau mau aman ya makan
beras merah ajah.. :D  Kasian lah para Binusian yg
kerja di pabrik di kota tersebut dan sekitarnya, 
makan di luar warteg dapat nasi klorin, makan di
warung padang dapat klorin,  makan katering juga kena
klorin...mau fast food juga sama... nasibb....
nasib....  

Ngak nutup kemungkinan distribusi beras klorin juga
sampai ke Jakarta khan.. Malah mungkin ada di
penyimpanan beras di rumah..  

Pantesan sekarang banyak berita orang muda / tua kena
kanker..Baca email selalu ada yg tanya pengobatan
kanker. 

Mungkin kategori 4 sehat 5 sempurna sudah berubah
makna nya :(  Bagi orang asing / tourist dari SG
mungkin boleh ikut Fear Factor ke Indo dengan menu 4
sehat sbb :

Nasi Klorin  (beras dengan pemutih tissue dan pakaian)
Ikan Mercuri (hasil penambangan liar yg dibuang ke
sungai/laut)
Ayam Flu Burung (ayam mati flu langsung dijual ke
pasar)
Tahu Formalin
Bakso Boraks 

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/01/09/Utama/ut01.htm

SUARA PEMBARUAN DAILY
--------------------------------------------------------------------------------

Usut Beras Berklorin di Tangerang
[JAKARTA] Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) harus
mengusut dan menindak tegas produsen beras yang
ditambahkan zat pemutih (klorin). Selama ini konsumen
selalu dirugikan karena tidak mengetahui apa yang
terkandung didalam makanan yang dibeli. 

Beberapa waktu lalu ditemukan beras mengandung klorin
di pasar tradisional di Tangerang, Banten. Hanya saja
sampai saat ini BPOM belum mengeluarkan pernyataan
resmi mengenai hal itu. 

Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor Ali Khomsan
kepada Pembaruan, Selasa (9/1), berpendapat, selama
tidak ada tindakan yang tegas terhadap produsen maka
kejadian serupa itu akan terus terjadi. "Konsumen akan
selalu menjadi korban," tukasnya. 

Sejumlah kasus, lanjutnya, sudah menjadi contoh,
seperti kasus bahan pengawet beberapa waktu lalu.
"Kalau ada kasus ini kan sebenarnya membuktikan bahwa
penegakan hukum dalam pengawasan makanan dan obat
tidak benar-benar berjalan baik. Ini harus diperbaiki,
salah satunya adalah dengan menindak tegas," katanya. 

Dia menjelaskan, zat klor sebenarnya dibutuhkan oleh
tubuh sebagai salah satu zat penguat tulang atau gigi.
Namun jika kadarnya melebihi ambang batas yang
diterima oleh tubuh, dapat mengakibatkan sejumlah
gangguan, seperti kanker tulang dan sebagainya.
"Tetapi kita perlu menyelidiki seberapa jumlah kadar
klor yang ada dalam beras yang mengandung bahan klor
itu. Ini penting juga agar kita tahu kemungkinan
ancaman yang terjadi terhadap tubuh," tambahnya. 

Menurut Ali, beras yang baik berwarna buram. "Dalam
konteks gizi, warna yang bagus adalah yang buram
karena memiliki ketahanan vitamin B yang lebih kuat.
Tetapi sekarang karena mengikuti selera konsumen maka
beras yang laku adalah beras yang berwarna putih,
sehingga kemudian mereka menambahkan pemutih di
dalamnya," paparnya. 


Turun Tangan

Sementara itu aparat Pemerintah Kota Tangerang meminta
Departemen Pertanian serta BPOM untuk turun tangan
menarik peredaran beras yang mengandung klorin atau
zat pemutih tekstil.

Karena itu,Walikota Tangerang meminta masyarakat untuk
waspada dan hati-hati jika ingin membeli beras karena
bahan pokok yang mengandung zat pemutih pakaian sangat
berbahaya untuk kesehatan. Dia telah meminta pula
instansi terkait untuk segera melakukan tindakan agar
masyarakat tidak dirugikan. 

"Beras saja sudah dicampur zat berbahaya. Saya minta
semua untuk waspada dan menjadi perhatian semua," ujar
Wahidin saat memimpin apel pagi, Senin (8/1). 

Secara terpisah Kepala Sub Dinas Pertanian, Dinas
Pertanian Kota Tangerang Epen Effendi mengatakan,
instansinya tidak mempunyai wewenang untuk menindak
penjual beras berklorin. "Perdagangan beras adalah
perdagangan antardaerah, Pemda tidak punya wewenang
untuk menindak pelaku dan menarik beras dari pasaran,"
jelasnya.

Menurut dia, perbuatan pedagang atau distributor beras
yang menggunakan klorin agar beras lebih putih dan
mengkilap merupakan kejahatan penipuan dan pemalsuan.
Karenanya, dia berharap pemerintah pusat melalui
Departemen Pertanian harus bertindak tegas dengan cara
meminta aparat keamanan untuk mengusutnya.

Epen mengungkapkan, penjualan beras berklorin
dilakukan oleh pedagang dan distributor dari luar
Tangerang karena kota ini bukan penghasil beras. Luas
persawahan di kota Tangerang hanya sekitar 100 hektare
dengan produksi sekitar 1000 ton setiap tahunnya.
Produksi beras tersebut hanya cukup untuk memenuhi
kebutuhan 1,4 juta jiwa penduduk Kota Tangerang.
"Hampir 95 persen kebutuhan beras masyarakat Kota
Tangerang didatangkan dari luar, seperti Karawang dan
Cianjur," tuturnya. 

Meski tidak berwenang untuk menindak, lanjutnya, Dinas
Pertanian akan membentuk tim terpadu beranggotakan
Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan serta Dinas
Perindustrian dan Perdagangan. 

Dalam tim tersebut Dinas Perdagangan akan melakukan
pemeriksaan di tingkat pedagang dan Distributor, Dinas
Kesehatan akan memeriksa dan mengamati beras yang
dijual dan akan dijual, Serta Dinas Pertanian akan
memantau tempat dan proses produksi beras di
Tangerang. 


Hanya Memantau

Kepala Sub Dinas Perdagangan Dinas Peridustrian dan
Perdagangan Kota Tangerang, Muhammad Noor juga
mengakui tidak memiliki wewenang untuk menindak
penjual beras mengandung klorin.

Dia mengaku hanya bisa memantau seberapa banyak beras
berklorin beredar untuk mengetahui persediaan dan
harga. "Kalau penindakan bukan wewenang kami. Kami
hanya bisa menindak pedagang dan distributor, tapi
tidak bisa menarik beras tersebut dari pasaran,"
katanya.

Seperti diberitakan, Balai Pengawasan Obat dan Makanan
Kota Tangerang menemukan kadar klorin seberat 0,05 ppm
dalam beras curah yang diperdagangkan di tiga pasar
tradisonal di Tangerang, yakni Pasar Anyar, Malabar
dan Cileduk. 

Klorin merupakan bahan kimia yang biasanya digunakan
sebagai pemutih pakaian. Zat tersebut dicampur beras
dengan cara perendaman atau penyemprotan agar beras
lebih putih dan mengkilat sehingga harga jual bisa
tinggi. Jika terus dikonsumsi klroin ini bisa
mengakibatkan kanker dan kerusakan ginjal. 

Sejak merebaknya penjualan beras berklorin,
perdagangan beras di pasar mengalami penurunan.
Suhemi, agen beras di Pasar Anyar, Kota Tangerang
mengungkapkan, sebelum terkuak beras klorin, dia bisa
menjual sekitar 2,5 ton beras per hari. Kini penjualan
hanya berkisar 1,5 ton. "Masyarakat yang biasa membeli
dalam jumlah banyak kini membeli sedikit. Mereka
khawatir berasnya mengandung klorin," ucapnya.

Menurut dia, beras berklorin mudah dibedakan dengan
beras asli hanya dengan tampilan fisiknya. 

"Beras yang dicampur zat pemutih, fisiknya putih
mengkilap, bau obat atau deterjen, licin dan banyak
serbuk putihnya. Sedangkan beras yang asli kesat dan
putih kusam serta tidak berbau," ungkapnya. [K-11/132]



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke