Hi...
Menarik juga topiknya... saya hanya sharing apa yg pernah saya tahu, jadi
tidak bermaksud menggurui rekan-rekan di sini yah ...  :)

Keadaan zaman skrg memang demikian, dalam hal makananpun rasanya kita 
tidak bisa terhindar dari bahan-bahan kimia yg ditambahkan, apapun tujuan-
nya: untuk mengawetkan (ada bahan pengawet), atau untuk mewarnai makanan
(ada bahan pewarna), ataupun sebagai perasa (ada bahan perasa sintetis), atau 
untuk mencegah hama, orang memakai pestisida/herbisida, bahkan (jika memakai)
pupuk yg digunakan mungkin dari pupuk kimia. :(

Zat-zat kimia tersebut masuk ke dalam tubuh kita sebagai sesuatu yang dalam 
dunia kesehatan disebut-sebut sebagai radikal bebas. Radikal bebas di dalam
tubuh perannya tidak lain merusak tubuh kita, entah ...
1. merusak pembuluh darah, akibatnya timbullah penyakit jantung koroner, 
2. maupun merusak sel-sel tubuh kita, akibatnya timbullah penyakit kanker.

Ada kabar baik...
Radikal bebas ternyata punya musuh besar, yaitu zat-zat antioksidan dan 
asam lemak esensial omega-3. 
Antioksidan ini tidak lain berupa vitamin dan mineral alami yg bisa kita 
dapatkan
ketika kita mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-mayur seutuhnya, 
dengan catatan mereka harus bebas dari pestisida / herbisida maupun pupuk kimia.

Sedangkan asam lemak omega-3 ini bersifat esensial (harus ada dalam tubuh kita) 
dan sayangnya tubuh kita tidak bisa memproduksi sendiri, jadi perlu asupan dari 
luar. 
Makhluk yang memproduksi asam lemak esensial ini adalah ikan laut yang hidup 
di perairan dalam dan dingin, misalnya ikan salmon yg hidup di perairan dingin.

Kedua jenis zat ini (antioksidan dan asam lemak esensial omega-3) dapat 
melindungi
tubuh kita dari kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas, sehingga kita 
terhindar
dari penyakit jantung koroner maupun kanker.

Jika ada dari rekan-rekan Binusian yg tertarik lebih lanjut mengenai topik ini, 
kita gunakan japri aja, kebetulan saya punya informasi detailnya.

Best Regards,
Robert P.
TI-91

  ----- Original Message ----- 
  From: Masabi Masabi 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, January 09, 2007 9:54 PM
  Subject: [BinusNet] Beras Klorin


  Halo Binusian..

  Sekarang kayaknya segala macam makanan di Indo itu
  banyak mengandung zat zat tambahan yachh.. Yang
  terbaru itu karena beras yg beredar di pasar induk
  terutama tangerang semua mengandung klorin. 

  Tadi malem baru ngobrol sama orang peneliti di suatu
  departemen, katanya klorin itu berbahaya sekali, 
  efeknya baru kelihatan setelah 4 atau 5 tahun. Dan
  menurut rekannya, dari sample itu satu kota boleh
  dibilang segala macam beras mo merek ramos atau pandan
  ada klorin nya. Dan yg banyak beli itu kayak warteg
  dan padang.. walaupun resto fastfood juga beli beras
  dari pasar induk situ.. Jadi kalau mau aman ya makan
  beras merah ajah.. :D Kasian lah para Binusian yg
  kerja di pabrik di kota tersebut dan sekitarnya, 
  makan di luar warteg dapat nasi klorin, makan di
  warung padang dapat klorin, makan katering juga kena
  klorin...mau fast food juga sama... nasibb....
  nasib.... 

  Ngak nutup kemungkinan distribusi beras klorin juga
  sampai ke Jakarta khan.. Malah mungkin ada di
  penyimpanan beras di rumah.. 

  Pantesan sekarang banyak berita orang muda / tua kena
  kanker..Baca email selalu ada yg tanya pengobatan
  kanker. 

  Mungkin kategori 4 sehat 5 sempurna sudah berubah
  makna nya :( Bagi orang asing / tourist dari SG
  mungkin boleh ikut Fear Factor ke Indo dengan menu 4
  sehat sbb :

  Nasi Klorin (beras dengan pemutih tissue dan pakaian)
  Ikan Mercuri (hasil penambangan liar yg dibuang ke
  sungai/laut)
  Ayam Flu Burung (ayam mati flu langsung dijual ke
  pasar)
  Tahu Formalin
  Bakso Boraks 

  http://www.suarapembaruan.com/News/2007/01/09/Utama/ut01.htm

  SUARA PEMBARUAN DAILY
  ----------------------------------------------------------

  Usut Beras Berklorin di Tangerang
  [JAKARTA] Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) harus
  mengusut dan menindak tegas produsen beras yang
  ditambahkan zat pemutih (klorin). Selama ini konsumen
  selalu dirugikan karena tidak mengetahui apa yang
  terkandung didalam makanan yang dibeli. 

  Beberapa waktu lalu ditemukan beras mengandung klorin
  di pasar tradisional di Tangerang, Banten. Hanya saja
  sampai saat ini BPOM belum mengeluarkan pernyataan
  resmi mengenai hal itu. 

  Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor Ali Khomsan
  kepada Pembaruan, Selasa (9/1), berpendapat, selama
  tidak ada tindakan yang tegas terhadap produsen maka
  kejadian serupa itu akan terus terjadi. "Konsumen akan
  selalu menjadi korban," tukasnya. 

  Sejumlah kasus, lanjutnya, sudah menjadi contoh,
  seperti kasus bahan pengawet beberapa waktu lalu.
  "Kalau ada kasus ini kan sebenarnya membuktikan bahwa
  penegakan hukum dalam pengawasan makanan dan obat
  tidak benar-benar berjalan baik. Ini harus diperbaiki,
  salah satunya adalah dengan menindak tegas," katanya. 

  Dia menjelaskan, zat klor sebenarnya dibutuhkan oleh
  tubuh sebagai salah satu zat penguat tulang atau gigi.
  Namun jika kadarnya melebihi ambang batas yang
  diterima oleh tubuh, dapat mengakibatkan sejumlah
  gangguan, seperti kanker tulang dan sebagainya.
  "Tetapi kita perlu menyelidiki seberapa jumlah kadar
  klor yang ada dalam beras yang mengandung bahan klor
  itu. Ini penting juga agar kita tahu kemungkinan
  ancaman yang terjadi terhadap tubuh," tambahnya. 

  Menurut Ali, beras yang baik berwarna buram. "Dalam
  konteks gizi, warna yang bagus adalah yang buram
  karena memiliki ketahanan vitamin B yang lebih kuat.
  Tetapi sekarang karena mengikuti selera konsumen maka
  beras yang laku adalah beras yang berwarna putih,
  sehingga kemudian mereka menambahkan pemutih di
  dalamnya," paparnya. 

  Turun Tangan

  Sementara itu aparat Pemerintah Kota Tangerang meminta
  Departemen Pertanian serta BPOM untuk turun tangan
  menarik peredaran beras yang mengandung klorin atau
  zat pemutih tekstil.

  Karena itu,Walikota Tangerang meminta masyarakat untuk
  waspada dan hati-hati jika ingin membeli beras karena
  bahan pokok yang mengandung zat pemutih pakaian sangat
  berbahaya untuk kesehatan. Dia telah meminta pula
  instansi terkait untuk segera melakukan tindakan agar
  masyarakat tidak dirugikan. 

  "Beras saja sudah dicampur zat berbahaya. Saya minta
  semua untuk waspada dan menjadi perhatian semua," ujar
  Wahidin saat memimpin apel pagi, Senin (8/1). 

  Secara terpisah Kepala Sub Dinas Pertanian, Dinas
  Pertanian Kota Tangerang Epen Effendi mengatakan,
  instansinya tidak mempunyai wewenang untuk menindak
  penjual beras berklorin. "Perdagangan beras adalah
  perdagangan antardaerah, Pemda tidak punya wewenang
  untuk menindak pelaku dan menarik beras dari pasaran,"
  jelasnya.

  Menurut dia, perbuatan pedagang atau distributor beras
  yang menggunakan klorin agar beras lebih putih dan
  mengkilap merupakan kejahatan penipuan dan pemalsuan.
  Karenanya, dia berharap pemerintah pusat melalui
  Departemen Pertanian harus bertindak tegas dengan cara
  meminta aparat keamanan untuk mengusutnya.

  Epen mengungkapkan, penjualan beras berklorin
  dilakukan oleh pedagang dan distributor dari luar
  Tangerang karena kota ini bukan penghasil beras. Luas
  persawahan di kota Tangerang hanya sekitar 100 hektare
  dengan produksi sekitar 1000 ton setiap tahunnya.
  Produksi beras tersebut hanya cukup untuk memenuhi
  kebutuhan 1,4 juta jiwa penduduk Kota Tangerang.
  "Hampir 95 persen kebutuhan beras masyarakat Kota
  Tangerang didatangkan dari luar, seperti Karawang dan
  Cianjur," tuturnya. 

  Meski tidak berwenang untuk menindak, lanjutnya, Dinas
  Pertanian akan membentuk tim terpadu beranggotakan
  Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan serta Dinas
  Perindustrian dan Perdagangan. 

  Dalam tim tersebut Dinas Perdagangan akan melakukan
  pemeriksaan di tingkat pedagang dan Distributor, Dinas
  Kesehatan akan memeriksa dan mengamati beras yang
  dijual dan akan dijual, Serta Dinas Pertanian akan
  memantau tempat dan proses produksi beras di
  Tangerang. 

  Hanya Memantau

  Kepala Sub Dinas Perdagangan Dinas Peridustrian dan
  Perdagangan Kota Tangerang, Muhammad Noor juga
  mengakui tidak memiliki wewenang untuk menindak
  penjual beras mengandung klorin.

  Dia mengaku hanya bisa memantau seberapa banyak beras
  berklorin beredar untuk mengetahui persediaan dan
  harga. "Kalau penindakan bukan wewenang kami. Kami
  hanya bisa menindak pedagang dan distributor, tapi
  tidak bisa menarik beras tersebut dari pasaran,"
  katanya.

  Seperti diberitakan, Balai Pengawasan Obat dan Makanan
  Kota Tangerang menemukan kadar klorin seberat 0,05 ppm
  dalam beras curah yang diperdagangkan di tiga pasar
  tradisonal di Tangerang, yakni Pasar Anyar, Malabar
  dan Cileduk. 

  Klorin merupakan bahan kimia yang biasanya digunakan
  sebagai pemutih pakaian. Zat tersebut dicampur beras
  dengan cara perendaman atau penyemprotan agar beras
  lebih putih dan mengkilat sehingga harga jual bisa
  tinggi. Jika terus dikonsumsi klroin ini bisa
  mengakibatkan kanker dan kerusakan ginjal. 

  Sejak merebaknya penjualan beras berklorin,
  perdagangan beras di pasar mengalami penurunan.
  Suhemi, agen beras di Pasar Anyar, Kota Tangerang
  mengungkapkan, sebelum terkuak beras klorin, dia bisa
  menjual sekitar 2,5 ton beras per hari. Kini penjualan
  hanya berkisar 1,5 ton. "Masyarakat yang biasa membeli
  dalam jumlah banyak kini membeli sedikit. Mereka
  khawatir berasnya mengandung klorin," ucapnya.

  Menurut dia, beras berklorin mudah dibedakan dengan
  beras asli hanya dengan tampilan fisiknya. 

  "Beras yang dicampur zat pemutih, fisiknya putih
  mengkilap, bau obat atau deterjen, licin dan banyak
  serbuk putihnya. Sedangkan beras yang asli kesat dan
  putih kusam serta tidak berbau," ungkapnya. [K-11/132]

  __________________________________________________
  Do You Yahoo!?
  Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
  http://mail.yahoo.com 


   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke