Selain itu ada makan alami yang murah meriah dan mudah di dapat , yang mengandung antioksida sbb : bawang putih, teh, vitamin C, vitamin E , semua zat ini sangat mudah di dapat dalam menu sehari-2 orang indo, untuk zat vitamin C dan E terdapat pada buah-buahan dan sayur mayur, : pepaya, jeruk, tomat, brokoli, dll
----- Original Message ----- From: "<-|||Robert P|||->" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Wednesday, January 10, 2007 12:32 PM Subject: Re: [BinusNet] Beras Klorin > Hi... > Menarik juga topiknya... saya hanya sharing apa yg pernah saya tahu, jadi > tidak bermaksud menggurui rekan-rekan di sini yah ... :) > > Keadaan zaman skrg memang demikian, dalam hal makananpun rasanya kita > tidak bisa terhindar dari bahan-bahan kimia yg ditambahkan, apapun tujuan- > nya: untuk mengawetkan (ada bahan pengawet), atau untuk mewarnai makanan > (ada bahan pewarna), ataupun sebagai perasa (ada bahan perasa sintetis), > atau > untuk mencegah hama, orang memakai pestisida/herbisida, bahkan (jika > memakai) > pupuk yg digunakan mungkin dari pupuk kimia. :( > > Zat-zat kimia tersebut masuk ke dalam tubuh kita sebagai sesuatu yang > dalam > dunia kesehatan disebut-sebut sebagai radikal bebas. Radikal bebas di > dalam > tubuh perannya tidak lain merusak tubuh kita, entah ... > 1. merusak pembuluh darah, akibatnya timbullah penyakit jantung koroner, > 2. maupun merusak sel-sel tubuh kita, akibatnya timbullah penyakit kanker. > > Ada kabar baik... > Radikal bebas ternyata punya musuh besar, yaitu zat-zat antioksidan dan > asam lemak esensial omega-3. > Antioksidan ini tidak lain berupa vitamin dan mineral alami yg bisa kita > dapatkan > ketika kita mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-mayur seutuhnya, > dengan catatan mereka harus bebas dari pestisida / herbisida maupun pupuk > kimia. > > Sedangkan asam lemak omega-3 ini bersifat esensial (harus ada dalam tubuh > kita) > dan sayangnya tubuh kita tidak bisa memproduksi sendiri, jadi perlu asupan > dari luar. > Makhluk yang memproduksi asam lemak esensial ini adalah ikan laut yang > hidup > di perairan dalam dan dingin, misalnya ikan salmon yg hidup di perairan > dingin. > > Kedua jenis zat ini (antioksidan dan asam lemak esensial omega-3) dapat > melindungi > tubuh kita dari kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas, sehingga > kita terhindar > dari penyakit jantung koroner maupun kanker. > > Jika ada dari rekan-rekan Binusian yg tertarik lebih lanjut mengenai topik > ini, > kita gunakan japri aja, kebetulan saya punya informasi detailnya. > > Best Regards, > Robert P. > TI-91 > > ----- Original Message ----- > From: Masabi Masabi > To: [email protected] > Sent: Tuesday, January 09, 2007 9:54 PM > Subject: [BinusNet] Beras Klorin > > > Halo Binusian.. > > Sekarang kayaknya segala macam makanan di Indo itu > banyak mengandung zat zat tambahan yachh.. Yang > terbaru itu karena beras yg beredar di pasar induk > terutama tangerang semua mengandung klorin. > > Tadi malem baru ngobrol sama orang peneliti di suatu > departemen, katanya klorin itu berbahaya sekali, > efeknya baru kelihatan setelah 4 atau 5 tahun. Dan > menurut rekannya, dari sample itu satu kota boleh > dibilang segala macam beras mo merek ramos atau pandan > ada klorin nya. Dan yg banyak beli itu kayak warteg > dan padang.. walaupun resto fastfood juga beli beras > dari pasar induk situ.. Jadi kalau mau aman ya makan > beras merah ajah.. :D Kasian lah para Binusian yg > kerja di pabrik di kota tersebut dan sekitarnya, > makan di luar warteg dapat nasi klorin, makan di > warung padang dapat klorin, makan katering juga kena > klorin...mau fast food juga sama... nasibb.... > nasib.... > > Ngak nutup kemungkinan distribusi beras klorin juga > sampai ke Jakarta khan.. Malah mungkin ada di > penyimpanan beras di rumah.. > > Pantesan sekarang banyak berita orang muda / tua kena > kanker..Baca email selalu ada yg tanya pengobatan > kanker. > > Mungkin kategori 4 sehat 5 sempurna sudah berubah > makna nya :( Bagi orang asing / tourist dari SG > mungkin boleh ikut Fear Factor ke Indo dengan menu 4 > sehat sbb : > > Nasi Klorin (beras dengan pemutih tissue dan pakaian) > Ikan Mercuri (hasil penambangan liar yg dibuang ke > sungai/laut) > Ayam Flu Burung (ayam mati flu langsung dijual ke > pasar) > Tahu Formalin > Bakso Boraks > > http://www.suarapembaruan.com/News/2007/01/09/Utama/ut01.htm > > SUARA PEMBARUAN DAILY > ---------------------------------------------------------- > > Usut Beras Berklorin di Tangerang > [JAKARTA] Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) harus > mengusut dan menindak tegas produsen beras yang > ditambahkan zat pemutih (klorin). Selama ini konsumen > selalu dirugikan karena tidak mengetahui apa yang > terkandung didalam makanan yang dibeli. > > Beberapa waktu lalu ditemukan beras mengandung klorin > di pasar tradisional di Tangerang, Banten. Hanya saja > sampai saat ini BPOM belum mengeluarkan pernyataan > resmi mengenai hal itu. > > Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor Ali Khomsan > kepada Pembaruan, Selasa (9/1), berpendapat, selama > tidak ada tindakan yang tegas terhadap produsen maka > kejadian serupa itu akan terus terjadi. "Konsumen akan > selalu menjadi korban," tukasnya. > > Sejumlah kasus, lanjutnya, sudah menjadi contoh, > seperti kasus bahan pengawet beberapa waktu lalu. > "Kalau ada kasus ini kan sebenarnya membuktikan bahwa > penegakan hukum dalam pengawasan makanan dan obat > tidak benar-benar berjalan baik. Ini harus diperbaiki, > salah satunya adalah dengan menindak tegas," katanya. > > Dia menjelaskan, zat klor sebenarnya dibutuhkan oleh > tubuh sebagai salah satu zat penguat tulang atau gigi. > Namun jika kadarnya melebihi ambang batas yang > diterima oleh tubuh, dapat mengakibatkan sejumlah > gangguan, seperti kanker tulang dan sebagainya. > "Tetapi kita perlu menyelidiki seberapa jumlah kadar > klor yang ada dalam beras yang mengandung bahan klor > itu. Ini penting juga agar kita tahu kemungkinan > ancaman yang terjadi terhadap tubuh," tambahnya. > > Menurut Ali, beras yang baik berwarna buram. "Dalam > konteks gizi, warna yang bagus adalah yang buram > karena memiliki ketahanan vitamin B yang lebih kuat. > Tetapi sekarang karena mengikuti selera konsumen maka > beras yang laku adalah beras yang berwarna putih, > sehingga kemudian mereka menambahkan pemutih di > dalamnya," paparnya. > > Turun Tangan > > Sementara itu aparat Pemerintah Kota Tangerang meminta > Departemen Pertanian serta BPOM untuk turun tangan > menarik peredaran beras yang mengandung klorin atau > zat pemutih tekstil. > > Karena itu,Walikota Tangerang meminta masyarakat untuk > waspada dan hati-hati jika ingin membeli beras karena > bahan pokok yang mengandung zat pemutih pakaian sangat > berbahaya untuk kesehatan. Dia telah meminta pula > instansi terkait untuk segera melakukan tindakan agar > masyarakat tidak dirugikan. > > "Beras saja sudah dicampur zat berbahaya. Saya minta > semua untuk waspada dan menjadi perhatian semua," ujar > Wahidin saat memimpin apel pagi, Senin (8/1). > > Secara terpisah Kepala Sub Dinas Pertanian, Dinas > Pertanian Kota Tangerang Epen Effendi mengatakan, > instansinya tidak mempunyai wewenang untuk menindak > penjual beras berklorin. "Perdagangan beras adalah > perdagangan antardaerah, Pemda tidak punya wewenang > untuk menindak pelaku dan menarik beras dari pasaran," > jelasnya. > > Menurut dia, perbuatan pedagang atau distributor beras > yang menggunakan klorin agar beras lebih putih dan > mengkilap merupakan kejahatan penipuan dan pemalsuan. > Karenanya, dia berharap pemerintah pusat melalui > Departemen Pertanian harus bertindak tegas dengan cara > meminta aparat keamanan untuk mengusutnya. > > Epen mengungkapkan, penjualan beras berklorin > dilakukan oleh pedagang dan distributor dari luar > Tangerang karena kota ini bukan penghasil beras. Luas > persawahan di kota Tangerang hanya sekitar 100 hektare > dengan produksi sekitar 1000 ton setiap tahunnya. > Produksi beras tersebut hanya cukup untuk memenuhi > kebutuhan 1,4 juta jiwa penduduk Kota Tangerang. > "Hampir 95 persen kebutuhan beras masyarakat Kota > Tangerang didatangkan dari luar, seperti Karawang dan > Cianjur," tuturnya. > > Meski tidak berwenang untuk menindak, lanjutnya, Dinas > Pertanian akan membentuk tim terpadu beranggotakan > Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan serta Dinas > Perindustrian dan Perdagangan. > > Dalam tim tersebut Dinas Perdagangan akan melakukan > pemeriksaan di tingkat pedagang dan Distributor, Dinas > Kesehatan akan memeriksa dan mengamati beras yang > dijual dan akan dijual, Serta Dinas Pertanian akan > memantau tempat dan proses produksi beras di > Tangerang. > > Hanya Memantau > > Kepala Sub Dinas Perdagangan Dinas Peridustrian dan > Perdagangan Kota Tangerang, Muhammad Noor juga > mengakui tidak memiliki wewenang untuk menindak > penjual beras mengandung klorin. > > Dia mengaku hanya bisa memantau seberapa banyak beras > berklorin beredar untuk mengetahui persediaan dan > harga. "Kalau penindakan bukan wewenang kami. Kami > hanya bisa menindak pedagang dan distributor, tapi > tidak bisa menarik beras tersebut dari pasaran," > katanya. > > Seperti diberitakan, Balai Pengawasan Obat dan Makanan > Kota Tangerang menemukan kadar klorin seberat 0,05 ppm > dalam beras curah yang diperdagangkan di tiga pasar > tradisonal di Tangerang, yakni Pasar Anyar, Malabar > dan Cileduk. > > Klorin merupakan bahan kimia yang biasanya digunakan > sebagai pemutih pakaian. Zat tersebut dicampur beras > dengan cara perendaman atau penyemprotan agar beras > lebih putih dan mengkilat sehingga harga jual bisa > tinggi. Jika terus dikonsumsi klroin ini bisa > mengakibatkan kanker dan kerusakan ginjal. > > Sejak merebaknya penjualan beras berklorin, > perdagangan beras di pasar mengalami penurunan. > Suhemi, agen beras di Pasar Anyar, Kota Tangerang > mengungkapkan, sebelum terkuak beras klorin, dia bisa > menjual sekitar 2,5 ton beras per hari. Kini penjualan > hanya berkisar 1,5 ton. "Masyarakat yang biasa membeli > dalam jumlah banyak kini membeli sedikit. Mereka > khawatir berasnya mengandung klorin," ucapnya. > > Menurut dia, beras berklorin mudah dibedakan dengan > beras asli hanya dengan tampilan fisiknya. > > "Beras yang dicampur zat pemutih, fisiknya putih > mengkilap, bau obat atau deterjen, licin dan banyak > serbuk putihnya. Sedangkan beras yang asli kesat dan > putih kusam serta tidak berbau," ungkapnya. [K-11/132] > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan > Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar > > Stop or Unsubscribe: send blank email to > [EMAIL PROTECTED] > Questions or Suggestions, send e-mail to [EMAIL PROTECTED] > > > Yahoo! Groups Links > > > > >
