Felix,
Ini pendapat pribadi saja, komentar yang tidak ada gunanya, tapi kalau
didengarkan thanks banget...

1. Aku juga di bisnis yang - meskipun intinya adalah jualan - kepuasan
pelanggan adalah modal utama. Aku bakal shock banget kalau ternyata ada
pelanggan protes sampe kirim surat ke kompas segala. Masuk milis saja
udah kalang kabut, apalagi Kompas. Meskipun mungkin yang kecewa Cuma 1
dari 1000 orang, tapi tetap saja efek surat pembaca kompas terasa besar
sekali. Kalau dilihat dari satu sisi, emang ngapain ngurusin orang yang
begitu... tapi disisi lain - sisi ambisi pribadi - aku nggak mau ada
pelanggan yang kecewa. 

2. kalau aku diposisi Felix, aku nggak mau bola ada ditanganku. Klien
ini sudah melempar bola dengan menulis ke kompas.. kalau nggak
ditanggapin, bola bakal mati ditanganku. So, sebaiknya masalah ini
diselesaikan. At least, surat ke kompas kudu di jawab, kirim surat ke
kompas lagi. Sayang sekarang kompas nggak mengijinkan kalau jawaban Cuma
"sudah menghubungi dan pihak klien bisa menerima penjelasan". Kudu
dijelasin penyelesaiannya apa. Tapi menurut aku banyak cara 'elegan'
untuk menjawab surat di kompas itu... contoh banyak, bisa dicari

3. Surat pembaca kompas sudah diedit dulu oleh Kompas... menurut aku,
Felix berhak minta surat yang asli, seutuhnya nggak diedit. Minta saja
ke kompas. Seperti kata Felix, ada dua sisi koin yang berbeda. Harus
liat satu sisinya secara jelas dan lengkap

4. mungkin saja - mungkin, sekali lagi mungkin - si Klien ini semua
rencana weddingnya berantakan gara-gara banjir, nggak Cuma dari sisi
video shooting... tapi yang disalahin Felix. Mungkin dia dapet
kompensasi ini itu dari third party yang lainnya, tapi nggak dapet
apa-apa dari Felix, jadi dia sampe nulis surat pembaca. Kalo gini sih
memang kliennya yang keterlaluan... tapi yaaa liat poin no 1. Nggak ada
salahnya menghibur orang yang kesusahan. Jadi semangatnya bukan Felix
minta maaf, tapi Felix memberi 'hiburan' ke orang yang sedang
kesusahan...

Well... ini Cuma pendapat yang mungkin saja ngaco... jadi nggak usah
diperdebatkan

Dilain pihak, aku juga pengin bisa kayak Felix, berani nolak pelanggan
yang keterlaluan.... 
Ada temen yang kerja di Advertising bilang... berasa jadi "pelacur" kalo
ngikutin apa aja maunya klien... hehehehe

Salut untuk Felix....
Coba dulu gue married udah ada Siluwed, pasti gue pake Siluwed...

Thio

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of felix suwarno
Sent: 28 Maret 2007 23:06
To: [email protected]
Subject: RE: [BinusNet] OOT : Siluwed masuk Kompas

well. gini nih ceritanya. aku hanya urus klien yang minta multiple
cameras, 
dan klien yang ini cuma minta satu video dan satu foto,
sehingga bukan aku yang tangani.

2 hari sebelum hari H nya dia ( sorry, lupa namanya ), dia call ke
kantor 
siluwed, dan saat itu kita masih tutup karena BANJIR.
sebenarnya udah surut di kelapa gading, tapi sebagian besar anggota team

siluwed, rumahnya belepotan dan butuh waktu untuk diberesin.
sehingga kita masih tutup. cuma office boy yang angkat telepon. so,
office 
boy ku kasih nomor telepon hp ku.

si klien ini nanya dengan ketus banget, besok lusa team kamu jadi datang

nggak?! jadi response ku adalah, kenapa marah marah?
ada apa sebenarnya? bisa tolong diceritakan nggak? dia jawab : tanya aja
tuh 
sama anak buah kamu!!! so, aku minta dia matikan
teleponnya dulu, aku mau tanya project managerku. setiap masalah punya 2

sisi koin yang berbeda, nah masalahnya si klien ini
nggak mau pusing untuk menceritakan sisi koinnya dia. so aku call
project 
managerku.

ceritanya gini : si klien ini minta kita datang ke rumah dia untuk
teknikal 
meeting. which was not possible. sebab lagi banjir.
project managerku nge kost di kelapa gading, dan itu pun dia baru aja 
berenang untuk tembus balik ke rumah orang tuanya di tanah
abang. nah, si klien ini, rumahnya kita ketahui juga di spot yang lagi 
banjir. so, project managerku minta supaya skedul acara di fax
aja, sebab keadaan tidak memungkinkan. tapi yang bersangkutan malah
marah 
marah; "tau nggak wartelnya lagi banjir sepaha? gimana
caranya nge fax??!!"

dengan response demikian, sudah jelas memang di tempat si klien memang
lagi 
banjir. project managerku nggak menemukan solusi. dia juga
jadi bete karena si klien bisanya marah marah terus.

so, aku call lagi si klien ini. gak ingat detilnya, tapi pada dasarnya
aku 
minta sama dia untuk tidak marah marah dulu. sebab aku nggak
akan mau melayani orang yang kerjaannya marah marah terus. wedding day 
adalah hari bahagia, dan team ku cuma bisa kerja dengan baik
kalo suasananya juga enak. kalo belum apa apa dimarahi terus untuk suatu

force majeure, saya katakan pada dia, mending lebih baik
team ku gak datang aja. AKU HARUS MELINDUNGI TEAMKU DARI KLIEN KAYAK
GINI. 
MESKIPUN SILUWED ADALAH PERUSAHAAN BARU, AKU NGGAK
AKAN BIARKAN KLIEN MENGINJAK INJAK ANAK BUAH KU SEENAK KENTUT. aku
tegaskan 
sama dia sekali lagi, kalau si klien masih marah marah juga,
ya saya kembalikan aja uang mukanya. ngapain kita layani orang yang gak 
senang dilayani?

perlu diketahui ada 3 klien yang pestanya, mestinya di saat banjir. 2
batal, 
mereka maklum, dan satu masih kami layani meskipun dalam keadaan
darurat cuma menggunakan kamera genggam. saat itu kantor kami benar
benar 
unreachable; untungnya ada 2 anggota team yang rumahnya nggak
kena banjir.

surat si klien di kompas sangat gak masuk akal, dan aku katakan sebagai 
fitnah. kenapa? logika aja. mana mungkin kita memperlakukan
klien dengan kasar? ini bisnis, gak mungkin kita segoblok itu dalam
melayani 
orang. kemudian, yang bersangkutan tidak menulis
apapun mengenai BANJIR, sehingga tulisan di kompas itu benar benar
sepihak.

sorry yah, aku nggak akan mau melayani klien macam gini. nggak sudi sama

sekali. silahkan kalo dia mau nuntut.
 

Kirim email ke