Numpang komen... Emang kata teman yg sebelumnya, lama2 kita orang indonesia akan jadi mummy kalau mati, pengawetan karena kebudayaan yg hari ini kapok besok berbuat lagi.
Suka heran juga setiap kali beli product makanan dari warung pinggir jalan sampai hypermarket sepertinya tidak aman dan tidak bisa dipercaya lagi; terus apa artinya setiap kemasan ada tulisan "DEP KES:" terdaftar dengan nomor-nomornya, tapi waktu daftar benar tapi waktu produksi beberapa saat kemudian sudah mulai melanggar ketentuan; jadi stempel dep-kes itu udah gak ada gunanya atau jaminan lagi. Menurut saya karena badan hukum kita tidak pernah tegas, tidak perduli (meskipun anak cucunya pasti mengkonsumsi makanan2 itu), apakah kita tau kalau waktu pemeriksaan dari formula bahan yg melanggar tapi dengan sogokan uang ke petugas/badan yg memeriksa toh.. ijin bisa keluar juga; kita kan semua tau semuanya bisa diatur kalau ada seonggokan duit dimukanya. Dengan dalih random check pada periode tertentu tidak bisa karena tidak adanya biaya operational, itu merupakan alasan yg rasanya asal ngomong dan tidak mau perduli... Capek deh kalau mau ngomongi masalah itu, yg penting bagaimana kita bisa berusaha dengan trik2 tertentu bisa mengurangi konsumsi makanan yg mengandung zat2 yg sudah dimana2, kira2 tips untuk kita apa saja? mungkin mula bercocok tanam, konsumsi makanan/sayuran hidroponik? Yah mudah2an daya tahan tubuh alami kita masih bisa mengolah sebagian zat yg mengandung racun yg kita konsumsi dalam batas kadar tertentu... Ngomong2 pak presiden+wakil dan para menteri juga makan makanan seperti kita juga? atau selalu ada test zat2 pengawet sebelum dimasak?.... ----- Original Message ----- From: Sudiyono To: [email protected] Sent: Friday, August 31, 2007 6:20 PM Subject: Re: [BinusNet] Makanan formalin lagi Saya rasa kalau metode random check tidak akan terlalu efektif dan akan menghabiskan banyak waktu dan biaya. Bayangkan saja saat ini ada berapa juta produk consumer good yg beredar di pasaran. Kalau pun dilakukan random check terhadap beberapa merk produk, tidak akan bisa mewakili produk2 yg lain, bahkan terhadap varians lain dari merk yg sama sekalipun. Jadi penasaran bagaimana cara kerja FDA di amrik sono mengawasi produk2 yg beredar? Ini penting sekali kita ketahui karena menyangkut kesehatan hidup kita semua. Saat ini sedikit demi sedikit saya sudah mulai membiasakan diri membaca 'ingredients' dari setiap produk yg saya beli, untuk kemudian mencari keterangan lebih lanjut di google. Contoh, Hydrogenetic Vegetable Oil atau minyak sayur dihidrogenisasi, ternyata berbahaya sekali buat tubuh kita. Pada dasarnya minyak sayur adalah baik, namun demi alasan bisnis karena minyak ini tidak tahan lama, maka dilakukanlah proses pemadatan (hidrogenisasi) sehingga menjadi tahan lama, dan minyak jenis ini lebih berbahaya daripada minyak hewani. Margarin adalah salah satu contoh produk hidrogenisasi, sebaiknya hindari ini. Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Vegetable_oil#Hydrogenated_oils Oya, musti hati2 juga terhadap hasil terjemahan 'ingredients' karena kadang kala terjemahannya disederhanakan dan menyimpang dari seharusnya. :-) yono ----- Original Message ---- From: Masabi Masabi <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, August 31, 2007 4:39:06 PM Subject: Re: [BinusNet] Makanan formalin lagi Sebenarnya sih simple. BPOM harusnya secara random misal 2 bulan sekali ambil sampel secara acak di setiap kota (beli produk di pasar tradisional secara acak dari minimal 15 pasar), terus itu yang diuji. -- cut -- __________________________________________________________ Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links. http://mobile.yahoo.com/mobileweb/onesearch?refer=1ONXIC [Non-text portions of this message have been removed]
