Kalau kasus yang sering terjadi di kalangan pelajar
ini gimana menurut Binusian...  

Ternyata tidak hanya di IPDN dan lulusannya yang
bertugas sebagai pamong,  di Sekolah negeri unggulan
pun udah banyak pemerasannnya terhadap junior junior
nya sampe ada beberapa siswa pada patah tulang..  

Belum lagi kalau gue tiap siang lagi jalan, di halte
halte tertentu  suka liat segerombolan sergama putih
abu abu bawa kayu..  gesper...  yang kata sopir sih
kalau ketemu siswa sekolah lain biasanya dipalak  atau
di pukul...  


Mudah mudahan di Binus sekarang ngak ada genk-genk
kayak di SMU SMU di jabotabek yach..    Kalau ngak
dijaga bukan ngak mungkin lulus SMU masuk BInus bisa
bikin genk juga di Binus.. 

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0711/12/metro/3985145.htm

Kekerasan di Sekolah Menahun 
Harus Ada Gerakan Moral Memberantas "Bullying"

Jakarta, Kompas - Kekerasan di sekolah-sekolah
diperkirakan telah meluas dan terpendam selama puluhan
tahun terakhir, tetapi tidak dianggap sebagai masalah
serius. Kekerasan telah menjadi subkultur di kalangan
remaja dan kian terorganisasi. Pemerintah harus segera
turun tangan lebih serius. 

"Di SMA 70, misalnya, tempat anak saya sekolah saat
ini, bullying masih terus terjadi. Dan, itu
dilestarikan dari angkatan ke angkatan selama 30 tahun
terakhir. Sekolah harus tegas, pemerintah harus turun
tangan. Harus ada gerakan moral yang luas memerangi
ini. Remaja ini nanti yang akan menjadi pemimpin
negeri, bagaimana kalau kualitasnya seperti itu?" ujar
Evita, orangtua dari seorang siswa SMA 70 Jakarta,
yang juga menjadi korban bullying . 

Evita menuturkan, sejak mengetahui praktik bullying di
SMA 70, dirinya mengumpulkan informasi dan riset
kecil-kecilan. Evita juga selalu memantau kondisi
anaknya. 

Menurut Evita, pihak sekolah, pemerintah, dan aparat
penegak hukum selama ini tidak pernah tegas membasmi
praktik kekerasan terselubung di sekolah. 

Sementara itu, seperti diberitakan kemarin, siswa
kelas X SMA 34 Pondok Labu, Jakarta Selatan, Muhammad
Fadhil Harkaputra Sirath (15), melaporkan peristiwa
kekerasan mental dan fisik yang dialaminya ke
Kepolisian Sektor Cilandak, Jakarta Selatan. Minggu
(11/11) kemarin Fadhil ditemani ayahnya, Herry S
Sirath, menyerahkan hasil visum ke kepolisian. 

Fadhil menderita keretakan parah pada tulang di tangan
kiri dan luka karena sundutan rokok di lengan kiri. Ia
bercerita, peristiwa pemukulan yang menyebabkannya
terluka itu terjadi pada Agustus 2007. Para siswa
senior kelas XII SMA 34 yang tergabung dalam geng
Gazper memaksanya berduel di suatu tanah kosong di
kompleks Bukit Cinere Indah, Limo, Depok. 

Menurut Fadhil, ketika awal dibentuk, geng tersebut
bernama Rezteam. Fadhil kurang mengetahui ihwal
perubahan nama tersebut. Geng Gazper saat ini
beranggotakan sekira 250 siswa dari kelas X hingga
XII. 

Kepala Sekolah SMA 34 Ahmad Mukri, ketika dihubungi
Kompas, berjanji akan menindak tegas geng Gazper
tersebut. Namun, Ahmad mengaku, sebelum kasus Fadhil,
ia tidak pernah mengetahui praktik bullying dan
pemerasan di sekolahnya. 

Alumnus SMA Negeri 34 Jakarta, Baskara (18), yang
kuliah di Universitas Indonesia, merasa kecewa atas
ulah adik kelasnya yang mempermalukan nama sekolah. 

"Mereka itu goblok kalau kata saya. Sebelum-sebelumnya
nggak pernah terjadi seperti ini. Baru angkatan yang
sekarang aja yang bikin ulah," ujar Baskara kemarin di
depan pintu gerbang SMA 34 Jakarta bersama sekitar 15
alumnus lainnya. (SF/A02) 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke