saya mendukung sekali ide Raymond utk tembak mampus di tempat.
tetapi sepertinya penghakiman adalah milik TUHAN (Deuteronomy 1:17)

bagaimana sebaiknya (strategi apa) agar rekan BiNusian bisa bersatu hati 
membina nusantara?
sean

----- Original Message ----
From: Raymond <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, November 12, 2007 3:57:06 PM
Subject: Re: [BinusNet] Kekerasan di Sekolah Menahun

Kalau menurut saya sih, orang2 kaya gini mendingan tembak mampus di tempat 
aja...baru umur segitu lagaknya kaya jagoan aja, gedenya mau jadi apa ?? 
Paling2 mirip kaya jaman2 waktu SMA aja, jadi preman, ato jadi tukang 
todong...Nga ada gunanya mereka hidup lama2, hanya akan meresahkan masyarakat 
aja...basmi aja dari skrg, biar jadi pelajaran bagi yang lain juga...Kalo nga 
dikasih pelajaran yang "keras", pasti mereka akan tetap berani untuk mengulangi 
ulah2nya itu...
Hal (tembak mati di tempat) ini juga harusnya dilakukan ke geng2 motor di 
Bandung yang skrg sudah meresahkan banyak orang itu...Geng yang kerjanya hanya 
mengganggu n meresahkan masyarakat itu harusnya dibabat habis, jangan diadili 
bahkan diampuni. Mereka sendiri dengan mudahnya berbuat kejahatan tanpa kenal 
belas kasihan lagi...Seperti yang diberitakan di televisi, ada orang yang 
sedang naik motor dan kebetulan berpapasan dengan geng motor itu, tiba2 
tangannya disabet samurai sampe buntung...dan sekarang orang itu jadi tidak 
bisa kerja lagi karena tangannya sudah buntung begitu...
Aduh, anak2 jaman sekarang koq jadi pada gitu semua yah...mau jadi apa 
Indonesia ini kalo anak2 muda yang sebagai generasi penerusnya kaya begitu ? 
Pemerintah sudah seharusnya bertindak sangat2 tegas mengenai hal2 seperti ini.
Saya mohon maaf apabila pendapat saya ini terdengar agak keras ato ekstrim, 
karena hal itulah yang menurut saya paling cocok dilakukan untuk mereka.

Thanks & regards,

Raymond

----- Original Message ----- 
From: Masabi Masabi 
To: [EMAIL PROTECTED] s.com 
Sent: Monday, November 12, 2007 11:03 AM
Subject: [BinusNet] Kekerasan di Sekolah Menahun

Kalau kasus yang sering terjadi di kalangan pelajar
ini gimana menurut Binusian... 

Ternyata tidak hanya di IPDN dan lulusannya yang
bertugas sebagai pamong, di Sekolah negeri unggulan
pun udah banyak pemerasannnya terhadap junior junior
nya sampe ada beberapa siswa pada patah tulang.. 

Belum lagi kalau gue tiap siang lagi jalan, di halte
halte tertentu suka liat segerombolan sergama putih
abu abu bawa kayu.. gesper... yang kata sopir sih
kalau ketemu siswa sekolah lain biasanya dipalak atau
di pukul... 

Mudah mudahan di Binus sekarang ngak ada genk-genk
kayak di SMU SMU di jabotabek yach.. Kalau ngak
dijaga bukan ngak mungkin lulus SMU masuk BInus bisa
bikin genk juga di Binus.. 

http://www.kompas. co.id/kompas- cetak/0711/ 12/metro/ 3985145.htm

Kekerasan di Sekolah Menahun 
Harus Ada Gerakan Moral Memberantas "Bullying"

Jakarta, Kompas - Kekerasan di sekolah-sekolah
diperkirakan telah meluas dan terpendam selama puluhan
tahun terakhir, tetapi tidak dianggap sebagai masalah
serius. Kekerasan telah menjadi subkultur di kalangan
remaja dan kian terorganisasi. Pemerintah harus segera
turun tangan lebih serius. 

"Di SMA 70, misalnya, tempat anak saya sekolah saat
ini, bullying masih terus terjadi. Dan, itu
dilestarikan dari angkatan ke angkatan selama 30 tahun
terakhir. Sekolah harus tegas, pemerintah harus turun
tangan. Harus ada gerakan moral yang luas memerangi
ini. Remaja ini nanti yang akan menjadi pemimpin
negeri, bagaimana kalau kualitasnya seperti itu?" ujar
Evita, orangtua dari seorang siswa SMA 70 Jakarta,
yang juga menjadi korban bullying . 

Evita menuturkan, sejak mengetahui praktik bullying di
SMA 70, dirinya mengumpulkan informasi dan riset
kecil-kecilan. Evita juga selalu memantau kondisi
anaknya. 

Menurut Evita, pihak sekolah, pemerintah, dan aparat
penegak hukum selama ini tidak pernah tegas membasmi
praktik kekerasan terselubung di sekolah. 

Sementara itu, seperti diberitakan kemarin, siswa
kelas X SMA 34 Pondok Labu, Jakarta Selatan, Muhammad
Fadhil Harkaputra Sirath (15), melaporkan peristiwa
kekerasan mental dan fisik yang dialaminya ke
Kepolisian Sektor Cilandak, Jakarta Selatan. Minggu
(11/11) kemarin Fadhil ditemani ayahnya, Herry S
Sirath, menyerahkan hasil visum ke kepolisian. 

Fadhil menderita keretakan parah pada tulang di tangan
kiri dan luka karena sundutan rokok di lengan kiri. Ia
bercerita, peristiwa pemukulan yang menyebabkannya
terluka itu terjadi pada Agustus 2007. Para siswa
senior kelas XII SMA 34 yang tergabung dalam geng
Gazper memaksanya berduel di suatu tanah kosong di
kompleks Bukit Cinere Indah, Limo, Depok. 

Menurut Fadhil, ketika awal dibentuk, geng tersebut
bernama Rezteam. Fadhil kurang mengetahui ihwal
perubahan nama tersebut. Geng Gazper saat ini
beranggotakan sekira 250 siswa dari kelas X hingga
XII. 

Kepala Sekolah SMA 34 Ahmad Mukri, ketika dihubungi
Kompas, berjanji akan menindak tegas geng Gazper
tersebut. Namun, Ahmad mengaku, sebelum kasus Fadhil,
ia tidak pernah mengetahui praktik bullying dan
pemerasan di sekolahnya. 

Alumnus SMA Negeri 34 Jakarta, Baskara (18), yang
kuliah di Universitas Indonesia, merasa kecewa atas
ulah adik kelasnya yang mempermalukan nama sekolah. 

"Mereka itu goblok kalau kata saya. Sebelum-sebelumnya
nggak pernah terjadi seperti ini. Baru angkatan yang
sekarang aja yang bikin ulah," ujar Baskara kemarin di
depan pintu gerbang SMA 34 Jakarta bersama sekitar 15
alumnus lainnya. (SF/A02) 

____________ _________ _________ _________ _________ __
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail. yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke