Buat rekan2 binusian yg kebetulan kenal dgn mahasiswi binus korban perkosaan, 
mungkin bisa memberitahukan ttg metode TLT dibawah ini utk mengurangi trauma yg 
dideritanya.


Issa Kumalasari, Bangkit dari Trauma Perkosaan
 
 Hari Minggu di bulan Agustus 2006 menjadi hari paling naas dalam hidup
 Issa Kumalasari (34). Sepulang dari sebuah mal di kawasan Jakarta
 Utara, ia menjadi korban kejahatan di dalam taksi. Harta benda yang
 dibawa berikut yang melekat di tubuhnya dipreteli satu persatu.
 
 Tak cukup itu, pelaku pun mencabik-cabik kehormatannya sebagai
 perempuan. Ia menjadi korban perkosaan. Tak bisa dibayangkan seberapa
 hebat trauma yang disandang perempuan cantik ini. Lalu, bagaimana ia
 bisa keluar dari trauma yang menakutkan itu? Berikut obrolan penuh
 canda dengan pengajar TLT dan NLP di Institut Starfield ini di
 kantornya, Graha Cempaka Mas, Jakarta Pusat.
 
 Mobil Mendadak Mogok
 
 Hari Minggu itu, sekitar pukul 15.00, saya bersama Yani, seorang staf
 kantor, menukarkan uang untuk keperluan rencana perjalanan ke London,
 Inggris, di sebuah gerai money changer, di mal Kelapa Gading, Jakarta
 Utara. Tugas ini jarang saya lakukan. Entah mengapa hari itu saya
 ingin menemani Yani. Usai dari money changer, kami berdua pulang
 mengendarai mobil pribadi. Yani memegang kemudi, saya membawa
 berkas-berkas serta uang rupiah dan dolar hasil penukaran.
 
 Baru beberapa ratus meter meninggalkan mal, tiba-tiba mobil yang kami
 kendarai mogok, tepatnya di perempatan bulevar Kelapa Gading.
 Kejadiannya sekitar pukul 16.00. Setelah mobil berhasil ditepikan ke
 pinggir jalan, kami berbagi tugas. Saya menggunakan taksi menjemput
 montir langganan, Yani menunggu mobil. Saat itu Yani sudah menawarkan
 dia yang akan menjemput montir menggunakan jasa ojek. Lagi-lagi, entah
 mengapa saya bersikeras ingin menjemput montir. Setelah sepakat akan
 tugas masing-masing, saya menanti taksi yang lewat. Malang tak dapat
 ditolak, untung tak dapat diraih, detik-detik penderitaan pun dimulai.
 
 Tiba-tiba saja melintas sebuah taksi berwarna biru berinisial P,
 warnanya mirip taksi Blue Bird, menghampiri saya. Tanpa pikir panjang,
 saya langsung naik dan duduk di jok belakang. Setelah di dalam taksi,
 saya minta sopirnya untuk berputar arah. Namun, sopir itu (saya sebut
 A) tak mau berbalik arah, malah menginjak gas kencang-kencang.
 Berbarengan dengan itu, muncul seorang pria (saya sebut B) dari jok
 depan sebelah kiri.
 
 Saat itu pula pintu taksi terkunci secara otomatis tanpa bisa dibuka
 secara manual. B langsung memundurkan joknya ke belakang hingga
 menyentuh kaki saya. Secepat kilat dua bilah pisau menempel di leher
 dan perut saya. Meski masih berusaha tenang, sejujurnya karena takut
 saya sudah terkencing-kencing. Namun, saya terus berusaha menenangkan
 diri, dengan berdialog pada diri sendiri. Kata-katanya adalah kalau
 saya tenang, pasti orang tersebut akan melepaskan saya.
 
 Dari jalan bulevar timur Kelapa Gading, taksi terus melaju ke arah
 Cempaka Putih menuju pintu masuk tol. Di perempatan Cempaka Mas,
 sebenarnya saya mempunyai kesempatan untuk minta bantuan. Kebetulan,
 saat lampu pengatur lalu lintas berwarna merah, melintas mobil
 patroli. Namun, karena kedua bilah pisau amat lekat di tubuh ini, saya
 urung teriak. Saya khawatir, bila itu saya lakukan, kedua pisau akan
 menghujam tubuh, sebelum saya sempat berteriak atau meronta.
 
 A dan B lega atas keputusan saya. Mereka terus memacu mobilnya masuk
 ke jalan tol dalam kota. Saat sudah berada di jalan tol, sekitar pukul
 18.00, B mulai memaksa saya menyerahkan semua uang dan benda-benda
 yang saya punyai. Mulai dari uang dolar sebanyak 10.000 dolar, uang
 rupiah sebanyak 800.000, PDA, sejumlah ATM, cincin, hingga kalung.
 Setelah puas menjarah semua harta benda, B mulai melakukan pelecehan.
 
 Saya panik dan berteriak sejadi-jadinya. Saya berpikir daripada dia
 kurang ajar lebih baik saya mati. Sayang, teriakan saya tak ada
 gunanya karena tak seorang pengendara mobil lain yang mendengarkan
 teriakan saya. Selain kaca mobil gelap, pintunya benar-benar tak bisa
 dibuka. Rasanya mereka sudah mendesain khusus mobilnya untuk melakukan
 kejahatan.
 
 Urung Disekap
 
 Sekitar pukul 18.30, A mengarahkan mobil keluar pintu tol Meruya.
 Sejatinya, lewat dialog antara A dan B, mereka ingin menyekap saya di
 sebuah rumah. Beruntung, saat mobil masuk ke sebuah gang dekat rumah
 penyekapan, ada beberapa satpam yang sedang patroli. Mereka urung
 menyekap saya. Kemudian A melajukan taksinya masuk ke dalam tol lagi.
 
 Di jalan tol mereka berdialog hendak menguras uang saya yang ada di
 ATM. Hebatnya, mereka tahu beberapa anjungan tunai mandiri yang
 memasang CCTV. Sekitar pukul 19.00, A mengarahkan taksinya keluar
 pintu tol bandara Soekarno Hatta. Berikutnya B mulai menguras uang
 saya yang berada di Bank Mandiri, BNI, Lippo, Amex, dan HSBC di ATM
 yang berada di lingkungan bandara. Sementara B sibuk menguras uang
 saya, A terus mengancam saya untuk tidak melarikan diri.
 
 Saat itu, saya sedikit nyaman dengan A karena cara dia mengancam agak
 lebih sopan dibandingkan B. A tak sedikitpun menyentuh tubuh saya. A
 juga menjamin bahwa saya akan dilepaskan asal menuruti keinginannya.
 Saya sempat menggedor-gedor pintu mobil, apa daya tak seorang pun
 datang menolong, sepertinya hari itu dunia menjadi bisu. Setelah B
 puas menguras sejumlah uang yang berada di berbagai ATM, A
 mengemudikan mobilnya masuk lagi ke dalam tol. Saat inilah saya
 mengalami kekerasan fisik dan psikis. Rupanya B marah karena tak bisa
 menggunakan ATM sebuah bank untuk mengambil uang saya. Karena
 kesalahan instruksi, B gagal mengambil uang. Ia mengira saya yang
 menyembunyikan kode akses ATM tersebut.
 
 Tak puas atas jawaban saya, B mulai menjambak rambut dan membenturkan
 kepala saya ke kaca mobil. Dan B mulai menyetubuhi saya. Saat itulah
 dunia terasa gelap. Lengkap sudah penderitaan saya secara fisik maupun
 psikis. Untuk beberapa saat saya terdiam membisu. Namun, saya kembali
 sadar bahwa saya orang pilihan Tuhan untuk bisa menerima cobaan ini.
 Setelah kejadian perkosaan itu, saya terus menyebut nama ibu, ayah,
 dan Dimas, seraya berkata meminta maaf atas dosa yang pernah saya perbuat.
 
 Setelah A dan B berdiskusi, mereka memacu mobil keluar pintu tol
 Meruya. Tujuannya untuk menguras uang saya yang masih tersisa di Bank
 Lippo dan BRI. Setelah puas mengambil uang, lagi-lagi A melajukan
 taksinya masuk ke dalam tol. Di dalam tol, sambil menjambak rambut, B
 bertanya status jabatan saya, tempat tinggal, teman, dan kepemilikan
 mobil saya yang mogok. Karena saya menjawab tidak sesuai keinginan,
 tangan B berulang kali melayang ke pipi kanan kiri. Tak terhitung
 benturan kepala saya di kaca mobil. Dalam penderitaan itu, saya terus
 melantunkan doa.
 
 Anehnya, setiap selesai berdoa, ada saja kejadian yang mengagetkan
 mereka, seperti rem mendadak, dan kemudian B terjatuh atau terdengar
 klakson dari kendaraan lain, hingga B kaget. Duh, Tuhan! Tak puas
 memperlakukan saya seperti binatang, lagi-lagi B memperkosa saya.
 Kejadian ini membuat saya pingsan beberapa saat. Sesaat Issa terdiam.
 Tangannya terasa dingin dan berkeringat. GHS pun ikut diam mencoba
 menyelami perasaan Issa. Setelah beberapa saat menenangkan diri, ia
 mulai melanjutkan ceritanya.
 
 Terjadi Mukjizat
 
 Saat pingsan, rupanya saya masih mendengar samar-samar kalau B
 mempunyai niat membuang saya ke jalan di dekat RS. St. Carolus.
 Sejurus kemudian B berniat membunuh saya. Sebilah pisau dihujamkan ke
 perut kanan a. Apa yang terjadi? Puji Tuhan, mukjizat pun terjadi.
 Ketika pisau menusuk di perut, saya tak mengalami perdarahan sedikit
 pun. B merasa kesal. Ia mengira saya mempunyai ilmu kebal tubuh. Saya
 pun melakukan perlawanan saat B mulai menjambak dan akan membenturkan
 kepala. Saya seolah mempunyai kekuatan ganda. Saya berontak, memukul B
 sekuat tenaga.
 
 "Tendangan Naruto" mampir ke pipi B. Untuk sesaat suasana menjadi
 sunyi karena kami saling pukul. Selanjutnya, di tengah jalan, B
 memaksa A untuk bergantian mengemudikan mobil. Dalam dialog mereka, B
 meminta A untuk memerkosa saya. Namun, A bersikeras menolak. Nah, di
 situlah mereka terus berbeda pendapat. Meski demikian, A coba
 melakukan pelecehan di tubuh saya. Entah mengapa A selalu tak mampu
 melakukannya. Feeling saya benar, penjahat satu ini masih mempunyai
 moral yang baik. B kesal pada A karena tak mau melakukan kejahatan
 seperti dirinya.
 
 Lalu, B memacu kendaraan keluar pintu tol Jatinegara. Kira-kira sudah
 pukul 22.30. Sesampai di bawah kolong tol Jatinegara, A sepakat dengan
 B untuk melakukan pemerkosaan di semak-semak. Saat dalam perjalanan ke
 semak-semak, saya mengancam A, kalau dia memperkosa saya, saya pilih
 membunuh dia daripada diperkosa lagi. Puji Tuhan, bukannya memperkosa,
 A malah memberi uang Rp 50.000 dan meminta saya untuk lari menjauhi
 taksi. Pesannya lagi, jangan sampai ketahuan B. Katanya, kalau sampai
 ketahuan, A juga akan mati.
 
 Saat itulah, saya berlari tanpa menoleh lagi ke belakang. Kira-kira
 pukul 23.30, saya sampai di apartemen saya di Kelapa Gading. Saya lari
 seperti terbang. Sepertinya ada kekuatan yang membawa saya lebih cepat
 sampai di apartemen. Saat itu saya tak sepenuhnya sadar mengapa bisa
 sampai kembali di apartemen. Terakhir, yang saya ingat adalah diberi
 uang Rp 50.0000 dan tiba-tiba sudah tiba di apartemen. Sesampai di
 pintu gerbang apartemen, saya merasa hancur lebur dan berteriak-teriak
 seperti orang gila.
 
 Satpam yang biasa menyapa, saya ancam. Saya bilang, "Kalau bapak
 mendekat saya bunuh!" Sontak satpam bingung melihat tingkah saya.
 Sampai di kamar apartemen, sudah ada Yani. Dalam kegalauan hati, saya
 ceritakan peristiwa yang baru terjadi. Saat itu yang ada di benak saya
 adalah ingin kembali ke Jatinegara membawa pisau dan memperkosa
 penjahat itu. Yani malah stres dan salah tingkah sendiri. Ia berlari
 ke sana ke mari.
 
 Sejurus kemudian, saya duduk di meja lalu menelepon bapak, ibu, dan
 anak yang berada di Solo. Lewat telepon saya terus-menerus minta maaf.
 Adik yang tinggal di Jakarta, datang menghibur. Saya menelepon sahabat
 yang tinggal tak jauh dari apartemen. Saya minta tolong dibawa ke
 rumah sakit. Sambil menunggu teman, saya minta tolong Yani untuk
 membuang baju dan segala yang masih melekat di tubuh saya. Saya masuk
 ke kamar, tidak mau diganggu.
 
 Mempraktikkan Time Line
 
 Selagi menunggu teman, saya ingat kata-kata Dr. Tad James di kelas
 pelajaran TLT. Ia bilang, "Its Ok kalau kamu mendapatkan masalah
 besar. Masalahnya, seberapa lama kamu bisa tinggal dalam masalah itu."
 Setelah ingat itu, saya melakukan TLT di kamar. Saya mengambang naik
 ke atas melewati anak tangga, kemudian kembali turun, begitu seterusnya.
 
 Kunci dari TLT adalah kita percaya kecelakaan adalah sebuah keputusan
 kita sendiri secara tidak kita sadari. Pada akhirnya saya mengetahui
 kapan saya memutuskan untuk diperkosa. Dalam teori TLT semua itu
 adalah sebuah keputusan. Tiga tahun lalu saya marah terhadap suami
 saat proses perceraian. Saat itu saya marah pada laki-laki. Saya mau
 memukul setiap laki-laki. Pokoknya saya marah.
 
 Nah, konsep ini diterima pikiran bawah sadar (PBS) saya. Bentuknya
 dalam pemerkosaan. Intinya saya bisa memukul. Akhirnya saya memang
 memutuskan untuk melakukan itu. Memukul laki-laki, yang secara
 kebetulan terjadi di dalam taksi. Akhirnya teman saya datang. Ia
 membawa saya ke RS Mitra Keluarga Kelapa Gading dan diterima dokter
 laki-laki.
 
 Karuan saya teriak minta diganti dokter perempuan. Hasil visum membuat
 saya kaget. Kata dokter hasilnya bersih, tidak ada tanda-tanda
 perkosaan. Saya marah, dan mencaci maki dokternya. Saya merasa
 benar-benar mengalami hal pahit, tetapi dokter menyatakan tidak ada
 tanda-tanda pemerkosaan. Kemudian dia bilang ada tanda sedikit, tetapi
 belum ada sesuatu yang masuk ke dalam liang vagina. Saya terus
 memaki-maki dokter.
 
 Akhirnya saya sadar, setelah menjalani TLT, segala macam sakit bisa
 hilang. Dirasa telah tenang, sekitar pukul 02.00 saya dibawa pulang
 teman ke apartemen. Sekitar pukul 03.00, adik mengajak melaporkan
 kejadian tadi ke polisi. Saya menolak karena sudah berusaha menambal
 emosi negatif dengan TLT. Keesokan harinya, pukul 08.00, saya bangun
 dari tidur. Saya sempat stres, lalu saya minta jadwal acara hari Senin
 pada Yani.
 
 Yani menutupi jadwal saya hari itu. Namun, karena didesak, ia mau juga
 mengatakan saya ada jadwal presentasi di PT Bercha. Saya mengajak
 teman yang semalam mengantar ke rumah sakit untuk presentasi. Bukan
 main kagetnya dia karena saya begitu cepat melupakan kejadian semalam.
 
 Masuk ke kantor PT Bercha, saya sempat kaget karena yang menyambut
 saya laki-laki. Sekejap saya menahan emosi, napas mulai
 tersengal-sengal. Beruntung teman saya menenangkan perasaan yang
 sedang bergejolak ini. Sejurus kemudian, saya minta izin ke toilet. Di
 dalam toilet saya melakukan TLT selama lima menit. Napas berangsur
 normal, sehingga saya bisa presentasi. Herannya, saya melakukan dengan
 santai seperti tidak pernah mengalami suatu peristiwa berat. Setelah
 selesai, saya kembali ke apartemen. Di sana saya histeris lagi.
 Untungnya setiap kali histeris saya kembali sadar untuk melakukan TLT.
 
 Masa-Masa Pemulihan
 
 Bila malam tiba, lingkungan apartemen sepi. Lagi-lagi saya mulai
 ketakutan. Saya teringat, penjahat itu pasti mengetahui alamat saya.
 Mereka membawa kartu nama dan KTP saya. Untungnya, setiap kali
 ketakutan, saya segera melakukan TLT. Gangguan itu terus berlangsung
 selama tiga hari. Kala melihat mobil, saya membayangkan penjahat itu
 ada di belakang joknya. Kalau lewat bulevar Kelapa Gading, saya pasti
 histeris.
 
 Hari ketiga, saya mulai menelepon sahabat yang juga seorang terapis.
 Tentu saja saya minta bantuannya. Kebetulan saat itu saya sedang
 menjalin hubungan dengan seseorang di Amerika Serikat. Lalu, saya
 ceritakan kejadian beberapa hari lalu itu. Mendengar itu, pacar malah
 minta diterapi juga.
 
 November 2006, saya berangkat ke Australia untuk memperbarui TLT. Saat
 itu memori saya tentang kejadian itu sudah mulai hilang, padahal baru
 berselang tiga bulan. Sebelum tiga bulan itu, saya sangat paranoid
 terhadap taksi. Kalau ada teman naik taksi, saya selalu mencatat nomor
 taksinya lalu mengirim nomor itu lewat SMS ke teman-teman. Teman-teman
 tentu bingung. Saat pelajaran di Australia, saya berkesempatan
 melakukan sharing. Mendengar cerita saya, teman-teman di kelas itu pun
 menangis.
 
 Selanjutnya saya minta dihilangkan sindrom taksi. Dr. Tad James
 bertanya, "Apa yang terjadi bila saya bertemu kedua penjahat itu?"
 Sambil bercanda, saya katakan akan memperkosa balik mereka.
 Selanjutnya saya bilang bahwa kejadian itu adalah pengalaman yang
 berharga bagi saya. Saya adalah orang pilihan Tuhan untuk boleh
 mengalami semua peristiwa menyakitkan itu.
 
 Tuhan yakin saya mampu mengatasi persoalan itu. Maukah kamu menjadi
 pilihan Tuhan? Kunci keberhasilan dalam mengatasi setiap persoalan
 adalah maukah kita memaafkan diri sendiri. Bila kita mampu memaafkan
 diri sendiri, otomatis mampu memaafkan orang lain. Saya berpesan,
 berhati-hatilah terhadap keinginan. Dan hati-hatilah menggunakan jasa
 taksi.
 
 Ada baiknya menggunakan telepon untuk memesan jasa taksi yang dapat
 dipercaya daripada menunggu di pinggir jalan.
 
 Menemukan Time Line
 
 Time line adalah sebuah katalog untuk melakukan pengkodean kembali
 pikiran bawah sadar (PBS), yang biasanya terjadi secara tidak sadar
 pula. Time Line Therapy (TLT) dikembangkan Dr. Tad James pada tahun
 1985 di Amerika Serikat, merupakan integrasi teknik Neuro Linguistic
 Programming (NLP) dan Ericsonian Hypnosis. "TLT adalah teknik yang
 dapat menghilangkan emosi negatif, keputusan yang membatasi, dan
 penetapan tujuan yang lebih baik atas sesuatu. Teknik ini juga
 mengizinkan kita mendapatkan apa yang kita inginkan," katanya.
 
 Teknik ini diyakini sangat ampuh, cepat, mudah, dan menyenangkan untuk
 menghilangkan emosi negatif yang tidak diinginkan, seperti reaksi
 marah berlebihan, sikap temperamental, apatis, trauma, fobia. TLT juga
 bisa digunakan untuk mempercepat proses penyembuhan. Issa yang juga
 pengajar TLT dan NLP, menyebutkan diri kita adalah sebuah koleksi
 memori yang terekam.
 
 Semua itu selanjutnya memengaruhi segala tindak tanduk kita. "Coba
 bayangkan sejenak, siapa yang menjalankan tugas mengedipkan mata,
 memacu denyut jantung, memproses makanan di dalam perut? Ada banyak
 hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Itu semua
 pikiran bawah sadar kita yang selalu menggerakkannya," ujarnya.
 
 "Sekarang coba pikirkan, kita bangun di pagi hari yang segar, sinar
 matahari yang hangat menyelinap masuk ke kamar tidur. Coba ingat
 siapakah nama kita? Yang jelas, pada saat bangun, kita tahu persis
 bahwa kita adalah kita. Bisa dibayangkan kalau PBS kita tidak
 mengelola memori. Mungkin kita akan lupa nama kita masing-masing
 setiap bangun pagi. Apa jadinya?" katanya.
 
 Bagaimana kita mendatangkan time line? Berikut metode Dr. Tad James
 yang diajarkan kepada Issa:
 
 1. Ingatlah sesuatu hal yang telah terjadi bulan lalu, setahun,
 atau 2-10 tahun lalu. Contohnya, kapan kita membayar tagihan telepon
 bulan lalu?
    2. Pada saat kita mengingatnya, dapatkah kita menyadari bahwa
 memori itu datang atau berasal dari dan menuju ke arah mana? Kita
 mungkin akan merasa itu masa lalu yang datang dari sebelah kiri dan
 masa depan menuju ke kanan. "Saya percaya semua masa lalu saya datang
 dan berasal dari belakang kepala saya dan masa depan menuju ke depan
 kepala saya." Namun, hal ini sangat individual dan beragam.
    3. Ulangi langkah 1 dan 2, untuk 1 bulan ke depan, 5 tahun ke
 depan, atau 10 tahun ke depan.
    4. Sekarang gambarkan, di manakah masa lalu dan masa depan? Bila
 dihubungkan, keduanya dapat membentuk sebuah garis yang tidak selalu
 garis lurus karena bisa kurva, spiral, dll) Bila kita belum
 menemukannya, ulangi langkah 1-4. Yang penting, bangunlah hubungan
 dengan PBS. Tanyakan PBS kita masing-masing.
 
 Author : Hendra Priantono
 
 Source : Gaya Hidup Sehat
       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke