well...cuma ada satu cara...kurangin jumlah penduduk
   
  Tiap keluarga cuma diperbolehkan punya satu anak, setelah melahirkan anak 
pertama si Ibu akan diberikan tanda/blacklist supaya gak boleh punya anak 
kedua...kalo nekat yah punya anak 2 yah didenda miliaran rupiah atau 
penjara.Kalo masih memikirkan anak pemberian Tuhan yah situasi dunia gak 
bakalan selesai....global warming diakibatkan oleh jumlah penduduk dunia , 
lowongan pekerjaan kurang, binatang banyak yg terancam punah dan food suply yg 
berkurang serta pemakaian minyak semakin meningkat seiring jmlh penduduk yg  
bertambah....Bayangin kalo penduduk dikurangin setengah yah gak bakalan bnyk 
pengangguran dan hidup masih bisa makmur.
   
  Keluarga yg gak punya anak akan diberikan reward atau tunjangan sosial yg 
besar....
  Mgkn banyak yg gak setuju tapi ini salah satu solusi....
  

Masabi Masabi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Wah kok laporan kompas sering bertolak belakang sama statistik jumlah 
pengangguran dan orang miskin yang tiap tahun selalu berkurang.. :D

menurut binusian yang mana yang lebih bener yach ?

statistik yagn diumumkan ama menteri tiap tahun.. ato laporan kompas ???

kalau orang kategory nganggur dan miskin sekarnag ada sekitar 36 jt.. menurut 
statistik.. dan ditambah 15 juta yang baru.. berarti dari 200 jt penduduk ada 
lebih dari 55 jt orang miskin.. (25%) gimana peran serta binusian dalam 
mengentaskan kemiskinan?? apa yang bisa dilakukan.. 

misalnya dengan beramai ramai kerja ke SG, dan amrik buat bantu devisa dalam 
negeri..

any idea??

http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/08/0020578/bisa.ada.1568.juta.orang.miskin.baru

Bisa Ada 15,68 Juta Orang Miskin Baru
Pemerintah Berusaha Keras Kurangi Tekanan APBN
Kamis, 8 Mei 2008 | 00:20 WIB 
Jakarta, Kompas - Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi 
memperkirakan, kenaikan harga BBM sebesar 30 persen berpotensi mengakibatkan 
orang miskin bertambah sebesar 8,55 persen atau sekitar 15,68 juta jiwa.

Data Badan Pusat Statistik mencatat, jumlah orang miskin se-Indonesia adalah 
16,85 persen dari total populasi atau sekitar 36,8 juta jiwa.

Berdasarkan simulasi yang dibuat, kenaikan harga BBM 30 persen juga 
mengakibatkan tambahan inflasi sebesar 26,94 persen. Selain memperhitungkan 
harga BBM, simulasi itu juga memasukkan komponen produk domestik bruto, 
penerimaan dan pengeluaran pemerintah, defisit anggaran, investasi, dan ekspor.

”Memang angka ini terlihat sangat besar, tetapi kalau dilihat dari realitas 
kenaikan harga barang, memang lebih tinggi,” ujar Direktur Eksekutif Lembaga 
Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi Pri Agung Rakhmanto di Jakarta, Rabu 
(7/5).

Menurut Pri Agung, untuk kenaikan harga BBM sebesar 30 persen, kompensasi yang 
harus diterima masyarakat minimal Rp 168.000. Sementara itu, pemerintah 
berencana memberikan bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp 100.000 per bulan 
kepada 19,1 keluarga miskin begitu harga BBM dinaikkan. Selain itu, pemerintah 
juga memberikan bantuan komoditas pangan berupa minyak goreng dan gula. Bantuan 
ini akan berlangsung setidaknya selama satu tahun.

Pri Agung menambahkan, kalau rata-rata harga minyak naik sampai 105 dollar AS 
per barrel, pemerintah masih bisa menekan defisit anggaran dengan mengurangi 
marjin keuntungan dan biaya pendistribusian (alpha) Pertamina maupun mengurangi 
belanja pembangunan. ”Menurunkan alpha dari 9,5 persen menjadi 5 persen, 
subsidi energi bisa dihemat sekitar Rp 9,5 triliun,” ujar Pri Agung.

Inflasi langsung turun

Pengamat ekonomi Chatib Basri memperkirakan, begitu harga BBM naik 30 persen, 
inflasi bisa naik sampai 3 persen pada bulan tersebut. ”Tapi, inflasi 
langsung turun pada bulan berikutnya karena konsumsi BBM biasanya langsung 
turun. Kalau konsumsi turun, impor BBM juga berkurang. Inflasi juga bisa 
ditekan lagi bila pemerintah melakukan program stabilisasi harga pangan,” 
kata Chatib.

Jika dibandingkan dengan kenaikan harga BBM pada Maret 2005 yang juga 30 
persen, dampak terhadap inflasi akibat kenaikan harga BBM tahun ini akan lebih 
tinggi karena porsi premium dalam kenaikan lebih besar.

Berbagai penghematan

Sebelumnya, pemerintah sudah menegaskan bahwa selain menaikkan harga BBM, 
berbagai upaya untuk mengurangi tekanan terhadap APBN juga akan dilanjutkan. 
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, penyaluran dana bagi hasil 
migas akan dibatasi agar sesuai dengan pagu, pembatasan volume BBM dengan kartu 
kendali dilanjutkan, serta tagihan listrik di departemen dan instansi akan 
dijatah. Penghematan dari tagihan listrik ditargetkan mencapai 30 persen.

Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi J Purwono mengatakan, inpres penghematan 
energi yang akan segera dikeluarkan memuat sanksi yang tegas tidak hanya kepada 
instansi pemerintah, tetapi juga pelanggan swasta. ”Pelanggan besar di atas 
6.600 VA yang boros akan dikenai tarif nonsubsidi,” kata Purwono.

Dipertanyakan

Di Bandung, pengamat ekonomi dari Universitas Padjadjaran, Ina Primiana, 
mempertanyakan efektivitas BLT. Program BLT hanya sebagai penanggulangan jangka 
pendek yang tidak menyelesaikan akar permasalahan.

”BLT itu hanya mampu merambah masyarakat miskin selama satu tahun ke depan. 
Padahal, kenaikan harga BBM hingga 30 persen ini menyebabkan daya beli 
masyarakat semakin rendah sehingga uang BLT itu tidak ada artinya,” ujar Ina.

Menurut Ina, kenaikan harga BBM tidak hanya memukul masyarakat kecil dan 
menengah, tetapi juga sektor dunia usaha, sedangkan pemberian BLT hanya 
menanggulangi sesaat kesulitan masyarakat miskin saja.

”Pemerintah seharusnya menyadari bahwa kenaikan ini memukul dunia usaha yang 
hitungannya baru berdiri dari pukulan kenaikan harga BBM pada 2005,” kata 
Ina. Maka, seharusnya pemerintah dapat lebih arif menanggulangi masalah 
kenaikan harga BBM dunia dengan membentuk suatu program ekonomi jangka panjang 
atau menengah.

Ini dapat dilakukan dengan mengevaluasi kembali kebijakan dan proyek pemerintah 
yang kurang efisien. Dengan demikian, penghematan tidak dilakukan melalui 
pencabutan subsidi BBM. ”Dana hasil efisiensi proyek dan kebijakan dapat 
dialihkan untuk menjaga kestabilan harga BBM sehingga sektor usaha yang baru 
berdiri dapat tumbuh,” kata Ina.

Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy mengemukakan, kenaikan harga BBM hanya 
merupakan jalan pintas pemerintah untuk melepaskan diri dari beban keuangan 
negara. Namun, kebijakan tersebut menuai dampak buruk yang melemahkan daya beli 
masyarakat, meningkatkan kemiskinan, dan memukul sektor usaha.

Menurut Ichsanuddin, ada sejumlah kebijakan alternatif yang dapat ditempuh 
untuk menyelamatkan ekonomi, antara lain mengurangi alokasi pembayaran pokok 
dan bunga utang melalui penjadwalan kembali pembayaran utang luar negeri, 
seperti yang dilakukan Argentina dan Brasil, serta restrukturisasi utang dalam 
negeri dan pemangkasan biaya pengadaan BBM. (yop/nit/A15/MDN/ LAS/ACI/DOT/lkt)

__________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. 
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ


                           

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke