Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal



--- In [email protected], Abdul Rohim <peduli_kla...@...> wrote:

Mengapresiasi PTS Berkelas Dunia 

Publikasi Centro de Informacin Documentacion
(CINDOC) yang dijadikan referensi kualitas lembaga pendidikan tinggi
dunia, The World Universities 'Ranking on the Web, baru saja
dikomunikasikan kepada masyarakat luas. Bagi kelompok masyarakat
pendidikan, publikasi itu memang telah ditunggu-tunggu.

Dalam
publikasi tersebut, 5 ribu perguruan tinggi berkelas dunia sengaja
disusun berurutan berdasarkan pada aksesabilitas dan visibilitas
pendidikan melalui internet. Semakin tinggi aksesabilitas dan
visibilitas pendidikan sebuah perguruan tinggi semakin tinggi pula
peringkat yang diperoleh. Sebaliknya, semakin rendah aksesabilitas dan
visibilitas pendidikan sebuah perguruan tinggi semakin rendah pula
peringkat yang diperoleh.

Sebagaimana diduga, peringkat papan
atas didominasi perguruan tinggi yang berkiprah di Amerika Serikat
(AS). Sebanyak 104 atau 52 persen dari 200 perguruan tinggi papan atas
adalah perguruan tinggi yang
berkiprah di AS.

PTS Indonesia

Apakah yang menarik dari
publikasi CINDOC tersebut? Salah satu yang menarik perhatian adalah
banyaknya perguruan tinggi swasta (PTS) Indonesia yang bertengger di
dalamnya.

Kalau dicermati, di antara 5 ribu perguruan tinggi
berkelas dunia, 33 adalah perguruan tinggi Indonesia, seperti UGM
Jogjakarta di ranking ke-623, ITB Bandung ke-676, dst, s/d Universitas
Jember ke-4.780 dan Unnes Semarang ke-4.800. 

Keberhasilan kita
memasukkan 33 lembaga dalam daftar 5 ribu perguruan tinggi berkelas
dunia pantas diapresiasi. Mengapa? Sebab, angka 33 adalah di atas
rata-rata. Kalau dunia ini terdiri atas sekitar 175 negara, maka setiap
negara ''kebagian" 29 perguruan tinggi; dan Indonesia berhasil
mendongkrak angka tersebut menjadi 33. 

Jika dicermati,
setidaknya, 11 di antara 33 perguruan tinggi Indonesia tersebut ialah
PTS, yaitu Universitas Gunadarma ke-1604, Petra Surabaya ke-2013, Bina
Nusantara
ke-3026, Budi Luhur ke-3338, Sanata Darma ke-3467, Duta Wacana ke-3669,
UII ke-3821, Maranatha ke-3983, Parahyangan ke-4394, Mercubuana
ke-4430, dan Atma Jaya Jakarta ke-4623.


Keberhasilan PTS masuk dalam daftar 5 ribu perguruan tinggi
berkelas dunia tersebut tidak hanya membuktikan bahwa kualitas
pendidikan PTS tidak selalu kalah dibandingkan PTN, tetapi sekaligus
membuktikan kerja keras masyarakat penyelenggara pendidikan tinggi
mampu mengantarkan lembaganya sampai ''puncak takhta" yang kualitasnya
diperhitungkan oleh masyarakat dunia..

Universitas Petra
Surabaya, misalnya, meskipun lokasi kiprahnya ada di Surabaya, tetapi
menjadi dikenal dan diakui masyarakat AS, Eropa, Jepang, dan
negara-negara lain pada umumnya. Keadaan ini berlaku sama bagi
Universitas Gunadarma Jakarta, Universitas Parahyangan Bandung, serta
PTS lain yang terpampang dalam daftar 5 tibu perguruan tinggi dunia.

Perhatian Pemerintah

Diakui
atau tidak, masuknya beberapa PTS ke dalam daftar perguruan tinggi
terbaik dunia itu sedikit banyak telah membawa nama baik Indonesia di
mata masyarakat dunia. Dengan kenyataan seperti ini,
wajar jika pemerintah memberikan penghargaan terhadap PTS tersebut;
apalagi menteri pendidikan telah berharap agar PTS mampu meningkatkan
mutu sehingga diakui masyarakat dunia.

Pak
Bambang Sudibyo selaku menteri pendidikan pernah menyatakan harapannya
agar PTS Indonesia masuk dalam jajaran perguruan tinggi kelas dunia.
Lebih lanjut beliau menyatakan, pemerintah Indonesia mendorong sebanyak
mungkin adanya perguruan tinggi Indonesia, baik PTN maupun PTS, menjadi
berkelas dunia. 

Pernyataan tersebut pada mulanya sempat
memotivasi para pengelola PTS untuk mengantarkan lembaganya menjadi
berkelas dunia; tetapi motivasi tersebut sempat menjadi kendur manakala
dalam realitasnya hanya PTN berkelas dunia yang mendapat penghargaan.

Tahun
lalu, Mendiknas memberikan penghargaan berupa Anugerah Anindyaguna
kepada tujuh perguruan tinggi yang berprestasi, yaitu UGM Jogjakarta,
ITB Bandung, UI Jakarta, Undip Semarang, Unair Surabaya, IPB Bogor, dan
UT. Mereka itu berprestasi karena berhasil menembus daftar universitas
kelas dunia, khusus UT dianggap berprestasi atas keberhasilannya meraih
pengakuan internasional dalam bentuk sertifikat akreditasi dari
International Council for Open and Distance Education (ICDE).


Pemberian anugerah tersebut sangat bagus karena memberi
motivasi bagi pengelola perguruan tinggi untuk lebih meningkatkan
prestasinya. Permasalahannya menjadi lain ketika seluruh perguruan
tinggi yang diberi penghargaan adalah PTN dan tidak satu pun ada
PTS-nya.

Agar terjadi prinsip keadilan, maka pemberian
penghargaan atau pun anugerah seperti itu perlu ''diratakan" ke PTS
yang berprestasi; apalagi secara faktual banyak PTS yang peringkatnya
di atas PTN. Ilustrasi riilnya, peringkat Universitas Petra Surabaya di
atas IPB Bogor dan Unibraw Malang, peringkat Universitas Bina Nusantara
Jakarta di atas Undip Semarang dan Unhas Makassar, dan sebagainya.

Bagi
para pengelola PTS, pencapaian peringkat perguruan tinggi berkelas
dunia memang tidak dimaksudkan untuk mendapatkan penghargaan dari
pemerintah; tetapi lebih dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas agar
dapat memberikan pelayanan pendidikan yang lebih akuntabel kepada
masyarakat
luas. Meskipun demikian, seandainya pemerintah mau memberikan
penghargaan, itu akan lebih meningkatkan motivasi usaha peningkatan
kualitas tersebut.

*. Prof Dr Ki Supriyoko,
mantan rektor Universitas Tamansiswa Jogjakarta, wakil presiden
Pan-Pacific Association of Private Education (PAPE) di Tokyo, Jepang
 

Rabu, 18 Februari 2009 ] 
Mengapresiasi PTS Berkelas Dunia 

Publikasi Centro de Informacin Documentacion
(CINDOC) yang dijadikan referensi kualitas lembaga pendidikan tinggi
dunia, The World Universities 'Ranking on the Web, baru saja
dikomunikasikan kepada masyarakat luas. Bagi kelompok masyarakat
pendidikan, publikasi itu memang telah ditunggu-tunggu.

Dalam
publikasi tersebut, 5 ribu perguruan tinggi berkelas dunia sengaja
disusun berurutan berdasarkan pada aksesabilitas dan visibilitas
pendidikan melalui internet. Semakin tinggi aksesabilitas dan
visibilitas pendidikan sebuah perguruan tinggi semakin tinggi pula
peringkat yang diperoleh. Sebaliknya, semakin rendah aksesabilitas dan
visibilitas pendidikan sebuah perguruan tinggi semakin rendah pula
peringkat yang diperoleh.


Sebagaimana diduga, peringkat papan atas didominasi perguruan
tinggi yang berkiprah di Amerika Serikat (AS). Sebanyak 104 atau 52
persen dari 200 perguruan tinggi papan atas adalah perguruan tinggi
yang berkiprah di AS.

PTS Indonesia

Apakah yang menarik
dari publikasi CINDOC tersebut? Salah satu yang menarik perhatian
adalah banyaknya perguruan tinggi swasta (PTS) Indonesia yang
bertengger di dalamnya.

Kalau dicermati, di antara 5 ribu
perguruan tinggi berkelas dunia, 33 adalah perguruan tinggi Indonesia,
seperti UGM Jogjakarta di ranking ke-623, ITB Bandung ke-676, dst, s/d
Universitas Jember ke-4.780 dan Unnes Semarang ke-4.800. 

Keberhasilan
kita memasukkan 33 lembaga dalam daftar 5 ribu perguruan tinggi
berkelas dunia pantas diapresiasi. Mengapa? Sebab, angka 33 adalah di
atas rata-rata. Kalau dunia ini terdiri atas sekitar 175 negara, maka
setiap negara ''kebagian" 29 perguruan tinggi; dan Indonesia berhasil
mendongkrak angka tersebut menjadi 33. 

Jika dicermati,
setidaknya, 11 di antara 33 perguruan tinggi Indonesia tersebut ialah
PTS, yaitu Universitas Gunadarma ke-1604, Petra Surabaya ke-2013, Bina
Nusantara ke-3026, Budi Luhur ke-3338, Sanata Darma ke-3467, Duta
Wacana ke-3669, UII ke-3821, Maranatha ke-3983, Parahyangan ke-4394,
Mercubuana ke-4430, dan Atma Jaya Jakarta ke-4623.

Keberhasilan
PTS masuk dalam daftar 5 ribu perguruan tinggi berkelas dunia tersebut
tidak hanya membuktikan bahwa kualitas pendidikan PTS tidak selalu
kalah dibandingkan PTN, tetapi sekaligus membuktikan kerja keras
masyarakat penyelenggara pendidikan tinggi mampu mengantarkan
lembaganya sampai ''puncak takhta" yang kualitasnya diperhitungkan oleh
masyarakat dunia.

Universitas Petra Surabaya, misalnya, meskipun
lokasi kiprahnya ada di Surabaya, tetapi menjadi dikenal dan diakui
masyarakat AS, Eropa, Jepang, dan negara-negara lain pada umumnya.
Keadaan ini
berlaku sama bagi Universitas Gunadarma Jakarta, Universitas
Parahyangan Bandung, serta PTS lain yang terpampang dalam daftar 5 tibu
perguruan tinggi dunia.


Perhatian Pemerintah

Diakui atau tidak, masuknya
beberapa PTS ke dalam daftar perguruan tinggi terbaik dunia itu sedikit
banyak telah membawa nama baik Indonesia di mata masyarakat dunia.
Dengan kenyataan seperti ini, wajar jika pemerintah memberikan
penghargaan terhadap PTS tersebut; apalagi menteri pendidikan telah
berharap agar PTS mampu meningkatkan mutu sehingga diakui masyarakat
dunia.

Pak Bambang Sudibyo selaku menteri pendidikan pernah
menyatakan harapannya agar PTS Indonesia masuk dalam jajaran perguruan
tinggi kelas dunia. Lebih lanjut beliau menyatakan, pemerintah
Indonesia mendorong sebanyak mungkin adanya perguruan tinggi Indonesia,
baik PTN maupun PTS, menjadi berkelas dunia. 

Pernyataan
tersebut pada mulanya sempat memotivasi para pengelola PTS untuk
mengantarkan lembaganya menjadi berkelas dunia; tetapi motivasi
tersebut sempat menjadi kendur manakala dalam realitasnya hanya PTN
berkelas dunia yang mendapat
penghargaan.

Tahun lalu, Mendiknas memberikan penghargaan
berupa Anugerah Anindyaguna kepada tujuh perguruan tinggi yang
berprestasi, yaitu UGM Jogjakarta, ITB Bandung, UI Jakarta, Undip
Semarang, Unair Surabaya, IPB Bogor, dan UT. Mereka itu berprestasi
karena berhasil menembus daftar universitas kelas dunia, khusus UT
dianggap berprestasi atas keberhasilannya meraih pengakuan
internasional dalam bentuk sertifikat akreditasi dari International
Council for Open and Distance Education (ICDE). 

Pemberian
anugerah tersebut sangat bagus karena memberi motivasi bagi pengelola
perguruan tinggi untuk lebih meningkatkan prestasinya. Permasalahannya
menjadi lain ketika seluruh perguruan tinggi yang diberi penghargaan
adalah PTN dan tidak satu pun ada PTS-nya.

Agar terjadi prinsip
keadilan, maka pemberian penghargaan atau pun anugerah seperti itu
perlu ''diratakan" ke PTS yang berprestasi; apalagi secara faktual
banyak PTS yang peringkatnya
di atas PTN. Ilustrasi riilnya, peringkat Universitas Petra Surabaya di
atas IPB Bogor dan Unibraw Malang, peringkat Universitas Bina Nusantara
Jakarta di atas Undip Semarang dan Unhas Makassar, dan sebagainya.


Bagi para pengelola PTS, pencapaian peringkat perguruan tinggi
berkelas dunia memang tidak dimaksudkan untuk mendapatkan penghargaan
dari pemerintah; tetapi lebih dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas
agar dapat memberikan pelayanan pendidikan yang lebih akuntabel kepada
masyarakat luas. Meskipun demikian, seandainya pemerintah mau
memberikan penghargaan, itu akan lebih meningkatkan motivasi usaha
peningkatan kualitas tersebut.

*. Prof Dr Ki Supriyoko,
mantan rektor Universitas Tamansiswa Jogjakarta, wakil presiden
Pan-Pacific Association of Private Education (PAPE) di Tokyo, Jepang
 

Rabu, 18 Februari 2009 ] 
Mengapresiasi PTS Berkelas Dunia 

Publikasi Centro de Informacin Documentacion
(CINDOC) yang dijadikan referensi kualitas lembaga pendidikan tinggi
dunia, The World Universities 'Ranking on the Web, baru saja
dikomunikasikan kepada masyarakat luas. Bagi kelompok masyarakat
pendidikan, publikasi itu memang telah ditunggu-tunggu.

Dalam
publikasi tersebut, 5 ribu perguruan tinggi berkelas dunia sengaja
disusun berurutan berdasarkan pada aksesabilitas dan visibilitas
pendidikan melalui internet. Semakin tinggi aksesabilitas dan
visibilitas pendidikan sebuah perguruan tinggi semakin tinggi pula
peringkat yang diperoleh. Sebaliknya, semakin rendah aksesabilitas dan
visibilitas pendidikan sebuah perguruan tinggi semakin rendah pula
peringkat yang diperoleh.

Sebagaimana diduga, peringkat papan
atas didominasi perguruan tinggi yang berkiprah di Amerika Serikat
(AS). Sebanyak 104 atau 52 persen dari 200 perguruan tinggi papan atas
adalah perguruan tinggi yang
berkiprah di AS.

PTS Indonesia

Apakah yang menarik dari
publikasi CINDOC tersebut? Salah satu yang menarik perhatian adalah
banyaknya perguruan tinggi swasta (PTS) Indonesia yang bertengger di
dalamnya.

Kalau dicermati, di antara 5 ribu perguruan tinggi
berkelas dunia, 33 adalah perguruan tinggi Indonesia, seperti UGM
Jogjakarta di ranking ke-623, ITB Bandung ke-676, dst, s/d Universitas
Jember ke-4.780 dan Unnes Semarang ke-4.800.


Keberhasilan kita memasukkan 33 lembaga dalam daftar 5 ribu
perguruan tinggi berkelas dunia pantas diapresiasi. Mengapa? Sebab,
angka 33 adalah di atas rata-rata. Kalau dunia ini terdiri atas sekitar
175 negara, maka setiap negara ''kebagian" 29 perguruan tinggi; dan
Indonesia berhasil mendongkrak angka tersebut menjadi 33. 

Jika
dicermati, setidaknya, 11 di antara 33 perguruan tinggi Indonesia
tersebut ialah PTS, yaitu Universitas Gunadarma ke-1604, Petra Surabaya
ke-2013, Bina Nusantara ke-3026, Budi Luhur ke-3338, Sanata Darma
ke-3467, Duta Wacana ke-3669, UII ke-3821, Maranatha ke-3983,
Parahyangan ke-4394, Mercubuana ke-4430, dan Atma Jaya Jakarta ke-4623.

Keberhasilan
PTS masuk dalam daftar 5 ribu perguruan tinggi berkelas dunia tersebut
tidak hanya membuktikan bahwa kualitas pendidikan PTS tidak selalu
kalah dibandingkan PTN, tetapi sekaligus membuktikan kerja keras
masyarakat penyelenggara pendidikan tinggi mampu
mengantarkan lembaganya sampai ''puncak takhta" yang kualitasnya
diperhitungkan oleh masyarakat dunia.

Universitas
Petra Surabaya, misalnya, meskipun lokasi kiprahnya ada di Surabaya,
tetapi menjadi dikenal dan diakui masyarakat AS, Eropa, Jepang, dan
negara-negara lain pada umumnya. Keadaan ini berlaku sama bagi
Universitas Gunadarma Jakarta, Universitas Parahyangan Bandung, serta
PTS lain yang terpampang dalam daftar 5 tibu perguruan tinggi dunia.

Perhatian Pemerintah

Diakui
atau tidak, masuknya beberapa PTS ke dalam daftar perguruan tinggi
terbaik dunia itu sedikit banyak telah membawa nama baik Indonesia di
mata masyarakat dunia. Dengan kenyataan seperti ini, wajar jika
pemerintah memberikan penghargaan terhadap PTS tersebut; apalagi
menteri pendidikan telah berharap agar PTS mampu meningkatkan mutu
sehingga diakui masyarakat dunia.

Pak Bambang Sudibyo selaku
menteri pendidikan pernah menyatakan harapannya agar PTS
Indonesia masuk dalam jajaran perguruan tinggi kelas dunia. Lebih
lanjut beliau menyatakan, pemerintah Indonesia mendorong sebanyak
mungkin adanya perguruan tinggi Indonesia, baik PTN maupun PTS, menjadi
berkelas dunia.


Pernyataan tersebut pada mulanya sempat memotivasi para
pengelola PTS untuk mengantarkan lembaganya menjadi berkelas dunia;
tetapi motivasi tersebut sempat menjadi kendur manakala dalam
realitasnya hanya PTN berkelas dunia yang mendapat penghargaan.

Tahun
lalu, Mendiknas memberikan penghargaan berupa Anugerah Anindyaguna
kepada tujuh perguruan tinggi yang berprestasi, yaitu UGM Jogjakarta,
ITB Bandung, UI Jakarta, Undip Semarang, Unair Surabaya, IPB Bogor, dan
UT. Mereka itu berprestasi karena berhasil menembus daftar universitas
kelas dunia, khusus UT dianggap berprestasi atas keberhasilannya meraih
pengakuan internasional dalam bentuk sertifikat akreditasi dari
International Council for Open and Distance Education (ICDE). 

Pemberian
anugerah tersebut sangat bagus karena memberi motivasi bagi pengelola
perguruan tinggi untuk lebih meningkatkan prestasinya. Permasalahannya
menjadi lain ketika seluruh perguruan tinggi yang diberi
penghargaan adalah PTN dan tidak satu pun ada PTS-nya.

Agar
terjadi prinsip keadilan, maka pemberian penghargaan atau pun anugerah
seperti itu perlu ''diratakan" ke PTS yang berprestasi; apalagi secara
faktual banyak PTS yang peringkatnya di atas PTN. Ilustrasi riilnya,
peringkat Universitas Petra Surabaya di atas IPB Bogor dan Unibraw
Malang, peringkat Universitas Bina Nusantara Jakarta di atas Undip
Semarang dan Unhas Makassar, dan sebagainya.

Bagi para pengelola
PTS, pencapaian peringkat perguruan tinggi berkelas dunia memang tidak
dimaksudkan untuk mendapatkan penghargaan dari pemerintah; tetapi lebih
dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas agar dapat memberikan pelayanan
pendidikan yang lebih akuntabel kepada masyarakat luas. Meskipun
demikian, seandainya pemerintah mau memberikan penghargaan, itu akan
lebih meningkatkan motivasi usaha peningkatan kualitas tersebut.

*. Prof Dr Ki Supriyoko, mantan rektor Universitas
Tamansiswa Jogjakarta, wakil presiden Pan-Pacific Association of Private 
Education (PAPE) di Tokyo, Jepang

 
http://jawapos.com/


 
http://media-klaten.blogspot.com/
 
 
 
salam
Abdul Rohim
--- End forwarded message ---





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke