Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal



--- In [email protected], "wildanugraha"
<wildanugr...@...>
wrote:

Katakan dengan Buku

Oleh Wildan Nugraha

PERNAH dalam salah satu acara peluncuran buku di Bandung, saya
mendengar seorang berkenegaraan Prancis dengan bahasa Indonesianya
yang lancar, bercerita sedikit soal kedekatan masyarakat mereka dengan
buku. Katanya, menjelang libur Natal dan Tahun Baru di Prancis, banyak
buku sastra, seni, dan budaya diterbitkan ulang secara khusus.
Orang-orang banyak membelinya untuk dihadiahkan kepada kerabat dan
kolega.

Saya kira, kebiasaan seperti itu sangat menarik buat siapa pun yang
merasa akrab dengan buku, tidak terkecuali di negara ini. Namun,
kebiasaan saling menghadiahkan buku mungkin bisa dibilang jarang buat
orang Indonesia. Barangkali, hal ini berkaitan dengan berbagai angka
statistik yang menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia sangat
rendah. Kebanyakan orang akan merasa biasa-biasa saja bila bukan
merasa aneh, kalau tiba-tiba ada yang memberinya hadiah berupa buku.
Sebab, "katakan dengan buku" bukan ungkapan yang umum dalam budaya
kita. Jauh kalah dengan, misalnya, "katakan dengan bunga".

Kalau tidak salah, awal tahun 1990-an di televisi pernah ada iklan
layanan masyarakat tentang budaya cinta buku. Pada tayangan pendek
itu, seorang remaja putri sedang kegirangan sehabis menerima hadiah
buku dari kawannya. Pengemasannya sederhana, agak kaku, tidak menarik,
dan seingat saya, penayangannya tidak lama, segera menghilang dan
tidak ada kelanjutannya. Sangat disayangkan sebenarnya. Saya
membayangkan andai sekarang ada iklan kampanye cinta buku seperti itu
lagi di televisi.

Sementara ini, membandingkan budaya literasi Prancis dengan Indonesia
memang (masih) terlalu timpang. Bila mau jujur, membicarakan buku,
terlebih karya sastra dan sastrawannya, buku-buku falsafah dan
pemikiran, terasa eksklusif buat konteks Indonesia. Kalau bukan karena
merasa asing dengan apa yang dibicarakan, kebanyakan masyarakat juga
acap terpatok bahwa buku bukanlah kebutuhan penting yang harus
dikonsumsi, dibeli, dimiliki. Kondisi ini diperburuk oleh kenyataan
bahwa harga buku relatif mahal, dan dengan adanya krisis ekonomi yang
bergelombang-gelombang, daya beli masyarakat kita tidak kunjung membaik.

Lantas, mengakses ruang publik bernama perpustakaan umum sepertinya
belum dijadikan pilihan oleh banyak masyarakat dalam mengisi waktu
luangnya, atau untuk menggali informasi. Di lain pihak, masih terbatas
gebrakan mengejutkan dari para pustakawan atau pegiat literasi buat
menggenjot minat baca masyarakat secara umum, hingga ke daerah-daerah
pelosok.

Tentu, pemerintah---dengan daya besarnya---harus (terus) memperhatikan
masalah literasi masyarakatnya. Hal ini memang tampak sebagai kerja
panjang, sebab bukan perkara sederhana. Konstruksi sosial masyarakat
Indonesia yang terlihat lebih akrab dengan budaya lisan, tentu mesti
menjadi catatan tersendiri. Namun, harus disadari pula bahwa budaya
tulis umumnya berperan penting dalam banyak perjalanan bangsa-bangsa
di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Kita tahu bahwa tokoh-tokoh
cendekia pendiri dan pendahulu bangsa ini, adalah orang-orang yang
menghargai budaya tulis. Soekarno dan Hatta, misalnya, kita tidak
lupa, sangat akrab dengan buku.

Mereka, para arsitek pelbagai kemajuan, tidak mengalienasikan buku
dari kehidupan sehari-hari. Mereka sadar bahwa menjadikan buku sebagai
kawan akrab adalah laku yang baik, bermaslahat, memendam berkah jangka
panjang. Mereka, misalnya, saling menghadiahkan buku sebagai lambang
keakraban dan kasih sayang. Mereka yakin bahwa gagasan-gagasan di
dalam buku, seperti kata penyair Sapardi Djoko Damono dalam
tulisannya, bisa diam-diam masuk ke kamar orang-orang yang menyediakan
waktu khusus buat menghayatinya, lebih panjang dari pertemuan yang
mungkin hanya sebentar. Lebih dari itu, sebuah buku bisa bertahan
berpuluh-puluh tahun dan diam-diam menyusup ke pembaca.

"Katakan dengan buku", mungkin adalah ungkapan yang sebenarnya akrab
bahkan mesra. Ia bisa membekas lama hingga berpuluh-puluh tahun.
Bahkan mungkin selamanya.***

Wildan Nugraha, bergiat di FLP Bandung

(Pikiran Rakyat, Kamis, 12 Februari 2009)

http://titikluang.blogspot.com/
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=5863\
0

--- End forwarded message ---





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke