Untuk Mbah Surip Yang Fenomenal
Oleh : Ferry Djajaprana
Tak Gendong ke mana-mana 3x
Mantep dong enak dong
Daripada naik pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong ayooooooo
Tak gendong kemana -mana3x
Mantep dong enak dong
dari pada naik taksi kesasar
mendingan tak gendong
wear aryou doing
oke iam hoking
Tak gendong kemana-mana 3x
Mbah Surip 60 tahun, meninggal dunia dalam perjalanan menuju Rumah Sakit
Pusdikkes TNI AD, Kramat Jati, Jakarta Timur.
Pria bernama asli Urip Ariyanto ini memang fenomenal. Lagu Tak Gendong yang
sederhana justru mampu mengubah kehidupan Mbah Surip dari musisi jalanan
menjadi miliarder. Keberuntungan Mbah Surip bukan hanya dari penjualan nada
sambung, ia juga dikontrak sebuah rumah produksi untuk membintangi sinetron.
Walaupun Mbah Surip menyukai gendong, menurut Martina Omega bagian reka
medik RS Pudikkes, jenazah Mbah Surip sempat berada selama satu jam di RS
Pusdikkes. Jenazah kemudian langsung dibawa pulang oleh kerabat yang
membawanya yaitu pelawak Mamik dengan menggunakan mobil ambulan bukan
digendong.
Mantep Dong Enak Dong
Keberuntungan Mbah Surip bukan hanya dari penjualan nada sambung, ia juga
dikontrak sebuah rumah produksi untuk membintangi sinetron dengan honor Rp
5-25 juta per episode.
Dari wawancara di televisi sebulan lalu Mbah Surip menyebutkan bahwa hasil
pendapatannya itu sebagian disumbangkan untuk orang-orang yang membutuhkan..
Daripada naik pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong ayooooooo..
Pria yang menggelandang di ibukota dengan mimpi terakhirnya ingin
mempunyai sebuah helikopter, entah kenapa lagunya malah menyarankan untuk
tidak naik pesawat kedinginan..
Bagi saya ungkapan kedinginan Mbah Surip sangat jarang, karena umumnya
orang naik pesawat itu takut.. takut ketinggian, takut jatuh atau
kecelakaan dan sebagainya.. ini takut air conditioner (AC). Tapi walaupun
demikian, Mbah Surip kelewat baik dengan menawarkan tangan untuk digendong
daripada naik pesawat udara.
Tak gendong kemana -mana3x
Mantep dong enak dong..
Tuhan tiba-tiba saja mengangkat derajat Mbah Surip dengan begitu cepat
lewat tembangnya yang berkesan asal-asalan "Tak Gendong". Dari seorang
yang hidup menggelandang dan tak dilirik orang, sontak menjadi selebritis
dengan kekayaan terakhir tercatat Rp82 miliar.
Dari pada naik taksi kesasar
mendingan tak gendong..
Mbah Surip seorang kakek (berapa jumlah cucunya saya nggak tahu) tapi
karena usianya sudah sepuh (Jawa: Tua) maka kebiasaan orang Suku Jawa
memanggilnya dengan sebutan Mbah. Syair Daripada naik taksi kesasar
mengingan tak gendong.., kalimat ini menyiratkan makna bahwa beliau sangat
mengayomi, bahkan mampu memberikan penawaran yang terbaik.
Gerangan apa yang meyiratkan syair naik taksi kesasar menjadi hal yang
menakutkan? Mbah Surip pasti membayangkan bahwa bila naik taksi di Jakarta
khususnya, supirnya sering menyesatkan penumpangnya dengan harapan agar
kilometer bertambah, sehingga pundi-pundi ongkos tarif sewanya pun menjadi
bertambah banyak.
Secara tak langsung, Mbah Surip menawarkan untuk pergi bersama, selain aman
juga bisa nyaman.
wear aryou doing
oke iam hoking
Kalimat syair terakhir agak nyeleneh juga .. menurut Meriam-Webster.com,
menjelaskan sebagai berikut :
------------------------------------------------
Main Entry:
hoke Listen to the pronunciation of hoke
Pronunciation:
\h?k\
Function:
transitive verb
Inflected Form(s):
hoked; hok·ing
Etymology:
hokum
Date:
1925
: to give a contrived, falsely impressive, or hokey quality to usually
used with up<hoke up a movie with lots of action>
---------------------------------
Demikian dari syair diatas Mbah Surip meninggalkan makna yang mendalam
khususnya pada I am Hoking yang entah apa maksudnya..: )
-o0o-
Kehidupan orang sukar diduga kemana dia akan menuju, tetapi kematian adalah
sudah pasti. Kematian Mbah Surip itu tepat di kala dia sedang Naik
Daun menuju posisi tertinggi. Kematiannya meninggalkan tanda tanya bagi
kita .. kenapa dia meninggal secepat itu ? Bahkan saya sendiri mendengar
kematiannya pada hari ini sepertinya percaya nggak percaya...
Bagaimana prosesnya tiba-tiba saja nama Mbah Surip terangkat secara
mendadak dan tiba-tiba Tuhan dengan cepat memangggil laki-laki yang tengah
berada di titik kulminasi popularitas. Apa benar demikian? Bukankah tidak
ada satu daunpun yang gugur tanpa sepengetahuan Tuhan?
Ibaratnya pohon yang memiliki banyak daun, banyak daun yang tua, menguning
dan kemudian gugur. Tetapi, ada juga beberapa daun muda yang tiba-tiba
mati. Proses kematian adalah hak prerogatif Allah yang memegang ruh kita
baik siang hari kala kita beraktivitas maupun kala sedang tidur. Daun muda
yang kuning biasanya karena suatu sistem yang fitrah untuk keberlangsungan
sistem yang lebih luas. Demikian juga kematian manusia, hanya saja manusia
selalu ingin tahu ihwal kenapa terjadi kematian, mereka mencari jawab yang
menurut mereka sesuai dengan akal sehat mereka (common sense). Umur kita
sudah tertakar (Qadha) seperti juga jenis kelamin atau jenis suku bangsa,
semuanya sudah di atur oleh Allah Azawajalla. Ada skenario lain yang
terbaik untuk almarhum, penerusnya ataupun untuk bangsa ini, itulah yang
disebut dengan regenerasi.
Nah, buat kita yang masih hidup sebaiknya siap-siap menyusul Mbah Surip
juga, dengan dendang kematian yang terbaik (khusnul khatimah), yang
menggendong kita lurus menuju Allah SWT tidak kemana-mana. Itulah pesan
Ina Lillahi Wa Ina Ilaihi Rojiunartinya Sesungguhnya dari Allah kita
berasal dan kepadaNyalah kita dikembalikan..
Terakhir, kami mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya untuk Mbah
Surip, semoga amal baiknya diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang
ditinggalkan tetap sabar, tabah, dan tawakal.
Jakarta, 4 Agustus 2009
Jam di dinding menunjukkan pukul 15:10
Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com
[Non-text portions of this message have been removed]