aku baru mulai ngeblog kok ada posting kayak begini.. bikin lemes ajeee..
 
BR
Desi
http://bisnis5online.blogspot.com

--- Pada Sen, 23/3/09, Amril Taufik Gobel <[email protected]> menulis:

Dari: Amril Taufik Gobel <[email protected]>
Topik: [blogger_makassar] Blog Sudah Mati?
Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Tanggal: Senin, 23 Maret, 2009, 9:27 AM






Tulisan menarik dari Nofie Iman, dikutip dari:


http://nofieiman. com/2009/ 03/blog-sudah- mati/






“Blog sifatnya hanya tren sesaat… Itulah yang tidak saya sukai dari blog. Blog 
tidak bertanggung jawab, bahkan blogger itu tukang tipu.”
—-Roy Suryo [source]
Teman saya pernah mengutarakan kritiknya, “Kalau semua orang ngomong, trus 
siapa yang mau dengerin?” Katanya, “Kalau semua orang ngeblog, lantas siapa 
yang mau baca?” Awalnya saya kurang ngeh dengan komentar itu, tapi lama-lama 
saya pikir ada benarnya juga. Sekarang siapa saja bisa bikin blog. Jumlah blog 
di Indonesia juga sudah segitu banyak. Mungkin blog sudah mendekati titik jenuh 
(saturation level).
Life-Cycle Blog

Perhatikan gambar di atas. Secara umum, adopsi suatu produk inovasi bisa 
digambarkan seperti S-curve di atas. Awalnya penetrasi suatu inovasi terjadi 
secara sangat lambat, namun kemudian mengalami pertumbuhan secara eksponensial. 
Sesampainya di puncak kurva, penetrasi inovasi kemudian bergerak dengan relatif 
datar dan stagnan.
Sekitar tahun 1993, blog dimulai oleh para IT geek yang membuat kumpulan link 
di sela-sela kesibukan mereka. Istilahnya, technology enthusiasts. Merekalah 
innovator yang mengenalkan blog pertama kali karena secara teknis membuat blog 
di masa itu membutuhkan kemampuan programming yang tidak gampang. Di masa itu, 
NCSA yang kemudian diikuti Netscape meluncurkan “What’s New” yang berisi 
kumpulan link ke situs-situs tertentu.
Kemudian, blog mulai diadopsi oleh para jurnalis, orang yang memang membutuhkan 
platform untuk mempublikasikan opini mereka. Bisa dibilang merekalah early 
adopter di bidang ini. Tentu para kolumnis itu belum jauh-jauh dari topik 
seputar IT. Kalau Anda masih ingat, di tahun 1997 Dave Winer meluncurkan 
Scripting News, yang kemudian merilis software blog publishing yang disebut 
Manila dan Radio Userland. Di tahun yang sama, Slashdot juga membuka jalur blog 
berita mereka.
Pertumbuhan yang cukup signifikan mungkin terjadi di tahun 1999. Brigitte Eaton 
meluncurkan Eatonweb Portal yang berisi kumpulan blog di masa itu. Metafilter 
juga lahir di tahun yang sama. Penyebab dari ledakan jumlah blog adalah mulai 
bermunculannya aplikasi blog seperti Pitas dan Blogger (diluncurkan oleh Pyra). 
Penetrasi blog makin gencar di awal dekade 2000. Aplikasi blog mulai 
bermunculan, misalnya Greymatter, Livejournal, MovableType, B2/Cafelog (sebelum 
menjadi Wordpress), dan masih banyak lagi.

Namun, menurut saya, sejak 3-4 tahun lalu penetrasi blog sudah masuk ke 
fase late adopters. Orang-orang yang konservatif ikut masuk. Misalnya, ibu-ibu 
rumah tangga atau pelajar sekolah yang mungkin tidak terlalu membutuhkan blog 
ternyata ikut-ikutan terjun dalam aktivitas blogging. Hal ini bisa dimaklumi 
karena aktivitas blogging makin mudah dan pilihan juga makin banyak. Blogger 
(yang kemudian mengakuisisi Blogspot, lalu dibeli oleh Google) terus 
menyempurnakan fitur bloggingnya. MovableType juga meluncurkan Typepad yang 
diikuti pMachine yang membuat Expression Engine. Wordpress juga ikut 
meluncurkan wordpress.com. Selain itu, photo-blogging, podcasting, 
dan video-bloggingjuga kian marak.
Terakhir, blog diadopsi oleh para laggards, golongan yang sesungguhnya justru 
skeptis terhadap inovasi. Mereka adalah orang yang sama sekali tidak punya 
urusan dengan blog, namun terpaksa mengadopsi blog agar tidak ketinggalan 
jaman. Misalnya, para caleg yang berkampanye dengan blog, menteri dan aparat 
pemerintahan, atau artis yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan dengan 
teknologi.
Blog Hanya Tren Sesaat?
Beberapa waktu lalu, ketika Roy Suryo mengklaim bahwa blog hanya tren sesaat, 
(hampir) semua orang protes. Tapi kalau kita lihat sekarang, to some extent, 
apa yang dikatakan Mas Roy ada benarnya juga. Secara jumlah, mungkin ada 
ratusan ribu blog di Indonesia. Namun tak banyak yang masih kontinu dan rajin 
mengupdate informasi di blognya.
Salah satu aggregator besar blog Indonesia, Merdeka.or.id, sudah wafat. Mas 
Budi Putra, sudah tidak menulis sejak November tahun lalu—-sama seperti Mas 
Pujiono. Bung Priyadi malah sudah hiatus sejak Juni tahun lalu. Bung Enda juga 
sudah jarang menulis posting seperti dulu, melainkan hanya sebatas kumpulan 
link saja. Di kalangan selebritis,si gigi kelinci juga makin jarang menulis.
Layanan blog lokal seperti Dagdigdug, Blogdetik, Kompasiana (Kapanlagi dan 
Seleb.tv untuk para artis) memang sempat menunjukkan antusiasme yang luar 
biasa. Namun faktanya, antusiasme itu tak pernah bertahan dari beberapa bulan 
saja. Dari beberapa blog yang saya subscribe via Google Reader, makin sedikit 
yang rutin melakukan update. Mungkin hanya Pak Budi Rahardjo yang punya banyak 
blog dan masih terus aktif hingga sekarang. Nama-nama besar seperti Ndoro 
Kakung, Paman Tyo, Iman Brotoseno, adalah segelintir yang masih terus eksis 
ngeblog.
Dengan makin maraknya internet business, tak sedikit juga blog yang mungkin 
tetap update namun dikomersilkan secara asal-asalan. Blog, yang 
harusnya user-centered content, menjadi penuh dengan blok-blok iklan. Selain 
mengganggu pandangan, loading time untuk membuka blog jadi jauh lebih lambat. 
Posting yang tadinya bermutu menjadi bercampur aduk dengan tulisan-tulisan paid 
review tak jelas. Yang dulunya punya jalan terang benderang menjadi belok entah 
kemana.
Apa penyebabnya? Alasan pertama, menurut saya, mengelola blog jelas perlu 
semangat dan motivasi tinggi. Kalau pemiliknya tak punya modal spirit untuk 
menulis dan berbagi, jelas blog susah bertahan hidup. Alasan kedua, blog akan 
digantikan oleh produk inovasi lain yang lebih menarik, misalnya: Facebook, 
Twitter, Plurk, atau produk-produk inovasi lain.
Apa Blog akan Punah?
Yang namanya inovasi, ada yang langsung punah, ada pula yang tetap bertahan. 
Begitu ponsel diluncurkan, pager lalu dilupakan. Begitu CD dikenalkan ke pasar, 
disket langsung ditinggalkan. Tapi ada pula produk inovasi yang tetap bertahan. 
Printer dot-matrix di Indonesia, misalnya, walaupun sudah tergantikan printer 
laser dan inkjet, malah tetap eksis dan punya pangsa pasar tersendiri: wartel 
dan warnet.
Kelemahan tipikal blogger adalah bahwa bloggers pop off instantly about 
everything. Manusia secara umum punya kompetensi tertentu yang unik namun 
terbatas. Kalau kita memaksakan diri menulis sesuatu yang di luar kompetensi 
kita, hasilnya sama seperti memaksa Tom Hanks bermain film komedi. Alangkah 
lebih baik kalau blog kita berfokus pada circle of competence kita saja. Salah 
satu contoh bagus misalnya Nguping Jakartaatau Dongeng Geologi.
Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah readership. Blogger seharusnya 
hanya boleh mengabdi kepada Tuhan dan pembacanya. Tidak ada masalah kalau blog 
ingin digarap secara komersil, namun bagaimanapun juga kepentingan pembaca 
harus tetap diutamakan. Percuma punya blog dengan sejuta tulisan bagus tapi tak 
ada yang mau membaca.
Menurut saya, blog masih merupakan salah satu media pertukaran informasi yang 
sangat efektif. Blog bukan tren sesaat, tapi euforia blog adalah tren sesaat. :)



ATG
-- 
www.daengbattala. com
update :
"Biter Hamen dan Ketangguhan Menghadapi Persoalan"
www.daenggammara. com

















      Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3
http://downloads.yahoo.com/id/firefox/

Kirim email ke