On 1/25/07, Wong <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > . > > > gugun >> simak tulisan Bung Lilianto Apriadi dari Tabloid Bola tentang perkembangan olahraga Indonesia dan sumber : www.bolanews.com
*Lilianto Apriadi* *SATGAS, TEBAR PESONA, KUTU KUPRET!* Rabu, 17 Januari 2007 pukul 14:10:15 WIB * * Buang gas, sehari-hari dibikin canda berarti kentut. Suatu kejadian, di saat manusia harus mengeluarkan "gas" untuk melancarkan sistem pencernaan di dalam tubuh. *Nggak* bisa kentut seseorang bisa berbahaya, lho. Apakah Satuan Tugas (Satgas) di kancah olahraga nasional sama dengan buang gas? Memasuki tahun 2008 yang dishiokan sebagai Tahun Babi Api, negeri kita banyak dihantam percobaan. Bencana alam datang lagi, kecelakaan di dunia transportasi terjadi dengan menelan korban tak sedikit. Di kancah olahraga, 2008 juga diawali oleh kesibukkan Adhyaksa Dault, Menegpora kita, yang sempat-sempatnya membalas kritikan di Tabloid *BOLA*dengan begitu panjang. Membaca judul tulisannya: *Tidak Ada yang Instan dalam Pembinaan Olahraga*, sepertinya menganggap pembaca *BOLA* banyak yang tidak mengerti dengan olahraga. Bukan ingin mengecilkan pengorbanan sang menteri menulis balasan tersebut, tapi sepuluh hari kemudian ia meneken nota kesepakatan dengan KONI Pusat untuk mengangkat Achmad Sutjipto sebagai Ketua Satgas Pemusatan Latihan Nasional menghadapi SEA Games 2007 di Thailand. Tugas utamanya mewujudkan target yang diinginkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yakni merebut posisi tiga besar di SEA Games tersebut. Satgas? Binatang macam apa lagi neh? Apakah tidak sama dengan program instan yang menjadi "anti" Adhyaksa seperti dalam tulisannya? Satgas merupakan badan bentukan untuk melaksanakan suatu proyek. Tercipta, karena dalam masa lama tidak ada program yang menunjang untuk mewujudkan sasaran yang dikehendaki proyek tersebut. Untuk SEAG 2007, adakah program panjang sebelumnya yang memang mengarah ke sana? Sama juga dengan persiapan Asian Games 2006 yang gagal total itu, menuju SEAG 2007 juga tidak ada program berjenjang yang mengarah ke sana. Sepertinya Adhyaksa menelan ludah sendiri. Baru saja pikirannya terbaca oleh jutaan pasang mata pembaca *BOLA, eh* ia bersama KONI Pusat menandatangani pembentukan proyek instan yang bernama Satgas Pemusatan Latihan Nasional untuk SEA Games 2007. Padahal kalau ada perencanaan jangka panjang, seumpama ketika ia baru diangkat menjadi Menteri tahun 2004, model Satgas dengan timnya nanti tidak perlu ada. Kalau tidak tahun 2004, tahun 2005 pun tak apalah muncul program untuk merebut prestasi di Thailand tahun ini. Padahal sinyal kegagalan di sekitar tahun itu telah jelas terlihat. Pada SEA Games 2005 yang berlangsung di Manila, baru pertama kali kontingen Merah Putih berada di peringkat lima dalam perolehan medali secara keseluruhan. Tidak ada pergerakan yang besar mengarah ke arah target tiga besar SEA Games. Barulah setelah kita gagal di Doha, Presiden lalu meminta tiga besar, sang menteri kalang kabut lalu langsung "membuang gas" ke luar kantornya dengan membentuk Satgas. *** Masyarakat membaca gerakan ini bahwa sang menteri ingin menyenangi presidennya tanpa mengambil langkah berpikir untuk ke depan. Masyarakat menganalisis, ada keinginan untuk "Asal Bapak Senang" dari sang menteri dengan tergopoh-gopohnya persiapan menuju SEA Games 2007 ini. Masyarakat mempunyai kesan, ternyata Presiden lebih tahu soal olahraga dari pada menterinya, dari pada KONI Pusat, dari pada pelaku olahraga yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia olahraga. Mereka itu akhirnya terbelenggu dengan dogma "yes, sir!", sampai kepada pengangkatan Achmad Sutjipto sebagai Ketua Satgas. Bukan mengecilkan sang ketua, tapi pengalamannya dalam olahraga tentu masih kalah jauh dibanding orang-orang yang berada di luar. Olahraga berikut pelakunya bukanlah produk instan! Sutjipto juga baru gagal di Asian Games. Sebenarnya, bisa saja seseorang yang gagal dipercaya kembali memimpin di proyek yang lebih besar. Tidak ada yang bisa menjamin kalau dia gagal lagi. Namun, kalau bercermin pada ilmu manajemen modern, cara ini keliru. Pemimpin gagal sulit berprestasi tinggi kalau diangkat lagi untuk memimpin proyek, apalagi pada proyek yang lebih besar! Karena Sutjipto mantan Kasal, maka sikap prajurit pun muncul begitu ia diminta untuk memimpin kembali. Siap, pak! Padahal semestinya, kalau melihat garis organisasi, sebagai komandan pelatnas dialah yang paling bertanggungjawab kegagalan kontingen kita di Asian Games lalu. Sebelum Ketua Umum KONI Pusat dan Menegpora mundur, dia harus mundur lebih dulu. Sudahlah, nasi telah menjadi bubur. Sutjipto tidak mundur mengikuti atasannya, Agum Gumelar dan Adhyaksa. Malah mereka tambah kompak menunjuk Sutjipto sebagai penanggungjawab prestasi Indonesia di SEA Games. Sekarang menjadi terlihat jelas, kubu Menegpora tidak mau lagi dianggap sebagai institusi yang paling bertanggungjawab soal pembenahan olahraga Indonesia, khususnya prestasi di ajang multievent. Ketika SEA Games 2005, mereka serta merta memojokkan KONI Pusat. Lalu di Asian Games 2006 menggandeng KONI Pusat untuk bertanggungjawab. Kini dengan dalih tidak ingin mengintervensi, Satgas SEA Games 2007 dibiarkan independen. Tujuannya tentu jika nanti gagal, Menegpora siap-siap berdalih semuanya sudah diserahkan kepada Satgas! Enteng kan, seperti orang "buang gas"? Buat yang membuang gas lega amat. Tapi, yang terkena uapnya bisa beraneka rasa. Syukur-syukur kalau si pembuang sebelumnya tidak memakan jengkol! *** Bayangan pesimistis untuk menggapai target tiga besar sudah tercium dari sekarang. Posisi itu artinya harus menyingkirkan salah satu dari Malaysia atau Vietnam yang dalam dua SEA Games terakhir berada di peringkat tiga. Thailand sebagai tuan rumah tampaknya tak bisa diutak-atik untuk menduduki pemuncak klasemen. Bukan hanya Malaysia dan Vietnam tentunya, tapi juga ada Filipina dan Singapura yang berambisi juga menempel Thailand. Apalagi ketika di Asian Games mereka terlihat menguasasi cabang-cabang yang juga dimiliki Indonesia. Persaingan memang bakal ketat, namun sering di saat genting itu dari pengalaman akhir-akhir ini atlet-atlet kita justru tidak memiliki *finishing kills*. Kalah melulu dalam detik-detik penentuan. Kalau sudah begini, yang paling pas adalah memanfaatkan waktu untuk membuat program memenangkan saat-saat kritis itu. Ketahanan mental serta peningkatan stamina sangat diperlukan. Untuk mencapainya tentu diperlukan peningkatan gizi jasmani maupun rohani. Cara-cara ini merupakan *crash* program alias cara instan, yang telah disepakati oleh Menegpora untuk dijauhi. Kita hanya mengingatkan lagi kepada dia tentang makna tulisannya di tabloid *BOLA* itu. Jangan dilupakan, Pak! Syukur-syukur dia bersama stafnya telah pula meluncurkan cara jitu menyelamatkan olahraga Indonesia untuk berprestasi di masa-masa mendatang. Sayangnya, kita pun tahu dengan anggaran terbatas mana bisa dijalankan dua program secara simultan. Kalau pun nanti ia berbicara seperti itu, itu namanya rekayasa. Megawati bilang, itu "tebar pesona". Kalau Tukul Arwana bilang: kutu kupret! -- === satu Milan --- Milan satu === [Non-text portions of this message have been removed]
