--- Firdauf Achmad Dhewata
wrote: eh.. bung omar, bukannya kagem itu adalah bahasa jawa dari "Untuk"
hehehe btw, aneh kl sebagian yg demo itu ternyata susah makan.. brarti ya
mereka itu lebih dogol dari yg saya kira, orang yg laper perut kok masih
mau2nya melakukan aktifitas yg justru makin bikin laper cuman buat manjain mata
:p
=================
hehehe...iya, gue tau "kagem" artinya "untuk"...bini gue yang kasih tau...gue
awalnya cuma ngikutin Putra yg manggil2 Kagem.
anyway, soal demo EPL...susah nih ngomongnya, banyak yang udah apriori sih.
apa sih yang jelek, kalo mau jujur, dari orang yang lagi menyampaikan suara
hati? caranya yang jelek??? harus gimana donk bagusnya menyalurkan protes soal
Astro?. kalo mau dilihat, yang demo itu arah isu demonya gede lho, mereka
nentang apa yg dipercayai sebagai monopoli. di negara maju sekalipun yg namanya
monopoli itu dilarang. gue baca di Forum sebelah (Indomanutd apa Foum Bola ya,
lupa gue) kalo di negara yg "maju" kayak Australia aja ada tuh peraturan yg
melarang monopoli lewat Pay TV untuk sejumlah event olahraga penting, kayak
Olympiade atau World Cup. itu negara kaya lo.
waktu gue kasih tanggapan awal khan gue bilang, lihat positifnya donk bahwa
kalo yg demo ini juga "berjuang" agar kejadian yg sama dengan EPL bisa
terhindarkan buat World Cup, Olimpade, Serie A atau La Liga, atau bahkan
Ligina. give some credits dulu donk, jangan apriopi atau sinis duluan. kita
mungkin bilang mereka salah sasaran, jangan ke kedubes malsysia misalnya karena
kata mas kagem cuma bikin martabat turun. mungkin ini sekedar pilihan tempat
untuk lebih mengangkat isu ini ke permukaan. bukan udah ada hasilnya tuh?
menteri kominfo janji mau bicara ke Astro. kalo hasilnya NOL GEDE, nggak
masalah, yang penting isu udah naik ke level atas, bagus buat bahan ke depan
nanti.
trus, soal ngapain demo soal bola padahal ada masalah lebih besar lagi kayak
kemiskinan, kelaparan dll (global warming masuk juga nggak Alk..hehehe..?).
well, soal monopoli juga masalah gede lho. inget yg demo itu percaya Astro itu
bentuk monopoli. minimal awal sebuah monopoli. lagian, bro alfit setuju tuh ama
gue (cari dukungan nih), kalo nonton EPL sudah jadi candu, masa' nggak boleh
sih ini diperjuangkan?. bayangin aja perut laper, eh tayangan hiburan yang bisa
melupakan rasa laper dicabut pula, ya makin laper donk. kalo laper perut,
bisalah ngutang dulu di warung, kalo laper mata EPL....ya demolah, masa' lo
bilang dogol Alk....:)
intinya, mereka yang nggak ngrasa berkepentingan nonton EPL, atau yg mampu
bayar Astro...ya jangan sinis atau apriori dululah. gak perlu dibilang
"kampungan" atau "bikin malu", atau "kurang kerjaan apa, banyak masalah yg
lebih gede dari sekedar EPL" atau "dasar Indon, keenakan gratis"...atau apa
ajalah. paling tidak mereka berani yang menyampaikan apa yang jadi ganjelan
mereka, kalo buat gue itu positif. Kalo yg bisa bayar Astro, ya bersyukur sana,
kalo yang lebih seneng Serie A, ya bersyukur sana Serie A-nya masih gratisan.
lebih gampang kalo ngliat semua simpel aja....ada warga yang nggak bisa
terima sebuah kebijakan, protes...yo wis, itu hak mereka, gak usah dibilang yg
macem2. it has nothing to do with us, to extreme poverty, to global warming, to
democracy...dll, they just did things that they believe, no matter how
insignificant or stupid or silly it seems to other people....lumayan nih
inggris gue...:)
banyak ide "silly, insignificant" atau bahkan "stupid" yang belakangan banyak
dipuji. beberapa tahun lalu ada pemenang Kalpataru (masih ada khan hadiah ini?)
karena merintis saluran air di kampungnya yang tandus. bertahun-tahun si
pemenang ini dibilang "katro" oleh lingkungannya karena sendirian menggali
tanah tandus untuk mengalirkan air dari gunung. perbandingan yang gak pas?
mungkin, tapi gue cuma mau nunjukin kadang2 hal positif lahir dari ide orang2
yang "kurang kerjaan".
hemmm....jadi serius nih...:)
-omar-
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
[Non-text portions of this message have been removed]