--- In [email protected], omar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > --- Firdauf Achmad Dhewata > wrote: eh.. bung omar, bukannya kagem itu adalah bahasa jawa dari "Untuk" hehehe btw, aneh kl sebagian yg demo itu ternyata susah makan.. brarti ya mereka itu lebih dogol dari yg saya kira, orang yg laper perut kok masih mau2nya melakukan aktifitas yg justru makin bikin laper cuman buat manjain mata :p > > ================= > > hehehe...iya, gue tau "kagem" artinya "untuk"...bini gue yang kasih tau...gue awalnya cuma ngikutin Putra yg manggil2 Kagem. > > anyway, soal demo EPL...susah nih ngomongnya, banyak yang udah apriori sih. apa sih yang jelek, kalo mau jujur, dari orang yang lagi menyampaikan suara hati? caranya yang jelek??? harus gimana donk bagusnya menyalurkan protes soal Astro?. kalo mau dilihat, yang demo itu arah isu demonya gede lho, mereka nentang apa yg dipercayai sebagai monopoli. di negara maju sekalipun yg namanya monopoli itu dilarang. gue baca di Forum sebelah (Indomanutd apa Foum Bola ya, lupa gue) kalo di negara yg "maju" kayak Australia aja ada tuh peraturan yg melarang monopoli lewat Pay TV untuk sejumlah event olahraga penting, kayak Olympiade atau World Cup. itu negara kaya lo.
hehehe, perlu dipilah2 nih masalahnya sebelum ambil judgement. Prinsip utamanya adalah "Never Jump to Conclusion". (halah opo maneh iki :p) : 1. Apakah benar Astro yg memonopoli? atau memang tayangan EPL itu dijual secara ekslusive oleh provider Asia-nya. Sehingga Astro sebenarnya terikat dgn contractual obligation. Kalau memang dari providernya yg tidak setuju EPL dijual eceran atau patungan trus apa ya tepat lgsg main tembak ke Astro ? 2. Kalaupun benar Astro yg melakukan praktek monopoli diluar klausul kontrak, apakah benar proses monopolinya yg dipermasalahkan para pendemo tsb. Ingat, kalau misal Astro share beli dgn PayTV lain, sama aja loh buat mereka yg demo skr ini, alias bayar or nothing. 3. Sampai skr masih belum ada satupun TV Terestrial yg secara resmi memberikan konfirmasi sekaligus justifikasi ke rekan2 kita yg demo tersebut bahwa kalaupun Pemerintah turun tangan dan mewajibkan Astro re-sell hak tayangnya, maka ada yg bakal bersedia membeli. Tentu saja jika Re-sell tsb tidak menyalahi kontrak dgn provider pusatnya, sebab jika menyalahi kontrak ya gugurlah. 4. Saya kok tidak terlalu terbuai dgn analogi bahwa demo ini juga mengusung bendera buat penggemar2 bola selain EPL apalagi dgn embel2 monopoli. Skr malah juga dikait2kan dgn kekhawatiran monopoli Piala Dunia, Piala Eropa, Serie A dll. Buktinya tidak ada demo bahkan issue apapun kl monopoli dilakukan TV terestrial. Contoh : Piala Dunia di SCTV, Piala Eropa di RCTI, Serie A, La Liga dkk. Dan perlu dicatat bahwa tidak pernah ada demo wkt Serie A & La Liga hilang dari layar kaca. So, jangan terlalu melebarkan permasalahan, sebab yg dihadapi skr sudah jelas dan spesific yaitu demo yg dilakukan para penggemar EPL. 5. Sangat benar sekali bahwa kalau mereka protes itu hak individu masing2, yg disayangkan kenapa dalam argumennya baik yg disampaikan dilapangan, fwd email atau petisi selalu membawa bendera rakyat miskin. Tetap sampai skr saya pertanyakan itu rakyat miskin yg mana ? Kl memang benar2 kekurangan, apa ya punya akses internet buat kirim email ? Dan apa mereka yakin tuh bahwa tayangan gratis EPL adalah yg paling dibutuhkan untuk diperjuangkan bagi mereka2 yg berada dibawah garis kemiskinan. Sebab saya lebih yakin bahwa demo kali ini bukanlah demo bayaran atau rekayasa, justru memang yg ini yg tulus hati tiap2 masing2 yg berdemo tsb. jadi jelas khan bro kl point of demo kali ini bukan di praktek monopolinya, karena end goal yg diharapkan ya tetap : EPL for free. jangan digeneralisir bahwa semua yg kurang setuju akan demo itu pasti mampu bayar or non EPL fans. Buat gw pribadi kemaren kaga bisa nonton Serie A ya hidup jalan terus kok, meski tetep pantau lewat media saja. Diluar itu bisa ditiru solusi cerdas dan kompromi yg dijalin beberapa rekan kita yg justru bisa menggelar nonton bareng EPL tiap minggu nun jauh di Lampung Tengah. jadi inget teori darwin, "semakin cepat kita beradaptasi terhadap perubahan, semakin tinggi kemungkinan kita untuk survive. Resistansi hanya akan menggiring kita pada jurang kepunahan". (mentang2 baru beli buku 10 rebuan, diskonan Gramedia :p) cihuy, milis ini jadi rame juga :) Alkaizer
