Congrats buat MU dan fans! Setelah sembilan tahun akhirnya kembali ke final Champion.
Lolosnya MU menjadi bukti bahwa terkadang sepakbola itu sangat kejam. Melawan Barca dalam dua leg, MU teramat jelas didominasi oleh permainan lawan. Ada yang bilang bahwa itulah strategi dan kepintaran SAF. Benarkah? NO! DNA MU adalah sepakbola menyerang. Jadi jika selama pertandingan mereka selalu bertahan, apakah itu taktik atau memang karena dipaksa lawan untuk bertahan? Gue bilang karena MU memang hanya bisa bertahan. Lihat formasi starting line up MU di lini tengah. Ronaldo, Nani, Scholes, Carrick, Park Jing Sung. Kecuali Carrick, semuanya pemain bernaluri menyerang. Naif kalo ada yang bilang SAF sengaja memasang strategi bertahan. Tetapi poin positifnya adalah pemain-pemain menyerang tersebut ternyata mampu membantu lini pertahanan dengan amat baiknya. Teves, sebagai contoh. Gue melihat udah kayak Gatusso. Sibuk banget di seputaran garis tengah lapangan, ngejar bola ke sana kemari. Tersingkirnya Barca adalah kebodohan mereka sendiri. Mereka menguasai bola 60% dari waktu pertandingan tetapi tak satupun bikin peluang emas. Cuma satu pemain yang menonjol yaitu Messi. Pemain-pemain MU dibuatnya seperti anak kemarin sore. Sayang dia lupa kalo sepakbola adalah permainan tim. Andai saja tadi malam Barca bisa mencetak 1 gol, pasti pertandingan akan jauh lebih hidup. SAF akan menyuruh anak buahnya main lebih terbuka dan agresif menyerang. Dan penonton dapat menyaksikan bola masuk gawang lebih dari 2 kali.
