--- In [email protected], Don Rudy <rudy.mil...@...> wrote: > > 2009/10/27 petirburung <petirbur...@...> > > [rudy] > Ingat bung kata-kata orang bijak, segala sesuatu itu ada himahnya. Daripada > mengeluh lebih baik ambil hikmahnya. Keganasan supporter di Italia percaya > atau ega membentuk mentalitas "tahan banting" dari para pemain yang main di > Serie A pada umumnya. > > Apa hubungan skandal totonero dengan Italia Juara Dunia 1982 dan apa > hubungan skandal Calciopoli dengan Italia Juara Dunia 2006. Mungkin memang > semua orang bilang itu hanyalah kebetulan, tapi banyak juga yang bilang > bahwa dengan skandal itu pemain-pemain Italia bermain seperti partai hidup > mati di lapangan mempertaruhkan harga diri. Dan keberhasilan mereka juga > diganjar dengan anugrah gelar kepehlawanan dari pemerintah Italia. Lihat > semua pemain2 Italia di wikipedia pasti ada gelar "Cavaliere" gelar ksatria > dari pemerintah Italia. > > Sama pertanyaannya, apa hubungan kelakuan tifosi di Italia dengan mentalitas > para pemain yang main di Serie A? pasti ada walaupun belum pernah diteliti, > itu hanya asumsi dari gw saja, percaya silakan...tidak juga gpp kok :D > > Yang dimaksud tekanan itu bukan sorak-sorai di lapangan, ini Piala Dunia > bung sangat berbeda. Dari rakyat kecil sampai presiden nonton, dari orang > yang ngerti bola sampai yang ga ngerti ikut nonton. Ingat duel Simeone dan > David Beckham di Piala Dunia 1998? itu sepenuhnya mental.
ambil hikmah itu untuk sesuatu yg sudah terjadi, bukan yg masih bisa diperbaiki. membiarkan borok untuk tetap ada atau bahkan makin merusak dgn dalih bisa bikin Timnas kuat mental adalah hal konyol. Sebuah saran demi kebaikan sepakbola ya harus ditelaah & dianalisa dan dilakukan perbaikan jika perlu. Bukan belum apa2 sudah nuduh Capello ga tau diri dll dsb, Simone vs Beckham ? kalo diambil potongan kecil juga Italia gagal di EURO 2004 juga gara2 Totti meludahi pemain Denmark.. faktor mental juga neh ? Korelasinya juga kebalik, supporter Italia justru lebih fanatik kepada klub daripada timnas dalam artian mereka lebih brutal saat mendukung klub daripada mendukung timnas. Justru pendukung timnas lebih rusuh supporter Inggris & Jerman. Liat aja, supporter Italia ga pernah protes berlebihan saat pemainnya tidak dipanggil timnas.. tapi mereka bisa bikin rusak stadion saat pemain favoritnya dijual atau bahkan lebih konyol mereka melakukan teror untuk menolak kedatangan pemain dari tim rival. (contoh : Stankovic ditolak Juventini) yg disorot itu kebrutalan suporter yg mematikan klub, komersial Serie A dan lebih besar lagi citra & masa depan sepakbola Italia, Capello gak pernah sedikitpun berbicara soal Timnas. Alkaizer
