Begini Pak Skalaras ya,,,, (awalnya saya cincai-in aja komentar Bapak,
tapi karena dilanjutkan Pak Erik, maka saya perlu jelaskan duduk
soalnya):
Siapa saja ya bisa bicara apa saja, cuma mbo yao kalau tidak menguasai
masalah yo jangan terlalu 'kenceng bunyinya'. Atau kalau pun ingin
tetap berpendapat, ubah sedikit redaksinya: misalnya jadi bentuk
pertanyaan, minta klarifikasi pihak yg lebih tahu dll. Kayak gitu kan
ngga mengundang 'perang'.
Mengatakan terorisme bagian dari budaya Islam, menyatakan Kristen
mengakui tahayul, tahayul dikaitkan dengan Renaissance (plus diuraikan
secara anakronistik* --> dikaitkan dg peristiwa Galileo),,,
Itu sudah bukan persoalan fleksibel, cincai (salah2 ketik), 'berbahasa
umum' lagi. Itu sudah blunder*
Saya prihatin, kelihatannya sebagian milisers belum terbiasa
berdiskusi secara sehat.
Kalau saya ya terus terang kalau memang saya tidak mengerti satu hal
(religi/spiritualitas/filsafat Timur, misalnya), ketika merumuskan
maksud saya secara tidak tepat (re: "patahkan argumentasi") ya saya
minta maaf.
Apa sih susahnya mengakui ada hal yang kita tidak tahu, mengakui kalau
ada yg keliru? tanpa perlu menanggapi dengan kasar, kata2 sumpah
serapah, menuding pihak lain pasang aksi bak guru.
Kita tak akan masuk neraka :) karena bersikap ksatria, mengaku kalau
ada kekeliruan di pihak diri sendiri, dan minta maaf.
Why not sih?
Ida Khouw
*anachronism /@"[EMAIL PROTECTED]@m/ noun [C]
a person, thing or idea which exists out of its time in history,
especially one which happened or existed later than the period being
shown, discussed, etc:
For some people, marriage is an anachronism from the days when women
needed to be protected.
* anachronistic /@%n{k.r@"nIs.tIk/ adjective
He described the law as anachronistic (= more suitable for an earlier
time) and ridiculous.
* blunder (MISTAKE) /"[EMAIL PROTECTED]/ /[EMAIL PROTECTED]/ noun [C]
a big mistake, usually caused by lack of care or thought:
--- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> Memang benar Bung Erik, mbak ida ini tidak mau langsung menanggapi
> pernyataan orang, malah langsung pasang aksi seorang guru menghardik : "
> kamu ini siapa, belum belajar ilmu sosial tingkat tinggi kok berani
bicara
> masalah sosial? " untuk menghormati seorang guru, sang murid terpaksa
> bungkam. meskipun tetap tidak paham apa pendapat sang guru tentang
> permaslahannya.
>
> Saya sejak kecil selalu diajarkan, jika menghadapi masyarakat umum,
> pakailah bahasa umum, meski yang dibicarakan masalah specialist mu. jika
> kita masing2 mau bicara pakai bahasa2 khusus bidang studinya, saya kira
> mils ini akan bubar.
>
> Salam,
> ZFy
>
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Jaringan pertemanan Friendster : [EMAIL PROTECTED] :.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/